NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Satu minggu berlalu sejak aku terbangun dari kegelapan koma, dan puri keluarga Moretti kembali menjadi penjara megahku. Namun, ada yang berubah secara mendasar. Jika dulu dinding-dinding batu tua ini dipenuhi oleh tangis, rintihan, dan pertengkaran hebat antara aku dan Gabriel, kini tempat ini diselimuti oleh jenis kesunyian yang jauh lebih mengerikan kesunyian dari jiwa yang telah mati.

Proses pemulihan fisiku berjalan sangat lambat dan menyiksa. Luka robek dan peradangan di bagian intimku memang mulai membaik berkat perawatan medis tanpa henti, tetapi memar di kulit dan kelemahan di seluruh sendiku seolah menolak untuk pergi. Tubuhku bergerak seperti boneka kayu tanpa nyawa.

Dan di tengah satu minggu pemulihan yang berdarah itu, sang bos mafia pria yang telah meremukkanku hanya datang menjengukku sebanyak tiga kali.

Bukan karena rasa bersalahnya telah reda, melainkan karena dunianya sedang terbakar.

Kematian Julian Romanov tidak membuat kota bawah tanah menjadi tenang; sebaliknya, itu menyulut perang terbuka. Kelompok-kelompok oposisi, sekutu utara, hingga faksi pemberontak di dalam Dewan Moretti sendiri mencoba memanfaatkan situasi. Setiap harinya, puluhan nyawa harus dicabut oleh tangan dingin Gabriel untuk mempertahankan takhtanya. Kota di luar sana bersimbah darah, dan Gabriel Moretti adalah iblis yang sedang memimpin pembantaian itu.

---

Kedatangan pertamanya terjadi pada malam ketiga setelah aku dipindahkan kembali ke kamar utama puri.

Saat itu jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Pintu kamar bergeser pelan, memecah heningnya malam. Langkah kaki Gabriel terasa amat berat. Pria itu melangkah masuk dengan penampilan yang belum pernah kulihat sebelumnya jas hitamnya menghilang, kemeja putihnya yang bergulung hingga siku terciprat bercak darah kering yang cukup banyak, dan aroma tembakau tebal bercampur cairan tembaga langsung memenuhi seluruh kamar.

Aku sedang berbaring miring, menatap lurus ke arah jendela kaca tebal. Aku mendengar langkah kakinya mendekati ranjang, merasakan beban tubuhnya yang membuat kasur sutra ini sedikit tertekan saat ia duduk di tepi tempat tidur.

Tangan besarnya terulur, mencoba menyentuh pipiku.

Aku tidak menjerit. Aku tidak menghindar. Aku tidak lagi memprotes atau memaki seperti yang biasa kulakukan. Tubuhku hanya membeku kaku. Mataku tetap terbuka lebar, menatap kosong ke kegelapan luar tanpa menyuarakan sepatah kata pun.

Gabriel menghentikan jemarinya beberapa milimeter dari kulit pipiku. Pria itu menyipitkan mata, menatap reaksi dinginku yang seolah menganggap keberadaannya tak lebih dari sekadar udara kosong.

"Aurora?" suaranya serak, sarat akan kelelahan fisik dan mental yang teramat sangat. "Kau tidak ingin bicara padaku?"

Aku tetap diam. Tidak ada kerlipan mata yang berubah, tidak ada tarikan napas yang tersengal. Aku memperlakukannya bagai sosok hantu yang tak kasat mata.

Gabriel meremas seprai di samping tubuhku, rahangnya mengeras rapat. Namun, entah mengapa, pria yang biasanya akan meledak saat diabaikan itu kini justru membisu. Ia perlahan menarik kembali tangannya, hanya berdiam diri di sampingku selama sepuluh menit tanpa suara sebelum akhirnya berdiri dan melangkah keluar kamar. Ia harus kembali ke markas bawah tanah untuk mengeksekusi lima pengkhianat faksi barat yang baru saja ditangkap.

---

Kedatangan keduanya terjadi di pertengahan minggu, tepat saat hujan deras mengguyur kota.

Aku sedang duduk di kursi roda dekat balkon kamar, menatap tetesan air yang membasahi kaca tebal. Elena baru saja selesai mengganti perban dan membersihkan lukaku. Tubuhku masih terikat oleh kelemahan yang membuatku sulit untuk berjalan sendiri.

Pintu kamar mendadak terbuka kasar. Gabriel masuk dengan tergesa-gesa. Mantel panjangnya basah kuyup oleh air hujan, dan di pinggangnya masih terselip dua buah senjata berkaliber besar. Matanya yang memerah menunjukkan bahwa ia belum tidur selama berhari-hari. Wajahnya dipenuhi kepenatan dari pertempuran sengit yang baru saja diselesaikannya di dermaga selatan tempat di mana ia baru saja membantai belasan belas pasukan bayaran yang mencoba meledakkan suplai senjatanya.

Ia melangkah cepat menghampiriku, memotong jarak hingga bayang-bayang tubuh tingginya menutupi sosok kecilku di atas kursi roda.

