Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.
——Di dunia bernama Cardinal.
Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.
Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.
Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 30—MALAM KEKACAUAN
Beberapa jam berlalu.
Meski telah ditahan berjam-jam, Serena masih terlihat tenang.
Sementara rekannya yang lainnya tertidur.
Tidak ada kepanikan pada wajahnya. Saat ini, ia sedang mencoba untuk meretas sistem borgol yang mengikatnya.
Saat ini ia tidak menggunakan Skill atau Ability apapun, ia hanya mengalirkan Magi dirinya dengan borgol tersebut agar eksistensi dirinya dapat terhubung dengan benda tersebut.
Dengan memanfaatkan itu, ia bisa mendapatkan seluruh informasi tentang alat tersebut untuk melepaskan dirinya tanpa memicu mekanismenya.
Ya, Serena dengan perlahan mengalirkan Magi-nya sedikit demi sedikit untuk memenuhi borgol itu dengan Magi-nya.
Karena hal yang sedang dilakukannya ini berjalan dengan mulus, konsep dan cara kerja alat ini sudah terbaca olehnya.
Borgol ini hanya akan menetralisir Magi atau Ability yang akan menciptakan sesuatu yang memiliki sebab akibat.
Sedangkan transfer Magi, hal ini tetap memiliki efek kausalitas, jika transfer Magi di lakukan oleh individu untuk individu lain maka hal itu akan menciptakan hukum kausalitas sehingga borgol dapat menetralisirnya.
Sedangkan, jika hal itu dilakukan pada borgol, borgol tersebut tidak akan menerima akibat apapun, sehingga mekanismenya tidak dapat terpicu.
"..."
Kling...
Serena terbelalak, namun langsung bertingkah tenang kembali.
Ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya, dan sepertinya rencananya berhasil.
Di dalam benaknya muncul puluhan informasi mengenai borgol tersebut.
Mulai dari komponen, cara kerja, kelemahan, dan asal komponen tersebut.
Pikirannya mendadak kosong saat informasi Membanjir masuk sekaligus.
Ya, meski kepalanya terasa sedikit sakit, setidaknya ia mendapatkan informasi yang telah ia perjuangkan.
Sambil menggigit bibirnya untuk mengurangi efek samping dari masuknya banyak informasi secara sekaligus.
𝘉𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭...
Pikirnya. Di dalam benaknya kini sudah tertera cara menonaktifkan alat tersebut, alat itu hanya bisa dilepas menggunakan kunci khususnya.
Dan sekarang ia tidak membutuhkan itu, borgol itu telah menjadi satu kesatuan dengan eksistensinya.
Alat tersebut bisa ia perlakukan semaunya, bahkan untuk melepaskannya tanpa membutuhkan kunci.
Setelah melepaskan borgol yang mengikat lengannya itu, ia tidak langsung berdiri. Justru ia menggunakan Magi Detector-nya untuk memantau situasi di sekitarnya.
Dari jauh, ia merasakan empat batalyon tentara datang dengan cepat seolah ingin mengepung kota ini.
Jumlahnya sangat banyak jika ditotalkan, bahkan populasi kota ini pun kalah banyak oleh jumlah personel yang sedang menuju kota ini.
Entah ini kabar baik atau buruk, pasukan itu telah tiba di kota.
Serena menelan ludah, ia tahu bahwa prajurit yang menjaga mereka lebih dari dua.
Melalui Magi Detector-nya, mereka saat ini berada di ruang bawah tanah, ruangan yang hanya mengandalkan obor sebagai pencahayaan utama.
Dan lorong di hadapannya tidak hanya satu arah atau dua arah, melainkan puluhan lorong yang saling terhubung. Lorong dimulai pada tangga dari atas dan akhir lorong adalah ruangan tempat tahanan, yang pasti ruangan tahanan ini lebih dari satu.
Yang lebih mengerikan adalah terdapat sekitar 200 penjaga yang berpatroli dan mengawasi penjara tanpa henti.
𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 200 𝘦𝘯𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘔𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬, 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢. Kata Serena dalam benaknya.
Ia berniat untuk pergi dan membantai semua penjaga itu, tapi... Ia tidak bisa meninggalkan rekannya di sini begitu saja.
𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘶𝘨𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘚𝘱𝘢𝘤𝘦 𝘎𝘢𝘵𝘦 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯... 𝘒𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘦𝘵 𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘺𝘢?
Serena memejamkan mata sambil mengernyitkan dahinya.
Akhirnya ia memilih untuk langsung pergi dari sini.
Dengan cepat, Serena menembakkan bola energi berwarna merah melewati jari telunjuknya kepada dua prajurit yang menjaga ruangan mereka.
Tus.
Ketika serangan itu menembus jantung kedua prajurit tersebut, mayat mereka tidak terjatuh atau bahkan mengeluarkan suara pun tidak sama sekali.
Justru, mayat mereka tersandar di tembok ditambah tombak yang mereka pegang juga membantu jasad mereka tetap tertahan agar tidak terjatuh.
"Sip." gumam Serena singkat.
Tanpa banyak pikir, ia segera membuka Space Gate-nya,
Ia berdiri tegak sebelum mengangkat lurus lengannya.
Tap.
Telapaknya terasa seperti menyentuh dinding, dan di saat yang bersamaan juga ruang yang disentuhnya bereaksi seperti riak air.
Gelombang ruang yang terlihat seperti air yang baru saja dicelupkan sesuatu itu kini perlahan semakin banyak dan bersinar warna-warni.
Plup...
Saat jari-jarinya yang lentik itu menembus riak tersebut, ia bergumam, "ok, ini berhasil, sekarang tinggal masukkan mereka ke sini."
Serena mengangkat kedua tangannya ke arah Arth, Haruya dan Aliya.
Setelah itu dengan cepat lengannya dilapisi sebuah cahaya ungu yang terlihat seperti garis luar di lengannya.
Kling...
Tubuh Haruya, Arth dan Aliya seketika terangkat seolah ada tangan raksasa yang mengambil mereka.
Saat mereka terbangun Serena langsung melemparkan ketiganya ke dalam portal bahkan sebelum mereka bertiga sempat memahami apa yang sedang terjadi.
Setelah semuanya beres, Serena menyusul masuk ke dalam portal.
Space Gate tersebut membawa mereka menuju hutan bersalju, namun masih belum terlalu jauh dari kota Zien yang kini telah di kepung oleh pasukan tentara.
Melihat bendera dan seragam dari pasukan yang menyerang, Serena menyimpulkan bahwa pasukan tersebut adalah pasukan Kekaisaran.
"Tu-tunggu dulu! Kau barusan habis ngapain?" ucap Haruya dengan bingung sambil melirik sekitar.
Yang lainnya juga terlihat begitu, Aliya menatap Serena dengan bingung, tatapan matanya seolah menunjukkan rasa bersyukur sekaligus bingung.
"Benar, bagaimana bisa kau melepaskan diri dari borgol?" tanya Aliya. "E-eh..." matanya berkedip beberapa kali sebelum mengangkat kedua tangannya dan memandangnya dengan heran.
Tentu saja, borgol yang mengikat tangannya kini telah hilang begitu juga dengan Arth dan Haruya.
"H-hebat, bagaimana bisa? Apakah kau yang melakukan ini?" ujar Arth dengan tatapan tidak percaya.
"Tentu saja, jika aku tidak melepaskan alat itu, mana mungkin aku bisa membawa kalian ke sini." jawabnya dengan santai.
Haruya berdiri sambil membersihkan sisa salju di pakaiannya. "Jadi, sekarang pasukan Kekaisaran datang membantu?" kata Haruya sambil melihat beberapa pasukan Kekaisaran yang menggunakan meriam.
"Sesuai dengan yang kau lihat, sekarang bergabung dengan mereka." jawab Serena sambil berbalik badan membelakangi tiga orang rekannya. "Aku akan membantu di dalam kota."
