NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Ivy

Kehidupan Kedua Ivy

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nitaastri

Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.

Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.

Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.

Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Bekal Pertama

Edgar masih berdiri di depan pintu apartemen Ivy sambil memegang kotak bekal yang diberikan Ivy kepadanya, Ia menatap kotak itu beberapa saat.

“Kenapa?” tanya Ivy sambil mengerutkan keningnya, dia merasa bingung melihat Edgar yang sejak tadi terus memperhatikan kotak bekalnya.

Edgar mendongak, menatap Ivy yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan bingung.

“Nggak apa-apa.” Kata Edgar sembari tersenyum kecil.

“Kalau begitu, kenapa kau terus melihat kotak bekalnya?” Tanya Ivy sambil menatap Edgar dengan tatapan penuh tanda tanya.

Edgar mengulum senyum tipis, menatap Ivy dengan tatapan lembut yang tak mampu menyembunyikan rasa cintanya.

“Aku hanya sedang berpikir.”

“Berpikir tentang apa?” Ivy menyela sebelum Edgar sempat melanjutkan ucapannya. Melihat reaksi Ivy, Edgar tidak mampu menahan senyumnya.

“aku harus menjaga kotak bekal ini dengan baik.” Ujar Edgar, senyum kecil menghiasi wajahnya.

senyum tipis terukir di wajah Ivy sebelum akhirnya dia tertawa kecil saat mendengar ucapan Edgar.

“Itu hanya kotak bekal.” Kata Ivy, kepalanya menggeleng kecil.

“Bukan bagiku.” Protes Edgar dengan wajah cemberut.

Ivy menatap wajah Edgar yang cemberut, entah mengapa ekspresi itu justru terlihat lucu dimatanya. Dia pun tanpa sadar tersenyum, merasa gemas melihatnya.

Edgar kemudian memasukkan kotak bekal itu ke dalam tas kerjanya dengan sangat hati-hati. Setelah memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas, Edgar kemudian menyampirkan tas itu ke bahunya tapi sebelum itu dia memastikan dulu jika tidak ada barang yang tertinggal. Setelah semuanya beres, Edgar pun berpamitan untuk berangkat ke kantor. Sebelum benar-benar pergi, Edgar sempat menoleh sekali lagi pada Ivy lalu tersenyum kecil.

“Aku berangkat dulu.” Pamit Edgar.

Tanpa Menunggu terlalu lama, Edgar pun melangkah keluar dan meninggalkan ruangan Ivy.

“Oke, hati-hati di jalan.” Kata Ivy sambil melambaikan tangannya.

Baru beberapa langkah Edgar meninggalkan apartemen itu, Tiba-tiba suara Ivy terdengar memanggilnya dari belakang.

“Edgar.”

Edgar yang mendengarnya langsung menghentikan langkahnya, ia menoleh dan mendapati Ivy masih berdiri di tempatnya sambil menatap ke arahnya.

“Ya?” Tanya Edgar sedikit heran.

Ivy menatap Edgar sebentar, lalu tersenyum kecil.

“Jangan lupa dimakan.”

Edgar mengangguk sambil tersenyum, membuat Ivy akhirnya juga ikut tersenyum sebelum akhirnya ia kembali melangkah memasuki apartemennya.

Edgar terkekeh kecil begitu melihat Ivy dengan terburu-buru memasuki apartemennya, tingkah Ivy benar-benar menggemaskan sampai Edgar rasanya ingin mengurung wanita itu di dalam kamarnya saja. Merasa pikirannya sedikit aneh, Edgar buru-buru menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

“Pasti.” Gumam Edgar.

Setelah melihat pintu apartemen Ivy tertutup rapat, Edgar akhirnya berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir.

Sementara itu, Ivy masih berdiri di balik pintu apartemennya. Tangannya perlahan terangkat, menempel di dada yang sejak tadi berdetak lebih cepat dari biasanya. Ivy menghela nafas pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Entah mengapa, setelah melihat kepergian Edgar tadi, jantungnya malah semakin tidak mau di ajak tenang. Ivy baru merasakan perasaan seperti ini, bahkan dulu saat bersama Mateo Ivy tidak pernah merasakan perasaan ini. Dia hanya merasa nyaman karena Mateo awalnya selalu memperhatikan diri nya hingga akhirnya muncul perasaan dia tidak ingin kehilangan perhatian pria itu.

Sementara itu, Edgar tiba di kantornya sekitar 50 menit kemudian. Begitu memasuki ruangan, sekretarisnya langsung berdiri.

“Selamat pagi, Pak Edgar.” Sapa Aris, sekertaris Edgar.

“Pagi.”

Edgar berjalan menuju ruang kerjanya, namun sekretarisnya sempat memperhatikan sesuatu.

Pagi ini, bosnya yang terkenal dingin ini tiba-tiba saja tersenyum dan membalas semua sapaan karyawan kantor.

“Bos, sepertinya hari ini anda jauh lebih bahagia?”

Edgar berhenti, menatap Aris sesaat lalu tersenyum tipis.

“Ya hari ini aku sangat bahagia.” Kata Edgar.

“Benarkah?” Tanya Aris penasaran, sebenarnya apa yang sudah membuat bosnya yang dingin ini tiba-tiba saja tersenyum. Jika dia adalah seorang wanita, mungkin Aris harus memberikan wanita itu penghargaan karena berhasil meluluhkan hati bosnya yang sedingin kulkas 10 pintu itu.

“Begitulah." Jawab Edgar sambil tersenyum.

Aris terdiam, dia merasa shock. Lagi-lagi bosnya tersenyum padanya, bukankah ini termasuk salah satu keajaiban dunia. Aris rasa dia harus mencatat hal ini dalam buku albumnya.

“Saya jadi penasaran, siapa orang yang telah membuat Anda tersenyum?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja, saat Aris tersadar dia segera menutup mulutnya. Tapi terlambat, karena Edgar sudah mendengar ucapan Aris itu. Alih-alih merasa marah pada Aris, Edgar justru kembali tersenyum.

“Ivy.” Jawab Edgar singkat.

Aris akhirnya tau alasan di balik bos dinginnya ini tiba-tiba saja tersenyum, orang itu adalah wanita yang bernama Ivy. Aris jadi penasaran, seperti apa wanita bernama Ivy itu karena diantara banyaknya wanita hanya dia satu-satunya yang berhasil meluluhkan bosnya itu. Selama ini banyak wanita yang mendekati Edgar, tapi tidak ada satupun yang menarik perhatian Edgar. Bahkan jika ada wanita yang berani menyentuhnya, Edgar tidak segan-segan menghempaskan wanita itu tampa perasaan. Dia tidak peduli apakah wanita itu malu atau terluka, karena menurutnya perasaan setiap wanita itu tidak penting untuk dia pikirkan.

“Oh…”

Edgar lalu masuk ke ruangannya tanpa menjelaskan lebih jauh. Namun sejak pagi, suasana hati Edgar memang terlihat jauh lebih baik. Menjelang siang, pekerjaan Edgar semakin menumpuk. Beberapa dokumen harus diperiksa dan sejumlah rapat harus dihadiri, waktu berjalan begitu cepat sampai akhirnya jam makan siang tiba.

Tok Tok Tok

“Bos Edgar, waktunya makan siang.” Kata Aris.

Edgar mendongak perlahan lalu melihat jam tangannya.

“Tidak perlu memesankan aku makan siang.” Kata Edgar sambil meraih tas miliknya.

Aris menatap Edgar bingung, tidak biasanya bosnya ini melarangnya memesankan makanan untuknya. Biasanya dia selalu meminta Aris untuk memesankan makan siang, karena bosnya ini sangat malas meninggalkan ruang kerjanya itu.

“Kenapa?” tanya Aris menatap Edgar heran.

Edgar tersenyum kecil, lalu menunjuk tasnya.

“Aku membawa makan siang dari rumah.” Jelas Edgar santai.

Edgar kemudian mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas, Aris melihat kotak tersebut dengan tatapan penasaran. Ketika Edgar membuka tutupnya, aroma nasi goreng dan ayam suwir pedas langsung memenuhi ruangan.

Aris tersenyum kecil saat melihat kotak bekal Edgar, walaupun sebenarnya dia merasa sedikit heran. karena selama ini bosnya itu tidak pernah membawa bekal dari rumah, setiap jam makan siang tiba, bosnya itu selalu memerintahkan dia untuk memesankan dia makan siang. Tapi hari ini, bosnya itu justru membawa bekal dari rumah. Aris jadi penasaran, siapa yang sudah membuatkan bosnya itu bekal makan siang. Lalu satu nama tiba-tiba muncul di benak Aris, wanita bernama Ivy yang baru saja di sebut oleh Edgar.

