NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - DANAU BIRU DAN KEPUTUSAN

Matahari terbenam di Danau Biru perbatasan adalah pemandangan paling indah di seluruh Kerajaan Langit.

Langit yang tadinya biru, berubah menjadi oranye, lalu menjadi merah muda, lalu menjadi ungu. Warna-warna itu memantul di permukaan Danau Biru yang airnya sangat jernih dan tenang, sehingga langit dan danau terlihat seperti satu lukisan yang sama. Di tepi danau, ada pohon-pohon willow yang daunnya menjuntai menyentuh air, seperti tirai.

Di tengah keindahan itu, ada satu perahu kayu kecil berwarna putih yang mengapung tenang. Di dalam perahu itu, duduk seorang pemuda tampan dengan jubah biru laut dan ikat kepala perak. Rambutnya yang agak panjang tertiup angin sore, wajahnya tampan dan lembut.

Pangeran Tirta Anantya.

Dia sudah menunggu sejak satu jam yang lalu, sesuai janjinya di surat cinta itu. Di sampingnya di perahu, ada sebuah kotak kayu kecil yang indah, berisi hadiah.

Aku datang dengan berjalan kaki dari istana, tanpa Mbok, tanpa pengawal, hanya memakai gaun biru langit sederhana dan selendang emas. Di tangan ku, aku masih memegang gulungan surat cinta kertas sutra putih itu.

Jantungku berdebar kencang. Bukan karena melihat Pangeran Tirta yang tampan itu. Tapi karena di belakangku, jauh di balik pepohonan willow, aku tahu ada seseorang yang mengikutiku dari istana.

Seseorang dengan jubah hitam.

Segara El-Bhumi. Dia bilang dia tidak akan menahanku, dia menyuruhku menjawab surat itu. Tapi dia tidak bilang dia tidak akan mengikutiku untuk melihat jawabanku.

Aku sampai di tepi Danau Biru. Pasir putih di tepi danau terasa lembut di kakiku.

Pangeran Tirta yang melihatku datang, langsung mendayung perahu kecilnya ke tepi dengan senyum yang sangat cerah dan tulus.

"Gusti Kahiyang! Kau datang! Saya pikir Gusti tidak akan datang!" serunya bahagia, suaranya terdengar tulus.

Perahu itu sampai di tepi. Tirta turun dengan anggun dan membantu ku naik ke perahu? Tidak. Dia hanya berdiri di tepi danau, menatapku dengan mata yang berbinar.

"Gusti Kahiyang, terima kasih sudah datang. Saya sudah menyiapkan ini untuk Gusti," katanya sambil membuka kotak kayu kecil itu.

Di dalam kotak itu ada sebuah kalung yang sangat indah. Kalung dari mutiara air tawar berwarna biru langit, dengan liontin berbentuk tetesan air yang terbuat dari kristal bening. Di bawah sinar matahari terbenam, kalung itu berkilauan seperti air danau.

"Ini kalung Mutiara Danau Biru, Gusti. Hanya ada satu di Kerajaan Air. Saya ingin memberikannya pada perempuan yang hatinya sejernih Danau Biru ini," kata Tirta dengan suara pelan dan romantis.

Jika aku adalah gadis desa biasa, mungkin aku akan langsung menerima kalung itu dan berteriak bahagia.

Tapi aku adalah Kahiyang dari abad 21 yang sudah belajar tentang pelukan canggung di lumbung padi dan teh mawar yang tidak beracun.

Aku menatap kalung itu, lalu menatap Pangeran Tirta yang tampan itu, lalu menatap surat cinta di tanganku.

"Pangeran Tirta," kataku pelan dengan suara yang santai tapi jelas.

"Ya, Gusti Kahiyang?"

"Surat Pangeran sangat indah. Tinta biru lautnya indah. Kertas sutranya indah. Kalimat-kalimatnya indah. Kalungnya juga indah sekali," kataku, mencoba memulai dengan pujian agar tidak menyakiti hatinya.

Wajah Tirta semakin berbinar. "Jadi... Gusti menerima perasaan saya?"

Aku menggeleng pelan.

"Tapi, Pangeran Tirta... saya sudah menjadi Permaisuri Mawar Kerajaan Langit. Saya sudah memiliki suami. Suami saya memang dingin, jubahnya hitam, tidak secerah jubah biru laut Pangeran. Suami saya memang tidak bisa menulis surat cinta dengan tinta biru laut, dia hanya bisa membuat teh mawar yang kadang keasinan karena kebanyakan garam," kataku dengan senyum mengingat teh asin buatan Segara pertama kali.

Tirta terdiam, senyumnya perlahan memudar.

"Suami saya juga tidak punya 100 peti emas untuk diberikan pada saya. Dia hanya punya lumbung padi yang berdebu dan selokan yang mampet yang harus digali bersama di tengah hujan. Tapi..." Aku berhenti sejenak, menatap permukaan Danau Biru yang memantulkan langit senja.

"Tapi saat saya jongkok di tanah berdebu demi anak desa yang batuk, dia tidak menyuruh saya berdiri karena gaun saya kotor. Dia malah menyampirkan jubah hitamnya ke bahu saya. Saat saya jongkok di lantai Balairung yang penuh muntahan demi seorang penari, dia tidak menyuruh pengawal menarik saya karena jijik. Dia malah berteriak bangga di depan semua bangsawan, 'Lihat permaisuriku!'"

Air mataku menetes pelan, tanpa aku sadari.

