Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
Kerja keras tanpa henti selama lima hari berturut-turut akhirnya membuahkan hasil manis bagi kepemimpinan Kenzo Elard. Dengan manuver bisnis yang agresif, negosiasi dingin di meja hijau, serta keberhasilannya mengamankan investasi raksasa dari konsorsium asing, nilai saham Elard Corporation kembali melambung tinggi. Kerugian di divisi tiga berhasil ditutup penuh, membungkam mulut para direktur senior yang sebelumnya menuntut pengundurannya.
Kakek Hendra dan Ayah Bramantyo kembali menegakkan kepala dengan bangga di hadapan lingkaran elit bisnis kota. Bagi Kakek Hendra, reputasi dinasti adalah segalanya. Tanpa mengulur waktu, pria tua penguasa Elard Group itu langsung merancang sebuah pesta malam eksklusif di ballroom hotel bintang lima milik keluarga—sebuah perayaan megah untuk memamerkan pemulihan kejayaan Elard Corp sekaligus secara resmi mengumumkan kehamilan Alana sebagai pengusung calon pewaris takhta Elard selanjutnya.
Malam itu, kemewahan memancar dari setiap sudut grand ballroom. Lampu-lampu kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan di atas ribuan gelas champagne, beradu dengan denting piano dan percakapan para pejabat, pengusaha, serta sosialita kelas atas.
Di ruang tunggu VIP panggung utama, atmosfer justru terasa amat mencekam.
Alana duduk di depan cermin rias berukir emas. Gaun malam dari sutra berwarna navy blue membungkus tubuhnya yang kian kurus dengan amat anggun. Riasan wajah karya penata rias ternama menyamarkan warna pucat pasi di pipinya, memoles bibirnya dengan warna merah kelopak mawar.
Di sampingnya, Kenzo berdiri tegap mengenakan tuksedo hitam buatan penjahit Italia. Wajah tampan Kenzo tampak bugar di luar, namun sorot matanya yang dipenuhi rasa cemas memancarkan keletihan batin yang dalam. Di tangannya, Kenzo memegang sebuah wadah kecil berisi biskuit gandum cair khusus dan botol air hangat yang ia siapkan sendiri dari dapur mansion.
"Alana... minum air hangat ini dulu," bisik Kenzo dengan suara lembut seraya berlutut di samping kursi rias istrinya. "Pintu panggung sebentar lagi dibuka. Kalau perutmu terasa mual atau melilit, katakan padaku. Kita bisa langsung pulang."
Alana memalingkan wajahnya dari cermin, menatap Kenzo dengan iris mata jernih namun hampa. "Saya tidak apa-apa, Mas Kenzo. Suplemen dan biskuit buatan Mas sudah saya makan tadi. Saya sanggup berdiri di panggung."
Sebelum Kenzo sempat menyentuh jemari istrinya, pintu ruang VIP terdorong buka secara kaku. Kakek Hendra melangkah masuk dengan tongkat peraknya, didampingi Ayah Bramantyo dan Nyonya Helena.
Pria tua itu menatap penampilan Alana dari atas hingga bawah dengan pandangan menilai yang dingin dan sinis.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Kakek Hendra dengan nada suara yang kaku dan menuntut. "Jangan sampai di depan puluhan kamera wartawan nanti kamu tiba-tiba pingsan atau muntah-muntah seperti di mansion!"
Kenzo seketika berdiri tegap, memasang badan di depan Alana. "Kakek! Jaga ucapan Kakek! Alana sedang berjuang menahan mual kehamilannya!"
Kakek Hendra terkekeh remeh, menghentakkan tongkatnya ke lantai marmer. "Berjuang? Pria sepertimu sampai harus mengurus dapur hanya karena wanita ini pilih-pilih makanan? Sejak dulu, wanita Elard yang hamil tidak pernah dimanja dan semanja ini! Mual-mual makanan yang dibuat koki istana mansion hanya alasan wanita ini untuk bertindak manja dan merepotkan keluarga!"
"Kakek, cukup!" bentak Kenzo dengan suara berat yang menekan, matanya berkilat penuh amarah. "Saya yang melarang Alana memakan makanan dapur! Saya yang ingin memasak untuk istri saya!"
"Sudahlah, Kenzo!" sela Nyonya Helena dengan raut wajah tidak senang. "Kakekmu benar. Perilaku Alana yang menolak menu nutrisi khusus dari Dr. Maya dan tim dokter genetika kemarin membuat Mama cemas. Bagaimana kalau janin di rahimnya kekurangan gizi hanya karena seleranya yang merepotkan?"
Di balik punggung Kenzo, Alana tetap duduk kaku. Tidak ada raut tersinggung, marah, atau terluka di wajahnya. Wanita itu perlahan berdiri, merapikan lipatan gaun mewahnya, lalu menatap Kakek Hendra dengan senyuman formalistis yang amat simetris.
"Maafkan saya jika kondisi fisik saya merepotkan Keluarga Elard yang terhormat," ujar Alana dengan nada suara yang tenang, datar, dan tanpa intonasi emosi sedikit pun. "Kakek tidak perlu khawatir. Demi kepentingan reputasi perusahaan malam ini, saya akan menjalankan peran saya sebaik mungkin."
Kakek Hendra menyipitkan matanya tajam, merasa gusar oleh ketenangan hampa yang dipancarkan menantunya. "Bagus kalau kamu tahu diri. Ingat, acara malam ini diadakan untuk mengumumkan calon pewaris Elard Corp. Jangan buat kesalahan sedikit pun!"
Pintu ganda ballroom terbuka lebar. Tepuk tangan riuh dan kilatan cahaya kamera media massa seketika menyambut kehadiran keluarga penguasa Elard Group saat mereka melangkah menuju panggung utama.
Kenzo menggandeng lengan Alana dengan cengkeraman yang erat dan posesif, seolah takut wanita di sampingnya akan runtuh atau menghilang. Namun Alana melangkah dengan tegak, menyunggingkan senyum anggun yang menawan ke arah kamera—sebuah topeng kesempurnaan Nyonya Muda Elard yang terukir tanpa cela.
Di atas podium berbalut lambang emas Elard Corp, Kakek Hendra berdiri di depan mikrofon dengan wibawa mutlaknya.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya sekalian, para mitra bisnis yang kami hormati," suara Kakek Hendra menggema di seluruh ruangan melalui pengeras suara. "Malam ini, selain merayakan kebangkitan dan stabilitas finansial Elard Corporation di bawah kepemimpinan cucu saya, Kenzo Elard... kami dengan bangga menyampaikan sebuah kabar bahagia bagi masa depan dinasti kami."
Kakek Hendra menoleh, memberi isyarat tangan ke arah Kenzo dan Alana. Kilatan lampu kilat wartawan kian makin membabi buta.
"Di dalam rahim Nyonya Muda Alana Elard, kini tengah bersemi calon pewaris takhta Elard Group selanjutnya," lanjut Kakek Hendra dengan nada penuh kebanggaan dan keangkuhan korporasi. "Keturunan murni ini akan menjadi penerus masa depan yang membawa kejayaan keluarga kita menuju puncak yang lebih tinggi!"
Tepuk tangan bergema riuh di seantero ballroom. Para wartawan berebut mengarahkan mikrofon ke arah panggung.
"Tuan Kenzo! Nyonya Alana! Bisakah memberikan sepatah kata terkait kabar bahagia ini untuk publik dan para pemegang saham?!" teriak seorang wartawan senior dari barisan depan.
Kenzo hendak mengambil alih mikrofon untuk melindungi Alana, namun Alana justru melangkah maju satu tingkat dengan ketenangan yang luar biasa. Jemari tangannya yang bersarung sutra menyentuh gagang mikrofon.
Kenzo terpaku di sampingnya, jantungnya berdegup kencang oleh firasat tak menentu.
Alana menatap lurus ke arah puluhan lensa kamera dan ratusan tamu undangan kelas atas. Senyuman tipis yang amat kaku terukir di wajah cantiknya.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya sekalian," suara Alana terdengar merdu, jernih, namun begitu dingin dan formal—bagaikan seorang juru bicara resmi yang sedang membacakan siaran pers perusahaan. "Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dan doa dari Anda sekalian bagi Elard Corporation."
Alana jeda sejenak, melirik tipis ke arah Kakek Hendra dan Kenzo yang berdiri di sampingnya.
"Kehamilan ini adalah bentuk kepatuhan dan penyelesaian tugas utama saya dalam memenuhi setiap poin perjanjian yang telah disepakati bersama Keluarga Elard," lanjut Alana dengan nada tegar tanpa getaran emosi. "Sebagai Nyonya Muda, saya akan memastikan calon pewaris ini lahir dengan selamat demi menjaga martabat, kehormatan, dan keberlangsungan dinasti Elard Group hingga masa kontrak saya dinyatakan selesai secara sempurna."
Deg.
Kata 'pematuhan tugas utama', 'poin perjanjian', dan 'masa kontrak selesai' terucap begitu jernih di depan pengeras suara. Bagi para wartawan dan tamu awam, kalimat itu terdengar seperti bahasa diplomasi keluarga elit yang puitis dan teratur. Namun bagi Kakek Hendra, Ayah Bramantyo, dan Kenzo... kata-kata itu adalah tamparan mematikan yang menghancurkan keangkuhan mereka di depan publik.
Kakek Hendra membeku di tempatnya berdiri, rahangnya mengeras kaku oleh rasa malu dan amarah yang tertahan. Ayah Bramantyo menahan napasnya panik, sementara Nyonya Helena membelalakkan mata tak percaya.
Kenzo menatap Alana dengan dada yang terasa seperti diremas dan dihantam pukulan berat. Pria tegap itu berdiri mematung di tengah gempuran kilatan kamera.
Di balik kemewahan panggung dan pengumuman kejayaan calon pewaris takhta, Kenzo akhirnya menyadari dengan sangat menyakitkan: Alana tidak pernah menganggap kehamilan ini sebagai ikatan cinta mereka. Bagi Alana, janin di rahimnya murni adalah tiket pelunasan kontrak—sebuah kewajiban dingin yang setelah ditunaikan, akan membawanya pergi selamanya dari kehidupan Kenzo.
Bersambung....