Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.
Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Han Feng mendarat di depan Han Lie. Pedang Meteor Hitam masih menempel di bahu Han Lie, menekan pemuda itu agar tetap berlutut. Panas dari pedang itu membakar luka Han Lie seketika, menghentikan pendarahan dengan cara yang paling menyakitkan—kauterisasi paksa.
Bau daging hangus menyebar di udara.
Han Lie gemetar hebat, air mata bercampur darah mengalir di wajahnya. Rasa sakitnya begitu hebat hingga dia ingin pingsan, tapi tekanan aura Han Feng memaksanya tetap sadar.
"Lihat dirimu," kata Han Feng dingin, menatap Han Lie dari atas ke bawah. "Kau menggunakan racun. Kau menggunakan pembunuh bayaran. Kau menggunakan obat terlarang. Dan kau masih berakhir berlutut di kakiku."
Han Feng menekan pedangnya sedikit lebih kuat. Han Lie merintih.
"K-Kau... Kau menang..." bisik Han Lie terbata-bata. "Lepaskan aku... Ayah... tolong aku..."
Han Feng menoleh ke arah tribun kehormatan.
Di sana, Han Tian sudah berdiri dengan wajah merah padam, urat-urat di lehernya menonjol. Dia hendak melompat turun ke arena untuk menyelamatkan putranya.
"LEPASKAN ANAKKU, BINATANG!" teriak Han Tian, auranya sebagai kultivator Pengumpulan Qi Tingkat 5 meledak, menekan ke arah Han Feng.
Namun, sebelum Han Tian sempat bergerak, sebuah kipas lipat terbentang di depan dadanya, menahan gerakannya.
Itu adalah Tetua Zhang dari Sekte Pedang Langit.
"Duduklah, Kepala Keluarga Han," kata Tetua Zhang tenang namun tegas. "Pertarungan belum selesai. Tidak ada yang menyerah, tidak ada yang mati. Intervensi orang luar dilarang keras."
"Tapi dia akan membunuh anakku!"
"Anakmu menggunakan obat terlarang," balas Tetua Zhang dingin. "Itu adalah penghinaan bagi seni bela diri. Biarkan dia menanggung akibatnya."
Han Tian terdiam, giginya bergemeretak. Dia tidak berani melawan utusan sekte. Dia hanya bisa menatap Han Feng dengan tatapan penuh kebencian.
Kembali ke arena.
Han Feng melihat interaksi itu dan tersenyum sinis.
"Lihat? Bahkan ayahmu tidak bisa menyelamatkanmu," kata Han Feng pada Han Lie.
"Apa... apa yang kau inginkan?" Han Lie menangis putus asa.
"Aku menginginkan keadilan," jawab Han Feng.
Han Feng mengangkat kakinya, lalu menendang perut Han Lie dengan keras.
BUGH!
Han Lie terlempar berguling-guling ke belakang. Tepat saat itu, efek Pil Darah Iblis habis.
"Huwek!"
Han Lie memuntahkan darah hitam pekat dalam jumlah banyak. Tubuhnya mulai kejang-kejang. Kulitnya yang tadi merah kini berubah menjadi abu-abu layu. Rambut hitamnya yang indah mulai rontok, dan wajahnya menua sepuluh tahun dalam sekejap.
Inilah harga yang harus dibayar. Pil Darah Iblis membakar esensi kehidupan dan potensi masa depan. Dengan kekalahan ini dan efek samping obat, fondasi kultivasi Han Lie telah hancur. Bahkan jika dia selamat, dia tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi seumur hidupnya. Dia telah menjadi sampah yang sesungguhnya.
Han Feng berdiri tegak, menyarungkan kembali Pedang Meteor Hitam ke punggungnya dengan gerakan lambat. Dia tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Han Lie sudah menghancurkan dirinya sendiri.
Han Feng berbalik menghadap wasit yang masih terpaku kaget.
"Umumkan," perintah Han Feng.
Wasit itu tersentak, menelan ludah, lalu mengangkat tangannya dengan gemetar.
"Pemenang Turnamen Agung Keluarga Han... dan Juara Tahun Ini... HAN FENG!"
Sorak-sorai meledak. Kali ini, tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi ejekan. Seluruh penonton berdiri, meneriakkan nama Han Feng. Mereka menyukai kekuatan. Mereka menyukai pemenang. Dan Han Feng baru saja memberikan pertunjukan dominasi yang mutlak.
Han Feng tidak tersenyum. Dia tidak melambaikan tangan. Dia hanya menatap lurus ke arah Tetua Zhang di tribun kehormatan.
Tetua Zhang berdiri, tersenyum puas, dan bertepuk tangan pelan.
