Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Cemburu...?
Di dalam lift, Suzan dan Bagas saling diam. Hingga lift sampai ke lantai tiga, namun tidak ada tanda-tanda Bagas mau turun walaupun pintu lift terbuka. Suzan pun menoleh ke arahnya, merasa heran kenapa sang suami tidak keluar. Sedangkan Bagas yang berdiri di sampingnya diam mematung sambil menatap ke arah pintu lift yang kembali tertutup rapat.
Dan sampailah mereka berdua di lantai lima. Pintu lift kembali terbuka. Suzan melangkah keluar lift dan Bagas mengikutinya. Suzan hanya melirik ke arahnya tanpa ingin memulai percakapan. Iya, Suzan masih kesal dengan sikap Bagas tadi ketika di cafe karena pertemuannya dengan Bintang. Padahal hal itu sama sekali tidak direncanakan oleh Suzan atau pun Bintang.
Itu hanya masalah kebetulan saja, tapi sikap Bagas seolah Suzan telah melakukan hal tidak terpuji dengan mantan kekasihnya.
Suzan terus melangkah menuju ruang kerjanya begitu juga dengan Bagas yang terus mengikutinya dari belakang. Di depan pintu ruang kerjanya Suzan berpapasan dengan Alma.
"Siang bu Suzan... Pak Bagas..." sapa Alma.
Iya, ketika di depan Bagas ataupun orang lain , Alma memang selalu memanggil Suzan dengan sebutan yang formal, sebagaimana panggilan antara bawahan kepada atasannya. Namun jika hanya ada mereka berdua, Alma tetap memanggil nama. Dan itu sudah menjadi kesepakatan mereka berdua sebagai sahabat.
Baik Suzan ataupun Bagas tidak menjawab sapaaan Alma. Justru Suzan yang tiba- tiba melotot ke arah Alma sehingga Alma pun merasa kaget serta heran. Mereka berdua pun masuk ke ruang kerja.
"Ada apa dengannya...? Kok dua melototiku...? Tapi kalau dilihat dari raut wajahnya, mereka sepertinya sedang bertengkar..." gumam Alma merasa penasaran apa sebenarnya yang terjadi antara Suzan da Bagas.
Sementara itu di dalam ruang kerjanya, Suzan duduk di sofa. Begitu juga dengan Bagas yang duduk tepat menghadap ke arah Suzan.
"Aku tidak mengijinkan kamu untuk bertemu dengan laki- laki itu lagi..." akhirnya Bagas membuka suara sambil menatap lekat wajah Suzan.
Suzan diam beberapa saat sambil menatap sang suami.
"Maksud kamu apa sih mas, ngomong kayak gitu mas...?'' tanya Suzan.
"Memangnya apa yang aku ucapkan tadi kurang jelas...?'' sahut Bagas.
Suzan menghela nafas.
"Iya tapi kamu harus jelaskan alasan kamu apa bicara seperti itu..." jawab Suzan.
"Aku kan sudah jelaskan, perusahaan kita dengan perusahaan tuan Anggara itu menjalin kerja sama. Dan papa yang meminta aku untuk mengurus kerja sama itu. Kalau papa nggak nyuruh aku, aku juga ngak bakal mengerjakannya..." sambungnya lagi.
Bagas tersenyum sinis.
"Tapi kamu tahu kan, kalau laki- laki itu bekerja di perusahaan tuan Anggara, makanya kamu mau menerima kerja sama itu..." sahut Bagas.
Suzan kembali menghela nafas.
"Kamu ini kenapa sih mas... Dari tadi kok ngomongnya ke mana- mana nggak jelas kayak gitu...? Atau kamu cemburu karena aku ketemu sama Bintang untuk membahas kerja sama dengan perusahaan kita...?" tanya Suzan.
Bagas bangun dari duduknya lalu menyibakkan rambutnya ke belakang.
"Aku bilang, kamu tidak usah repot- repot melanjutkan kerja sama itu, biar saya yang akan tangani..." ucap Bagas.
"Apa mas...?"
"Kenapa...? Kamu keberatan...? Apa kamu meragukan kemampuanku seperti papa yang selalu meremehkanku dan menganggapku tidak bisa apa- apa...?'' sahut Bagas.
"Bu..bukan mas... Bukan seperti itu, tapi ini kan...
"Oh aku tahu, kamu keberatan karena kamu nggak akan bisa lagi ketemu sama mantan pacar kamu...? Iya...? Trus kamu jadi nggak bisa lagi bernostalgia sama dia, begitu...?'' lagi- lagi Bagas tidak mau mendengar penjelasan Suzan sampai dia selesai bicara.
"Mas...
"Kapan kamu akan mengadakan pertemuan lagi dengan wakil perusahaan itu...?'' tanya Bagas.
"Besok siang..." jawab Suzan.
"Oke... Biar aku yang akan menggantikan kamu. Dan lebih baik kamu kerjakan pekerjaan kamu yang lain saja..." sahut Bagas dengan tegas.
