Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 : Tamat
Di tengah lorong dimensi yang koyak, Harimau Putih Raksasa pelindung Helena menggeram rendah, memamerkan taring-taring peraknya yang dialiri petir biru keemasan. Di sampingnya, Damian berdiri dengan sisa tenaga yang meluap kembali. Hawa sedingin es dari tubuh sang Iblis Belanda berpadu sempurna dengan energi suci yang dibawa sang khodam, menciptakan pusaran badai magis yang menekan aura api milik Panglima Pangilon hingga meredup drastis.
Sang Panglima bangkit berdiri dengan susah payah, wajah buruk rupanya mengeras melihat kehadiran mahluk agung yang baru saja menghempaskannya. "Kekuatan apa ini... Mengapa ada energi suci sedahsyat ini di dimensi kegelapan?!" raungnya tidak terima.
"Ini adalah kekuatan dari darah daging saya yang coba kalian usik," desis Damian, suaranya mengalun dingin tanpa secuil pun belas kasihan. "Dan ini adalah akhir dari eksistensimu."
ROARRRRRRRRRRR!
Harimau putih itu melesat maju laksana berkas cahaya perak. Gerakannya tidak mampu ditangkap oleh mata gaib sang Panglima. Dalam satu kedipan mata, cakar raksasanya yang dibalut petir keemasan mencabik zirah besi sang Panglima hingga hancur berkeping-keping. Panglima itu menjerit kesakitan saat kulit legamnya terkelupas, memuntahkan lahar panas yang langsung dibekukan oleh hawa es kiriman Damian.
Bersamaan dengan runtuhnya pertahanan sang Panglima, Damian mengepakkan sayap hitamnya yang terluka, melesat naik tinggi ke udara hampa. Ia mengangkat pedang mata duanya dengan kedua tangan. Kobaran bara api neraka di bilah pedang itu membesar sepuluh kali lipat, membelah kegelapan dimensi Pangilon menjadi dua bagian.
"Mati kau, keparat!"
Damian mengayunkan pedangnya ke bawah dalam satu tebakan vertikal yang mutlak.
SWOSSHHHHH!
Tebasan api neraka itu bersatu dengan terkaman pamungkas dari sang harimau putih yang menggigit leher sang Panglima. Perpaduan dua kekuatan agung itu memicu ledakan kosmis yang teramat dahsyat.
BUMMMMMMMMMMM!
Raungan pilu yang memekakkan telinga terdengar untuk terakhir kalinya sebelum tubuh raksasa sang Panglima Pangilon meledak hancur, melebur menjadi tumpukan abu hitam yang langsung lenyap diisap kegelapan rahim dimensi, musnah seutuhnya tanpa menyisakan rekam jejak.
Setelah memastikan sang Panglima musnah, Harimau Putih Raksasa itu berbalik menatap Damian. Sosoknya perlahan mulai mengabur, kembali menjadi butiran cahaya biru keemasan. 'Tuan Agung... tugas hamba selesai. Kembalilah pada Nyonya... dia menantimu dengan air mata,' bisik suara gaib sang khodam sebelum akhirnya melesat lenyap, kembali menyatu ke dalam tubuh Helena di dunia fana.
Damian terengah-engah, tubuh jangkungnya limbung di udara sebelum akhirnya ia memejamkan mata dan melipat ruang untuk pulang, mengabaikan rasa sakit luar biasa yang menggerogoti raga gaibnya.
Sementara itu, di dunia fana, malam telah mencapai puncaknya. Di dalam rumah kolonial tua di Yogyakarta, Cindy baru saja selesai menidurkan Helena di dalam boks bayinya. Setelah memastikan sang putri tertidur pulas dengan napas yang teratur, Cindy melangkah keluar kamar menuju ruang tengah yang sunyi. Langkah kakinya terasa begitu berat, dan dadanya masih terasa sesak oleh sisa tangisan tadi.
Wussssshhhhhh!
Tiba-tiba, sebuah angin malam yang teramat kencang dan dingin bertiup menghantam seluruh penjuru rumah. Angin itu membawa tekanan gaib yang luar biasa masif.
BRAKKK! BRAKKK! BRAKKK!
Seluruh pintu utama, pintu belakang, hingga jendela-jendela kayu besar yang sebelumnya telah dikunci rapat oleh Cindy menggunakan selot besi, mendadak berderit keras dan terbuka lebar secara paksa seolah dihantam oleh kekuatan tak kasat mata. Gorden-gorden kain putih bergoyang liar dipermainkan angin malam yang membawa aroma tanah basah, belerang, dan wangi bunga kenanga mati yang teramat pekat.
Cindy tersentak, melangkah mundur dengan tangan memegangi dadanya yang berdegup kencang. "D-Damian...?" bisik istrinya dengan bibir bergetar.
Di ambang pintu utama yang terbuka lebar, di tengah kegelapan malam yang pekat, sesosok tubuh jangkung melangkah masuk dengan sangat perlahan. Langkah kakinya tidak lagi melayang anggun seperti biasanya; kaki telanjangnya menapak berat di atas ubin tegel, meninggalkan jejak-jejak noda hitam yang berbau anyir.
Jantung Cindy serasa berhenti berdetak melihat pemandangan di depannya. Sosok yang selama sebulan ini ia tangisi dan ia rindukan setengah mati akhirnya kembali, namun dalam keadaan yang begitu mengenaskan.
