Sisi lain dari Pesantren.
Cinta itu ada di Pesantren, cinta yang tak melulu soal manusia.
Terinspirasi dari kisah seorang santri, saya coba angkat ke dalam novel ini.
Semoga banyak hikmah yang bisa dipetik.
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Rivianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
belajar sholehah dua
Sedih aku didiamkan A Zam, apa seperti ini rasanya, kemarin aku diamkan kamu A.
Fikiranku berkecamuk pilu, "Bu guru aku udah selesai."
Eh, astagfirulloh aku lagi ngajar malah melamun.
Beberapa saat kemudian jam pulang sekolah tiba, aku masih di ruangan kelas menatap A Zam dari sini cukup jelas terlihat. Aku rindu A.
"Hayyo.. Yang lagi ngintipin suami."
Hulliyah datang mengagetkanku.
"Kamu tuh apaan sii Hulli kaget tauu."
Eh lihat cengiran tak berdosanya itu, ingin aku bekap mulutnya uh.
"Ngapain diliatin terus, ga puas apa di rumah ngeliatnya."
Isshh jago deh kamu bikin aku salah tingkah.
"Siapa yang lagi liatin A Zam yee.."
Aku berusaha menutupi keadaan.
"Iya deh iya, eh nanti malam pengajian kamu datang kan? Barusan Bi Haji manggil aku sama kamu, yuk kita ke rumahnya."
Aku pun berjalan keluar bersama Hulliyah, saat aku melewati A Zam di sana aku sempatkan untuk melihatnya yang ternyata tengah melihatku juga.
Tatapan kami bertemu, aku berikan senyum termanis tapi apa yang ku dapat? A Zam memalingkan wajahnya tanpa ekspresi.
Hancur rasanya aku, ingin sekali aku menjerit sambil menangis lalu mencekiknya supaya dia sadar.
Ah aku ngomong apa?
--------------------------------
Di rumah Bi Haji, aku bersama Hulliyah dimintai tolong untuk membantu mempersiapkan acara pengajian.
Aku sedang membungkus snack sekarang, hingga A Zam datang mengangkat beberapa kardus berisi mie instan dan berbagai makanan lainnya bersama beberapa orang yang tadi ada bersamanya.
Di rumah Bi Haji yang tentu di penuhi ibu-ibu yang tengah membantu, terdengar gaduh seiring kedatangan A Zam.
"Pak Ustadz, jarang kelihatan?"
"Makin ganteng deh Pak Ustadz."
"Iya makin keren tapi sayang udah nikah, tadinya saya mau jodohin sama anak saya looh."
"Kalau boleh Stadz bisa juga anda poligami, nikahin anak saya, saya rido."
Hei kalian gak liat aku ada di sini, bicara seperti itu. Dan apa katanya tadi POLIGAMI? Astagfirulloh tiba-tiba aku pun merasa takut jikalau Ustadz mempertimbangkan tawaran itu.
Uuh sebel lihat A Zam yang meladeni obrolan mereka sambil tersenyum lagi, tebar pesona kamu ya A.
Tangan ini rasanya gatal ingin jewer kupingnya uh.
-------------------------
Malam hari pengajian pun di mulai, setelah tadi aku pulang dulu sebentar, kini aku tengah duduk di sini bersiap mendengar tausiah dari Mama Haji.
Rosululloh memperboleh manusia menyembah sesama umatnya yaitu istri harus menyembah suaminya, dalam artian bukan disembah layaknya pada Tuhan, bukan! Dalam artian betapa wajibnya seorang istri taat pada suaminya.
Penggalan tausiah tadi begitu terngiang di telingaku, sampai ke rumah pun aku masih memikirkan inti tausiah tadi. Yang ternyata selama ini aku masih jauh dari kata istri sholehah.
Di tengah lamunanku A Zam datang, dia baru pulang sementara aku lebih dulu tadi.
Setelah mengucapkan salam A Zam berlalu begitu saja melewati aku.
