NovelToon NovelToon
Tangis Digerbang Pesantren

Tangis Digerbang Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

apel masuk sekolah

Matahari baru saja merayap naik, mengikis sisa embun pagi di lapangan pondok. Ratusan santri—dengan peci hitam yang masih kaku dan baju sekolah byang tapi —berdiri berbaris dalam hening. Di depan barisan, mikrofon tua bertiang besi berdiri tegak, memantulkan sinar pagi.

disebrang Utara rombongan santriwati berjejer rapi ....

Jilbab putih yang terlipat rapi panjang menjuntai...

Disini dilapangan tidak ada lagi aturan pondok ,tidak ada lagi ukhti ukhti yang bertugas.

mereka adalah murid murid yang sendang berjuang menuntut ilmu .

Apel Tahuan dibuka.....

Ustadz Syukri, Pimpinan Pondok Pesantren, melangkah ke podium. Beliau menatap barisan santri sejenak, melemparkan pandangan hangat yang seperti memeluk seluruh anak asuhnya setelah liburan panjang.

Ustadz Syukri: (Memegang mikrofon, suaranya serak-basah namun tenang dan berwibawa) "Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh..."

Seluruh Santri: (Serentak, gemuruh mengisi udara pagi) "Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh!"

Ustadz Syukri: (Tersenyum tipis) "Alhamdulillah... Lapangan ini akhirnya bernapas lagi. Dua minggu kalian tinggalkan, tempat ini sunyi. Pohon-pohon magoni di belakang kalian itu seperti ikut merindukan gemuruh hafalan kalian. Anak-anakku... pulang ke rumah itu hak kalian untuk melepaskan penat. Tapi kembali ke sini... adalah panggilan jiwa kalian."

Beliau menghentikan ucapannya sejenak, menatap anak-anak kelas satu yang masih tampak canggung dengan seragam barunya.

Ustadz Syukri: "Di rumah, kalian mungkin anak manja yang dibangunkan dengan lembut oleh ibu kalian. Tapi begitu kaki kalian melangkah melewati gerbang depan tadi malam... kalian adalah ksatria. Di sini tidak ada kasur empuk rumah, tidak ada masakan ibu. Tapi di sini... ada keberkahan yang tidak akan pernah kalian temukan di tempat lain. Luruskan niat. Niatkan menuntut ilmu bukan hanya untuk mencari nilai, tapi untuk mencabut kebodohan dari dalam dada kita. Selamat datang kembali di rumah perjuangan kita."

Gema tepuk tangan samar tertahan oleh rasa takdzim. Ustadz Syukri mundur dua langkah, menyerahkan mikrofon kepada Ustadz Rahmat, Kepala Sekolah Madrasah Aliyah (MA).

Ustadz Rahmat melangkah maju. Gaya bicaranya lebih tegas, penuh energi anak muda, menatap lurus ke barisan santri senior di barisan belakang.

Ustadz Rahmat: "Bismillah. Untuk anak-anakku santri Aliyah... khususnya kelas 12. Buka mata kalian lebar-lebar."

(Ustadz Rahmat menunjuk ke arah barisan santri Tsanawiyah yang bertubuh lebih kecil di depan).

Ustadz Rahmat: "Lihat adik-adik kalian di depan itu. Mereka datang ke sini membawa ketakutan, rasa rindu rumah, dan kebingungan. Siapa yang akan jadi contoh buat mereka? Kalian! Anak-anak Aliyah! Waktu kalian di sini tinggal hitungan bulan. Jangan habiskan hari-hari terakhir kalian di pesantren dengan bermalas-malasan. Tahun ini Aliyah harus lebih hidup! Diskusi ilmiahnya, bahasa arabnya, malam-malam bangkit sholat tahajudnya. Kalau kalian loyo, maka loyolah seluruh pondok ini. Paham anak-anak Aliyah?!"

Santri Aliyah: (Menjawab kompak dan lantang) "Paham, Ustadz!"

Ustadz Rahmat: (Napasnya agak memburu, lalu mengangguk puas) "Bagus. Pegang kata-kata kalian."