Dan tanpa berkata apapun lagi, Bagas meninggalkan ruang kerja Suzan.
"Oh ya ampun... Mas Bagas kenapa sih, apa dia nggak bisa membedakan antara urusan pribadi dengan urusan pekerjaan..." ucap Suzan begitu Bagas keluar dari ruang kerjanya.
Ya tentu saja Suzan tidak setuju dengan tindakan Bagas yang seenaknya akan menggantikan pertemuannya dengan Bintang untuk membahas kerja saja. Karena dalam urusan ini Bagas tidak terlibat sama sekali, dan otomatis dia tidak akan paham dengan konsep kerja sama mereka yang sudah berjalan lebih dari lima puluh persen tersebut.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Sementara itu Bintang yang juga sudah berada di kantor, terlihat duduk termenung di meja kerjanya, sambil menatap foto yang selama ini selalu dia pajang. Foto yang selalu dia anggap sebagai penyemangatnya dalam bekerja. Iya foto itu adalah foto kebersamaannya dengan Suzan saat mereka masih berstatus sebagai sepasang kekasih.
Pertemuannya hari ini dengan Suzan di cafe dan ekspresi wajah Suzan yang terlihat tidak seperti biasa, cukup membuat Bintang khawatir dengan kondisi perempuan yang pernah menjadi tempat ternyaman buatnya selama kurang lebih empat tahun lamanya.
Iya, empat tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalin cinta dan saling mengenal satu sama lain. Bagas paham betul bagaimana Suzan. Saat Suzan senang, sedih, marah, Bintang akan tahu, hanya dengan melihat raut wajahnya saja.
Dan hari ini Bintang melihat raut wajah Suzan yang beda dari biasanya. Bagas melihat ada kesedihan dan juga rasa lelah yang sedang Suzan rasakan.
Ditambah lagi Bintang memang pernah secara tidak sengaja melihat sesuatu yang sangat tidak pernah dia sangka sebelumnya. Iya, sejak mendengar Suzan dinikahi oleh anak semata wayang keluarga Hartanto, Bintang menduga bahwa Bagas telah membuat Suzan bahagia lahir dan batin.
Hingga Bintang memilih untuk menjauh dari kehidupan Suzan. Namun tanpa disengaja mereka berdua ditakdirkan untuk bertemu kembali dalam urusan pekerjaan. Pertama kali bertemu , Bintang masih bisa melihat Suzan baik- baik saja. Tapi untuk pertemuan ke dua, Bintang merasa khawatir. Bintang mengkhawatirkan Suzan hingga dia merasa tidak tenang dan selalu memikirkannya setiap waktu.
Iya, Bintang pernah beberapa kali secara tidak sengaja melihat Bagas masuk ke dalam apartemen bersama seorang perempuan. Karena kebetulan Bintang juga tinggal di apartemen di mana Bagas sering datang untuk menemui perempuan itu. Yaitu apartemen permata hijau. Dan Bintang yakin dia tidak salah lihat, bahwa laki- laki yang masuk ke dalam salah unit apartemen itu adalah Bagas.
"Apa raut wajahmu yang menggambarkan kesedihan hari ini karena kamu tahu kelakuan suamimu di belakangmu...?'' tanya Bintang sambil menatap figura foto yang terdapat gambar dirinya bersama Suzan.
"Kenapa dia dulu menikahimu, kalau pada akhirnya dia tega mengkhianatimu..." sambung Bintang yang masih betah menatap foto Suzan.
Bintang menghela nafas. Ingatannya kembali ke masa lalu di mana dia dan Suzan masih bersama sebagai sepasang kekasih. Dulu mereka sangat bahagia. Ke mana- mana selalu bersama. Bintang selalu mengantar Suzan berangkat ke kampus, selalu mengantar pulang, pergi berdua, dan tak jarang mereka saling berkunjung ke rumah.
Di usia Bintang lebih tua satu tahun dari Suzan, mereka tidak hanya memposisikan diri sebagai kekasih, tapi sebagai teman, adik, dan saudara. Hari- hari mereka selalu di warnai tawa, bahagia, kadang berantem namun baikan lagi.
Tanpa sadar Bintang tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Suzan di masa lalu.Hingga ketukan di pintu ruang kerjanya yang sudah beberapa kali sama sekali tidak terdengar olehnya.
"Duh senyum- senyum mulu dari tadi, lagi mikirin apa sih bos...?'' tanya Arman yang sudah duduk di depan meja kerja Bintang.
"Ish kau ini... Mengagetkan saja..." Bintang yang terkejut dengan kehadiran Arman nampak kesal.
Arman pun tertawa. Bintang yang nampak malu karena ketahuan senyum- senyum sendiri sambil menatap foto dirinya bersama Suzan, segera meletakkan kembali foto tersebut di meja kerjanya.
"Lagian bos melamun aja sih..." sahut Arman sambil melirik ke atas meja kerja di mana foto itu berada.
