DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: CATATAN TANGGAL DELAPAN
Tok! Tok! Tok!
Ketukan tiga kali di pintu samping rumah itu memutus lamunanku. Suaranya pelan, terburu-buru, dan tertahan, seolah-olah siapa pun yang mengetuk di balik kayu tua itu cemas keberadaannya diketahui oleh angin malam Kota Malang.
Aku mengernyitkan dahi sembari menata ulang tumpukan nota dan slip setoran bank di atas meja kayu jati. Kacamata baca berkulit penyu yang bertengger di pangkal hidungku sedikit kubetulkan.
"Siapa sore-sore begini?" bisikku pada diri sendiri.
Langkah kakiku yang mengenakan sandal rumah kain tipis menyusuri ubin semen dingin. Jam dinding melingkar di ruang tengah menunjukkan pukul enam sore lewat sedikit, dan langit di luar mulai menggelap dalam sapuan warna jingga keabu-abuan.
Sebagai teller senior di bank swasta kawasan alun-alun Malang, aku baru saja menyelesaikan shift kerja yang menguras tenaga. Seharian berhadapan dengan tumpukan berkas setoran, menghitung bundelan lembaran rupiah, dan mencocokkan neraca harian membuat sendi-sendi tanganku terasa amat kaku.
Rumah sederhana berdinding bata tebal ini selalu menjadi muara paling tenteram bagiku setelah melepas seragam bank. Di gang sempit permukiman ini, suara deru halus mesin sepeda motor tetangga yang melintas di jalan depan beradu tipis dengan alunan gending Jawa dari radio tua milik Pak RT.
Aku mengulurkan tangan kanan, meraih kait besi selot pintu samping yang berkarat dan terasa dingin di ujung jari.
Sreeek!
Selot besi itu bergeser pendek, menimbulkan decit tipis yang memecah keheningan koridor samping. Daun pintu kayu terdorong ke luar, memperlihatkan sosok perempuan berpawakan kurus yang berdiri gemetar di balik temaram bohlam teras gantung.
"Mbak Sari..."
Bisikan itu meluncur sangat halus dari bibirnya, hampir-hampir tersapu habis oleh hembusan angin sore.
Itu Maya.
Tetangga sebelah rumah yang bangunannya hanya berjarak lima langkah dari dinding samping rumahku.
Wajahnya tampak pucat di bawah sorot lampu kuning dua puluh watt yang menggantung di sudut teras. Matanya yang sembap dikelilingi lingkaran kehitaman tebal, mencerminkan keletihan fisik yang amat sangat.
Lengan baju panjang berbahan linen lusuh yang dikenakannya sengaja ditarik agak ke bawah hingga menutupi pergelangan tangan.
Namun, ketika jemarinya bergerak canggung dan gemetar membetulkan lipatan kain yang kusut, mataku sempat menangkap jejak memar kebiruan yang mengintip samar di atas kulit tangannya.
Sebagai tetangga terdekat, ingatan singkatku langsung melayang pada bentakan keras Rian yang beberapa malam lalu sempat melintas menembus dinding pembatas rumah kami. Dugaanku spontan mengarah pada pertengkaran rumah tangga mereka yang kerap berujung keheningan mencekam.
Aku mengingat bagaimana Maya dulu pertama kali pindah ke gang ini dua tahun lalu bersama Rian. Dulu ia sosok yang ramah dan sering menyapa saat menyapu pekarangan depan, namun belakangan ini ia makin jarang keluar rumah dan memilih mengurung diri.
"Eh, Maya. Masuk dulu, May, jangan berdiri di luar begini," ajakku bergeser mundur untuk memberinya ruang melangkah.
Maya menggelengkan kepala dengan cepat dan patah-patah.
Gerakannya begitu kaku, seolah lehernya disangga oleh rasa cemas yang membelenggu.
