NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Tiga hari setelah resepsi ulang di Hotel Mulia.

Rumah Pondok Indah jam 10 malam.

Semua lampu di lantai bawah sudah dimatikan Bi Ijah. Rumah megah itu sepi. Hanya lampu tidur warm kuning temaram di kamar utama lantai 2 yang masih menyala.

Di kamar utama itu ada ranjang king size dengan seprai putih bersih yang baru diganti sore tadi oleh Alena. Di bawah ranjang ada guling panjang yang sejak malam pertama menjadi pembatas.

Sudah tiga malam Aditya dan Alena tidur satu ranjang setelah menikah mereka selalu pisah kamar.

Dan tiga malam itu, rasanya lebih tegang dari rapat direksi triliunan.

Malam pertama setelah resepsi: Aditya tidur di ujung kiri, Alena di ujung kanan. Jarak di tengah satu meter lebih. Guling di tengah. Keduanya punggung-punggungan. Tidak ada yang bicara. AC 18 derajat, tapi keduanya keringetan. Alena menarik selimut sampai leher, Aditya pura-pura main HP sampai jam 1 malam.

Malam kedua: Tengah malam Aditya ketiduran, tangannya tidak sengaja menarik selimut Alena, kakinya menyentuh kaki Alena yang dingin. Alena kaget langsung minta maaf dengan suara pelan, "Maaf Pak." Aditya juga kaget, langsung tarik kaki, jawab datar, "Hmm, tidak apa-apa." Lalu hening lagi sampai pagi. Pagi-pagi keduanya bangun dengan lingkar mata hitam.

Dan malam ini, malam ketiga. Jam 22.15 malam.

Aditya baru selesai mandi. Rambutnya masih basah, belum disisir, hanya pakai kaos oblong putih tipis dan celana tidur hitam panjang. Wajahnya yang biasanya datar, cool, dingin seperti CEO es batu saat di kantor, malam ini terlihat tegang. Ia duduk di pinggir ranjang sebelah kiri, menatap guling yang ada di tengah itu lama sekali, seperti menatap musuh.

Pintu kamar mandi terbuka pelan.

Alena keluar dengan daster tidur satin cream panjang yang baru dibelikan Wulan sebelum malam resepsi. Rambutnya masih agak basah, digerai ke samping, wajah tanpa make up sama sekali, hanya lip balm, pipinya merah natural karena malu dan habis mandi air hangat. Tangannya meremas ujung daster, berdiri kaku di depan lemari, tidak berani langsung naik ke ranjang.

Aditya menoleh. Untuk beberapa detik ia hanya diam menatap Alena. Dulu Alena adalah adik iparnya, Ia tidak pernah melihat Alena dengan daster satin seperti ini, dengan rambut basah seperti ini, di kamarnya sendiri.

"Alena," panggil Aditya pelan.

"Iya Pak?" jawab Alena spontan, masih dengan kebiasaan.

Aditya menatap guling di tengah.

"Masih mau pakai guling?" tanya Aditya, suaranya pelan, tidak dingin, tapi serak, seperti menahan sesuatu.

Alena menunduk, jarinya memainkan ujung daster satin cream itu. Malu sekali.

"Alena... Alena belum terbiasa Pak... malu Pak..."

Aditya terdiam 5 detik, lalu dengan gerakan pelan, ia meraih guling panjang itu dan menjatuhkannya ke bawah ranjang. Jatuh dengan suara pelan, _buk_.

Alena kaget, mata bulatnya membesar, "Pak? Gulingnya?"

Aditya menatap Alena, mata elangnya yang biasanya tajam, malam ini lembut.

"Sudah tiga hari pakai guling, Len. Kita sudah janji di depan 500 orang di Hotel Mulia jadi selamanya. Masa di kamar sendiri masih pakai guling?"