Setelan jas hitam aristokrat milik Damian telah robek hancur menjadi kain-kain compang-camping yang melekat di tubuh tegapnya. Dua tanduk kecil di kepalanya masih berdiri kokoh dan tajam, namun di dahi dan pelipisnya terdapat retakan-retakan kecil yang mengeluarkan lelehan darah berwarna hitam pekat.
Yang paling mengerikan adalah sepasang sayap hitam raksasa di punggungnya. Sayap yang biasanya mengepak gagah itu kini terlihat terkoyak parah, dengan tulang-tulang sayap yang patah mencuat keluar dan terus meneteskan darah hitam pekat yang kental. Aura kegelapan yang pekat, kelam, dan penuh dengan rasa sakit keluar berdesir dari sela-sela bulu sayapnya yang hangus terbakar.
Wajah tampan Damian tampak begitu pucat pasi laksana mayat yang membeku. Namun, begitu sepasang mata birunya yang meredup menatap lurus ke arah wajah Cindy, kilatan kekejaman iblisnya runtuh sepenuhnya, digantikan oleh tatapan yang teramat sendu, rapuh, dan sarat akan kerinduan yang mendalam.
Damian melangkah satu kali lagi mendekati Cindy, namun tubuhnya yang sudah kehabisan energi inti tidak mampu lagi menopang berat badannya. Di depan istrinya, sang penguasa gaib yang angkuh itu perlahan menekuk kedua lututnya dan berlutut di atas lantai.
Bruk...
"Cindy..." bisik Damian, suaranya teramat parau, pecah, dan serak laksana gesekan batu kering setelah sebulan penuh tenggorokannya hanya mengeluarkan raungan perang.
Melihat pria yang begitu ia agungkan dan cintai berlutut dalam keadaan hancur seperti itu, seluruh pertahanan diri Cindy runtuh seketika. Kedua kakinya mendadak lemas laksana tak bertulang. Cindy langsung terjatuh bersimpuh di atas lantai tepat di hadapan Damian yang berlutut.
"Damian! Ya Tuhan, Damian!" tangis Cindy pecah seketika, histeris dan sejadi-jadinya. Suara tangisannya begitu menyayat hati, menggema di seluruh ruangan rumah kolonial yang sepi itu, menyalurkan seluruh rasa frustrasi, ketakutan, dan cinta yang membuncah selama sebulan penuh penantian.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Cindy meraih wajah tampan Damian. Kedua telapak tangan hangat manusianya mengelus lembut pipi pucat Damian, tidak peduli dengan cairan darah hitam pekat yang kini ikut melumuri sela-sela jarinya. "Kamu kenapa... hnggg... kenapa bisa sampai seperti ini, Damian? Hancur semua... sayapmu hancur..."
Melihat air mata Cindy yang mengalir deras mengenai kulit wajahnya, dada Damian yang tidak berdetak terasa digerogoti oleh rasa bersalah dan keharuan yang teramat sangat. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun eksistensinya sebagai mahluk malam, setetes air mata gaib yang jernih keluar dari sudut mata biru Damian, mengalir turun melewati pipinya bersanding dengan darah hitamnya. Sang Iblis ikut menangis.
Ia mengulurkan kedua tangan pucatnya yang gemetar, mencengkeram bahu mungil Cindy dengan erat, mencoba menyalurkan rasa kepemilikan mutlaknya yang sempat tertunda.
"Saya... saya kembali, mijn liefde," ujar Damian dengan suara serak yang bergetar hebat. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seolah menguras sisa sukmanya. "Maafkan saya... saya membuatmu menunggu terlalu lama di kegelapan ini..."
Mendengar suara parau itu mengucapkan panggilan kesayangannya, dada Cindy seolah remuk redam. Rasa sakit melihat luka-luka Damian berbaur dengan kebahagiaan luar biasa karena pria ini benar-benar pulang dalam keadaan hidup.
Cindy memajukan tubuhnya, menempelkan keningnya dengan kening sedingin es milik Damian. Mereka menyatukan kening di atas lantai tegel yang dingin, saling memejamkan mata di tengah tangisan bahagia dan haru yang bercampur aduk. Air mata hangat Cindy bersatu dengan air mata dan darah dingin Damian di antara kening mereka.
"Jangan pergi lagi... aku mohon jangan pergi lagi, Damian... hngghhh," isak Cindy di sela napasnya yang memburu, meremas kerah daster dan jas compang-camping Damian. "Aku gak peduli kamu mahluk apa, aku gak peduli kamu sehancur apa... yang penting kamu di sini, bersamaku dan Helena..."
Damian memejamkan matanya rapat-rapat, menghirup dalam-dalam aroma tubuh manis manusianya yang telah ia rindukan selama tiga puluh malam di neraka Pangilon. "Saya tidak akan pergi lagi, Cindy. Gerbang itu sudah saya hancurkan. Mulai detik ini, tidak akan ada satu pun hal yang bisa memisahkan kita lagi. Saya pulang... untuk bersamamu selamanya."
Di bawah temaram lampu gantung yang kembali stabil berpendar kuning hangat, dan diiringi perlahan menutupnya kembali jendela dan pintu rumah dengan sendirinya akibat sisa energi perlindungan Damian, kedua anak manusia beda alam itu terus berpelukan erat di atas lantai, menyembuhkan luka raga dan sukma mereka dalam dekapan cinta abadi yang telah lolos dari ujian dimensi kematian.