Matanya melirik gelisah ke arah lorong gang yang makin remang, menatap lurus ke arah pintu rumahnya sendiri yang tertutup rapat tanpa berkas cahaya dari dalam.
Jemari tangannya yang terasa amat dingin tiba-tiba meraih dan memegang punggung tangan kananku.
"Mboten usah, Mbak Sari. Di sini saja," katanya dengan nada suara yang bergetar pelan.
Napasnya memburu pendek-pendek dan tidak teratur, seolah-olah ia baru saja menempuh perjalanan jauh melintasi ketakutan.
Aku bisa merasakan getaran halus yang menjalar dari telapak tangannya saat ia merogoh saku celana panjangnya yang kusam.
"Mbak Sari... apa aku boleh pinjam uang?" tanya Maya mendadak dengan tatapan mengiba.
Kalimat itu meluncur tersendat dari bibirnya yang tampak kering dan pecah-pecah.
"Cuma sedikit saja, Mbak. Untuk beli kebutuhan dapur dan beras besok pagi. Rian..."
Kalimatnya terhenti begitu saja di tengah jalan. Tenggorokannya tampak naik turun, menelan ludah secara paksa seolah ada gumpalan tebal yang menyumbat jalurnya.
Aku menatap pasang matanya dalam-dalam di dalam keheningan lorong gang.
Ada pandangan mengiba dan raut terdesak yang memancar amat pekat dari manik matanya yang redup.
Di usia lima puluh satu tahun ini, dengan pengalaman belasan tahun bekerja di bank, aku sudah terbiasa melihat raut wajah orang-orang yang panik menghadapi urusan uang.
Nasabah yang datang ke loketku saat terdesak utang atau menunggak cicilan sering kali menunjukkan sorot mata gelisah seperti ini. Raut wajah Maya sore ini membawa kepanikan yang sama, bahkan terasa jauh lebih berat dari sekadar urusan transaksi harian.
Nominal uang yang tersirat dari permintaannya tentu sama sekali bukan jumlah yang memberatkan bagi tabungan keluargaku.
Namun, ekspresi ketakutan yang tergambar di wajah pucatnya membuat permintaan sederhana itu terasa amat mendesak dan tak bisa ditunda.
"Tunggu sebentar ya, May. Jangan ke mana-mana, aku ambilkan di kamar," ucapku lembut.
Aku berbalik bergegas menuju kamar tidur utama di bagian depan rumah.
Langkah kakiku melintasi ruang tengah yang temaram. Di sana, Ranti, putri bungsu saya yang berusia sembilan belas tahun, baru saja keluar dari dapur bersih sembari membawa nampan kayu kecil.
"Ada apa, Bu? Siapa yang datang?" tanya Ranti dengan suara halus.
"Tante Maya di pintu samping, Ran. Ibu mau ambil uang sebentar di kamar," sahutku pelan tanpa menghentikan langkah.
Ranti mengangguk pelan, lalu meneruskan langkahnya meletakkan secangkir teh hangat di atas meja makan.
Aku masuk ke dalam kamar utama, menghirup aroma minyak kayu putih dan kapur barus yang biasa menenangkan pikiranku di rumah ini.
Tangan kiriku merogoh bagian dalam tas kerja kulit berwarna cokelat tua yang tergeletak di atas ranjang kayu.
Tas itu masih membawa aroma kertas dan tinta khas kantor bank, tempat aku menghabiskan waktu berjam-jam sejak pagi tadi menghitung bundelan uang nasabah.
Aku mengeluarkan dompet tebal dari bahan kulit sintetis, lalu memilah beberapa lembar uang kertas pecahan seratus ribu rupiah yang masih baru dan kaku.
Aku tidak menghitungnya secara ketat, hanya memastikan jumlahnya cukup untuk menyambung kebutuhan dapur rumah tangga beberapa hari ke depan.
Langkah kakiku kembali bergegas menyusuri ubin dingin menuju pintu samping tempat Maya menunggu.