"Pangeran Tirta, Pangeran sangat baik. Pangeran tampan, kaya, dan romantis. Pangeran pasti akan mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik daripada saya, perempuan yang hatinya masih kosong dan bisa diisi dengan 100 peti emas dan kalung mutiara biru ini. Tapi hati saya... hati saya sudah terlanjur kotor karena lumpur sawah dan penuh dengan aroma padi emas dari lumbung belakang istana. Hati saya sudah terlanjur diisi oleh seseorang yang memeluk saya dengan sangat canggung di atas tumpukan padi, dengan tangan yang gemetar karena tidak pernah memeluk siapa pun sebelumnya."

Aku mengembalikan kotak kalung mutiara biru itu dengan pelan ke tangan Tirta.

"Maafkan saya, Pangeran Tirta. Saya tidak bisa menerima kalung ini. Dan saya tidak bisa menerima perasaan Pangeran. Saya memilih untuk tetap tinggal di Kerajaan Langit, dengan jubah hitam yang kotor itu."

Kata-kata itu keluar dengan susah payah, tapi dengan tulus dan jelas.

Pangeran Tirta menatap kotak kalung di tangannya, lalu menatapku yang menangis pelan di tepi Danau Biru.

Dia tidak marah. Dia tidak memaksa. Dia hanya tersenyum, senyum yang sedih tapi tulus dan mengerti.

"Saya mengerti, Gusti Kahiyang," bisiknya pelan. "Ternyata benar kata pepatah Kerajaan Air. Emas murni tidak bisa dibeli dengan 100 peti emas. Emas murni hanya bisa didapatkan jika kita berani kotor bersama. Dan Gusti sudah menemukan seseorang yang berani kotor bersama Gusti."

Dia menutup kotak kalung itu dan memasukkannya kembali ke dalam perahu.

"Terima kasih sudah datang dan menjawab surat saya dengan jujur, Gusti Permaisuri Mawar. Saya, Pangeran Tirta Anantya, akan selalu mengagumi Gusti dari jauh, sebagai Permaisuri Obat Dewa yang paling berani yang pernah saya kenal."

Dia mendorong perahu kecilnya kembali ke tengah Danau Biru, mendayung pelan menjauh, dengan punggung yang terlihat sepi tapi tetap gagah di bawah sinar matahari terbenam yang ungu.

Aku berdiri di tepi Danau Biru sendirian, dengan surat cinta yang masih di tangan ku, menangis pelan tapi lega.

Dari balik pohon willow di belakangku, terdengar suara ranting patah. *Krek!*

Aku berbalik dengan cepat.

Segara El-Bhumi keluar dari balik pohon willow itu. Jubah hitamnya kotor karena bersandar di pohon terlalu lama, rambutnya agak berantakan karena angin danau, wajahnya masih dingin dan datar seperti biasa, tapi matanya... matanya merah.

Dia menangis? Kaisar Tanpa Hati menangis?

Dia berjalan mendekatiku dengan langkah yang agak canggung, tidak seperti Kaisar yang biasanya gagah.

Dia berhenti satu meter di depanku, menatapku yang masih menangis dengan surat cinta di tangan.

"Kau... kau menolak 100 peti emas dan kalung mutiara biru itu demi... demi jubah hitamku yang kotor?" tanyanya dengan suara pelan, hampir tidak terdengar karena angin danau.

Aku mengangguk sambil menghapus air mata dengan selendang emas ku yang juga kotor karena pasir danau. "Ya, Gusti Kaisar. Karena jubah hitam Gusti lebih hangat daripada 100 peti emas itu."

Tanpa aba-aba lagi, tanpa kecanggungan seperti di lumbung padi kemarin, Segara maju dan memelukku erat.

Pelukan kedua.

Kali ini tidak canggung sama sekali. Pelukan itu erat, hangat, dan dalam. Dia memelukku di tepi Danau Biru yang indah, di bawah langit senja yang ungu dan oranye, dengan angin willow yang meniup jubah hitamnya dan selendang emas ku.

Dia memelukku seolah takut aku akan hilang dan pergi dengan perahu putih Pangeran Tirta.

"Kahiyang Gayatri Ayuningtyas," bisiknya di telingaku, dengan suara yang gemetar karena menahan tangis bahagia. "Terima kasih. Terima kasih karena memilih lumbung padi yang berdebu itu daripada istana air yang berkilauan."

Aku membalas pelukannya dengan erat, dengan surat cinta dari Pangeran Tirta yang masih di tangan ku terjatuh ke pasir putih Danau Biru dan tertiup angin.

Di kepalaku, Sistem berbunyi dengan suara yang paling riang dan paling keras yang pernah aku dengar.

[DING! KETERTARIKAN KAISAR SEGARA EL-BHUMI MENCAPAI 150% - STATUS: CINTA MATI!]

[MISI UTAMA: MEMBUAT KAISAR TANPA HATI JATUH CINTA - SELESAI SEMPURNA!]

[HADIAH UTAMA TERBUKA: KUNCI PINTU PULANG KE ABAD 21 ATAU MAHKOTA PERMAISURI SEJATI SELAMANYA - PILIH SAAT GERHANA BULAN PENUH 7 HARI LAGI]

Tapi sore itu, di tepi Danau Biru, dengan pelukan erat Segara El-Bhumi, aku tidak peduli dengan hadiah utama atau pintu pulang ke abad 21.

Karena untuk pertama kalinya, aku merasa pulang bukan berarti kembali ke abad 21. Pulang berarti tetap di sini, di dalam pelukan jubah hitam yang kotor dan hangat ini.

Alurnya memang santai hari ini, hanya menolak surat cinta di tepi danau.

Tapi ngena sekali, karena penolakan itu, dibayar dengan pelukan kedua yang tidak canggung sama sekali di bawah langit senja yang ungu, dengan Danau Biru yang menjadi saksi bahwa Permaisuri Mawar akhirnya memilih untuk tetap menjadi Permaisuri Mawar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!