Setelah istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan mobil, Alkha Kim Junno seorang lelaki keturunan Korea Selatan, menjadi seorang yang sangat dingin kepada semua wanita. Sampai akhirnya dia dijodohkan dengan seorang wanita oleh mamanya, karena mamanya takut anaknya akan selamanya sendiri.
"Aku nggak mau nikah sama duda!!!" teriak Arabella Putri Jovanka, seorang gadis yang baru lulus kuliah, bahkan belum dapat pekerjaan. Dia adalah wanita yang akan dijodohkan dengan Alkha. Seorang gadis ceria, optimis, dan memiliki rasa percaya diri diatas rata-rata, juga keras kepala.
Akan tetapi, setelah melihat ketampanan Alkha. Gadis kecil itu langsung berubah pikiran. Pasalnya, Alkha adalah lelaki yang dia cintai setelah pertemuannya di sebuah club malam.
Ara jatuh cinta pada Alkha, pada pandangan pertama. Alkha adalah tipe lelaki idaman Ara.
Akankah Ara bisa mencairkan gunung es yang bisa bernafas itu?
Terus dukung author ya 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Senja🧚♀️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. "Will You Marry Me"
"Darimana aja sih?" tanya Alkha sedikit marah, dia benar-benar khawatir dengan Ara.
"Tadi ketemu sama temen lama, terus makan siang bareng,"
"Kan bisa ngabarin,"
"Lupa.." Ara tersenyum kecil membuat Alkha mendengus.
Tahu kalau Alkha sedang kesal, Ara pun dengan manja memeluk Alkha yang sedang duduk di sofa. Ara mengalungkan tangannya dileher Alkha, dan juga duduk di pangkuan Alkha. Dengan lembut Ara juga mengecup bibir Alkha, menggoda Alkha supaya tidak lagi kesal.
"Jangan marah, oke?" ucapnya sembari mencium bibir Alkha. Sementara Alkha yang masih kesal hanya diam saja, dan tidak merespon ciuman Ara.
Tapi dengan mata kucing yang menggemaskan, Ara mulai menatap Alkha. Juga dengan wajah yang sedih. Tentu saja, Alkha tidak kuat melihat keimutan itu begitu aja. Dengan sedikit mendongakan kepalanya, Alkha mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Ara.
Cup..
Alkha mengecup lembut bibir Ara. Dan di sambut senang oleh Ara. Sampai akhirnya mereka berciuman dengan sangat lama, tanpa mengubah posisi mereka sebelumnya.
"Kamu tahu nggak, aku takut kamu kenapa-napa tadi. Lain kali jangan pergi tiba-tiba kayak tadi!" ucap Alkha memeluk Ara dengan erat.
"Iya sayank."
"Kamu udah makan?" tanya Alkha, Ara pun menganggukan kepalanya.
"Kalau gitu bobok yuk, kamu pasti capek." Mereka berdua pun akhirnya tertidur di ranjang sama. Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya terlelap. Mungkin karena terlalu capek.
Ketika jam sudah menunjukan pukul 15.00 WIB, Alkha yang terbangun terlebih dahulu bergegas ke restoran yang ada di lantai dasar hotel itu. Alkha ingin memberi surprise dinner untuk Ara. Dan dia memilih tempat di tepi pantai yang indah. Alkha sudah mempersiapkan sebelumnya mereka sampai di tempat itu. Saat itu Alkha hanya meninjau saja, apa rencananya akan berjalan sesuai keinginannya.
"Gimana mas?" tanyanya kepada manager hotel itu.
"Pak Alkha ya? Sudah beres semua sesuai keinginan bapak." jawab manager hotel itu. Alkha pun tersenyum, dan merasa puas dengan kinerja para karyawan hotel itu.
Setelah dirasa aman, Alkha kembali ke kamar. Akan tetapi dia melihat Ara masih terlelap. Alkha lalu berjalan dan menatap wajah gadis itu secara dekat. Wajah yang selalu nampak bahagia meskipun sedang tidur yang dimiliki gadis itu, membuat Alkha tersenyum bahagia.
"Aku nggak nyangka kalau aku akan jatuh cinta dengan gadis kecil ini." gumam Alkha sembari menyentuh hidung kecil Ara, kemudian mengelus-elus rambut Ara dengan penuh cinta.
Sejam berlalu, rasanya Alkha masih belum puas memandangi wajah wanita yang telah mengisi hatinya itu. Karena pada saat itu Ara sudah mulai membuka matanya.
"Buruan mandi, terus siap-siap makan malam!" suruh Alkha ketika Ara malah kembali berbaring dan masuk ke dalam selimutnya.
"Bentar, masih ngantuk.." jawabnya dengan nada suara manja.
"Lima menit, lima menit doang.." ucapnya masih malas bangun.