Ketika aku mengulurkan lembaran uang kertas itu melewati ambang pintu, jemari Maya langsung menyambar uang itu dengan gerakan amat cepat.
Bukan hanya lembaran uang yang diambilnya.
Kedua telapak tangannya yang dingin menyungkup erat punggung tangan kananku.
Ia menarik napas panjang yang terdengar amat tersiksa dan berat di dalam rongga dadanya.
Ia menatap lurus tepat ke dalam mataku dengan ketegangan yang membuat tengkukku mendadak meremang dingin.
"Tanggal delapan, Mbak Sari," ucap Maya dengan nada bicara yang amat tegas dan menusuk.
Suaranya tidak lagi bergetar atau ragu, melainkan berubah menjadi tatanan kalimat yang kaku dan dingin.
"Tanggal delapan mboten bakal telat."
"Tanggal delapan tak wangsulake. Janji."
Aku tertegun sejenak menyaksikan keseriusan dan desakan yang meluap dari sorot matanya.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan dulu sekarang, May. Pakai saja uang ini untuk kebutuhan rumah tangga dulu," balasku berusaha menenangkan pikirannya.
"Mboten. Ini janji, Mbak Sari," ulang Maya sekali lagi tanpa mengedipkan kelopak matanya.
Cengkeraman jemarinya di punggung tanganku makin mengencang keras sebelum akhirnya terlepas perlahan-lahan.
"Tanggal delapan aku pasti bayar."
Tanpa menunggu tanggapanku atau sepatah kata pun lebih lanjut, Maya mundur dua langkah secara tergesa-gesa.
Ia memeluk lipatan lembaran uang kertas itu erat-erat di depan dadanya.
Ia berbalik dengan cepat, lalu melangkah setengah berlari menyusuri lorong gang yang makin gelap ditelan malam.
Sosoknya yang kurus dan bungkuk perlahan-lahan lenyap di balik remang teras rumahnya sendiri.
Aku berdiri terpaku di ambang pintu samping yang masih terbuka lebar, memperhatikan lorong kosong itu dalam keheningan sore yang terasa amat tebal.
Tepat saat tangan kiriku hendak meraih daun pintu kayu untuk menutupnya kembali, sesosok hembusan angin dingin bertiup kencang dari arah lorong gang.
Wush!
Angin sore yang kencang itu membawa serta aroma yang sangat spesifik dan tak biasa.
Aroma campuran antara tanah merah basah setelah tersiram hujan dan bau lembap tua yang mirip kain basah yang lama terperangkap di sudut ruangan gelap.
Aroma asing itu memenuhi seluruh rongga hidungku hanya dalam hitungan detik.
Bulu-bulu halus di sepanjang kedua lengan dan tengkukku seketika berdiri tegak mematung.
Plak!
Daun pintu kayu itu berguncang keras dihantam angin, menghantam bingkai kusen dengan suara benturan yang lumayan kencang.
Klek!
Selot besi dingin itu berhasil kuputar cepat, mengunci rapat pintu samping rumah dari dalam.
Aku berdiri menyandar sebentar pada daun pintu kayu, menghela napas panjang untuk meredakan denyut jantung yang berdegup lebih cepat.
Perasaanku terasa ganjil, seakan-akan ada sesuatu yang janggal dalam interaksi sederhana yang baru saja berlangsung di ambang pintu tadi.
Aku berjalan kembali ke ruang tengah dengan langkah perlahan. Hawa hangat dari cangkir teh di atas meja makan menyambut kedatanganku.
"Siapa tadi, Bu? Tante Maya, ya?"
Teguran Ranti dari arah meja makan memecah keheningan pikiranku.
Putri bungsu saya itu berdiri anggun di dekat meja, membetulkan letak cangkir porselen putih berisi teh hangat yang asap tipisnya masih mengepul lembut.
"Iya, Ran. Tante Maya sebentar tadi ke sini," jawabku pelan sembari menarik kursi kayu jati.
