Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palu putusan yang menyakitkan
Ruang sidang utama Pengadilan Negeri itu terasa lebih dingin dari lemari pendingin kamar mayat. Dinding-dindingnya yang dilapisi panel kayu jati mengkilap menjulang tinggi, seolah sengaja dirancang untuk mengerdilkan siapa pun yang duduk di kursi pesakitan. Di bawah lambang timbangan keadilan yang terpasang angkuh di dinding depan, tiga orang hakim berkacamata tebal duduk membisu, membolak-balik berkas perkara dengan wajah tanpa ekspresi yang mengerikan.
Di kursi terdakwa, Dara Puspita duduk menyusut. Tubuhnya yang semakin kurus dibalut kemeja putih pudar yang kebesaran dan rompi tahanan berwarna oranye bernomor dada 042. Rambutnya yang dulu selalu disisir rapi kini tampak kusam dan dipenuhi uban yang tumbuh liar dalam beberapa minggu terakhir. Borgol besi yang mengunci kedua pergelangan tangannya bergemerincing pelan setiap kali wanita paruh baya itu terbatuk menahan sakit di paru-parunya.
Tepat di belakang pembatas kayu ruang pengunjung, Juwita berdiri mematung. Matanya sembab, merah, dan bengkak akibat air mata yang tak pernah berhenti mengalir sejak malam pengkhianatan Riko Aditama. Ia menatap punggung ibunya yang bergetar lemah, merasakan setiap keping hatinya hancur berkeping-keping.
Di barisan kursi VIP yang dialasi beludru merah, Riko Aditama duduk bersilang kaki dengan setelan jas hitam seharga puluhan juta rupiah. Pria itu tampak begitu santai, sesekali berbisik dengan deretan pengacara mahalnya, lalu tersenyum tipis ke arah para wartawan yang kameranya terus menyala bak kawanan burung nasar yang kelaparan menunggu bangkai.
"Berdasarkan seluruh keterangan saksi, alat bukti yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum, serta fakta-fakta persidangan," suara ketukan mikrofon dari Hakim Ketua memecah keheningan yang mencekik, suaranya menggema memantul di dinding-dinding kayu. "Majelis Hakim tidak menemukan satu pun alasan pemaaf atau pembenar atas tindakan Terdakwa."
Jantung Juwita berhenti berdetak. Ia mencengkeram pembatas kayu di hadapannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Mulutnya setengah terbuka, berusaha meraup oksigen yang mendadak terasa lenyap dari ruangan itu.
"Terdakwa Dara Puspita terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana percobaan pembunuhan berencana, penyerangan dengan senjata tajam, dan penganiayaan berat yang mengakibatkan korban Kevin Aditama mengalami luka tembak kritis," lanjut Hakim Ketua dengan nada datar, membacakan kebohongan demi kebohongan yang telah dibeli dengan harga mahal oleh kekuasaan Riko.
Dara hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak menangis. Ia tidak memberontak. Air matanya telah mengering, dan suaranya telah habis. Ia tahu persis bahwa palu keadilan di ruangan ini tidak digerakkan oleh kebenaran, melainkan oleh rantai emas yang ditarik dari kursi Riko Aditama.
"Oleh karena itu," Hakim Ketua mengambil napas panjang, mengangkat palu kayunya tinggi-tinggi ke udara. "Majelis Hakim menjatuhkan pidana kepada Terdakwa Dara Puspita... dengan pidana penjara selama delapan belas tahun."
TOK. TOK. TOK.
Tiga ketukan palu itu membelah udara, menghantam telinga Juwita bagaikan ledakan bom yang meruntuhkan seluruh sisa kewarasannya.
Delapan belas tahun. Bagi wanita dengan penyakit paru-paru parah tanpa perawatan medis yang memadai seperti Dara, vonis itu bukanlah hukuman penjara. Itu adalah hukuman mati yang diperhalus.
"TIDAK!"
Jeritan histeris Juwita merobek ruang sidang, mengalahkan riuhnya kilatan lampu blitz kamera wartawan. Gadis remaja itu menerjang maju, menendang pintu pembatas kayu hingga terbuka, dan berlari ke arah ibunya.
"IBUKU TIDAK BERSALAH! DIA TIDAK MELAKUKANNYA! RIKO YANG MENEMBAK ANAKNYA SENDIRI!" teriak Juwita dengan suara yang serak dan pecah, meronta sejadi-jadinya saat dua orang petugas pengadilan berbadan besar langsung menyergapnya dari belakang, mengunci kedua lengannya.
