Selama ribuan tahun, Kekaisaran Shen berdiri di Benua Zhanxi, melewati perang, pergantian kaisar, serta zaman yang terus berubah. Namun di balik sejarah panjang itu, terdapat satu nama yang hanya dianggap sebagai legenda.
Shen Hao Feng.
Kaisar pertama sekaligus pendiri Kekaisaran Shen—seorang Dewa Fana yang telah menghilang selama lebih dari sepuluh ribu tahun.
Ketika perang kembali menghancurkan wilayah Kekaisaran Shen dan musuh mulai menginjak tanah yang dahulu ia bangun dengan tangannya sendiri, sosok yang seharusnya hanya tinggal dalam sejarah itu akhirnya kembali.
Ia melihat bagaimana kekaisarannya berubah. Ia melihat rakyatnya menderita. Dan ia melihat tanah yang pernah ia lindungi dihancurkan oleh tangan musuh. Kini, Shen Hao Feng tidak kembali untuk merebut takhta. Ia kembali untuk mencari tahu siapa yang berani menghancurkan Kekaisaran Shen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyo Erdika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15. peninggalan teknik dewa
Boneka ranah Bintang tahap 5 itu menyerang serangan 2 roda api menuju kedua kultivator lain yang menyerang.
Perempuan dari dua orang itu segera berhenti. "Pilar Air!..." pilar air dari bawah tanah memaksa serangan dua roda api meleset ke atas.
"Bagus Chan He!." temannya seorang pria memegang tombak berlali lurus. "Haas!..."
Ujung tombaknya bersinar kemerahan, akan tetapi mata boneka bisa melihatnya. Pria itu menambah kecepatan.
"tombak haus darah!." tombak itu seolah hidup dan aura haus darahnya keluar.
Bahkan Shen Hao Feng juga layak untuk terkejut. "Pedang yang hidup? Jika di era Purba dulu maka itu sudah di anggap Artefak." pikirnya.
"Rasakan ini!." ia menusukkan tombaknya ke kepala Boneka itu namun hasilnya tidak terlihat karena debu.
"Bagaimana? apa dua orang tadi selamat?."
"Hei selain selamat kalau selamat hanya menerima luka sudah termasuk beruntung besar."
"Apa? Sebenarnya seberapa kuat boneka ini."
Sudah hampir seluruh yang masuk ke Prasasti masuk ke dalam Makam Dewa Han namun mereka semua tertahan oleh Boneka bintang tahap 5 ini.
Saat debu sudah hilang sebuah tangan tiba-tiba keluar dan mematahkan tombak lelaki itu hingga pecah.
Mata lelaki itu juga melebar dan perlahan darah mengalir dari sudut bibirnya. Bagian bawah tubuhnya terasa dingin dan saat dia melihat ke bawah kakinya terputus dari badannya.
"Arh!!..." teriakannya begitu keras hingga hampir semua orang bisa mendengarnya.
Wajah boneka ranah Bintang tahap 5 keluar dari debu dan tersenyum dengan cara menakutkan lalu melempar lelaki itu ke kultivator di depan.
Shen Hao Feng menatap dingin seolah tidak suka dengan cara boneka ini. Namun Shen Hao Feng tahu bahwa target selanjutnya boneka ini adalah perempuan disana.
"Sepertinya aku harus menyelesaikan ini dengan segera."
Benar saja, boneka itu menghilang dalam tempatnya membuat mata perempuan disana terbelalak ketakutan.
"A-ada dimana dia!."
"Ngiihhkk..." suara berdecit terkesan menakutkan di belakangnya membuat keringat nya semakin deras.
"Awas!."
bom!....
Seorang perempuan dengan hanfu mewah merah dengan pedang mendorong boneka itu menjauh darinya.
"Formasi trapesium!." ratusan murid di belakangnya memasang formasi jebakan yang membuat boneka itu terkurung dalam ruang yang terbatas.
"Hah.. Hah... Hah terimakasih senior." karena takutnya perempuan itu lari dalam kondisi gemetar.
"Hm... Sudah ada yang menolong maka aku tidak perlu lagi menganggunya."
