Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Elden Membutuhkan Ibu
“Cari penghulu.”
Pak Can yang baru saja hendak meninggalkan ruang makan langsung berhenti.
“Maaf, Tuan?”
Arven berdiri di dekat pintu dengan wajah datar. “Cari penghulu.”
“Untuk apa?”
Arven melirik Mireya yang masih duduk di lantai makan bersama Elden.
“Menikah.”
Pak Can terdiam.
Mireya yang sedang meminum air hampir tersedak. “Menikah?”
Arven menoleh kepadanya. “Ya.”
Mireya menunjuk dirinya sendiri. “Saya?”
Arven mengangguk.
Mireya langsung berdiri. “Tunggu sebentar, Tuan Arven.”
Arven menatapnya.
“Saya datang ke sini untuk melamar pekerjaan.”
“Ya, benar.”
“Pekerjaan sebagai ibu untuk Elden.”
“Benar sekali.”
“Lalu kenapa harus ada sesi pernikahan segala?”
Arven berjalan mendekat.
Langkahnya tenang, tetapi entah kenapa membuat Mireya semakin membeku, mendongak ke atas.
“Karena aku tidak membutuhkan pengasuh.”
Mireya mengerutkan kening.
“Bukankah Tuan tadi bilang Elden membutuhkan seseorang untuk menjaganya?”
“Bukan sekadar seseorang.” Arven melirik putranya.
Elden sedang memegang sendok sambil diam-diam mengamati mereka.
“Elden membutuhkan ibu.”
Mireya terdiam.
Arven kembali menatapnya.
“Aku tidak membutuhkan istri.”
Mireya berkedip. “Tidak?”
“Tidak.”
Jawaban itu begitu cepat sampai Mireya tidak sempat berpikir.
Arven melanjutkan, “Elden yang membutuhkan ibu.”
Mireya menatap anak laki-laki itu.
Elden menatap balik.
“Kalau kau menjadi istriku,” ujar Arven, “itu artinya kau sah menjadi ibu bagi anakku.”
Mireya terdiam cukup lama.
'Aneh.'
'Sangat aneh.'
Namun justru ada rasa lega yang muncul di dalam hatinya.
'Syukurlah.'
Setidaknya pria ini tidak menginginkan hubungan yang 'itu' jika benar mereka harus menikah.
Setelah apa yang dilakukan Syahzan kepadanya, Mireya tidak yakin dirinya siap menghadapi laki-laki yang baru. Apalagi dalam waktu sesingkat ini. Tak mungkin ia bisa jatuh cinta begitu saja.
'Kalau tugasku hanya menjaga seorang anak… Tentu saja aku sanggup.'
Mireya akhirnya mengangguk, tanpa ragu. “Kenapa tidak?”
Pak Can yang berdiri di samping mereka langsung melirik Mireya.
'Semudah itu?'
Mireya mengangkat bahu. “Saya memang datang untuk bekerja.”
Ia mengusap rambut Elden. “Kalau pekerjaan saya adalah menjadi ibu bagi Elden, saya pastikan saya bisa melakukannya.”
Elden yang sejak tadi diam tiba-tiba bertanya, “Berarti Mireya tinggal di sini?”
Mireya tersenyum. “Iya.”
“Setiap hari?”
“Iya.”
Elden langsung mengernyitkan dahinya. “Berarti aku tiap hari harus berebut makan denganmu?!”
Mireya terdiam.
Pak Can yang berdiri di samping mereka langsung menunduk. Bahu pria itu bergetar. Ia sembunyikan wajah yang tak bisa menahan tawa.
Mireya menatap Elden dengan wajah tidak percaya. “Memang makanan tadi siapa yang menghabiskannya?”
Elden menunjuk piring nasi goreng di atas lantai. “Kamu!” tuduhnya.
Mireya mengangkat alis. “Bukankah akhirnya kamu yang menghabiskannya?” Mireya tak terima.
“Tapi kamu hampir saja menghabiskan makananku!”
“Hampir, bukan benar-benar menghabiskannya," ralat Mireya.
Elden memeluk piringnya erat-erat. “Pokoknya mulai sekarang makananku harus banyak!”
Mireya menahan tawa. “Baiklah. Kalau begitu, mulai nanti siang, kita lihat siapa yang menang lomba makannya.”
Elden membulatkan bibirnya. “Pasti aku yang menang.”
“Benarkah?”
“Aku bisa makan sebanyak ini ...” Ia membuka kedua tangannya selebar mungkin.
Mireya mengangguk. “Bagus, nanti semua orang akan percaya padaku, kalau kamu itu anakku."
Elden menggeleng. “Tapi ibu ga gendut kayak kamu…”
Mireya menunjuk dirinya sendiri. “Aku gendut? Kamu salah. Aku ini pemenang kehidupan. Tak ada yang bisa menandingi aku soal kecepatan makan."
Kepala Elden sedikit meneleng. “Begitu ya?”
"Iya," jawab Mireya asal.
"Kalau begitu, aku akan makan banyak. Biar aku bisa mengalahkanmu," ucap Elden penuh semangat.
"Bagus!" Dua jempol Mireya teracung di hadapan Elden.
