NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Langkah kaki yang terdengar terburu-buru dan bergemerincing dari arah tangga membuat seorang wanita paruh baya yang sedang berkutat dengan wajan di dapur menoleh ke sumber suara. Aroma harum nasi goreng dan telur mata sapi mengepul di udara pagi yang masih sejuk.

"Jangan buru-buru, Aurelia. Kamu bisa jatuh," tegur Lila lembut, menyeka tangannya pada kain serbet, lalu menatap putri kesayangannya yang muncul dengan seragam putih abu-abu yang rapi meskipun dasinya tampak sedikit miring karena kepanikan.

"Nanti Aurelia bisa telat, Ma. Hari ini Aurelia kebagian jadwal piket kelas," sahut gadis itu dengan napas yang agak tersengal. Tangannya langsung meraih gelas susu yang sudah disiapkan di atas meja makan, lalu meminumnya dalam beberapa tegukan cepat.

"Nggak sarapan dulu, Sayang? Nasi gorengnya baru matang lho," tawar Lila dengan raut wajah khawatir.

"Aurelia jajan di kantin saja, Ma. Waktunya udah mepet banget!" jawab gadis itu seraya menyampirkan tas ranselnya ke pundak kanan dengan gerakan kilat.

Ia berlari kecil menuju pintu depan, membuat Lila hanya bisa menggelengkan kepala sambil berdecak pinggang melihat kelakuan putri tunggalnya itu.

"Anak itu benar-benar, kalau dibilangin nggak pernah sabaran," ucap Lila pelan, meski ada senyum keibuan yang tersungging di bibirnya.

Sementara itu, di ruang tamu yang bersebelahan langsung dengan ruang keluarga, Bayu yang tengah duduk santai sambil membaca koran pagi menurunkan lembaran kertas itu begitu mendengar suara gaduh di dekat pintu. Pria setengah baya berkacamata tipis tersebut menatap putrinya dengan pandangan teduh.

"Jangan lari-lari, Nak. Nanti tersandung," pesan Bayu dengan suara baritonnya yang tenang.

"Aurelia telat, Pa! Duh, udah 06.45 nih. Bay-bay, Papa!" jawab Aurelia riang sambil menyalami punggung tangan ayahnya sekilas.

Tanpa buang waktu lagi, Aurelia berlari kecil menuju teras samping, tempat sepedanya diparkir. Sepeda mini berkeranjang rotan itu adalah kendaraan setianya untuk berangkat ke sekolah setiap hari, mengingat jarak dari rumah sederhana mereka ke SMA Tunas Bangsa tidak terlalu jauh jika ditempuh lewat jalan pintas perumahan.

Kakinya yang terbalut kaus kaki putih dengan sigap mengayuh pedal sepeda keluar dari halaman rumah. Angin pagi menerpa wajahnya yang segar, menerbangkan beberapa helai rambut ikalnya yang tergerai bebas di balik dasi sekolah. Aurelia mengayuh sepedanya dengan penuh semangat, melewati gang-gang perumahan yang mulai ramai oleh warga yang hendak beraktivitas.

Namun, ketenangan pagi itu mendadak berubah ketika ia harus melewati sebuah persimpangan jalan raya yang cukup lengang namun rawan kendaraan melaju kencang. Baru saja roda depan sepedanya melewati tikungan, sebuah sepeda motor sport berkapasitas mesin besar meluncur dengan kecepatan tinggi tanpa membunyikan klakson.

BRUK!

"Aaaa!"

Jeritan tertahan meluncur dari bibir mungil Aurelia. Sekejap mata, sepedanya tersenggol oleh bodi samping motor tersebut, membuat keseimbangannya langsung hancur. Aurelia terjatuh ke atas aspal yang keras. Tubuhnya terpelanting, bahkan sebagian tubuhnya tertindih oleh rangka sepedanya sendiri. Lutut sebelah kanannya bergesekan langsung dengan permukaan aspal yang kasar, menciptakan rasa perih yang langsung menjalar ke seluruh kaki.

"Aduh... sakit banget," ringis Aurelia pelan, menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Telapak tangannya pun tampak memerah dan lecet. "Udah buru-buru, malah keserempet orang nggak bertanggung jawab!" keluhnya kesal sambil berusaha bangkit dari posisinya yang terjepit.