“Kelihatannya enak.”

Edgar mengangguk, dalam hati dia membenarkan hal itu. Masakan Ivy memang enak, bahkan menurutnya itu adalah makanan terenak yang pernah dia makan selama hidupnya.

“Memang enak.”

Ia mengambil satu suapan, ekspresi puas seketika terbit di wajahnya. Masakan Ivy masih terasa sama seperti pagi tadi, walaupun terlihat sederhana tapi rasanya sangat enak.

Saat mengingat wanita itu, lagi-lagi senyum Edgar mengembang. Sedangkan Aris sejak tadi terus memperhatikan ekspresi bosnya itu.

“Sepertinya Anda sangat menyukainya.”

Edgar mengangguk, dia memang sangat menyukai masakan Ivy, bukan hanya masakannya tapi orangnya juga.

“Ya.”

“Masakannya?” Goda Aris.

Edgar menatap kotak bekalnya.

“Orangnya juga.”

Aris langsung terdiam, Edgar baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. Namun ia tidak menarik kembali ucapannya, sebaliknya ia kembali menikmati makan siangnya yang tadi sempat tertunda karena pertanyaan Aris.

Di tempat lain, Ivy sedang duduk di sofa apartemennya. Setelah Edgar pergi, ia sebenarnya memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Namun otaknya justru terus memikirkan pria itu, apakah Edgar sudah sampai?

Apakah dia menyukai makanannya? Apakah ayam suwirnya terlalu pedas? Ivy akhirnya mengambil ponselnya. Ia membuka ruang obrolan dengan Edgar, lalu jarinya segera mengetik sebuah pesan.

“Sudah makan?”

Ivy menatap pesan itu beberapa detik, Kemudian ia menghapusnya.

“Kenapa aku jadi seperti ini?”

Ia meletakkan kembali ponselnya, namun beberapa detik kemudian ponselnya justru berbunyi.

TING

Sebuah pesan masuk dari Edgar, melihat pesan itu senyum Ivy langsung mengembang. Tidak menunggu lama, Ivy segera membuka pesan singkat itu.

Edgar: Aku sudah makan.

Pesan berikutnya kembali masuk.

Edgar: Enak sekali.

Ivy tersenyum, Kemudian muncul satu pesan lagi.

Edgar: Apakah besok kau mau membuatkan aku bekal lagi?

Ivy menatap layar ponselnya sambil tertawa kecil, setelah penantian yang begitu lama, akhirnya ada seseorang yang benar-benar menantikan masakan buatannya. Berbeda dengan dulu, apapun yang dia sajikan selalu di tolak, apapun yang dia lakukan selalu di anggap salah. Kini akhirnya dia menemukan orang yang benar-benar mau menghargai dirinya bahkan walaupun itu hanyalah sesuatu yang sangat sederhana.

Bersambung

1
Putry Chan
gara gara kejadian ini lvy inisiatif pgen jadi kuat , waduh lvy serem nih nanti 🤣
Putry Chan
lvy tenangkan pikiran mu aku yakin Edgar baik baik aja
Putry Chan
jelas lah kan dia cinta kau apa lah isi pikiran laki ini 🗿
Putry Chan
semoga Edgar baik baik aja ya
Putry Chan
lvy calon suami mu ini lumayan menantang ya
Putry Chan
mungkin musuh nya
Putry Chan
siapa ya yang ikutin mereka
Itha Ast
Menarik
Mundri Astuti
good ivy
Putry Chan
aku mendukung kalian dan semoga kalian bahagia
Putry Chan
langka yang bagus untuk membagikan hubungan baik
Misa
Bagus
Mundri Astuti
aamiin ...aku dukung Edgar 🤭
Dinda Putri
semangat yo thor 🔥🔥🔥
Dinda Putri
lanjut up thor
Putry Chan
wah sepertinya lvy di terima baik
Putry Chan
bagus lah akhirnya MC kita nikah juga
Putry Chan
bagus lah semoga cepat ya ke hubungan yang lebih serius
Putry Chan
ya tapi hati mu tidak berubah
Putry Chan
untung lah ada Edgar yang mulai sekarang nemenin lvy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!