Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.
Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.
Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
"oh ia buk, sebenarnya orang orang tadi siapa." tanya Alya .
Sudah dari tadi ia ingin menanyakan ini, namun ada rasa sungkan kepada Bu susan karena Bu susan ini terlihat dekat dengan mereka.
"oh, orang orang bertato tadi...".
Alya mengangguk....
Bu susan mengajak Alya duduk di salah satu kursi.
"mereka sebenarnya adalah mantan preman yang tobat.."
"mantan preman...?"
"ia, tapi tenang aja. Mereka udah gak jadi preman lagi, sekarang mereka sudah taubat."
"tapi Bu, kalo gak jadi preman lagi. Terus dapet uang dari mana."
ibu itu tersenyum, ia tau kekhawatiran Alya.
"mereka sekarang jadi kuli panggul di supermarket punya arus, kadang kadang mereka juga bantu beberapa tempat dagang juga."
"supermarket punya arus...? Apa arus punya supermarket.."
Bu susan tersenyum melihat keterkejutan Alya.
"arus memang gitu orangnya, dia selalu gak mau terbuka kalau gak di tanya terlebih dahulu. mungkin orang di desa kalian gak ada yang tau kalau arus punya usaha.".
"ia Bu, jangankan aku. Mertuaku juga gak tau tentang ini."
Bu susan menatap sekitar...
"mau bagaimana lagi, dia anaknya memang kayak gitu. walau kelihatan dingin apalagi kalau di lihat sekilas kayak kejam banget. Tapi aslinya hatinya itu lembut, kalo bukan arus kamu gak bakalan punya tempat tinggal kayak gini. Gak bakalan punya kerjaan, dia rela ngehabisin hampir seluruh hasil kerja keras dari jaman sekolah cuma buat lihat orang seperti kami hidup layak."
tanpa terasa lengan Bu susan sudah terkena tetesan air dari matanya sendiri.
Alya tak menjawab, namun dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"assalamualaikum...." ungkapan salam membuyarkan lamunan kedua wanita itu.
keduanya langsung menoleh ke sumber suara.
"waalaikumsalam..." ungkap mereka serentak.
Namun saat melihat orang yang mengungkapkan salam itu, Alya langsung terdiam.
"dia... Bukankah dia pria yang ada di foto yang ada di grub." batin Alya.
"Bu susan, ada apa ya...." tanya pria itu.
"Bu ini...." tanya Alya akhirnya.
Bu susan mengalihkan pandangannya ke arah Alya...
ia mengangguk....
"memang dia pria yang ada di foto. foto yang ngebuat arus di fitnah..." jawab Bu susan.
pak Mahmud yang bingung dengan apa yang di bicarakan Susan dan Alya tentu bingung.
"sebenarnya ada apa ya Bu susan. emang fitnah apa."
Bu susan menggeleng, ia mempersilahkan pak Mahmud untuk duduk dulu.
"perkenalkan dulu pak. Ini Alya, istri gurun."
pak Mahmud langsung tersenyum ramah kepada Alya...
setelah itu, Bu susan akhirnya mengatakan semua yang terjadi, karena tujuan dia di datangkan kemari memang untuk hal ini.
Sedangkan arus, kini ia sudah berada di ruangan lain.
"ada apa..." tanyanya.
"begini bang.... Lapak kita yang ada di pasar sekitar jalan rambutan mulai di datangi preman, mereka memaksa meminta uang perlindungan."
"preman...? Bukannya tempat itu sudah di bebaskan dari hal seperti itu."
"katanya ia bang... Orang yang kita tugaskan waktu itu juga mengatakan tempat itu sudah bebas dari pungutan liar."
"terus sekarang bagaimana... kenapa bisa ada kayak gini, memang siapa yang rutin memantau tempat itu."
beberapa orang berbadan besar itu saling menatap, terlihat ragu untuk mengungkapkan apa yang ada di kepala.
Namun akhirnya pria berkepala licin memberanikan diri maju.
"begini bang, dia udah 1 bulan ini ngilang. Gak ada yang tau kemana."
arus memegang pelipisnya...