Ia berlutut di hadapanku. Tangannya yang kasar menyambar kedua pergelangan tanganku, menggenggamnya sangat erat seolah takut aku akan menghilang dari pandangannya.

"Dokter bilang kau mulai bisa memakan makanan padat," ucapnya dengan suara berat dan cepat, menatap lurus ke dalam mataku. "Katakan padaku apa yang ingin kau makan, Aurora. Makanan apa pun dari restoran mana pun, aku akan menyuruh Marco membawakannya untukmu sekarang."

Aku menatap tepat ke dalam manik mata hitamnya yang dipenuhi obsesi dan kelelahan itu. Namun, pandanganku kosong tanpa benci, tanpa rasa takut, tanpa cinta. Hanya ada kehampaan murni.

Aku memalingkan wajah pelan ke arah jendela, kembali mengabaikan keberadaannya sepenuhnya. Kesunyianku menjadi jawaban yang paling menyengat.

Gabriel menggeram pelan di tenggorokannya. Cengkeramannya di pergelangan tanganku sedikit mengencang refleks dominasinya yang tidak suka ditolak. "Aurora! Buka mulutmu dan bicaralah! Caci maki aku! Katakan bahwa kau membenciku!" bentaknya dengan napas terengah-engah. "Jangan hanya diam seperti bangkai!"

Namun aku tidak memberi respons. Aku tidak berkedip, tidak menjerit, bahkan tidak menunjukkan kepedihan saat jemarinya menekan pergelangan tanganku yang memar. Aku membiarkan tubuhku menjadi wadah kosong yang tak tersentuh oleh emosinya.

Melihat ketiadaan reaksi dalam mataku, Gabriel justru tersentak. Cengkeramannya melonggar perlahan. Ada kilatan ketakutan yang asing tercermin di dalam matanya sebuah kesadaran bahwa kemarahannya, ancamannya, dan kekuatannya kini tak lagi memiliki daya apa pun untuk menyakitiku. Pria itu mengepalkan tangannya di udara, berdiri kaku sebelum akhirnya berbalik meninggalkan kamar dengan langkah kasar. Di luar puri, tiga mobil pengawal telah menunggunya untuk memimpin penyerangan ke markas terakhir kelompok musuh.

---

Kedatangan ketiganya adalah pada malam ketujuh malam terakhir dari minggu pemulihanku yang amat kelam.

Kota akhirnya jatuh ke dalam keheningan yang mencekam setelah Gabriel berhasil membantai seluruh pimpinan faksi pemberontak. Nyawa puluhan orang telah melayang di tangannya sepanjang minggu ini, mengukuhkan kembali takhtanya sebagai raja dunia bawah tanah yang tak tergoyahkan.

Sekitar pukul tiga pagi, Gabriel kembali ke kamar utama. Kali ini ia tidak langsung pergi. Ia telah membersihkan tubuhnya, mengganti pakaiannya dengan kemeja sutra hitam yang bersih, meski aroma darah dan kematian seolah telah meresap permanen ke dalam pori-pori kulitnya.

Ia melangkah mendekati peraduan, lalu perlahan menaiki ranjang dan merebahkan tubuhnya di sampingku.

Aku terbaring memunggunginya. Ketika lengan kokohnya terulur dan melingkari pinggangku, menarik tubuh kecilku merapat ke dadanya yang bidang, aku tidak memberontak. Aku tidak lagi memanjatkan doa atau memohon agar ia melepaskanku. Aku membiarkan tubuhku yang masih memar dan lemah itu berada di dalam dekapannya seperti benda mati.

Gabriel membenamkan wajahnya di celah leherku, menghirup aroma tubuhku secara dalam-dalam. Tubuhnya yang tegang perlahan rileks di dalam kesunyian ini.

"Kota itu sudah bersih, Cara mia," bisiknya sangat pelan di telingaku, suaranya terdengar amat serak dan lelah setelah seminggu hidup di tengah dentuman peluru dan jeritan kematian. "Tidak ada lagi yang tersisa. Semuanya sudah mati... Aku sudah memusnahkan mereka semua untukmu."

Ia mengecup pundakku yang terbuka, lalu merapatkan pelukannya seolah ingin menyatu dengan tubuhku.

"Bicaralah padaku besok pagi, Aurora..." gumamnya lagi, sebuah bisikan yang hampir terdengar seperti permohonan frustrasi dari seorang iblis yang mulai merasa kehilangan kendali atas jiwa korbannya. "Tatap aku... sebut namaku... kumohon."

Namun di dalam kegelapan malam, dengan napas hangat sang pembantai yang berhembus di kulit leherku, aku tetap menutup rapat bibirku. Airmata yang dulu selalu menetes kini telah mengering sepenuhnya.

Gabriel Moretti mungkin telah berhasil memenangkan perangnya di luar sana, membunuh setiap manusia yang menghalangi jalannya, dan membawa tubuhku kembali ke dalam dekapannya. Namun di dalam kamar yang dingin ini, ia harus menerima kenyataan pahit: bahwa dinding kesunyian yang kubangun di antara kami adalah sebuah benteng yang tak akan pernah bisa ia hancurkan, bahkan dengan seluruh darah dan kekuasaan yang ia miliki di dunia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!