Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB SEMBILAN
## Bab 9: Tekanan yang Menumpuk
Sepulang dari rumah orang tuanya, Bayu tidak bisa sepenuhnya tenang. Pertanyaan ibunya di dapur, meski terdengar sederhana di telinga Ayu, terasa seperti alarm kecil yang terus berdering di kepalanya sepanjang malam. Ia tahu betul ibunya bukan orang yang suka bertanya tanpa alasan—ada sesuatu yang membuat Bu Sri merasa perlu memastikan langsung dari menantunya sendiri, dan itu artinya, kecurigaan sudah mulai merambat ke lingkaran yang lebih dekat dari yang ia kira.
Senin pagi di kantor, pikirannya sulit fokus. Beberapa kali atasannya harus mengulang instruksi karena Bayu tampak melamun di tengah rapat.
"Bayu, kamu kenapa? Dari tadi kelihatan nggak fokus," tegur atasannya, Pak Wibowo, setelah rapat selesai.
"Maaf, Pak. Lagi ada masalah pribadi sedikit," jawab Bayu, mencoba menutupi kegelisahannya dengan senyum yang dipaksakan.
"Ya udah, selesaikan dulu urusan pribadinya. Tapi jangan sampai kerjaan keteteran ya," Pak Wibowo menepuk pundaknya sebelum berlalu.
Bayu menghela napas, kembali ke mejanya, mencoba menenangkan diri dengan menyibukkan tangan pada laporan yang menumpuk. Namun pikirannya terus melayang—ke wajah khawatir Wulan malam itu, ke kalimat tajam Feri di bengkel, ke pertanyaan sederhana ibunya yang entah kenapa terasa begitu berat.
---
Siang harinya, di sela istirahat, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Wulan.
*Bang, tetangga sebelah tadi nanya lagi. Kali ini lebih detail, katanya penasaran kok nggak pernah ada acara syukuran atau apa gitu pas Raka lahir. Aku bingung jawabnya gimana.*
Bayu menatap layar itu cukup lama, jarinya mengetik dan menghapus balasan berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan jawaban yang menurutnya paling aman.
*Bilang aja keluarga kita emang nggak suka acara-acara gitu, lebih suka yang sederhana. Sabar ya, Lan, nanti aku pikirin lagi soal ini.*
Wulan membalas singkat, *Ya udah,* dengan nada yang, meski hanya lewat teks, terasa jelas menyimpan kekecewaan.
Bayu memasukkan ponselnya kembali ke saku, merasakan beban di dadanya semakin berat. Ia menyadari, situasi ini semakin sulit dikendalikan. Dulu, ketika semuanya masih baru dimulai, menyembunyikan segalanya terasa cukup sederhana—hanya perlu berbohong soal jadwal kerja, sesekali mengatur alasan untuk pergi, dan semuanya berjalan lancar tanpa banyak pertanyaan. Tapi sekarang, dengan Raka yang semakin besar, dengan tetangga yang semakin penasaran, dengan keluarganya sendiri yang mulai mencium kejanggalan, menjaga kebohongan itu terasa seperti menahan air yang terus mencari celah untuk bocor.
---
Sore harinya, sepulang kerja, Bayu tidak langsung pulang ke rumah. Ia memilih untuk duduk sebentar di sebuah warung kopi kecil dekat kantornya, mencoba menenangkan pikiran sebelum benar-benar pulang menghadapi Ayu.
Di warung itu, tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang kenalan lama, Pak Ridwan, tetangga kontrakan Wulan yang beberapa kali pernah berbincang singkat dengannya saat kebetulan berpapasan.
"Eh, Mas Bayu, kan? Yang sering ke rumah Mbak Wulan itu?" sapa Pak Ridwan, duduk di meja sebelahnya tanpa diminta.
Jantung Bayu berdegup lebih cepat. "Iya, Pak. Kenapa ya?"
