Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DELAPAN BELAS
"Profesor Zain! Maaf sekali, saya butuh tanda tangan Anda segera untuk—"
Kalimat Bu Silvia terhenti seketika. Matanya menyipit tajam saat mendapati Amara sedang duduk santai di depan meja Zain dengan kotak makanan terbuka. Wajah Bu Silvia berubah menjadi sangat sinis dan penuh penghinaan.
"Loh? Kenapa ada mahasiswi di sini?" cerca Bu Silvia dengan nada suara tinggi penuh kejengkelan. "Kurang ajar sekali! Masih mahasiswi saja sudah berani bertindak ganjen dan menggoda dosen di ruangannya! Kamu ini per—"
"Bu Silvia!"
Suara bentak keras Zain memotong kalimat celaan itu bagaikan tebasan pedang. Pria itu berdiri tegap dari kursinya, melemparkan pena ke atas meja hingga menimbulkan bunyi benturan keras. Pandangan mata Zain menajam dahsyat, menatap Bu Silvia seolah-olah hendak memakan wanita itu hidup-hidup.
"Jangan pernah bersikap tidak sopan di dalam ruangan saya!" gertak Zain dengan nada rendah yang amat mengerikan. "Apakah Anda tidak pernah diajari adab dan tata krama untuk mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan orang lain?"
Bu Silvia terperanjat mundur, wajahnya memucat seketika akibat gertakan Zain. "Ma-maaf, Profesor Zain... Saya sangat terburu-buru. Ada dokumen akreditasi yang harus Anda tanda tangani sekarang juga."
"Terburu-buru tidak pernah bisa menjadi alasan untuk menghilangkan adab sopan santun!" tegas Zain cold dan menusuk.
Bu Silvia menggigit bibirnya, lalu melampiaskan kekesalannya dengan menunjuk Amara secara kasar. "Heh, Kamu! Mahasiswi tidak tahu diri! Kenapa kamu masih diam saja di situ? Cepat pergi keluar dari sini!"
Amara yang hendak berdiri refleks tertahan saat suara Zain kembali bergema dengan nada memerintah yang tak terbantahkan.
"Duduk, Amara!" perintah Zain tegas. "Siapa yang memberi kamu izin untuk pergi?"
Bu Silvia membelalak tak percaya, menatap Zain dengan raut wajah menuntut. "Profesor! Sangat tidak sopan dan tidak etis jika mahasiswi ini tetap berada di dalam ruangan Anda! Memangnya mahasiswi ganjen ini siapanya Anda, Profesor?"
Amara memandangi Zain dari samping dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Ada rasa cemas yang menyelusup di dadanya. Amara tahu betul bagaimana sifat suaminya yang sangat menjaga profesionalitas. Ia sangat yakin Zain pasti tidak akan pernah mau membongkar status pernikahan rahasia mereka di depan orang lain.
Namun, Zain justru melangkah maju, berdiri tepat di samping kursi Amara. Pria itu menatap Bu Silvia dengan pandangan dingin yang penuh keangkuhan.
"Status Amara di dalam hidup saya..." sela Zain dengan suara bass yang berat, merengkuh bahu Amara secara tiba-tiba di depan mata Bu Silvia. "...bukan sesuatu yang berhak Anda pertanyakan."
Ruangan kerja berukuran lima kali enam meter itu mendadak hening seketika. Gesekan udara dari pendingin ruangan terasa mendingin drastis. Bu Silvia terpaku di tempatnya, matanya melotot lebar menatap tajam ke arah tangan tegap Zain yang masih mendarat erat di atas bahu Amara.
"Pro-Profesor Zain..." cicit Bu Silvia, suaranya bergetar antara syok dan rasa cemburu yang membakar tenggorokannya. "Anda... Anda membela mahasiswi ini? Di depan saya?"
Zain tak menarik tangannya sedikit pun. Pria itu menatap Bu Silvia dengan pandangan mata yang sangat dingin, kaku, dan sarat akan intimidasi yang tak tersentuh.
"Saya tidak membela siapa pun, Bu Silvia," sahut Zain datar, nada suaranya tanpa emosi namun menusuk hingga ke tulang. "Saya hanya menegaskan batas privasi dan wewenang di ruangan ini. Kehadiran Amara di sini adalah atas izin dan kehendak saya. Anda tidak memiliki hak untuk menghakiminya, apalagi melontarkan tuduhan tidak berdasar yang merendahkan martabat seorang mahasiswi."
Amara meremas ujung kemejanya di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh tipis ke arah Zain, berharap pria itu akan melangkah lebih jauh untuk memperjelas status mereka. Namun, Zain tetaplah Zain, pria yang memilih berlapis-lapis benteng formalitas. Zain tak mengucapkan sepatah kata pun mengenai status pernikahan mereka, membiarkan pernyataan itu tetap menggantung misterius di udara.
Bu Silvia menggigit bibirnya kencang hingga memutih. Napasnya memburu, dadanya naik turun meluapkan kegusaran. Di matanya, sikap Zain yang menyentuh bahu Amara dan menyembunyikan identitas hubungan mereka justru terlihat seperti perlindungan seorang pria pada wanita simpanannya.
"Jadi Profesor lebih memilih membela mahasiswi ini daripada menjaga marwah dan etika di fakultas ini?" cerca Silvia dengan nada melengking yang tak sanggup lagi ia tahan. "Luar biasa! Saya datang ke sini dengan iktikad baik membawa berkas akreditasi penting, tapi Profesor justru memperlakukan saya seperti orang luar yang mengganggu! Profesor Zain, ini lingkungan kampus. Tidak etis berduaan di ruangan tertutup seperti ini, jangan merusak nama baik kampus."
"Tumpukan berkas itu bisa Anda letakkan di atas meja," pangkas Zain dingin, sama sekali tak terpengaruh oleh ledakan emosi Bu Silvia. "Saya akan menandatanganinya nanti setelah urusan saya di ruangan ini selesai. Dan saya minta, tolong hargai pintu ruangan saya yang tertutup untuk lain kali."
"Bagus! Sangat bagus, Profesor Zain!" desis Bu Silvia sinis. Matanya mendelik tajam menguliti Amara yang masih duduk membisu. "Lihat saja nanti! Jangan pikir tindakan tidak etis seperti ini bisa ditutupi rapat-rapat!"
Dengan rasa malu yang bercampur amarah yang meluap-luap, Bu Silvia menghempaskan berkas akreditasi itu ke tepi meja Zain hingga menimbulkan bunyi benturan keras. Tanpa menunggu balasan lagi, wanita itu berbalik kasar, menghentakkan sepatu hak tingginya ke lantai keramik dengan hentakan nyaring, lalu keluar dan membanting pintu ruangan kerja Zain hingga bergema keras di sepanjang koridor.
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