Alena tidak menjawab, hanya menggigit bibir. Akhirnya ia naik pelan ke ranjang, duduk di sisi kanan, menarik selimut putih sampai dada, hanya kepala dan matanya yang kelihatan. Duduk kaku, punggung tidak menyentuh headboard.

Hening 2 menit. Hanya suara AC yang berdengung.

Aditya masih duduk di pinggir, belum berbaring. Ia menatap langit-langit kamar, lalu membuka suara.

"Len, tadi siang Mama telepon saya."

"Iya Pak?" Alena mengintip dari balik selimut.

"Mama bilang, Mama sudah booking villa di Ubud. Untuk bulan madu kita. 5 hari 4 malam. Private pool. Mama bilang kita butuh bulan madu, selama ini aku hanya sibuk dengan kerjaan sampai aku tidak pernah ada waktu buat kita.Em,hanya kita berdua. Tidak ada yang ikut."

Alena langsung duduk tegak, selimut turun sedikit, daster satin cream-nya kelihatan. Wajahnya yang tadi malu-malu langsung berubah jadi panik.

"Bulan madu Pak? Sekarang Pak?"

"Iya. Minggu depan. Pesawatnya sudah Mama pesankan. Business class."

Alena terdiam lama. Tangannya yang tadi meremas selimut, sekarang meremas lebih kencang.

"Pak... jangan sekarang ya Pak..." kata Alena dengan suara sangat pelan, hampir berbisik.

Aditya menoleh cepat, wajah datarnya berubah, ada kecewa yang tidak bisa disembunyikan.

"Kenapa? Kamu tidak mau pergi berdua sama saya? Kamu tidak mau bulan madu sama saya?"

"Bukan begitu Pak, bukan begitu..." Alena buru-buru menggeleng, pipinya yang tadi merah malu, sekarang merah karena panik dan tidak enak, "Alena mau Pak, Alena mau sekali pergi berdua sama Bapak... Alena sudah lama ingin Pak... tapi..."

Alena menarik napas.

"Tapi Sean kan ujian akhir kelulusan minggu depan Pak... Ujian akhir penentu lulus SMA Pak... Dia belajar tiap malam di perpustakaan sampai jam 11 malam Pak, Kalau kita pergi ke Bali 5 hari sekarang, kasihan Sean Pak... Siapa yang temani dia belajar Pak? Siapa yang bangunin dia pagi-pagi jam 5 buat berangkat ujian Pak? Siapa yang buatkan nasi goreng spesial dan bekal buat ujian Pak? Masa iya bi Ijah?"

Aditya terdiam. Ia baru ingat. Minggu depan memang jadwal ujian akhir kelulusan. Ujian yang menentukan Sean lulus SMA atau tidak.

Ia menghela napas panjang, napas berat CEO yang memikirkan perusahaan, tapi kali ini memikirkan anak.

"Iya, kamu benar. Saya sampai lupa Sean ujian akhir minggu depan."

Alena mengangguk pelan, suaranya masih malu-malu pengantin baru yang menahan keinginan sendiri demi anak.

"Alena minta tunda ya Pak bulan madunya... tunda 2 minggu lagi aja ya Pak, sampai Sean selesai ujian dan pengumuman lulus... Setelah Sean lulus, kita pergi berdua saja ya Pak... hanya kita berdua Pak, tanpa siapa-siapa.

Aditya menatap Alena yang duduk kaku,malu-malu tapi berani menolak bulan madu dengan alasan yang sangat tulus. Justru itu yang membuat Aditya semakin sayang.

Aditya menggeser duduknya pelan, mendekat. Jarak yang tadinya satu meter, sekarang tinggal 70 cm. Sekarang ia bisa mencium wangi sampo Alena yang masih basah.

Alena makin kaku, makin malu, menatap seprai putih, tidak berani menatap mata Aditya.

Lalu Aditya berkata dengan suara paling pelan malam ini.

"Len."

"Iya Pak?"

"Jangan panggil Pak lagi."

