Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Kejadian mengerikan apa yang sebenarnya telah terjadi pada masa lalu mu Kae...
Parrie menarik nafas panjang, memutuskan untuk memberanikan diri. Ia menatap Irysh yang sedang berbaring terlentang di sampingnya di atas kasur empuk.
"Irysh..." panggil Parrie pelan.
"Hmm?" gumam Irys tanpa membuka matanya.
"Soal Kaetos..." Parrie jeda sejenak, memilih kata-kata yang paling tepat agar tidak terdengar terlalu mencurigakan. "Kenapa... kenapa rasanya semua orang seperti mengisyaratkan kalau Kaetos sangat takut pada sentuhan? Maksudku... tadi pagi saat ada mahasiswi yang tak sengaja menyenggol lengannya, raut wajah Kaetos terlihat sangat mengerikan, seperti ingin muntah dan membunuh orang itu."
Irysh membuka matanya perlahan. Gadis kaya itu menoleh, menatap Parrie di balik remang-remang cahaya lampu tidur. Keheningan yang cukup panjang membentang di antara mereka.
Irysh menghela napas panjang, mendudukkan tubuhnya kembali dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia menatap Parrie dengan raut wajah yang sangat serius dan penuh empati.
"Parrie..." ujar Irys dengan suara pelan dan dalam. "Aku sudah menganggapmu sebagai temanku sendiri malam ini. Dan sejujurnya... apa yang akan kukatakan ini sebenarnya bukan lagi rahasia yang benar-benar tertutup rapat di kalangan keluarga elit kami di Ashford Estate."
Dada Parrie berdebar kencang, jantungnya serasa ingin melompat keluar. Ia membetulkan posisi duduknya, menatap Irys tanpa berkedip.
Irysh memeluk kedua lututnya, tatapannya menerawang jauh ke masa lalu.
"Dulu... saat usia Kaetos masih dua belas tahun..." Suara Irysh terdengar agak bergetar saat memulai cerita itu. "Sebuah tragedi gila terjadi di mansion megah keluarga Ashford."
Parrie menahan napasnya, tidak berani menyela sedikit pun.
"Saat itu, keluarga Ashford sedang mengadakan pesta bisnis besar di luar negeri selama beberapa hari, dan Kaetos ditinggalkan di mansion hanya bersama beberapa staf dan pengawal," lanjut Irysh dengan nada suara yang kian memelan dan dipenuhi rasa miris.
"Dan ada sebuah rumor besar yang sangat mengerikan yang beredar di antara keluarga kami setelah pesta itu selesai..."
"Rumor apa...?" bisik Parrie dengan bibir yang gemetar.
Irysh menatap Parrie lurus-lurus, matanya berkaca-kaca memancarkan kesedihan yang mendalam untuk sahabat masa kecilnya itu.
"Rumor yang kuketahui... Kaetos mengalami pelecehan seksual yang sangat kejam di rumahnya sendiri," ujar Irys, suaranya nyaris berbisik namun terdengar sangat jelas di telinga Parrie. "Dan kau tahu siapa yang melakukan hal tidak manusiawi itu padanya? Satu orang pelayan wanita senior dan seorang tukang kebun di mansion Ashford itu sendiri."
DUARRRRR!!!!!
Bagaikan disambar petir di siang bolong, dunia Parrie serasa runtuh seketika saat mendengar kalimat itu!
Seluruh persendian di tubuh Parrie mendadak lemas total. Matanya membelalak lebar dalam kebingungan, kesedihan, dan rasa syok yang luar biasa dahsyat. Napasnya terhenti di tenggorokan, hatinya bagaikan diremas oleh tangan tak kasat mata hingga hancur berkeping-keping.
"P-pelecehan...?" gagap Parrie, air mata yang tidak bisa ia tahan lagi mendadak menetes basah membasahi pipinya.
"Aku tidak tahu detail pastinya seperti apa karena keluarga Ashford menutup rapat kasus itu," sambung Irys dengan suara tercekat. "Tapi yang jelas... kabar yang tersebar di antara keluarga kami adalah Kaetos dilecehkan secara fisik dan mental di usianya yang masih sangat muda. Dia mengalami trauma psikologis yang sangat parah, Parrie. Sangat, sangat parah."
Irys menyapu air mata kecil di sudut matanya, lalu menghela napas penuh rasa kasihan.
"Semenjak kejadian mengerikan itu... Kaetos berubah total. Dia menjadi sangat jijik pada sentuhan fisik manusia, terutama dari orang-orang yang tidak ia percayai. Dia harus bertahun-tahun menjalani terapi intensif dan mungkin juga minum obat penenang hanya demi bisa melangkah keluar rumah tanpa merasa mual atau mengamuk."
Irys menoleh menatap Parrie yang kini sudah terisak tanpa suara, membendung air mata yang mengalir deras di wajah cantiknya.
"Yah... semenjak hari itu," pangkas Irys dengan senyum getir. "Dia menjadi sosok pria yang dingin, kasar, dan penuh benteng pertahanan seperti yang kau lihat sekarang."
Parrie menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya yang gemetar hebat. Tangisnya pecah di dalam kegelapan kamar itu.