Mereka bertiga mengangguk setuju pada perintah Serena.
Haruya dan temannya menuju pada batalyon artileri yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mereka.
Ketika mereka sudah tiba, seorang komandan yang bertugas mengatur batalyon artileri tersebut langsung menghampiri mereka.
Tidak dengan tatapan curiga atau apapun itu, tapi datar.
Pria dengan pakaian berlapis brigandine armor yang menutupi sebagian tubuhnya dan tidak lupa dengan helm tinggi bagaikan mahkota perang di kepalanya.
Pria itu berjalan dengan tenang di tengah hamparan salju sambil menyembunyikan lengannya di belakang.
Regu Haruya menghentikan langkahnya tepat beberapa meter dari komandan itu, lalu memberikan salam pertemuan dengan sedikit menundukkan kepala sambil menyentuh dada mereka dengan tangan kanan.
Melihat itu sang komandan membalasnya dengan gerakan yang sama sebelum berbicara, "regu Naga Perak, kuberikan kehormatan atas kembalinya kalian secara hidup-hidup."
Pria itu kembali mengunci lengannya di belakang, "namun, di mana wanita ungu yang bersama dengan kalian? Apakah dia tidak terselamatkan?" lanjutnya lagi dengan nada yang datar, namun tetap memberikan kesan yang berwibawa di mata mereka bertiga.
"Tidak, justru Serena lah yang menyelamatkan kami semua berkat kejeniusannya itu." dengan nada merendah, Haruya menjawab sekaligus menyangkal pertanyaan sang komandan.
"Begitu, ya. Baik, karena kita tidak memiliki banyak waktu segera ambil peralatan kalian pada tim logistik."
Sang komandan menggunakan lengan kanannya untuk menunjuk tempat tim logistik berada.
Haruya dengan regunya membalas, "siap." dengan serentak sambil menundukkan kepalanya sedikit.
✦✦✦
Kembali kepada Serena di dalam kota.
Keadaan begitu kacau, kedua kubu saling mengerahkan seluruh kekuatannya.
Namun dari atas, sepertinya pasukan Kekaisaran terlihat sedikit kesulitan untuk menembus pertahanan belapis milik pasukan musuh.
Posisi musuh jauh diuntungkan karena peletakkan meriam dan para Archer berada di atas rumah atau bahkan ada yang berada di balkon rumah.
Posisi lawan yang terlihat abstrak itu membuat pasukan Kekaisaran sangat kesulitan dalam perang ini, walaupun mereka telah mengepung kota Zien dari berbagai arah.
"Tidak, jelas-jelas ini adalah kekalahan formasi yang sangat telak." kata Serena sambil menatap iba para pasukan yang berperang di bawahnya.
Sambil menaiki tongkatnya ia melirik ke setiap arah, kondisi yang gelap ini juga membuatnya kesulitan untuk mencari Shadow.
BOOM! BOOM! BOOM!
Tiga ledakan besar dengan cepat menghancurkan posisi pasukan Kekaisaran.
"Eh!?"
Serena yang terkejut akan hal itu langsung mencari asal serangan tersebut, namun... Sebelum ia melirik ke tempat si penembak, seekor elang yang memancarkan aura Curse Magi melesat tepat beberapa meter di depannya setelah ia menghindar.
Wip—Wip—Wip
Dengan cepat ia juga langsung menyadari bahwa medan perang telah berubah menjadi taman perburuan binatang terkutuk.
Ketika pandangnya tertuju pada kejadian di bawahnya.
Prajurit Kekaisaran berlari tanpa arah untuk menghindari serangan dari monster terkutuk yang dilepaskan pihak lawan.
Namun dari gerbang kota terlihat Haruya dan rekan-rekannya termasuk Acheron sedang bertarung di sana.
BUG!
Elang yang tadi melesat kembali dengan cepat, namun Serena telah mengantisipasi hal itu dengan menciptakan barrier Magi.
