Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Nama Wegan Group adalah nama perusahaan konglomerat terbesar yang menguasai seluruh perputaran bisnis di negara ini.
Bahkan orang miskin di pelosok kawasan kumuh pun tahu betapa kaya dan berkuasanya dinasti keluarga Wegan.
"We-Wegan Group? Ta-tapi kami orang kecil tidak pernah punya urusan dengan orang besar seperti Anda, Tuan Leon," ucap Herman terbata-bata nyaris mengompol di celana.
Leon menarik sebuah kursi kayu usang di dekatnya dan duduk dengan gaya arogan menatap mereka berdua dari atas ke bawah.
"Tidak punya urusan katamu? Enam tahun lalu kalian sudah membuat urusan yang sangat fatal dengan keluargaku," ucap Leon tersenyum sangat kejam.
"Kalian bekerja sama dengan seorang suster untuk menukar bayi kandungku di Rumah Sakit Internasional Wegan," lanjut Leon mengucapkan fakta itu dengan nada memvonis.
Siska yang baru saja merangkak bangun kembali jatuh lemas tak bertenaga mendengar ucapan Leon tersebut.
Wajah wanita itu langsung pucat pasi seperti mayat hidup yang kehabisan darah.
"Rahasia enam tahun lalu... ba-bagaimana pria mengerikan ini bisa tahu," batin Siska menjerit panik di dalam hatinya.
"Itu fitnah kejam, Tuan! Kami tidak tahu apa-apa soal penukaran bayi anak orang kaya!" elak Herman masih mencoba berbohong demi menyelamatkan nyawanya.
"Kami ini orang miskin, mana berani kami masuk ke rumah sakit mewah milik keluarga Anda!" tambah Herman dengan keringat dingin bercucuran sebesar biji jagung.
Leon tertawa pelan, sebuah tawa berat yang membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu berdiri serempak.
"Kau pikir aku datang ke tempat pembuangan sampah ini untuk mendengar kebohongan bodoh kalian?" tanya Leon dengan nada mengejek yang kental.
"Aku sudah memegang hasil tes DNA resmi yang membuktikan seratus persen bahwa gadis bernama Luna itu adalah anak kandungku," tegas Leon membuat jantung Siska seolah berhenti berdetak.
"Lu-Luna? Jadi anak pengemis itu adalah anak Tuan Leon?" gumam Siska dengan bibir bergetar hebat memucat.
Siska tiba-tiba teringat semua siksaan fisik yang pernah dia berikan pada gadis kecil penurut itu setiap harinya.
Dia pernah memukul Luna dengan kayu, menendangnya ke tanah, membiarkannya kelaparan, bahkan membiarkan suaminya menyundut rokok ke kulit anak itu.
Dan sekarang, ayah kandung dari anak yang dia siksa habis-habisan itu sedang duduk di depannya dengan kekuasaan penuh untuk membunuhnya.
"Tuan Leon, ampun! Tolong ampuni saya! Kami benar-benar tidak tahu kalau Luna adalah putri Anda!" Siska langsung bersujud hingga dahinya menyentuh tanah yang kotor.
"Kami memang disuruh oleh seseorang untuk merawat anak itu, kami dibayar uang sepuluh juta rupiah!" lanjut Siska membongkar rahasianya sendiri karena saking takutnya mati.
"Siapa nama orang yang menyuruhmu saat itu?" tanya Leon mencondongkan tubuhnya ke depan menatap tajam.
"Suster Rini! Dia yang menyerahkan bayi itu pada kami di gang belakang rumah sakit dan memberi kami uang sepuluh juta dari seorang donatur rahasia!" jawab Siska dengan sangat cepat tanpa bernapas.
"Kami sungguh tidak tahu siapa donatur misterius itu, kami berani bersumpah demi langit dan bumi, Tuan!" teriak Herman ikut bersujud memohon ampunan di kaki Leon.
Leon mendengus jijik melihat dua manusia berhati rendah itu menangis ketakutan mencari selamat.
"Lalu bayi siapa yang kalian berikan pada Suster Rini sebagai gantinya malam itu, hm?" pancing Leon dengan senyum iblisnya yang merendahkan.
Siska dan Herman saling berpandangan sejenak dengan wajah penuh ketakutan dan rasa bersalah.
"Itu... itu bayi perempuan kandung kami sendiri, Tuan," cicit Siska dengan suara yang sangat pelan nyaris seperti bisikan.
"Suster Rini bilang orang yang menyuruhnya ingin anak kami dirawat oleh keluarga konglomerat agar hidupnya terjamin kaya raya," lanjut Siska menjelaskan alasan keserakahan masa lalunya.