Sialnya, pengendara motor itu tidak langsung tancap gas meninggalkan lokasi kejadian seperti pengendara tabrak lari pada umumnya. Mesin motornya meraung kasar saat kendaraan berwarna hitam pekat itu berputar arah, lalu berhenti tepat di depan sepedanya yang tergeletak malang.

Alih-alih turun untuk menolong, mengulurkan tangan, atau setidaknya melontarkan kata maaf atas kecerobohannya, pengendara itu justru mematikan mesin, membuka kaca helm full-face-nya setengah, lalu mulai mengomel dengan nada suara yang ketus dan menyebalkan.

Di balik helm berwarna gelap itu, Aurelia bisa melihat sepasang sorot mata yang begitu tajam. Bola mata berwarna amber—cokelat kekuningan yang terang—menatapnya dengan tatapan b Computing, dingin, dan beringas bagaikan seekor serigala muda yang tengah mengintai mangsa. Tatapan itu membuat bulu kuduk Aurelia meremang seketika, bukan karena takut, melainkan karena rasa jengkel yang teramat sangat.

"Lu buta ya? Sampai nggak lihat ini jalan raya utama! Untung gue nggak nabrak lu sampai lu mati di tempat," gertak pemuda itu tanpa filter, suaranya berat dan bernada meremehkan.

Mendengar kata-kata kasar dan tuduhan sepihak itu, emosi Aurelia langsung membuncah. Ia mendongakkan kepalanya, memasang wajah geram yang—alih-alih terlihat menyeramkan—malah tampak sangat menggemaskan di mata sang pemuda karena pipinya menggembung akibat menahan marah.

"Oh, jadi Anda mau nuduh saya gitu?!" seru Aurelia dengan nada tinggi, sengaja memperjelas artikulasi bicaranya. "Hei, Tuan! Dengarkan baik-baik, ya! Anda yang menjalankan motornya terlalu kencang dan ugal-ugalan, dan jelas-jelas bodi motor Andalah yang menyenggol sepeda saya duluan! Seharusnya itu Anda yang turun, minta maaf, bukan malah memarahi korban!"

Aurelia sama sekali tidak menggunakan kata "lu-gue" seperti kebiasaan anak-anak muda zaman sekarang di sekolahnya. Sejak kecil, Bayu dan Lila selalu mendidiknya untuk menjaga tutur kata, senantiasa berbicara dengan sopan, santun, dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada siapapun, tanpa pandang bulu.

Pria itu tertegun sejenak. Alis tebalnya terangkat sebelah. Alih-alih marah karena dibentak balik oleh seorang gadis bertubuh mungil, sudut bibir pemuda itu justru tertarik membentuk sebuah senyuman miring yang misterius dari balik helmnya.

"Gadis pendendam rupanya," gumam pemuda itu pelan. Ia kemudian mendengus pelan sebelum berkata dengan nada sinis, "Lain kali kalau mau jalan, pakai mata. Jangan cuma pakai dengkul."

"Lain kali kalau mau ngebut-kebutan, jangan di jalan perumahan sempit kayak gini! Bisa cari jalan yang lebih luas sana, sirkuit liar misalnya!" balas Aurelia tidak mau kalah, tangannya sibuk merapikan rok abu-abunya yang sedikit berdebu dan memeriksa lututnya yang mengeluarkan darah tipis.

Tanpa mengindahkan omelan lanjutan dari Aurelia, pemuda itu meraih setang motornya, menyalakannya kembali dengan raungan knalpot brong yang memekakkan telinga, lalu menarik gas dalam-dalam dan melesat pergi meninggalkan kepulan asap tipis di udara pagi.

"Dasar pria aneh, kutu busuk, nggak punya sopan santun! Semoga saja aku tidak pernah, dan tidak akan pernah, bertemu lagi dengan dia seumur hidupku!" maki Aurelia pelan sambil mengelus lututnya yang perih. Dengan susah payah, ia menegakkan kembali sepedanya yang rantainya nyaris lepas, lalu kembali mengayuh dengan sisa-sisa tenaga menuju gerbang sekolahnya yang sudah mulai terlihat di ujung jalan.

Sesampainya di gerbang SMA Tunas Bangsa, suasana sudah cukup ramai karena bel masuk tinggal berdering sepuluh menit lagi. Aurelia memarkirkan sepedanya di area parkir khusus sepeda dengan gerakan tergesa-gesa. Namun, baru saja ia melangkah keluar dari area parkir menuju koridor utama, sebuah suara familiar langsung memanggil namanya.

"Calista!"

Dua orang gadis berambut sebahu berlari menghampirinya dengan ekspresi panik sekaligus riang. Mereka adalah Aruna dan Aluna, dua orang sahabat karib Aurelia sejak kelas sepuluh yang selalu lengket bagaikan perangko dan amplop.

"Ya ampun, Aurelia! Lutut kamu kenapa bisa berdarah begitu? Tas kamu juga kotor banget!" seru Aluna heboh, langsung memegang lengan Aurelia dengan mata membelalak lebar.

"Iya, Li! Kamu jatuh dari sepeda ya? Ih, bajunya juga ada noda hitam aspal tuh!" sambung Aruna tidak kalah panik, memeriksa keadaan fisik sahabatnya dari atas sampai bawah.

Mendapat serbuan pertanyaan dari kedua sahabatnya, Aurelia hanya bisa menghela napas panjang sambil meringis pelan saat merasakan perih di lututnya.

"Duh, pelan-pelan dong, Perih nih..." keluh Aurelia. "Iya, tadi aku hampir aja kecelakaan di persimpangan dekat kompleks. Diserempet sama pengendara motor gila yang bawa kendaraan ugal-ugalan!"

"Hah?! Diserempet motor? Ya ampun, untung kamu nggak kenapa-napa yang parah, Li! Orang zaman sekarang emang pada nggak punya hati nurani ya, main serempet anak orang terus kabur gitu aja!" maki Aluna kesal, merasa tidak terima sahabat baiknya diperlakukan seperti itu.

"Udah-udah, mendingan sekarang kita ke UKS dulu diobatin. Bentar lagi bel masuk berbunyi, kalau dibiarin nanti malah infeksi kena debu," ajak Aruna bijak.

Tanpa menunggu lama, Aruna dan Aluna langsung memapah tubuh Aurelia berjalan menuju ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Sesampainya di sana, mereka dengan telaten membersihkan luka di lutut Aurelia menggunakan cairan antiseptik dan menutupinya dengan plester luka. Meskipun perihnya luar biasa hingga membuat Aurelia beberapa kali menggigit bibir bawahnya, ia tetap bersyukur karena lukanya tidak terlalu parah.

Setelah urusan membersihkan luka selesai dan bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring, ketiga gadis itu segera berlari kecil menuju kelas XI-IPS 2 tempat mereka belajar.

Suasana di dalam kelas tampak cukup gaduh karena guru mata pelajaran sejarah, Pak Joko, belum juga menampakkan batang hidungnya. Aurelia duduk di bangkunya yang terletak di barisan tengah dekat jendela, tempat favoritnya karena ia bisa melihat pohon ketapang besar di halaman luar.

Namun, beberapa saat kemudian, pintu kelas terbuka lebar. Pak Joko melangkah masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh seorang pemuda tinggi berpostur atletis di belakangnya. Kehadiran pemuda itu seketika membuat seluruh isi kelas mendadak sunyi. Bisik-bisik penasaran langsung terdengar dari meja anak-anak perempuan yang duduk di barisan depan.

"Anak-anak, tenang semuanya!" suara bariton Pak Joko berhasil meredam kebisingan di dalam kelas. Wali kelas sekaligus guru sejarah itu berdiri tegak di samping sang murid baru. "Hari ini kita kedatangan siswa pindahan baru di sekolah kita. Dia pindahan dari salah satu SMA swasta ternama di ibu kota. Silakan perkenalkan dirimu nak."

