Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28 : Ditarik Dari Dalam
Tanah hitam itu bukan tanah.
Pas Bima gali, tanahnya hangat. Kayak daging. Dan pas digali, tanahnya balik nutup lagi pelan-pelan. Hidup.
Rambut Arga yang Bima pegang itu licin lendir. Kepala Arga muncul setengah, mukanya penuh lumpur hitam, matanya merem, mulutnya masih dia bekap sendiri pakai tangan kanannya. Tangan kirinya megang akar yang ngelilit lehernya biar gak masuk ke tenggorokan.
Dia masih taat. Gak bersuara. Bahkan pas ketelan tanah.
Maira megang selendang leher Bima yang ngelilit tangan Arga, narik pelan. Selendangnya udah molor, benangnya -kretek... kretek...-mau putus.
Bima gali lagi, gali lagi pakai dua tangan. Kukunya patah kena akar di dalam tanah. Darah Bima netes ke tanah hitam, langsung diserap tanahnya.
Srup..
Sedikit lagi... dada Arga keangkat. Akar-akar kecil yang ngelilit badannya putus satu-satu pas ditarik.
Di belakang mereka, 3 meter...
Bhayavedin udah keluar full dari Pohon Induk.
Tingginya 3 meter. Badannya dari kayu hitam basah, retak-retak. Gak ada kaki, bawahnya cuma kumpulan akar yang nyeret tanah. Kepalanya gak ada wajah, cuma satu mata putih di jidat yang masih kebuka lebar, kelopak kayu gak nutup sempurna karena masih silau. Tapi lubang-lubang kecil di tubuhnya liar mencari suara.
Semua mata pohon udah ketutup lumpur, jadi Bhayavedin buta. Dia memang gak liat Bima lagi narik Arga.
Tapi dia dengar. Peka.
Dia dengar detak jantung.
Duk... duk... duk...
Jantung Arga yang kencang karena kehabisan napas di dalam tanah.
Jantung Maira yang deg-degan narik.
Jantung Bima yang paling kenceng karena panik.
Bhayavedin angkat tangan akar panjangnya. Ujung jari akar itu buka, kayak bunga, di dalamnya ada lubang kecil yang dengerin.
Dia ngesot pelan.
Srekk... srekk...
Akar bawahnya nyeret tanah hitam tanpa suara. Makin dekat.
Elina sama Gilang yang ada di samping Pohon Induk, udah nutup 3 mata terakhir, mereka liat Bhayavedin gerak ke arah Bima sama Maira.
Elina mau ngasih kode, tapi gak bisa bersuara. Dia ambil batu kecil, lempar pelan ke arah berlawanan biar Bhayavedin ngalihin denger.
Tak...
Batu jatuh 4 meter dari mereka.
Bhayavedin berhenti. Kepala kayunya nengok ke arah batu jatuh. Mata putih di jidatnya ngarah ke sana.
Satu detik.
Dua detik.
Dia tau itu jebakan. Dia balik lagi nengok ke arah Bima. Karena jantung Bima lebih kenceng dari suara batu.
Srekk... srekk... makin dekat. Tinggal 2 meter.
Bima masih fokus gali. Dia gak liat belakang.
Maira liat. Dari balik bahu Bima, dia liat Bhayavedin udah di belakang Bima persis. Tangan akarnya udah ngangkat, ujung jari akarnya udah kebuka, tinggal 1 jengkal dari punggung Bima.
Maira matanya melotot. Dia mau teriak, tapi mulutnya langsung dia bekap sendiri pakai tangan kiri. Tangan kanannya masih narik selendang Arga, jadi dia bekap pakai punggung tangan.
Air matanya netes deres.
Bima masih gali. Dia ngerasa ada bayangan nutupin cahaya samar dari lendir mata. Dan ada bau kayu busuk makin nyengat di belakangnya.
Bima pelan-pelan noleh, cuma kepalanya, 2 senti.
Dia liat...
Tangan akar Bhayavedin udah di belakang punggungnya. Ujung akar-akar kecil di jari itu gerak-gerak, nyari leher.
Tapi Bhayavedin belum nyentuh. Dia masih dengerin. Dia pastiin, itu jantung manusia atau jantung pohon.
Bima tahan napas. Jantungnya dia coba tahan. Dadanya sakit.
Di bawah, Arga yang kepalanya udah keluar setengah, dia buka mata pelan. Matanya ketemu mata Bima. Dia liat Bhayavedin di belakang Bima.
Arga, dengan sisa tenaga, pakai tangan yang masih bekap mulutnya, dia kasih isyarat ke Bima "Jangan gerak..."
Waktu berhenti.
Bhayavedin, buta, di belakang Bima, tangan di atas punggung Bima, dengerin detak jantung yang coba ditahan.
Maira, di samping, narik selendang, tangan gemeteran, nangis tanpa suara.
Elina sama Gilang di jauh, jongkok, gak bisa bantu, kalau gerak tanah bunyi.
Dan di semak, tanah hitam yang nelan Arga, pelan-pelan mulai narik lagi. Lebih kenceng dari tadi. Karena Arga udah hampir keluar, tanahnya gak mau lepasin mangsanya.
Srett!!
Badan Arga ketarik lagi 10 senti masuk ke dalam.
Selendang leher Bima...
KRETEK!
KRETEK!
Putus.