"Lepaskan aku! Biarkan aku memeluk ibuku! Ibu!" Juwita menangis meraung-raung, kakinya terseret di atas lantai marmer saat petugas mencoba menariknya mundur.
Melihat putrinya diperlakukan kasar, pertahanan Dara akhirnya runtuh. Naluri keibuannya memberontak. Ia bangkit dari kursi terdakwa, mengabaikan borgol yang mengiris pergelangan tangannya, dan terseok-seok melangkah mendekati Juwita.
"Jangan sakiti anak saya! Tolong, jangan sakiti dia!" mohon Dara sambil terisak, merentangkan kedua tangannya yang terbelenggu rantai besi.
Melihat pemandangan yang menyayat hati itu, Hakim Ketua hanya mengetukkan palu dengan kesal. "Petugas keamanan, tertibkan ruang sidang! Bawa Terdakwa kembali ke sel tahanan!"
"Sebentar... saya mohon, Pak... beri saya waktu satu menit saja untuk memeluk anak saya..." Dara berlutut di lantai marmer yang dingin, memohon dengan air mata yang membanjiri wajah keriputnya.
Entah karena sisa-sisa nurani atau sekadar malas memperpanjang keributan, salah satu petugas keamanan menahan rekannya, membiarkan Juwita merosot ke lantai dan berhamburan ke dalam pelukan ibunya.
Ibu dan anak itu berpelukan di tengah ruang sidang yang dingin, dikelilingi oleh tatapan sinis, kilatan kamera, dan ketidakpedulian dunia yang begitu kejam. Bau antiseptik murah dari baju tahanan Dara menusuk hidung Juwita, namun bagi gadis itu, ini adalah pelukan paling berharga yang tersisa dalam hidupnya.
"Ibu... maafkan aku..." isak Juwita di ceruk leher ibunya, air matanya membasahi baju oranye yang dikenakan Dara. Tubuhnya bergetar hebat tak terkendali. "Aku bodoh, Bu... aku memberikan flashdisk itu padanya... aku mengorbankan segalanya, tapi dia menipuku... Maafkan aku, Ibu... aku gagal menyelamatkanmu..."
Dara menangis, mencium puncak kepala Juwita berkali-kali. Tangannya yang kasar dan diborgol membelai pipi putrinya yang basah, menghapus air mata gadis itu dengan ibu jarinya yang gemetar.
"Sstt... jangan pernah berkata begitu, Nduk," bisik Dara parau, suaranya putus-putus karena napas yang sesak. "Kamu tidak pernah gagal. Kamu adalah anak yang paling cerdas, paling berani, dan paling Ibu banggakan di seluruh dunia. Apa yang terjadi hari ini... ini bukan salahmu. Ini adalah takdir yang harus Ibu jalani."
"Ini tidak adil, Bu! Riko iblis! Dia harus mati!" desis Juwita, amarah dan keputusasaan melebur menjadi racun yang mencekik tenggorokannya.
"Dengarkan Ibu, Juwita. Tatap mata Ibu," Dara menangkup wajah putrinya, memaksa gadis itu menatap sepasang matanya yang sayu namun penuh dengan cinta yang tak terhingga. "Dendam hanya akan menghancurkan masa depanmu. Ibu menerima hukuman ini agar kamu bisa hidup. Berjanjilah pada Ibu... kamu akan tetap bersekolah. Kamu akan meraih cita-citamu. Jangan biarkan kebencian kepada pria itu menelan jiwamu yang murni, Nak. Berjanjilah kamu akan bertahan hidup."
Juwita menggeleng kuat-kuat, air matanya menetes jatuh ke lantai marmer. "Tidak ada kehidupan tanpa Ibu! Aku tidak punya siapa-siapa lagi!"
"Waktu habis. Bawa Terdakwa keluar," perintah komandan pengawal dengan dingin.
Tangan-tangan kasar kembali memisahkan mereka. Dara ditarik paksa hingga berdiri. Rantai borgolnya bergemerincing nyaring.
"Ibu! Jangan bawa Ibuku!" jerit Juwita, merangkak di lantai berusaha menggapai ujung baju tahanan ibunya, namun tangannya hanya menyapu udara kosong.
