Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 25
"Sikap pantang menyerahmu ini," bisik Kaisar Tian rendah dengan senyum tipis yang hangat, "benar-benar sanggup meruntuhkan seluruh pertahanan hatiku, Anran."
Anran tertegun sejenak. Sentuhan lembut jemari Kaisar Tian serta aroma kayu cendana yang pekat dari saputangan sutra itu mendadak menghentikan kesibukannya. Ada kehangatan jujur yang mengalir dari tatapan mata sang kaisar—sebuah rasa menghargai yang tak pernah ia dapatkan dalam kehidupannya yang lalu.
Namun, Anran cepat-cepat menguasai diri. Ia mengulas senyum tipis yang anggun tanpa berpaling. "Hamba hanya menjalankan apa yang menjadi kewajiban Permaisuri, Yang Mulia. Prajurit di garis depan mempertaruhkan nyawa untuk negeri ini, maka sudah sepantasnya Hamba memberikan pertahanan terbaik yang Hamba bisa."
Kaisar Tian terkekeh halus. Ia tidak menarik tangannya dengan buru-buru, melainkan menyelipkan sehelai rambut Anran yang terurai ke belakang telinganya.
"Selalu ada alasan rasional di balik setiap tindakanmu," ujar Kaisar Tian seraya menerima nampan dari tangan Kasim Zhao. Sang kaisar sendiri yang mengambilkan semangkuk sup akar teratai hangat dan menyerahkannya kepada Anran. "Setidaknya, makanlah sedikit. Jika Permaisuriku pingsan karena kelelahan, seluruh Balai Pengobatan ini akan kehilangan arah."
Anran menatap mangkuk sup hangat itu, lalu menyambutnya dengan rasa terima kasih yang tulus. "Terima kasih, Yang Mulia."
Di sekeliling mereka, para tabib muda dan peracik obat berbisik-bisik kagum. Mereka belum pernah melihat Kaisar Tian yang terkenal dingin dan keras bersikap selembut itu kepada seorang wanita. Kasim Zhao yang berdiri di ambang pintu hanya tersenyum lega, menyadari bahwa kehadiran Permaisuri Anran benar-benar telah membawa angin perubahan yang besar bagi istana ini.
Tiga hari berlalu dalam hitungan detik. Kerja keras seluruh jajaran Balai Pengobatan di bawah kepemimpinan Anran membuahkan hasil yang luar biasa. Sepuluh ribu wadah salep steril dan racikan penawar racun rawa telah selesai dipak rapi dalam peti-peti kayu berstempel segel Permaisuri.
Pagi itu, di pelataran utama gerbang selatan istana, lima puluh ribu prajurit Kerajaan Great Yan berdiri berbaris rapi berbalut zirah besi yang berkilau disiram sinar matahari pagi. Panji-panji perang bergambar naga hitam dan feniks emas berkibar gagah ditiup angin perbatasan.
Kaisar Tian dan Permaisuri Anran berdiri di atas panggung tinggi, menatap pasukan megah yang siap berangkat. Jenderal Meng berlutut di hadapan mereka, menerima stempel komando perang langsung dari tangan Kaisar Tian.
"Jenderal Meng," tegas Kaisar Tian, suaranya menggelegar menembus riak barisan prajurit. "Bawalah kemenangan kembali ke ibu kota dan hancurkan ambisi jahat Kerajaan Selatan!"
"Hamba siap mempertaruhkan nyawa demi Kerajaan Great Yan!" seru Jenderal Meng penuh semangat.
Anran melangkah maju satu tapak. Ia menyerahkan sebuah gulungan peta khusus dan kotak obat utama kepada Jenderal Meng. "Peta ini memuat jalur rawa beracun dan titik-titik persediaan herbal darurat. Gunakan salep steril sebelum menyeberangi perbatasan, dan pastikan setiap prajurit yang terluka mendapatkan penanganan medis pertama."
Jenderal Meng menerima kotak tersebut dengan kedua tangan terangkat tinggi, matanya berbinar penuh rasa hormat. "Kebaikan dan kejeniusan Yang Mulia Permaisuri akan selalu diingat oleh seluruh prajurit di medan pertempuran!"
Seruan "Panjang umur Yang Mulia Kaisar! Panjang umur Yang Mulia Permaisuri!" bergaung gemuruh dari lima puluh ribu tenggorokan prajurit, menggetarkan bumi dan memecahkan keheningan pagi.
Dengan