Shen Hao Feng memanfaatkan kesempatan ini untuk masuk lebih dalam secara diam-diam saat yang lain teralihkan.
"Hm." dahi Xiao Ming berkerut saat boneka ini tidak terluka oleh serangannya. "Kenapa boneka ini bisa begitu curang? Aturan memaksa kami menekan ke tanah Langit puncak tapi dia tidak?."
"Boneka ini benar-benar idiot." pikir Xiao Ming.
Boneka ini mengumpulkan kekuatan dan meledakkan penjara ruang hinga beberapa murid tewas sisanya terluka.
Mata sang boneka berkilat merah dan menyerang Xiao Ming dengan cepat. Tangannya hendak meraih kepala Xiao Ming namun ia dengan cepat menghindar.
"Rasakan bedebah!." Xiao Ming dari belakang memberikan serangan bola api tak terhitung jumlahnya hingga sang boneka terpaksa terpojok.
"Huh." Xiao Ming mengibas pedangnya lalu bergerak adu kekuatan melalui gerakan yang tidak bisa di lihat oleh mata.
"L-lihat perempuan itu bisa atasi ini!."
"Luar biasa padahal dia di tekan di langit puncak tapi sudah sekuat ini!."
"Hoaaa!!..."
Xiao Ming menendang sang boneka hingga terjungkal ke pilar dan tersangkut. Cahaya merah terang datang menyinari mereka semua. Sang boneka perlahan-lahan melihat ke atas dimana Xiao Ming mengeluarkan Bangau putih dengan elemen Api.
"Mati sana bedebah!..." Xiao Ming melepaskan tebasan kuat dan bangau bercampur ke dalamnya.
Boneka itu tidak apa-apa dan pupilnya memantulkan cahaya dari api sebelum meledak mengenainya.
....
"Tempat ini memang benar saja sangat luas." Shen Hao Feng terbang mengitari setiap bagian sampai akhirnya dia sampai ke ruangan besar dimana hawa digin terus keluar.
"Ini..." alisnya mengerut saat melihat ribuan peti mati di taruh dan di tengahnya terdapat peti makan giok yang indah.
Shen Hao Feng pergi ke sisi mati dan tangannya menyentuh penutup atas makam dan Shen Hao Feng membelalak.
Jiwa nya di paksa turun ke suatu alam sadar semesta dan disana Shen Hao Feng melihat sosok besar, agung, bersama pasukannya di alam semesta.
"Ini Dewa Han?." Shen Hao Feng yang bahkan Dewa Fana ingin tercabik-cabik oleh energi sisa nya yang kuat. "B-benar-benar layak untuk seorang dewa!."
Akan tetapi energi kuat dari belakang juga mampu menggetarkan jiwa Shen Hao Feng dan beberapa artefak nya yang mampu menjaga jiwa pecah karena energi ini berbenturan begitu kuat.
Shen Hao Feng terengah-engah keras dan menoleh ke belakang. Disanalah dia melihat iblis tak terhitung jumlahnya muncul yang bertugas sebagai ketua adalah Mong Haochen.
"Mong Haochen?!." Shen Hao Feng juga kenal siapa di depannya.
Dewa Han menggerakan tombak sabit nya ke hadapan para iblis. "Habisi iblis-iblis ini."
"Hoaaa!!..."
Sorakan tempur pasukan Dewa Han mendorong jiwa Shen Hao Feng kembali ke alam sadarnya
Namun tetap saja Shen Hao Feng masih terengah-engah dan merinding pada Dewa yang sudah mati di depannya ini.
"Jadi kau adalah Dewa yang melindungi alam semesta ini saat iblis Mong Haochen datang?." gumam Shen Hao Feng, dia juga melihat tidak ada dupa atau arak sama sekali di atas peti mati para Dewa-dewa ini.
Karena merasa kasihan hingga akhir hayatnya melawan iblis. Shen Hao Feng memberi mereka masing-masing dupa dua batang dan satu kendi arak.
Shen Hao Feng bahkan sebagai bentuk kepedulian rela minum bersama mereka dan tanpa sadar itu membangkitkan sisa jiwa dari Dewa Han.