Alena kaget, mendongak. Mata mereka bertemu dengan jarak 70 cm. Ini pertama kalinya mereka saling tatap sedekat ini di ranjang setelah resepsi.

"Terus Alena panggil apa Pak?" tanya Alena spontan, masih keceplosan karena sudah kebiasaan panggil Pak.

Aditya tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali keluar. Senyum yang hanya Alena pernah lihat saat di karpet perpustakaan saat makan Indomie.

"Panggil Mas. Seperti kemarin di pelaminan Hotel Mulia. Waktu kamu gugup, kamu sempat panggil Mas sekali, ingat? Kamu bilang 'Saya mau jadi Mrs. Pradana selamanya, Mas'. Setelah itu kamu balik lagi panggil Pak."

Alena pipinya langsung merah padam seperti kepiting rebus. Ia ingat kejadian itu. Karena gugup di depan 500 orang, ia keceplosan panggil Mas, lalu langsung ralat jadi Pak lagi.

"Saya.. saya belum terbiasa Pak... eh... belum terbiasa..." kata Alena, semakin gugup, semakin salah.

Aditya terkekeh pelan. Tawa pelan CEO dingin yang lumer.

"Coba. Sekarang. Panggil Mas. Di kamar ini, hanya kita berdua. Tidak ada Mama, tidak ada Sean, tidak ada 500 tamu. Coba panggil Mas."

Hening 10 detik. Alena menunduk dalam sekali, rambut basahnya menutupi wajah merahnya. Tangannya gemetar memegang selimut. Suaranya keluar kecil sekali, hampir tidak terdengar, berbisik, malu-malu sekali.

"Mas..."

Satu kata itu. Satu kata "Mas" dengan suara malu-malu pengantin baru, membuat jantung Aditya berdetak kencang. Lebih kencang dari saat tanda tangan kontrak 500 miliar.

Aditya memberanikan diri, tangannya yang dingin, yang biasa hanya memegang pulpen Mont Blanc dan gelas kopi hitam, pelan-pelan meraih tangan Alena yang sedang meremas selimut. Pertama hanya ujung jari menyentuh ujung jari.

Alena gemetar, tapi tidak menarik tangannya.

"Len, boleh saya pegang tangan kamu? Seperti malam di karpet perpustakaan waktu makan Indomie itu?" tanya Aditya dengan suara serak menahan deg-degan.

Alena mengangguk sangat pelan, masih menunduk, suaranya berbisik, malu-malu.

"Boleh... Mas..."

Aditya menggenggam tangan Alena sepenuhnya. Tangannya yang dingin bertemu tangan Alena yang hangat dan sedikit berkeringat karena gugup. Genggaman pertama di ranjang king size tanpa guling pembatas.

Mereka akhirnya berbaring pelan, masih sama-sama kaku, masih sama-sama malu, tapi sekarang tanpa guling di tengah. Berbaring miring, berhadapan dengan jarak 30 cm, hanya tangan yang bergandengan di atas seprai putih di antara mereka. Lampu tidur warm temaram memantulkan bayangan mereka berdua yang bergandengan tangan di dinding kamar.

Alena berbisik pelan, masih malu tapi berani menatap mata Aditya yang biasanya dingin.

"Mas... terima kasih ya Mas sudah mau tunda bulan madunya..."

Aditya mengangguk, membalas bisikan itu, suaranya juga berbisik, serak.

"Iya... sama-sama... sayang..."

Kata "sayang" itu pertama kalinya keluar dari mulut Aditya Pradana.

Alena langsung menutup wajahnya dengan selimut putih karena malu tidak tertahankan, tapi tangannya tetap digenggam Aditya erat di balik selimut.

Malam ketiga satu ranjang, tanpa guling, tanpa kata "Pak" lagi, hanya "Mas", hanya genggaman tangan yang gemetar, dan janji bulan madu ditunda 2 minggu demi ujian akhir kelulusan.

Bersambung....

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!