Suaraku terdengar agak serak, seolah ada pasir halus yang mengganjal di dalam pita suaraku.
Ranti memandangi wajahku dengan kening berkerut halus sembari meletakkan piring alas cangkir.
"Tante Maya kenapa, Bu? Wajah Ibu kelihatan heran begitu," tanya Ranti sembari menggeser cangkir teh mendekat ke arah tanganku.
"Tidak apa-apa, Ran. Cuma pinjam uang sebentar untuk belanja kebutuhan dapur besok," sahutku mencoba tersenyum tipis untuk menenangkan anak bungsuku itu.
Sebagai ibu dari tiga putri yang membesarkan mereka di rumah sederhana ini setelah suamiku berpulang beberapa tahun lalu, aku selalu berusaha menjaga agar kecemasan sekecil apa pun tidak menular kepada anak-anakku.
Ketiga putriku adalah pusat dari seluruh hidupku. Mbak Ayu yang tertua kini sudah bekerja di Surabaya, Dini anak keduaku sedang menyelesaikan kuliah di universitas negeri di Malang, dan Ranti si bungsu yang menemani hariku di rumah ini.
"Mas Rian tidak ada di rumahnya ya, Bu?" gumam Ranti pelan sembari menarik kursi di seberangku.
"Ibu tidak tanya tadi, Ran. Kelihatannya Tante Maya lagi banyak pikiran," balasku pendek.
Aku menyesap teh hangat buatan Ranti perlahan, membiarkan rasa manis sedang dan hangatnya menjalar menembus tenggorokanku yang kering.
Uap teh hangat itu membawa kenyamanan yang perlahan mengurai ketegangan di dadaku.
Ranti beranjak ke dapur untuk mengambil wadah toples berisi keripik tempe khas Malang, lalu meletakkannya di tengah meja makan.
"Mbak Dini tadi pesan, nanti malam pulang agak larut karena ada kerja kelompok di kampus," kata Ranti sembari duduk kembali.
"Iya, tadi siang Mbak Dini sudah kirim pesan singkat ke HP Ibu," jawabku pelan sembari mengambil sepotong keripik tempe.
"Ibu mau makan malam sekarang atau menunggu Mbak Dini pulang?" tanya Ranti penuh perhatian.
"Nanti saja bersama Mbak Dini, Ran. Ibu minum teh dulu saja sekarang," sahutku.
Kehidupan domestik kami berjalan sederhana dan damai. Kehadiran Ranti di rumah selalu memberikan penghiburan tersendiri setelah seharian aku bergelut dengan tekanan pekerjaan kantor.
Namun, pandangan mataku secara refleks terlempar melintasi ruang makan menuju arah dinding samping dapur bersih.
Di sana, menggantung sebuah kalender dinding berukuran sedang dengan lembaran kertas tebal bergambar pemandangan sudut Kota Malang tempo dulu.
Tanganku terulur meraih sebuah spidol berujung papan tebal berwarna hitam yang tergeletak di atas rak piring kecil di dekat lemari es.
Aku berdiri dari kursi makan, melangkah mendekati kalender dinding itu dengan gerakan kaki yang terasa amat berat.
Ujung spidol hitam berbau tajam itu kutempelkan tepat pada lembaran bulan berjalan.
Ssshh...
Aku memutar spidol itu perlahan dan mantap, membentuk lingkaran tebal yang mengurung rapat angka '8' pada lembaran kertas kalender.
Lingkaran hitam itu tampak kontras dan gelap, menonjol begitu mencolok di antara deretan angka-angka lainnya.
Lengan tanganku mendadak terasa lemas tepat setelah ujung spidol itu kutarik kembali dari permukaan kertas.
Sebuah rasa sesak yang tak berwujud hinggap perlahan di dalam rongga dadaku, menyisakan firasat samar yang sama sekali tak mampu diterjemahkan oleh pikiranku sore itu.
---