Tangan Dewa Han menepuk Shen Hao Feng dari belakang. "Anak muda siapa nama mu?."
Shen Hao Feng tersenyum penuh arti. "Ini kejutan sekali, senior perkenalkan nama saya Shen Hao Feng."
"Shen Hao Feng terimakasih atas hadiah kecil yang kau beri tapi ini sudah lebih baik dari tidak ada sama sekali." Dewa Han tertawa pelan. "Benarkan teman-teman lama."
"Ya Dewa."
"Benar sekali, terimakasih junior."
"Haha ini araknya lumayan."
Shen Hao Feng tersenyum terus saat sisa-sisa jiwa Dewa Han dan pasukan lainnya menikmati arak yang ia beli.
"Anak muda ayo minum bersama kami." ajak Dewa Han saat minum bersama pasukannya.
Shen Hao Feng tidak menyangka akan di ajak minum bersama para Dewa terdahulu. Tapi ia tidak menolak bahkan mengeluarkan 10 tong besar berisi arak.
"Haha para senior sekalian bagaimana kalau kita adakan tanding minum arak!."
Dewa Han berbalik serius. "Anak muda apa kau serius?."
Shen Hao Feng tertawa keras untuk pertama kalinya. "Siapa yang menang maka dia lah yang terbaik!."
"Setuju!." pasukan Dewa Han mendekat untuk mengambil arak dan adakan pertandingan. Shen Hao Feng melawan Dewa Han dan ada yang lainnya.
Kejadian ini berlangsung selama beberapa jam karena menunggu para sisa jiwa ini puas. Saat mereka puas, mereka mengangguk pada Dewa Han.
Dewa Han yang mengerti maksudnya tersenyum sebelum berdiri. "Baiklah Shen Hao Feng kurasa pertemuan ini sudah harus di akhiri."
Shen Hao Feng terkejut dan segera berdiri. "Tapi senior menapa terburu-buru? Saya masih memiliki banyak arak disini."
Dewa Han tertawa lembut. "Bukan soal arak, Shen Hao Feng. Tapi pasukan ku menemukan apa yang mereka butuhkan. Begitu pula aku."
Shen Hao Feng tak mengerti maksud nya. "Apa maksud Senior?."
Dewa Han berbalik badan menghadapnya dengan sisa jiwa yang perlahan berubah menjadi kunang-kunang. "Jiwa-jiwa ini sudah terpuaskan, kami berterimakasih kepadamu Shen Hao Feng."
"Terimakasih Shen Hao Feng!." seluruh pasukan membungkukkan badan penuh terimakasih.
"Kalian jangan seperti itu!." Shen Hao Feng membantu Dewa Han berdiri.
"Ah... Bagaimana kalau aku berikan pemahaman tentang 3 teknik warisanku? Keabadian, Entitas, dan Bencana."
Shen Hao Feng terkejut karena ketiga teknik ini adalah teknik utama yang di wariskan oleh Dewa Han.
"Dewa Han, kamu-
"Sudah tidak ada waktu lagi." Dewa Han beserta pasukannya memberikan pemahaman mereka tentang 3 teknik ini selain itu ada yang membiarkan jiwa mereka bersatu dengan Jiwa Shen Hao Feng.
Dewa Han tersenyum saat Shen Hao Feng merasakan efeknya melalui belenggu yang membuat dia tidak bisa menerobos.
"Selamat tinggal Shen Hao Feng... Dan bantu aku untuk melawan sang iblis, Mong Haochen." ucapnya sebelum musnah.
"Selamat tinggal Shen Hao Feng."
"Sampai jumpa junior!."
Para pasukan juga tersenyum kepada Shen Hao Feng hanya dia saja yang mengepalkan tangan hingga berdarah serta menangis untuk pertama kalinya sebagai Dewa Fana.
Begitu semuanya hilang, suasana hening kembali dan Shen Hao Feng berjalan pulang karena dia menemukan tujuannya.
Akan tetapi dia menemukan tujuan yang baru yakni. "Mong Haochen!."