"Nggak, cuma penasaran aja. Mbak Wulan itu adiknya siapa ya? Kok saya lihat cuma Mas Bayu doang yang sering ke sana, jarang ada keluarga lain yang berkunjung," tanya Pak Ridwan, nada suaranya terdengar polos, meski pertanyaan itu terasa seperti pisau kecil yang menusuk kegelisahan Bayu.
"Oh, dia... sepupu jauh saya, Pak. Kebetulan saya yang paling deket, jadi sering bantu-bantu dia," jawab Bayu, berbohong dengan cepat, meski suaranya sedikit gemetar yang untungnya tidak terlalu disadari oleh Pak Ridwan.
"Oh, gitu. Kirain gimana gitu," Pak Ridwan tertawa kecil, tidak menaruh curiga lebih jauh, sebelum akhirnya melanjutkan obrolan ke topik lain yang lebih ringan.
Bayu menghela napas lega dalam hati, meski kejadian kecil itu semakin menegaskan satu hal: lingkaran orang yang mulai penasaran dengan keberadaan Wulan semakin meluas, dan setiap kali ia harus mengarang alasan baru untuk menutupi kebohongan lama, risiko kesalahan semakin besar—satu saja jawaban yang tidak konsisten, bisa membuka seluruh rahasia yang selama ini ia jaga dengan susah payah.
---
Malam harinya, sesampainya di rumah, Ayu menyambutnya seperti biasa—dengan senyum hangat dan makan malam yang sudah siap di meja. Melihat ketulusan itu, rasa bersalah dalam diri Bayu semakin menumpuk, bercampur dengan kelelahan mental yang seharian ini terus menggerogotinya.
"Mas, kamu kelihatan pucat. Sakit?" tanya Ayu, khawatir, meraba dahi Bayu dengan tangannya.
"Nggak, Yu. Cuma capek aja, banyak pikiran soal kerjaan," jawab Bayu, setengah jujur.
"Istirahat aja dulu, nanti makan malamnya kutaruh di kulkas, kalau udah enakan baru dihangetin," kata Ayu, penuh perhatian seperti biasa.
Bayu mengangguk, berjalan ke kamar, merebahkan diri di ranjang sambil menatap langit-langit kamar yang biasa. Pikirannya terus berputar, mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang semakin hari semakin rumit ini. Namun, semakin ia berpikir, semakin ia menyadari bahwa tidak ada solusi mudah yang bisa menyelamatkan kedua rumah tangganya sekaligus tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Ayu masuk ke kamar beberapa menit kemudian, duduk di tepi ranjang, mengelus rambut Bayu dengan lembut. "Mas, kalau ada masalah, cerita aja ke aku. Aku istrimu, aku pasti bisa bantu, apa pun masalahnya."
Kalimat itu terasa seperti pukulan telak bagi Bayu—bukan karena kasar, tapi justru karena begitu tulus, begitu penuh kepercayaan, sampai-sampai membuatnya semakin sulit untuk benar-benar jujur. Bagaimana mungkin ia menceritakan bahwa masalah sebenarnya adalah dirinya sendiri, adalah kebohongan yang sudah ia bangun selama dua tahun terakhir, adalah seorang perempuan dan anak kecil yang hidupnya juga bergantung pada uang yang sama yang selama ini dipercayakan penuh oleh Ayu untuk mengelola rumah tangga mereka?
"Nggak ada apa-apa kok, Yu. Cuma capek biasa," jawab Bayu, sekali lagi memilih untuk menelan kebenaran dalam-dalam, membiarkan Ayu terus percaya pada kebohongan yang, cepat atau lambat, ia tahu betul tidak akan bisa terus ia jaga selamanya.
Ayu tersenyum, mencium kening Bayu sebelum akhirnya beranjak keluar kamar untuk menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kelelahan yang tampak sederhana itu, tersimpan sebuah beban yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan—sebuah beban yang, perlahan-lahan, sedang mendekati titik di mana ia tidak lagi bisa disembunyikan.
---
*Bersambung ke Bab 10*