"Luar biasa," kata Tetua Zhang, suaranya diperkuat agar terdengar oleh semua orang. "Han Feng. Bakatmu, kekuatan fisikmu, dan ketenanganmu... semuanya kelas satu. Aku, atas nama Sekte Pedang Langit, secara resmi mengundangmu untuk menjadi Murid Inti Sekte kami tanpa perlu melalui ujian masuk lagi!"
Tawaran Murid Inti!
Ribuan orang menahan napas. Itu adalah kehormatan tertinggi. Biasanya, pemenang turnamen kota kecil hanya diterima sebagai Murid Luar atau paling bagus Murid Dalam. Langsung menjadi Murid Inti adalah privilese yang sangat langka.
Wajah Han Tian menjadi semakin gelap. Jika Han Feng masuk sekte, dia benar-benar tidak bisa disentuh.
Han Feng menatap Tetua Zhang, lalu menatap Han Tian yang tampak seperti ingin memakannya hidup-hidup.
"Saya terima tawaran itu," jawab Han Feng lantang. "Tapi sebelum saya pergi, ada satu hal yang harus saya selesaikan di sini."
Han Feng berjalan mendekati pinggir panggung, menunjuk langsung ke arah Han Tian.
"Tiga tahun lalu," suara Han Feng menggema. "Ibuku meninggal karena sakit. Dia meminta sebutir Pil Jantung Teratai dari gudang keluarga untuk memperpanjang hidupnya. Tapi kau, sebagai Kepala Keluarga dan suaminya, menolaknya dengan alasan 'pemborosan untuk selir yang melahirkan anak sampah'."
Arena menjadi sunyi senyap. Ini adalah aib keluarga yang dibongkar di depan umum.
"Hari ini, 'anak sampah' itu berdiri sebagai juara," lanjut Han Feng, matanya membara dengan api dendam yang dingin. "Aku tidak butuh pengakuanmu sebagai ayah. Aku tidak butuh nama Keluarga Han. Mulai hari ini, aku, Han Feng, memutus hubungan dengan Keluarga Han Kota Awan Terapung!"
Han Feng merobek lencana lambang keluarga di dadanya dan melemparkannya ke tanah, lalu menginjaknya hingga hancur.
"Mulai detik ini, takdirku ada di tanganku sendiri. Dan siapa pun dari Keluarga Han yang berani menghalangiku di masa depan... akan berakhir seperti Han Lie."
Han Feng berbalik, membungkuk hormat pada Tetua Zhang, lalu berjalan turun dari arena, meninggalkan Han Tian yang dipermalukan di depan seluruh kota dan Han Lie yang sekarat di genangan darah hitamnya sendiri.
Pecahan lencana giok Keluarga Han berserakan di lantai batu arena, berkilau memantulkan sinar matahari siang yang terik. Lencana itu bukan sekadar perhiasan; bagi warga Kota Awan Terapung, lencana itu adalah simbol status, perlindungan, dan kehormatan tertinggi. Namun, Han Feng baru saja menghancurkannya di bawah telapak kakinya seolah-olah itu hanyalah kotoran yang menempel di sepatu.
Keheningan yang menyelimuti arena terasa berat dan mencekam. Ribuan pasang mata menatap sosok Han Feng yang berdiri tegak dengan punggung menghadap panggung kehormatan.
Legenda Han Feng di Kota Awan Terapung berakhir hari ini, dan legendanya di dunia luas baru saja dimulai.
Di atas panggung itu, Han Tian—Kepala Keluarga Han—gemetar hebat. Wajahnya yang biasanya berwibawa kini berubah warna menjadi ungu gelap, campuran antara amarah yang meledak-ledak dan rasa malu yang tak tertahankan. Urat-urat di leher Han Tian menonjol seperti cacing tanah, dan tangannya mencengkeram sandaran kursi kayu hingga hancur menjadi serbuk gergaji.
Seorang anak haram yang selama ini dianggap sampah, baru saja menampar wajah seluruh klan di depan utusan sekte dan perwakilan keluarga lain. Han Feng tidak hanya mengalahkan pewaris sah klan, Han Lie, tetapi juga membongkar aib masa lalu Han Tian tentang kematian ibu Han Feng di hadapan publik.
"Anak durhaka..." suara Han Tian mendesis rendah, namun aura pembunuh yang dipancarkannya begitu kuat hingga suhu di sekitar panggung kehormatan turun drastis. "Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah mempermalukan leluhur?"
Han Tian bangkit dari kursinya. Energi Qi berwarna biru gelap bergejolak di sekujur tubuhnya. Sebagai ahli ranah Pengumpulan Qi Tingkat 5, tekanan yang dilepaskan Han Tian membuat para penonton di barisan depan merasa sesak napas. Han Tian berniat membunuh Han Feng di tempat, tidak peduli apa pun konsekuensinya.