"Aku udah siapin dinner romantis." bisik Alkha berharap gadis itu akan bersemangat.
"Serius?" tanya Ara dengan antusias. Benar saja apa yang diharapkan Alkha, begitu tahu Alkha menyiapkan dinner romantis untuk mereka, gadis kecil itu langsung beranjak dari tempat tidur.
"Iya, tapi kayaknya kamu lagi malas, jadi aku batalin aja." goda Alkha.
"Jangan, aku udah nggak ngantuk kok, aku mau mandi dulu.." ucap Ara sembari berlari kecil menuju kamar mandi. Tentu saja Alkha tersenyum melihat kekonyolan gadis itu.
Alkha membawa Ara ke sebuah meja yang telah ditata dengan rapi dan indah di pinggir pantai, dengan cahaya lilin yang menambah keindahan malam itu. Ara yang memang sangat menyukai segala hal yang berbau romantis, merasa sangat bahagia. Dia tidak menyangka kalau lelaki yang sangat dingin itu bisa melakukan hal romantis juga.
Alkha mengajak Ara untuk berdansa mengikuti alunan musik klasik yang sengaja di pesan Alkha juga. Ara tak bisa menyembunyikan rasa bahagia, dia tidak bisa berhenti tersenyum.
Dan saat mereka mulai mencicipi hidangan makan malam, Ara tiba-tiba menangis karena menemukan sebuah cincin yang tersembunyi di makanan penutupnya. Awalnya dia sempat kaget, tapi karena tahu maksud dari itu semua, dia justru menangis, tapi menangis bahagia.
Apalagi saat Alkha berlutut dengan satu kaki di sampingnya. "Will you marry me?" ucap Alkha sambil menatap Ara dengan penuh kasih sayang.
Sebenarnya bukan sekali itu saja Alkha mengutarakan keinginannya untuk menikahi Ara. Tapi baru kali ini Alkha mengungkapkannya dengan cara yang romantis.
Ara tidak bisa berkata-kata lagi, dia terlalu sangat bahagia. Hanya anggukan kepala dan air mata yang berlinang membasahi pipinya, yang menjadi tanda bahwa dia menerima lamaran Alkha.
Alkha lalu memeluk Ara, dia sebenarnya juga tahu kalau Ara tidak mungkin menolaknya. Tapi entah kenapa, Alkha masih saja merasa sangat bahagia. Lalu Alkha memasangkan cincin yang dia berikan ke jemari manis Ara.
"Lusa, aku akan ajak mama sama papa aku buat lamar kamu secara resmi." ucap Alkha. Dan kembali, Ara hanya menganggukan kepalanya tanpa mampu berkata lagi.
****
"Ah, capek juga ya, tapi happy banget.." ucap Ara dengan senang sembari melihat cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Tapi, apa aku udah beneran siap buat menikah?" Ara kembali merasa ragu, tapi keraguan itu tak lama hinggap di kepalanya. Dia sangat mencintai lelaki itu, jadi Ara tidak akan pernah mau kehilangan dia.
"Mungkin udah sangatnya aku berumah tangga," gumamnya lagi masih dengan senyuman yang manis menghiasi wajahnya.
Saat dia hendak memejamkan matanya, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Ternyata mamanya yang ada di depan kamarnya. Ara pun mempersilahkan mamanya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Tanpa basa basi, mamanya mengatakan kalau mamanya Alkha baru saja menelepon dan membahas tentang perjodohannya dengan Alkha. Dan juga mengatakan kalau lusa mereka akan datang untuk melamar Ara.
"Kamu bener-bener udah siap?" tanya mamanya sedikit ragu.
"Kok mama nanya gitu? Bukannya ini semua keinginan mama sama papa ya? Kok sekarang malah jadi ragu," Ara tidak ngerti lagi dengan pemikiran mamanya.
"Nak, meskipun mama sama papa maksa kamu buat nikah, tapi sebetulnya yang mama dan papa inginkan ialah kamu bahagia. Karena, pernikahan itu bukan untuk sehari atau dua hari, tapi selamanya. Kalau kamu memang tidak bahagia, kita bisa tolak lamaran itu besok."
"Nggak ma, Ara cinta sama om Alkha bukan karena perjodohan ini, tapi karena memang Ara jatuh cinta sama dia, dan Ara siap menjadi istrinya apapun resikonya, karena Ara yakin, om Alkha tidak akan pernah mengecewakan Ara." Begitu mendengar jawaban Ara, mamanya tersenyum lega. Dia cuma takut, apa yang dia dan suaminya lakukan, akan menyakiti anak semata wayangnya.
"Anak mama sekarang sudah dewasa.." ucap mamanya Ara memuji pemikiran dewasa Ara. Lalu dia memeluk putri tunggalnya yang dia lahirkan di bulan November itu.