Ini gak bisa di biarin berlanjut aku harus bertindak kalau perlu merayunya supaya tidak diam lagi.
"Aa tunggu, aku mau bicara."
Dia menghentikan langkahnya, " Maaf neng, aa cape."
Issh dia fikir aku gak cape.
"Aku gak kuat aa diamkan, aku gak kuat a." Pecahlah tangisku kini.
"Kalau aku bersalah padamu tolong maafkan aku, aku ga tau salah aku dimana kalau aa ga bicara."
Aku ambruk bersimpuh, akting juga sih dikit hehe.
Akhirnya A Zam pun berbalik dan meraih tubuhku supaya berdiri. Kemudian memelukku.
"Maafin aku neng, aku hanya kecewa padamu."
Hah kecewa?
"Aku kecewa karna neng ga bilang akan rasa sakit neng kemarin. Selama ini aku dianggap apa olehmu? Bukankah hubungan suami istri itu harus saling terbuka? Aa minta maaf jika telah menyakitimu."
A Zam melepaskan pelukannya dan menangkup wajahku, menyeka air mataku.
"Jangan menangis, aa ga tega melihat neng nangis!"
Ooww kalimatnya itu looh yang aku rindukan manis semanis gula pasir.
Kami pun melewati malam ini dengan kelegaan.
---------------------------------
Dua bulan sudah kami mengarungi biduk rumah tangga, yang penuh gelombang dan riak-beriak ini.
Boleh kan sekarang aku mulai mencintai suamiku?
Siang ini di hari minggu kami menghabiskan waktu libur kami dengan berada di rumah.
Membersihkan rumah bersama dengan canda tawa, aihhh mirip deh ini seperti kisah anak remaja yang sedang jatuh cinta.
Dering ponselku berbunyi kala aku tengah duduk selonjoran sejenak menghilangkan rasa lelah.
Terlihat di layar, ibuku yang memanggil.
""Assalamualaikum.""
""Waalaikumusalam.""
""Dek, gimana hasilnya dek?"
Hasil apa sii?
""Apa bu?""
""Itu kamu sudah pakai belum alatnya.""
Ternyata ibu masih ingat, maafkan anakmu ini yang lupa ibu hihi.
""Aku ga pakai bu, cuma aku ke dokter dan bukan hamil. Aku cuma sakit gejala liver bu.""
Hening sesaat..
""Ooh gitu nak, tapi bagaimana sekarang keadaanmu?"
""Alhamdulillah sudah baikan bu.""
Setelah itu banyak obrolan basa basi yang lain.
Kala aku tutup telponnya, suara A Zam mengagetkanku.
"Ibu berharap neng hamil ya?"
Kamu A, hp ku hampir lepas tau.
"Dasar ibu A, ada-ada aja."
"Ya ga apa-apa kita kabulkan permintaannya."
Eh, apa maksudnya?
"Kita harus rajin usaha supaya bisa mengabulkan keinginan ibu."
Isshh ucapanmu, membuatku merinding A.
Ih malah ketawa, dasar Ustadz mesum !!
Istri macam apa aku ya, yang ngatain suaminya sendiri? Haha .. Ga papa yang penting dia gak denger.
Sore ini aku memutuskan untuk berkunjung ke pesantren dan apa salahnya ikut belajar lagi kan.
Di saat aku tengah bersama Hulliyah, Sofia datang padaku. Eh dia senyum.
"Nimas.."
Sofia memanggil namaku, mimpi apa aku? Senangnya bukan main.
"Aku minta maaf Nim, karena aku kamu pasti menderita. Aku ga sengaja, dan untuk Rista juga aku minta maaf. Rista ga tahu apa-apa dan malah membuat benteng pertahanan untuk membelaku."
Aku terharu Sof, emang dari awal kamu gak pernah musuhin aku. Namun keadaan yang membuat seolah kita bermusuhan.
Aku berdiri dari dudukku menyeka air mata, aku bahagia. Kami berpelukan penuh haru.
Terimakasih ya Alloh kau kembalikan sahabatku.