Setiap kepingan puzzle yang selama ini menyiksanya... kini telah terpasang dengan sempurna di dalam otaknya.
Ya Tuhan...batin Parrie meraung dalam kepedihan yang mendalam.
Apakah itu Alasannya?
Semuanya adalah akibat dari luka kelam dan trauma masa kecilnya yang begitu kejam dan tak termaafkan!
Parrie mengingat bagaimana ia pernah marah dan membalas membenci Kaetos atas perlakuan kasarnya di penthouse, bagaimana ia menangis meraung-raung meratapi nasibnya sendiri... tanpa pernah menyadari bahwa pria yang memberikannya penderitaan itu adalah seorang korban dari kegelapan yang jauh lebih mengerikan!
Di atas ranjang mewah itu, di tengah malam yang dingin, Parrie Rose meratapi takdir pria yang sangat ia cintai. Rasa benci, amarah, dan dendam di hatinya seketika menguap tanpa sisa, tergantikan oleh gelombang rasa cinta, penyesalan, dan rasa kasihan yang begitu pekat mendominasi jiwanya.
Irys menarik napas panjang, menatap bayangan kegelapan di luar jendela sebelum kembali memandang Parrie yang masih terisak pelan. Ada raut keraguan yang sempat melintas di wajah cantik gadis itu, seakan-akan apa yang akan ia ucapkan selanjutnya adalah batas tak kasat mata yang tak seharusnya dilewati oleh siapa pun.
"Dan kau mau tahu bagian yang paling mengerikan dari tragedi itu, Parrie?" suara Irysh mendadak berubah menjadi sangat dingin dan berbisik rendah, membuat bulu kuduk Parrie berdiri seketika.
Parrie menatap Irys dengan mata sembap berair, bibirnya gemetar tanpa sanggup mengeluarkan patahan kata.
Irys mendekatkan wajahnya, matanya memancarkan kegetiran yang kelam. "Rumor yang beredar di lingkaran dalam keluarga kami... malam saat kejadian itu terbongkar, Kaetos yang masih berusia dua belas tahun tidak hanya menangis atau berteriak ketakutan. Kegilaan dan trauma dahsyat yang menghantam mentalnya saat itu mendadak mengubahnya menjadi iblis kecil yang menyeramkan."
Parrie menahan napasnya, dada terasa dihimpit beban yang teramat berat.
"Pelayan wanita itu... dicekik dan digigit di bagian lehernya hingga tewas oleh tangan kecil Kaetos sendiri di tempat kejadian," bisik Irys penuh penekanan, seolah kalimat itu sendiri membawa kutukan.
"Kaetos mencengkeram dan menggigitnya dengan dorongan histeria murni sampai wanita itu berhenti bernapas. Sedangkan tukang kebun gila yang ikut terlibat... malam itu juga dieksekusi langsung oleh orang-orang kepercayaan keluarga Ashford. Tubuhnya dihilangkan tanpa jejak, tak pernah ditemukan oleh hukum atau siapa pun hingga hari ini."
DEG.
Jantung Parrie seakan berhenti berdetak. Pengakuan itu menghantam otaknya bagaikan godam raksasa.
Bayangan seorang anak laki-laki kecil berusia dua belas tahun yang ketakutan, tersudut dalam kegelapan, lalu berubah menjadi sesosok pemangsa demi mempertahankan diri dari kejamnya dunia... terbayang begitu nyata dan berdarah di dalam benaknya.
"Sejak malam berdarah itu, mentalnya benar-benar hancur," lanjut Irys seraya mengusap lengannya sendiri yang merinding. "Bukan hanya jijik pada sentuhan, tapi insting pertahanan dirinya berubah menjadi sangat agresif dan brutal. Kau bisa bertanya pada siapa pun yang mengenal Kaetos sejak masa high school. Siapa pun—pria atau wanita—yang tak sengaja menyenggol atau mencoba menyentuh tubuhnya tanpa izin... berakhir babak belur dan masuk rumah sakit karena dihajar habis-habisan oleh Kaetos."
Irysh menghela napas panjang, menatap Parrie dengan pandangan penuh rasa kasihan yang mendalam. "Tragis, bukan? Seorang pewaris kekayaan Ashford yang memiliki segalanya di dunia ini... ternyata hidup di dalam penjara traumanya sendiri yang sangat berdarah dan kelam."
Isak tangis Parrie pecah kembali, kali ini lebih parau dan menyayat hati. Ia menutup wajahnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan.
Setiap potongan teka-teki yang selama ini menyiksanya kini telah terbuka sepenuhnya. Semuanya adalah jeritan histeris dari seorang anak kecil yang jiwanya telah mati sejak usia dua belas tahun.
Di dalam kamar yang sepi itu, di bawah temaram cahaya lampu malam, Parrie akhirnya menyadari satu hal dengan sangat jelas: Kaetos Ashford bukanlah seorang monster jahat yang kejam. Pria itu hanyalah jiwa yang terluka parah, hancur berkeping-keping, dan sangat membutuhkan pertolongan di tengah kegelapan yang mengurungnya.
update terusss😍😍😍