Sebuah kecelakaan besar membuat hidup Ajeng berubah total. Karena sebuah balas budi dan intrik dari keluarga Demian dan Mahesa dia harus menikah dengan Raka, laki-laki yang diselamatkannya dengan seorang anak kecil.
Ajeng harus terjebak dalam konflik keluarga kaya. Kehadiran Ajeng membuatnya harus menjadi seorang mama untuk anak kecil yang dia selamatkan.
Apakah Ajeng bisa menemukan kebahagiaan dengan menjadi Mama anak itu. Atau dia justru terperangkap masalah dan konflik keluarga kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van Theglang Town, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernah Tidur Bersama
"Akan apa?"tanya Ajeng.
Raka masih terlihat ragu untuk menjawabnya. Haruskah dia menjawab dengan asal bicara.
"Kalau tidak mau jawab, ya sudah silahkan keluar!" usir Ajeng.
"Ajeng, kalau aku ngomong bohong, kamu mau percaya nggak?" tanya Raka.
"Gimana mau percaya kalau aku nggak tahu itu bohong apa nggak, kamu ngomong apa sih? tanya Ajeng mulai bete.
"Bang Arya dan Bunda, mereka sudah tahu apa yang terjadi?" tanya Raka.
Ajeng hanya mendengus kesal. Lalu dia mendorong tubuh Raka agar segera keluar dari kamarnya.
"Tu-tunggu dulu, aku kan belum selesai bicara!"kata Raka menahan lagi kedua tangan Ajeng.
"Jawab dulu, mereka sudah tahu kalau kamu batalin pernikahan kita?" tanya Raka.
Sekarang giliran Ajeng yang terdiam.
"Jawab dong!" rengek Raka gemas melihat wajah Ajeng yang malah diam.
Dengan terpaksa Ajeng menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Melihat itu Raka menjadi lega. Pantas saja Bang Arya dan Bunda terlihat normal melihat kedatangannya ke sini.
"Aku belum siap cerita, dan kamu tenang saja, aku akan menceritakannya bes .... " Ucapan Ajeng dipotong langsung oleh Raka.
"Tidak usah, kamu jangan ceritakan, aku lega mendengarnya," kata Raka melepaskan kedua tangan Ajeng.
"Ta-tapi .... "
"Kita akan tetap menikah, tapi aku mohon padamu beri aku waktu untuk bisa meyakinkan perasaan ini," kata Raka.
"Maksudmu, dengar ya Tuan Raka Mahesa yang terhormat, meski aku batal menikah denganmu bukan berarti kehidupanku selesai. Dan jangan pikir kamu orang kaya seenaknya memutar-mutar perasaan orang,apalagi aku,paham!" kata Ajeng kemudian tetap berusaha mendorong Raka agar keluar dari kamarnya.
"Ajeng, please dengerin aku dulu, aku minta maaf kalau memang aku ngga jujur dari awal!" kata Raka.
"Sudahlah, aku tidak mau berurusan denganmu lagi!" kata Ajeng.
"Terus kamu mau menikah dengan Bayu?" tanya Raka sedikit kecewa dengan respon Ajeng.
"Apa rencana kamu sebenarnya sama Bayu, Bayu juga cuma manfaatin kamu doang Jeng!" kata Raka.
"Jadi kamu ngaku kalau kamu juga manfaatin aku?" skak mat Ajeng pada Raka.
"I-itu, Oke-oke aku ngaku, awal memang aku cuma manfaatin kamu doang Jeng, tapi aku juga nggak rela kalau kamu sama Bayu menikah," jawab Raka dengan suara pelan.
"Terus kenapa kamu mau manfaatin aku, dan malah mengajak menikah malam ini?" tanya Ajeng membuat Raka menjadi sakit kepala. Jelas dia merasa terpojok. Masa iya dia harus jujur, kalau dia ingin menikah malam ini hanya ingin segera meneguk madunya Ajeng.
"Heeeee, i-itu .... " Raka kemudian berbisik ke telinga Ajeng.
"A-ku ingin segera tidur bersama!" jawab Raka membuat telinga Ajeng panas dan reflek menampar wajah Raka yang berharga itu.
PLAK.