"Cieee... Lagi mikirin bu Suzan ya...?'' tanya Arman yang memang sering usil pada Bintang.
Bintang hanya melirik sekilas ke arah asistennya yang cerewet itu.
"Mau ngapain kamu ke sini...?'' tanya Bintang dengan ketus.
"Lho...lho...lho...gimana sih, kan tadi Bos Bintang sendiri yang minta saya membawakan berkas ini..." jawab Arman sambil meletakkan tumpukan berkas di depan Bintang.
Bintang menghela nafas. Iya, saking serius memikirkan Suzan, dia sampai lupa kalau tadi sebelum masuk ke ruang kerja Bintang meminta Arman membawa beberapa berkas kerja sama dengan perusahaan Hartanto Group.
"Jadi bos masih menjomblo sampai hari ini karena mau menunggu jandanya bu Suzan...?'' tanya Arman dengan wajah polosnya.
Mendengar pertanyaan konyol Arman, Bintang mengambil pulpen di atas meja kerja lalu melemparkannya hingga mengenai kepala Arman.
"Aduh..." Arman meringis sambil memagangi kepalanya yang sakit.
"Sakit boooosssss..." rengek Arman.
"Sukurin..." sahut Bintang.
"Makanya, kalau ngomong jangan sembarangan..." sambungnya lagi.
Arman memanyunkan bibirnya persis seperti cewek yang sedang ngambek. Iya, Arman memang laki- laki sejati, tapi jika sudah bicara, dia lebih ke kemayu, banyak gerak, dan juga cerewet seperti perempuan. Tapi walaupun begitu, dia adalah asisten yang jujur dan cerdas kepercayaan Bintang.
"Kembalikan pulpennya..." ucap Bagas.
"Yeee.... Sendirinya yang lempar juga..." sahut Arman sambil memberikan pulpen yang tadi dilempar oleh Bintang.
"Bos..." ucap Arman.
Bintang yang sibuk mengecek berkas terlihat cuek tanpa menjawab panggilan Arman.
"Tapi bu Suzan itu memang cocok sama bos..." sambungnya lagi.
Bintang melirik sekilas ke arah Arman kemudian kembali fokus pada berkas.
"Saya doain deh semoga bos berjodoh sama bu Suzan..." ucap Arman.
Bintang menoleh ke arah Arman.
"Jangan ngawur kamu kalau ngomong...." sahut Bintang.
"Bukannya ngawur bos, tapi setelah kejadian tadi siang di cafe, saya yakin kalau bu Suzan itu nggak cocok sama pak Bagas. Pak Bagas terlalu kasar sama perempuan. Bos lihat kan tadi, dia menarik tangan bu Suzan dengan kasar. Ih laki- laki macam apa itu, berani banget kasar sama kaum wanita..." ucap Arman dengan gaya kemayunya.
Bintang menghela nafas. Iya, yang dikatakan oleh Arman memang benar adanya. Bintang juga kesal saat melihat dengan mata kepalanya sendiri Bagas menarik tangan Suzan dengan kasar.
"Sepertinya suaminya bu Suzan cemburu sama bos..." ucap Arman.
Bintang kembali diam tak mau menanggapi ucapan Arman.
"Mukanya juga kayak gitu... Kok mau sih bu Suzan menikah sama laki- laki seperti itu...?" sambung Arman.
"Seperti itu gimana...?'' tanya Bintang.
"Nih ya bos, kalau dilihat dari mata batin saya, suaminya bu Suzan itu bukan laki- laki setia..." jawab Arman mulai bergosip.
"Sok tahu kamu..." sahut Bintang, walaupun dalam hatinya Bintang heran kenapa Arman bisa punya pikiran yang sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Bagas di luar sana.
"Ah bos ini memang ketinggalan jaman sih..." ucap Arman.
Bintang hanya menggeleng- gelengkan kepalanya.
"Bos nggak tahu ya, kabar yang beredar di luar sana tentang tuan Hartanto...?'' tanya Arman.
"Kabar apa...?'' tanya Bintang yang sebenarnya enggan mendengarkan ocehan sang asisten. Namun di sisi lain Bintang cukup penasaran.
"Tuh kan... Memang nih si bos Bintang ketinggalan berita...Kan di luar banyak gosip beredar kalau tuan Hartanto itu punya sugar baby..." jawab Arman.
"Kalau bapaknya aja tukang selingkuh, nggak menutup kemungkinan anaknya juga bakalan ngikutin jejaknya..." sambung Bintang.
"Ah kamu ini... Kalau gosip aja nomor satu... Sudah...sudah... Nggak usah diteruskan omong kosong kamu itu, cepat kembali ke ruang kerjamu...." Bintang mengusir Arman.
"Ih bos mah gitu, nggak percayaan kalau orang ngomong..." Arman bangun dari duduknya sambil manyun lalu keluar dari ruang kerja Bintang.
Bintang yang melihat tingkah asistennya hanya geleng- geleng kepala.
Bersambung...