"sudah, lakukan seperti biasa dulu. Jika bisa tanpa kekerasan tak perlu gunakan kekerasan, kalau mereka menggunakan senjata, jangan balas dengan hal yang sama. Lebih baik kita serahkan ke pihak berwajib."
"baik bang, tapi gimana sama dengan si Cipto."
arus mengangkat pandangannya..
"untuk sekarang biarkan dulu, jangan beri bayarannya untuk bulan ini. Kita lihat apa dia akan kembali atau memang ingin lari tanpa jejak."
"baik bang."
di tempat Alya, pak Mahmud sampai mengepalkan tangannya saat mendengar semua cerita tentang arus di desanya.
"gimana bisa begitu, sebenarnya siapa yang nyebarin foto" ungkap kesalnya.
Bu susan hanya menggeleng, keduanya menatap Alya.
"aku juga gak tau, nomornya gak di kenal. Fotonya juga cuma satu malam lalu di hapus, dia juga keluar dari grub. Jadi gak ada yang tau siapa pengirimnya"
pak Mahmud menatap Alya dengan sungguh sungguh.
"nak Alya, apa kau bisa percaya dengan suamimu..."
tentu Alya mengangguk....
"jadi tolong jangan bicarakan pertemuan ini, dengan orang di desamu."
"tapi pak, kalok aku ungkap bukannya fitnah ini bisa mereda.."
"percayalah kepada suamimu, arus bukan orang bodoh. Dia pasti memiliki rencana lain" lalu pak Mahmud memberi ponselnya.
"catat saja nomermu, nanti biar saya buat video klarifikasi. Kamu bisa memberi video itu ke orang terdekat seperti orang tua arus dan orang tuamu, agar mereka tak berprasangka kepadanya, bapak yakin arus gak akan mengatakan ini kepada orang tuanya. kalok keadaan memang sudah tak baik, baru kamu kirim video bapak ke grub itu."
Alya hanya menurut, ia benar benar mencatat nomernya ke ponsel pak Mahmud.
"tapi pak, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa bapak bisa bersimbah darah, sedangkan arus ada di sana sambil memegang tongkat besi."
pak Mahmud terdiam, sebenarnya ia tak ingin mengingat kejadian itu. Tapi tak mungkin dia hanya diam selamanya.
"jadi nak, sebenarnya foto itu di ambil 3 tahun lalu. Waktu itu bapak belum ikut arus, bapak masih menjadi pemulung. 2 hari sebelum kejadian bapak gak sengaja denger perbincangan salah satu kelompok waktu lagi mungut botol, bapak gak tau kelompok apa tapi yang jelas mereka berbicara tentang nyawa orang. awalnya bapak berusaha abai, tapi bapak gak bisa tenang. Akhirnya bapak ngomongin ini ke pengepul, sayangnya pengepul itu ternyata kenal dengan salah satu orang di kelompok yang bapak dengar."
pak Mahmud berhenti sejenak, ini adalah bagian terberat baginya. Namun dengan napas berat ia memberanikan diri bercerita..
" malem harinya, tiba tiba ada beberapa orang Dateng ke kediaman bapak. waktu itu bapak gak bisa apa apa, bahkan anak bapak pun di bawa, mereka menyeret tanpa belas kasihan, memukuli kami seakan kami hanya seonggok guling yang bebas mereka mainkan. Tentu saat itu bapak berusaha melawan demi anak bapak, Saat bapak berfikir kalau bapak akan mati, nak arus muncul. Dia menyelamatkan bapak, tapi sayangnya tidak dengan putraku"
akhirnya pak Mahmud tak dapat menahan lagi, ia benar benar terisak mengingat kejadian itu.
Bukan luka di tubuhnya, tapi tentang buah hati.
Walau Alya ingin tau apa yang terjadi selanjutnya, tapi dia tak berani meminta lanjutan. Melihat isakan itu saja dia sudah bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.
Bu susan yang tau situasi, mulai menenangkan pak Mahmud.
"sudah pak, semua sudah berlalu. Kalau memang tak sanggup tak apa."
"benar pak..." ucap Alya juga sudah tak tega.