Sangat keras dan perih yang dirasakan Raka. Mungkin Ajeng adalah wanita pertama yang menamparnya bahkan dengan sangat keras.
"KELUAR!" usir Ajeng sudah tidak tahan mendengar kekonyolan Raka.
Raka mengusap wajahnya yang kena tampar itu. Lalu dia pun membuka pintu kamar hendak keluar dari pintu. Saat Raka membuka pintu, terlihat Arya sedang dalam posisi menguping. Tentu saja dia kaget pintu kamar Ajeng yang tiba-tiba terbuka.
"Bang Arya!" seru Raka kaget.
Ajeng tak kalah kagetnya melihat abangnya yang terciduk sedang menguping pembicaraan mereka.
"Hhehehehhe." Arya hanya tertawa kecil malu sudah ketahuan menguping.
"Abang ngapain, pake nguping-nguping segala, aku jadi parno gimana kalau aku sama Ajeng nanti malam pertama, Bang Arya udah jagain di depan pintu kamar," ucap Raka berusaha membanyol.
"Habisnya gue curiga sama kalian, lebih curiga lagi kata Merry dia ngelihat orang mencurigakan bolak-balik depan rumah, aku cek pura-pura beli baso, eh emang tenyata loe yang lagi ngawasin rumah. Sebenarnya ada apa sih?" tanya Arya kepo.
"Kalian berantem, makanya Ajeng buru-buru minta jemput, sampe kita kagak jadi ke rumah loe!" sambung Arya yang belum tahu kejadian sebenarnya. Karena semenjak menjemput Ajeng, Ajeng tak bicara sepatah kata pun padanya.
"Ajeng diajak nikah malam ini nggak mau Bang, makanya dia ngambek terus kabur ke sini!" kata Raka membual.
"Apa, bener itu Jeng?" tanya Arya melongok ke dalam kamar Ajeng. Nampaklah Ajeng sedang berdiri mematung dengan ekspresi pucat.
"Padahal aku sudah manggil penghulu, terus kan abang sama Bunda juga datang ke rumah, waktu yang pas kan!" kembali lagi Raka melebih-lebihkan ceritanya.
"Waduuuhh, aku jadi tambah curiga sama kalian, Dek sekarang jawab abang, kalian berdua udah ngelakuin itu kan?" tanya Arya dengan nada yang marah. Kecewa karena Ajeng sudah melakukan dosa dengan Raka.
"Bu-bukan begitu bang?" kata Ajeng mulai panik dengan kesalahpahaman abangnya.
"Benar bang, kita udah tidur bareng!" jawab Raka. Dia memang tidak bohong. Dia dan Ajeng memang sudah pernah tidur bersama. Ya cuma tidur saja tidak melakukan apa-apa.
"Apaaaaaaaaaaa, ban*sat loe!" kata Arya tak pelak melayangkan bogem mentahnya. Tak ayal Raka menjadi bulan-bulanan Arya yang sudah salah paham itu. Ajeng yang melihat itu menjerit dan berusaha menghentikan abangnya yang terus memukul Raka. Bunda dan Merry yang mendengar keributan langsung datang dari dapur. Dan mencoba menghentikan aksi Arya yang memukuli Raka tanpa ampun.
"Ada apa ini Arya?" tanya bunda yang kaget melihat Arya memukul Raka sampai tak berdaya.
"Bun, pokoknya malam ini mereka harus dinikahkan!" kata Arya membuat Ajeng melotot kaget.
"M-memangnya kenapa?" tanya bunda tak paham.
"Kesucian anak gadis bunda sudah diambil sama orang brengsek ini," kata Arya. Mendengar itu semua Bunda shock dan jatuh pingsan.
"Bundaaaa!" teriak Ajeng.
Semua menjadi panik melihat bunda yang terjatuh pingsan. Sementara Raka tersenyum dan menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya yang terluka.Hanya dengan cara ini Ajeng dan Bayu tidak akan menikah. Arya dan Bunda tentu saja akan menyuruh mereka segera menikah.
Bersambung....
Silahkan tinggalkan jejak cintanya untuk author.
Like
KOmen
dan Vote
Intip juga karya author yang lain. Missing Guy
Terimakasih
mungkin dengan raka jujur di awal ajeng akan mengerti tidak salah paham begini