Pemuda itu melangkah maju satu langkah. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana abu-abunya dengan gestur acuh tak acuh. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, kulit sawo matang yang bersih, dan potongan rambut hitam legam yang sedikit berantakan di bagian dahi. Namun, yang paling mencuri perhatian—atau lebih tepatnya, membuat siapa saja yang melihatnya merasa terintimidasi—adalah bola mata berwarna amber terang yang memancarkan aura dingin dan dominan.

Aurelia yang awalnya sedang merapikan buku catatan di atas meja seketika mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara berat sang murid baru. Seketika itu juga, bola mata cokelat jernih milik Aurelia beradu pandang dengan sepasang mata amber yang sangat tajam milik pemuda di depan kelas.

Deg!

Jantung Aurelia mendadak berdegup kencang bukan karena kagum, melainkan karena gelombang memori pagi tadi langsung berputar kembali di kepalanya. Bola mata itu... warna mata yang sangat langka dan khas. Pemuda itu adalah pengendara motor arogan yang tadi pagi menyenggol sepedanya hingga ia jatuh tersungkur ke aspal!

"Nama saya Grayson Balindra," ucap pemuda itu singkat, dingin, dan tanpa senyuman sedikit pun. Suaranya menggema di seluruh penjuru kelas, terdengar begitu maskulin namun menusuk.

Di bangkunya, Aurelia membelalakkan mata tidak percaya. Jadi... pria arogan, tidak sopan, dan tukang ngebut tadi pagi itu... adalah anak baru di kelas ini?! Ya ampun, hukuman macam apa ini ya Tuhan, batin Aurelia merutuk dalam hati, langsung membuang muka ke arah jendela dengan wajah cemberut.

Pak Joko mengangguk-angguk kecil mendengar perkenalan singkat itu. Ia kemudian menyapu pandangan ke seluruh sudut kelas untuk mencari bangku kosong yang bisa ditempati oleh Grayson.

"Baik, Grayson. Kamu bisa lihat di sebelah sana... di pojok dekat jendela, di sebelah Aurelia Calista. Hanya bangku itu saja yang saat ini kosong," ujar Pak Joko sambil menunjuk ke arah meja tempat Aurelia duduk.

Grayson mengikuti arah telunjuk sang guru. Sudut bibirnya kembali terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan makna—senyuman penuh misteri yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa tidak nyaman. Tatapan matanya terkunci pada sosok gadis berambut ikal yang kini sengaja membuang muka ke arah luar jendela, berusaha menghindari tatapannya.

"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Grayson dengan nada datar.

Pemuda itu melangkah pelan menyusuri koridor antarmeja di dalam kelas. Setiap langkah kakinya seolah mendikte perhatian seluruh seisi kelas. Ia berjalan mendekati bangku di barisan tengah, lalu menarik kursi di sebelah Aurelia tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu mendudukkan dirinya dengan santai.

Aurelia bisa merasakan hawa dingin dan dominan menguar dari sosok pemuda yang kini duduk tepat di sampingnya. Aroma parfum beraroma mint bercampur kayu manis tercium samar-samar di indra penciumannya.

"Wah, kita ketemu lagi, Gadis Sepeda," bisik Grayson tepat di samping telinga Aurelia dengan suara rendah yang sengaja direndahkan, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat.

Aurelia menolehkan kepalanya secara perlahan, menatap tajam ke arah Grayson dengan ekspresi jengkel yang tidak lagi bisa ditutupi. "Siapa juga yang mau ketemu sama kamu, Tuan Pembuat Masalah," desis Aurelia dengan suara tertahan, berusaha menjaga agar tidak didengar oleh Pak Joko yang sedang menulis di papan tulis.

Grayson hanya terkekeh pelan—sebuah tawa singkat yang terdengar sangat renyah namun mengerikan di telinga Aurelia. Bola mata amber-nya menatap Aurelia lekat-lekat, seolah-olah menemukan mainan baru yang sangat menarik dan tidak boleh lepas dari pandangannya selamanya.

Dan di detik itulah, Aurelia menyadari bahwa ketenangan hidupnya yang selama ini berjalan damai bersama keluarganya di perumahan sederhana kini telah resmi berakhir. Pertemuan kedua di dalam kelas ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan awal mula dari sebuah obsesi gelap yang perlahan-lahan mulai menjerat kehidupannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!