Dara diseret menjauh melalui pintu samping ruang sidang. Sebelum pintu itu tertutup rapat, Dara menoleh untuk terakhir kalinya. Ia memaksakan sebuah senyuman—senyuman paling menyedihkan, paling tulus, dan paling penuh luka yang pernah ada di dunia ini. Senyuman seorang ibu yang mengorbankan sisa hidupnya demi anaknya.
Lalu, pintu kayu jati itu tertutup dengan debuman keras yang memekakkan telinga.
Juwita tertunduk di lantai ruang sidang yang perlahan mulai kosong. Di kejauhan, ia mendengar langkah sepatu mahal mendekat, lalu berhenti tepat di samping tubuhnya yang meringkuk. Ia melihat ujung sepatu kulit mengkilap milik Riko Aditama.
"Jaga dirimu baik-baik di jalanan, Juwita," suara Riko berbisik rendah, penuh dengan nada cemoohan yang mematikan. "Atau mungkin... kau ingin menyusul ibumu ke dalam sana? Pintu penjaraku selalu terbuka untuk keluarga."
Riko berlalu pergi, diiringi gelak tawa para pengacaranya, meninggalkan Juwita yang hancur lebur tanpa sisa.
Hujan badai mengguyur kota Jakarta sore itu, seolah langit ikut meratapi keadilan yang baru saja mati. Juwita berjalan kaki menembus derasnya hujan tanpa payung, tanpa tujuan, dan tanpa jiwa. Pakaiannya basah kuyup, menempel pada tubuhnya yang bergetar kedinginan, namun ia sama sekali tidak merasakan dinginnya air hujan. Rasa sakit di dalam dadanya terlalu besar, menelan seluruh saraf perasanya hingga mati rasa.
Langkah kakinya yang terseok-seok akhirnya membawanya kembali ke bantaran rel kereta api. Ia membuka pintu triplek gubuk reotnya. Bunyi derit pintu terdengar begitu menyayat hati di tengah keheningan.
Ruangan itu gelap gulita. Hujan menetes dari atap seng yang bocor, jatuh ke atas lantai tanah yang lembab. Di sudut ruangan, ranjang kecil tempat ibunya biasa berbaring kini kosong. Tabung oksigen portabel yang biasa digunakan ibunya tergeletak bisu di samping meja belajar. Di atas meja itu, masih tertinggal setengah gelas air putih dan sebutir obat batuk yang tidak sempat ibunya minum sebelum malam penculikan itu terjadi.
Juwita berjalan gontai mendekati ranjang tersebut. Ia menjatuhkan lututnya ke lantai tanah, menenggelamkan wajahnya ke atas bantal usang milik ibunya. Aroma minyak kayu putih dan keringat ibunya masih tertinggal samar di sana, mengoyak-ngoyak sisa pertahanan batinnya.
Di dalam gubuk yang gelap, sunyi, dan dingin itu, Juwita akhirnya melepaskan segalanya. Ia berteriak. Ia meraung. Ia memukul-mukul lantai tanah hingga buku-buku jarinya berdarah dan bercampur dengan lumpur. Suara tangisannya yang pilu tenggelam oleh suara deru kereta api yang melintas cepat, membawa pergi segala harapan yang pernah ia miliki.
Tidak ada keajaiban. Tidak ada pahlawan penolong. Tidak ada Baskoro Pratama atau siapa pun yang bisa menolongnya kini. Ia telah mempertaruhkan segalanya, dan ia kalah telak. Hukum, uang, dan kekuasaan Riko Aditama telah menghancurkan hidupnya hingga tidak menyisakan apa-apa selain debu.
"Ibu..." rintih Juwita dalam keputusasaan yang absolut, meringkuk memeluk bantal ibunya di tengah kegelapan malam. "Tolong aku, Ibu... dadaku sakit sekali... aku tidak kuat..."
Namun hanya suara rintik hujan dan angin malam yang membalas rintihannya. Gadis jenius yang dulu memiliki masa depan cemerlang itu kini hanyalah seonggok daging bernyawa yang meringkuk di sudut gubuk kumuh, dipaksa menelan racun kekalahan yang membusukkan hatinya secara perlahan. Malam itu, di bawah atap seng yang bocor, Juwita meratapi penderitaannya seorang diri—terpenjara dalam neraka kesepian tanpa ada satu pun cahaya di ujung jalan.