Kini giliran Ustadz Hasan, Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs). Beliau berjalan pelan dengan senyum ramah yang teduh. Matanya tertuju pada barisan santri baru kelas satu yang badannya masih kecil-kecil, beberapa dari mereka terlihat menunduk, menahan genangan air mata di pelupuk mata karena teringat orang tua yang baru saja pulang tadi pagi.

Ustadz Hasan: (Mendekatkan mikrofon, suaranya sangat lembut dan menenangkan) "Bismillah... Khusus untuk anak-anakku di Tsanawiyah. Terutama kelas satu..."

(Ustadz Hasan berhenti, menatap seorang santri kecil di barisan depan yang diam-diam menyapu pipinya dengan ujung lengan baju).

Ustadz Hasan: "Kenapa menunduk, Nak? Kangen Ibu? Kangen Rumah?"

Suasana lapangan mendadak hening. Beberapa santri baru makin dalam menundukkan kepalanya.

Ustadz Hasan: "Ustadz tahu... Semalam kalian mungkin sulit tidur. Kasur di asrama terasa keras. Suara jangkrik terasa asing. Dan tadi pagi, saat terbangun jam empat subuh, tidak ada usapan lembut tangan ibu yang membangunkan kalian. Iya, kan?"

Beberapa santri kecil mengangguk pelan. Terdengar isak kecil dari barisan tengah Tsanawiyah.

Ustadz Hasan: "Dengar Ustadz baik-baik, Nak... Rasa sakit karena rindu rumah itu adalah jalan pertama menuju kedewasaan. Orang tua kalian menaruh kalian di sini bukan karena mereka tidak sayang. Justru karena cintanya yang sangat besar, mereka tega melepaskan kalian. Mereka ingin kalian jadi anak yang kuat, anak yang mendoakan mereka ketika mata mereka sudah terpejam kelak."

Ustadz Hasan melangkah sedikit keluar dari podium, mendekati barisan Tsanawiyah.

Ustadz Hasan: "Kalau malam nanti kalian menangis di dalam selimut... menangislah. Tapi setelah itu, ambil air wudhu. Bisikkan pada sajadah kalian: 'Ya Allah, aku bertahan di sini demi senyum ayah dan ibuku.' Kami di sini, para ustadz dan ustadzah, bukan cuma guru kalian. Kami adalah ayah dan ibu kalian selama kalian di sini. Pintu kamar ustadz selalu terbuka kalau kalian butuh tempat mengadu. Jangan takut, ya?"

Santri kecil yang tadinya menunduk kini mendongak, menghapus air matanya, lalu mengangguk mantap. Senyum tipis mulai terlukis di wajah-wajah mungil itu.

Ustadz Hasan: (Kembali ke podium, menyapu pandangan ke seluruh peserta apel) "Dengan membacakan Bismillahirrahmānirrahīm... Tahun Ajaran Baru di Pesantren kita, resmi dibuka!"

Seluruh Santri & Guru: "Alhamdulillahirabbil ‘ālamīn!"

burung burung terbang melintas di atas lapangan. Angin pagi berembus pelan, mengibarkan ujung-ujung sarung para santri. Ketakutan yang tadi hinggap perlahan sirna, berganti dengan tekad baru yang menyala di dalam dada. Hari pertama sekolah telah resmi dimulai.

Aira ....melamun sejenak, dengan jilbab yang tidak terlalu rapi .

biasanya ibu yang pakaian baju sekolah ...

sudah seminggu Aira disini,aira rindu ibu".......

Sedangkan jauh ditempat lain....

Deg....

air mata ibu Aira jatuh.....

" kenapa Bu....."

tanya ayah dengan sedikit cemas ..memegang bahu istrinya yang sedang memasak sarapan.

" tiba tiba hati ibu sakit dan pengen nangis,yah...., kangenn sama Aira " menunduk dengan wajah sedih.

Ibu melanjutkan memasak....walau hatinya sedang sakit , kesedihan yang tidak bisa diukur membuat pagi itu dipenuhi Susana haru ....

tiba tiba ..kring kring....bunyi ponsel .

Panggilan dari

"ustadzah asrama "

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!