Bocah itu tampak sumringah dan menyandarkan tubuhnya pada Mireya.
“Kalau kita kebanyakan makan, nanti makanan di rumah bisa cepat habis," bisiknya di telinga calon ibunya itu.
Mireya terkekeh. “Kalau begitu, ayo kita tanam sendiri bahan makanannya.”
Elden mengerutkan kening. “Tanam?”
“Iya.”
“Di mana?”
Mireya menunjuk ke luar jendela. “Di kebun.”
Elden mengikuti arah jarinya. Matanya berbinar. “Kita boleh ke sana?”
Mireya mengangguk. “Boleh. Asalkan ayahmu mengizinkan.”
Elden langsung bangkit dan berlari ke arah pintu. “Ayah!”
Arven yang baru saja berjalan melewati lorong berhenti.
Elden berlari menghampirinya. “Ayah!”
Arven menunduk. “Apa?”
“Aku mau ke kebun bersama Mireya!”
Arven melirik Mireya.
“Tuan, apa boleh saya membawa Elden melihat perkebunan di depan sana?”
“Boleh.” Jawabnya singkat.
Elden langsung bersorak. “Yeay!”
Ia menarik tangan Mireya. “Ayo!”
Tubuh Mireya yang berat saja hampir terseret oleh semangat bocah ini. “Pelan-pelan!”
Elden terus menariknya. “Kita lihat tanaman!”
Mireya tertawa. “Baik, baik.”
Mereka pun berjalan meninggalkan ruang makan.
Arven masih berdiri di tempatnya.
Pak Can menghampirinya. “Tuan.”
“Hm?”
Pak Can melirik ke arah Mireya dan Elden. “Sepertinya Tuan Muda sudah menerima Nona Mireya.”
Arven diam.
“Padahal biasanya untuk membuat Tuan Muda mau keluar rumah saja membutuh waktu yang lama.”
Arven menatap punggung kedua orang itu. “Dia berbeda.”
Pak Can mengangguk. “Benar.”
Kemudian pria itu teringat sesuatu. “Tuan.”
“Apa?”
“Untuk pernikahan…”
Arven menoleh. “Urus.”
“Baik.”
Pak Can hendak pergi, tetapi kembali berhenti. “Namun ada satu masalah.”
“Apa?”
“Orang tua Nona Mireya.”
Arven mengerutkan kening. “Kenapa dengan mereka?”
“Bukankah kita perlu meminta izin kepada mereka?”
Arven terdiam beberapa saat. Kemudian ia tampak setuju. “Cari alamatnya.”
Pak Can mengangguk. “Baik.”
“Jemput mereka.”
Pak Can membelalakkan mata. “Jemput?”
“Ya.”
“Dibawa ke sini?”
“Ya.”
Pak Can menghela napas. “Baik, Tuan.”
Ia baru berjalan beberapa langkah, tetapi suara Arven kembali terdengar. “Pak Can.”
Pak Can berbalik. “Ya?”
“Jangan gunakan mobil yang biasa.”
“Kenapa?”
“Gunakan mobil yang nyaman untuk membawa mereka ke rumah ini.”
Pak Can terdiam. Seumur hidupnya bekerja untuk Arven, baru kali ini ia mendengar tuannya memikirkan kenyamanan orang lain dengan begitu detail.
“Baik, Tuan.” Lalu, pria itu benar-benar pergi.
Arven kembali memandang ke arah perkebunan.
Dari kejauhan, terdengar suara Mireya. “Elden! Jangan lari!”
Disusul suara anak kecil. “Aku mau lihat pohon!”
Arven menghela napas.
Rumah yang selama ini begitu tenang, bahkan suara Elden jarang terdengar, kini mulai diramaikan oleh suara ceria dua orang.
Anehnya… Ia sama sekali tidak merasa terganggu.
.
.
Di sisi lain, Mireya berjalan sambil menggandeng tangan Elden. Anak itu tak berhenti bertanya.
“Kalau kita tanam wortel, bisa langsung dimakan?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Harus tumbuh dulu.”
“Berapa lama?”
“Beberapa minggu.”
Elden langsung cemberut. “Lama.”
“Kalau mau cepat, kita tanam sayuran yang lebih cepat panen," terang Mireya.
“Contohnya?”
Mireya berpikir. “Bayam.”
“Bayam?”
“Iya.”
Elden mengerutkan hidung. “Aku tidak suka bayam.”
*bersambung*
aku gemesssss
🫣🤣🤣🤣
Arven jangan diam saja 😡😡😡😡
Beri mereka pelajaran biar gak ngomong seenaknya.
Arven....kamu tahu apa yang harus kamu lakukan utk Mireya dan Elden
ayooo belajar galak
perlu aku kesana ga?
bantuin jambak🫣🤣🤣🤣
kepercayaan itu ga tumbuh dalam semalem..
dia udah pernah mencoba mempercayai seseorang dengan segenap jiwa dan raganya ,dan endingnya menyakitkan.
jadi cobalah kau bangun kepercayaan nya dulu
ambil simpatinya, dan sembuh kan lukanya
baru dia akan bisa membuka hatinya🥹
lucu amet si mereka🤣🤣
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