Putusnya bukan -krek- kencang. Pelan. Benang terakhirnya lepas satu-satu. Kayak napas terakhir.
Ujung selendang yang di tangan Maira, mental ke belakang, kena muka Maira. Selendangnya kosong.
Ujung selendang yang ngelilit tangan Arga, ketarik masuk ke dalam tanah hitam.
Srup..
Dalam 1 detik, yang tadinya kepala Arga udah keluar setengah, sekarang ketarik lagi.
Tanah hitam itu nganga, kayak mulut. Nyedot.
Arga cuma sisa jidat sama mata yang keliatan. Matanya liat Bima. Matanya bilang,"Udah, lepasin, biarin gue..."
Maira refleks mau masukin tangannya ke tanah buat nggali, tapi Bima tahan tangan Maira. Kalau Maira masukin tangan, tanahnya bakal nelan Maira juga.
Di saat yang sama...
Di belakang Bima...
Bhayavedin yang tangannya udah 1 jengkal dari punggung Bima, ngerasa ada getaran. Getaran selendang putus. Getaran tanah nyedot.
Dia dapet sinyal. Ada gerakan di depan.
Tangan akar panjangnya yang ngambang di atas punggung Bima, turun.
Pelan.
Ujung jari akar yang isinya akar-akar kecil gerak-gerak itu...
Nyentuh.
Nyentuh punggung Bima. Pas di tengkuk, di bawah selendang yang udah gak ada.
Dingin.
Dinginnya bukan dingin es. Dinginnya kayak kayu basah yang udah mati 100 tahun ditempelin ke kulit hidup. Nusuk sampai ke tulang belakang.
Bima langsung kaku. Seluruh badannya merinding dari tengkuk sampai kaki. Jantungnya yang tadi dia tahan, sekarang malah makin kencang karena kaget disentuh.
Bhayavedin ngerasa detak itu.
Dapet..
Jari akar itu langsung berubah. Dari yang tadinya ngeraba, jadi nyekek. Akar-akar kecil di ujung jarinya keluar, mau masuk ke pori-pori kulit Bima, mau masuk ke dalam punggung.
Bima gak bisa teriak. Kalau teriak, semua mata yang ketutup lumpur bakal kebuka lagi karena denger suara keras. Bhayavedin bakal bangun full.
Bima cuma bisa bekap mulutnya sendiri pakai tangan berlumpur, matanya melotot nahan sakit. Akar-akar kecil itu udah mulai nusuk kulit tengkuknya, perih kayak disuntik duri.
Maira liat itu. Bima disentuh.
Maira harus buat keputusan cepat.
Tarik tangan Bhayavedin dari punggung Bima, selametin Bima, tapi Arga di depan bakal hilang total ketelan tanah karena gak ada yang narik.
Atau biarin Bima ditusuk, tapi dia masukin tangan ke tanah buat narik Arga yang tinggal matanya doang.
Elina sama Gilang dari jauh cuma bisa liat, gak bisa bantu. Kalau mereka lari ke sana, tanah bunyi, Bhayavedin denger, semua mati.
Maira...
Maira ngambil keputusan gila.
Dia gak tarik tangan Bhayavedin. Dia juga gak gali tanah Arga.
Dia ambil tanah hitam berlumpur di depannya, segenggam penuh, terus...
Dia olesin lumpur hitam itu ke tangan akar Bhayavedin yang lagi nusuk punggung Bima.
Lumpur hitam yang tadi buat nutup mata pohon.
Bhayavedin...
Tangan akarnya kedutan. Kayak kesetrum. Akar-akar kecil yang mau masuk ke punggung Bima, kena lumpur hitam itu langsung layu.
Ssshhh...
Bunyi kayak cacing kena garam. Cairan hitam netes dari tangan Bhayavedin.
Tangan itu kejang, narik mundur dari punggung Bima.
Bhayavedin dongak, mata putih di jidatnya kedutan kesakitan, tapi dia gak teriak, dia makhluk kayu, suaranya cuma bunyi -krek krek krek- kayu patah.
Mundur selangkah.
Srekk...
Kesempatan 2 detik.
Bima yang punggungnya berdarah kecil-kecil bekas tusukan akar, langsung balik badan, masukin dua tangannya ke tanah tempat Arga hilang.
Maira ikut, dua tangan masuk tanah.
Mereka gali barengan, gak peduli kuku patah.
Jari Bima nyentuh lagi rambut Arga. Tarik!
Kali ini tarikannya pakai tenaga marah, bukan pelan lagi. Gak peduli bunyi.
SRETT!!
Kepala Arga keluar lagi. Leher keluar. Dada keluar. Tanahnya ngelawan, akar di dalam narik kaki Arga kencang banget.
Arga masih bekap mulutnya sendiri, tapi matanya udah nangis. Dia tau temennya balik buat dia.
Tinggal perut sampai kaki masih di dalam.
Dan di belakang mereka, Bhayavedin yang tangannya kena lumpur, udah netralin rasa sakitnya. Mata putih di jidatnya buka full lagi. Putih menyala.
Dia tau posisi mereka sekarang. Karena Bima sama Maira barusan narik pakai tenaga, bunyi tanah -sret- kencang.
Dia angkat dua tangan akar panjangnya tinggi-tinggi...
Mau ngesmash ke tanah tempat mereka bertiga berada.
***
***