Leon bertepuk tangan pelan beberapa kali merespons pengakuan jujur dari dua bajingan penjual anak tersebut.
Plok. Plok. Plok.
"Tebakan logika yang sangat akurat. Anak kandung kalian yang bernama Bianca itu selama enam tahun ini hidup mewah di dalam istanaku," ucap Leon membenarkan fakta yang paling menyakitkan itu.
Mendengar nama Bianca disebut, ada sedikit kelegaan dan secercah harapan di mata Siska dan Herman.
Mereka berpikir setidaknya anak kandung mereka hidup enak dan mungkin anak itu bisa membujuk ayah angkatnya untuk mengampuni mereka sekarang.
"Syukurlah Bianca hidup enak dengan keluarga Tuan. Dia pasti tumbuh jadi anak yang pintar dan sangat manis kan, Tuan?" ucap Siska mencoba mengambil hati Leon dengan membawa nama anaknya.
"Kalau Tuan sudah menyayangi Bianca seperti anak sendiri, tolong ampuni kami sebagai orang tua kandungnya, Tuan," mohon Herman ikut menimpali dengan wajah memelas yang menjijikkan.
Leon menatap mereka berdua dengan pandangan seolah sedang melihat kotoran hewan paling bau di dunia.
"Menyayanginya? Aku bahkan merasa ingin muntah saat menyadari pernah memeluk anak dari keturunan sampah kotor seperti kalian berdua," balas Leon meludahi lantai tepat di depan wajah Siska.
"Bianca tumbuh menjadi anak yang sangat nakal, bermulut kasar, dan berhati sombong persis seperti cetakan orang tuanya," lanjut Leon menghina anak palsu itu tanpa ampun di depan orang tua aslinya.
"Dan kalian punya pikiran konyol bahwa aku akan membiarkan anak kalian tetap hidup enak setelah apa yang kalian lakukan pada putriku?" Leon tertawa keras melihat perubahan wajah mereka yang kembali pucat.
"Apa maksud Anda, Tuan? Anda tidak akan menyakiti Bianca kan? Dia masih kecil dan tidak tahu apa-apa soal rencana ini!" teriak Siska mulai panik memikirkan nasib anak kandungnya.
"Tentu saja aku tidak akan mengotori tanganku untuk menyentuh anak itu. Tapi aku sudah memerintahkan anak buahku untuk menendangnya keluar dari rumahku besok pagi," jawab Leon dengan santai menyandarkan punggungnya.
"Tidak! Tolong jangan usir anakku ke jalanan! Dia tidak bisa hidup miskin!" tangis Siska meronta-ronta di lantai memikirkan anaknya akan jadi gembel.
"Lucu sekali jalan pikiranmu. Kau menangisi anakmu sendiri yang tidak pernah kau temui sekalipun, tapi kau menyiksa darah dagingku tanpa belas kasihan sedikit pun selama enam tahun penuh!" bentak Leon menggebrak meja kayu di dekatnya hingga hancur berkeping-keping.
Prang!
Sisa piring kotor dan gelas kaca di atas meja itu pecah berserakan memenuhi lantai gubuk.
"Saat mataku melihat ada bekas sundutan rokok menyala di lengan putri kecilku, aku bersumpah pada diriku sendiri akan membalasnya ribuan kali lipat pada kalian berdua," desis Leon berdiri dan melangkah mendekati Herman.
Leon menatap Asisten Budi dan memberikan isyarat dengan anggukan kepalanya yang pelan.
"Siapkan alatnya sekarang. Aku ingin memberikan salam perkenalan yang pantas untuk pria yang suka menyundut rokok ke kulit anak kecil," perintah Leon dengan nada suara yang membekukan darah.
Asisten Budi langsung mengeluarkan sebuah besi panjang tebal yang ujungnya sudah dipanaskan hingga berwarna merah menyala dari dalam kotak khusus.
Besi panas itu sengaja dibawa dari markas intelijen khusus untuk menyiksa target operasi mereka malam ini.
"Tuan! Jangan lakukan ini! Tolong ampuni saya! Saya cuma ikut-ikutan marah saat sedang mabuk minuman keras!" jerit Herman membelalakkan mata melihat besi merah menyala itu mendekatinya.
"Pegang kedua tangan dan kakinya kuat-kuat ke lantai! Jangan biarkan bajingan ini bergerak satu sentimeter pun!" perintah Asisten Budi pada dua pengawal berbadan besar di sampingnya.
Kedua pengawal bayangan itu langsung menekan tubuh gemuk Herman ke lantai tanah hingga pria buncit itu tidak bisa berkutik sama sekali.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget