kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSIAPAN, TAWA, DAN BAYANGAN YANG MENGINTAI.
Sejak hari itu, rumah gue berubah jadi tempat paling rame sedunia! Mommy Amara sama Mama gue tiap hari ketemu, ngobrol sampai lupa waktu — pilih baju, tentuin menu, cari tempat. Mereka bukan kayak ibu-ibu yang kaku, tapi kayak teman akrab yang heboh bareng.
"Nah ini bagus!" seru Mommy Amara sambil nunjuk kain berwarna lembut. "Pas banget sama kulit Luna yang cerah!"
"Betul!" timpal Mama gue sambil tepuk tangan kecil. "Ditambah hiasan sederhana aja, biar Luna tetap kelihatan kayak Luna — nggak berubah jadi orang lain!"
Gue cuma duduk di antara mereka, kepala gue pusing senang. "Eh tapi nggak terlalu mewah ya? Gue mau sederhana… asalkan lo semua ada, Arka ada, itu udah cukup."
Mereka berdua serentak natap gue, senyum lembut. "Tentu saja, Nak. Ini pesta kalian, bukan pesta kami."
Sementara itu, di teras depan — Arka, Abang Daniel, Daddy Daffa, sama Papa gue duduk berempat. Suasananya tenang… sampai Abang Daniel buka mulut.
"Arka, dengerin ya," kata Abang sambil menepuk bahu Arka. "Luna itu keras kepala, kadang ngomong tanpa pikir dulu, kalau marah bisa lari ke mana-mana… tapi dia tulus banget. Kalau lo nyakiti dia, gue nggak segan-segan."
Arka tertawa pelan — tertawa yang udah makin sering terdengar belakangan ini. "Gue tahu, Kak. Gue udah lihat sifatnya. Justru itu yang gue suka. Gue jaga dia, janji."
Papa gue senyum bangga. "Kami percaya sama kamu Arka. Anggap rumah ini juga rumah kamu sendiri."
Gue berdiri di ambang pintu, dengerin semuanya. Mata gue terasa hangat. Dulu gue takut… takut keluarga nggak setuju, takut Arka nggak cocok sama mereka. Ternyata mereka justru saling melengkapi kayak gue sama Arka.
Sore itu Arka jalan pulang bareng gue sampai depan pagar. Tangan kita genggam erat.
"Lo nggak menyesal kan?" tanya gue pelan. "Semuanya jadi cepat banget."
Arka menggeleng, senyumnya tenang dan tegas. "Justru makin cepat makin baik. Gue nggak mau nunggu lebih lama buat panggil lo milik gue secara sah."
Tapi kebahagiaan itu nggak berarti semua tenang.
Keesokan harinya di sekolah, bisik-bisik makin keras. Bukan cuma tulisan di papan — sekarang ada yang berani nyapa gue dengan nada sinis, ada yang sengaja tabrak bahu gue pas lewat. Sasa sama Bela selalu di samping gue, kadang marah, kadang cuma peluk gue pelan.
"Jangan dengerin mereka, Luna. Mereka cuma iri," kata Sasa tegas.
"Iya, lo kuat kok," tambah Bela sambil membenarkan kerah baju gue.
Gue senyum berterima kasih. "Gue tahu. Gue cuma… heran. Kenapa harus benci sih?"
Saat istirahat, Kirana lewat di meja kita. Berhenti sebentar, natap gue satu per satu.
"Hebat ya, bisa bikin semua orang di pihak lo," suaranya rendah, penuh sarkas. "Tapi ingat — belum selesai. Pernikahan bukan jaminan lo bakal tetap di sampingnya."
Gue berdiri tegak. "Lo boleh benci gue, Kirana. Tapi tolong jangan ganggu keluarga gue sama keluarga Arka. Mereka nggak tahu apa-apa."
Kirana tertawa pelan. "Makin tegar ya? Lihat saja nanti." Dia pergi, meninggalkan hawa dingin.
Sore itu gue cerita semuanya ke Arka. Dia diam, rahangnya mengeras.
"Gue harus bicara sama dia," ucapnya tegas.
"Jangan," tahan gue pegang tangannya. "Kalau lo marah, orang malah salah paham. Biar gue yang hadapi."
Arka natap gue, cemas. "Tapi gue nggak mau lo disakiti."
"Gue nggak akan sendirian. Ada lo, ada Abang, ada teman-teman. Kita hadapi bareng, ingat?"
Dia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. Peluk gue erat. "Iya. Bareng."
Malam itu, saat semua udah tenang, gue lihat Arka keluar rumah sebentar. Dia angkat telepon, suaranya rendah tapi tegas — gue cuma dengar potongan kalimat: "Jaga jarak… jangan sampai dia terlibat… kalau perlu, gue sendiri yang bicara."
Gue tahu — di balik senyumnya, di balik tawa keluarga, dia tetap berjuang melindungi gue. Dan gue juga tahu… Kirana nggak akan berhenti sebelum dapat apa yang dia mau.
Tapi kali ini gue nggak takut. Gue punya keluarga besar yang sayang sama kita, teman-teman yang setia, dan Arka yang selalu ada. Apa pun yang terjadi… kita hadapi bareng.
okay sampai sini dulu yahh, JANGAN LUPA BUAT VOTE, LIKE, SUBSCRIBE DAN KOMEN 😘