Benturan yang keras itu membuat tubuh elang tersebut hancur tak berbentuk.
𝘏𝘦𝘩, 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘣𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘳𝘳𝘪𝘦𝘳 𝘮𝘶𝘭𝘵𝘪-𝘥𝘪𝘮𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪.
Pikir Serena sambil terkekeh sombong.
Namun, tidak lama setelah itu, sebuah bayangan menembus cepat barrier-nya.
Sebuah tebasan pedang tepat mengenai lehernya.
"Ukh—"
Serena dengan cepat menyapu wilayah sekitar dengan Magi Detector-nya.
Sambil menyembuhkan luka tebasan di lehernya, ia menemukan sebuah sosok yang beridiri dengan dramatis di sebuah puncak cerobong asap pada rumah lantai dua.
"Lama tidak berjumpa, Serena." Pria yang berbicara dengannya itu adalah Shadow.
Sambil memegang pedangnya dengan anggun di lengan kanannya ia berkata. "Sebaiknya, kita pindah dari sini, di sini terlalu berisik untuk menjadi panggung menari kita."
Tatapan merahnya bertemu dengan mata biru Serena yang berkilau di bawah langit malam.
"Saya tunggu di istana Kekaisaran." sebelum Serena sempat membalas perkataannya Shadow telah menghilang dari balik bayangan.
"Tu—Sialan! Dia mengajakku untuk berduel?" dumel Serena sambil menggertak giginya dengan kesal.
Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Serena pergi ke ibu kota dengan kecepatan yang menyamai cahaya.
Setibanya di sana, Shadow telah duduk di atas atap rumah warga dengan kursi bayangannya.
Pemandangan di hadapannya bukanlah kota biasa di malam hari, di sekitar Shadow hanya ada bara api yang perlahan menyebar dari rumah satu ke rumah lainnya.
"A-apa-apaan kau! Apa rencanamu yang sebenarnya? Kenapa kau membakar rumah sipil?" bentak Serena dengan kesal kepada Shadow.
Dengan tenang Shadow menjawab, "kau akan mengetahuinya jika mampu mengalahkan diriku ini, sang penguasa bayangan telah menantangmu duel, tidakkah kau seharusnya senang?"
Tanpa menunggu jawaban Serena, ia segera melesat memberikan serangan kejutan di langit.
Sebuah tebasan beruntun dikerahkan oleh Shadow.
Karena masih mencoba untuk menganalisis kejadian saat ini, Serena hanya menggunakan barrier pelindung untuk menangkis seluruh serangan Shadow yang hanya terlihat kilatan dan percikan api.
"Kenapa? Kau hanya mampu menangkis? Di mana kesombongan atas kekuatanmu sebelumnya?" hina Shadow untuk memancing tindakan Serena tanpa menghentikan penyerangannya.
Tanpa pilihan lain untuk mundur, Serena melepaskan kekangan barrier-nya. Seketika, gelombang kejut murni melesat ke langit, membelah hamparan awan dan garis cakrawala menjadi dua bagian.
Namun, tekanan masif itu belum cukup untuk meruntuhkan lawannya. Sang musuh tetap berdiri tegak di atas atap rumah, menatap Serena dengan remeh. "Akhirnya, kau sudah mulai serius, ya?" bisiknya, disusul tawa pelan yang bergeming di tengah badai energi.
Serena memilih bungkam. Ia melesat turun, menapakkan kakinya di atas landasan atap lain sembari mencengkeram erat senjatanya. Dalam fraksi detik, tongkat itu berputar dengan kecepatan absolut, melahirkan pusaran distorsi yang memelintir jalinan ruang hingga realitas di sekitarnya koyak menganga.
Gerakan itu mendadak berhenti. Bersamaan dengan hancurnya ruang, wujud tongkat itu telah bermutasi menjadi sebilah sabit ungu kehitaman yang memancarkan aura kematian. Serena mengayunkannya jatuh, menghantam genteng rumah hingga seluruh struktur di bawahnya runtuh dalam satu hentakan tunggal.