Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Suaminya?
Zea terus menyusuri lorong pasar sambil memperhatikan satu per satu kios yang menjual kebutuhan pokok. Kali ini ia berhenti di depan sebuah lapak sembako milik seorang ibu paruh baya bertubuh gemuk, lalu matanya langsung tertuju pada tumpukan beras dan botol-botol minyak yang tersusun di atas meja.
“Bu, boleh tanya harga beras yang ini?” tanya Zea sambil menunjuk salah satu karung.
Pedagang itu tersenyum ramah. “Yang itu dua puluh ribu per liter, Mbak.”
Zea mengerutkan kening. “Kalau yang satu kilogram?”
“Dua puluh lima ribu, Mbak.”
Zea mengangguk pelan, tetapi belum beranjak. “Kalau minyak goreng bagaimana, Bu? Sekarang harganya berapa?”
Ibu itu menunjuk beberapa botol di belakangnya. “Yang biasa ini 15 ribu seliter, Mbak. Tergantung merek dan ukurannya.”
Zea kembali mengamati barang dagangan tersebut. Harga yang ia dengar terasa tidak sesuai dengan laporan yang selama ini masuk ke mejanya.
“Kalau beras untuk rakyat yang katanya disalurkan dengan harga murah itu, bagaimana, Bu?” tanya Zea hati-hati.
Pedagang itu menghela napas. “Mbak, kita ini cuma pedagang kecil. Kita juga beli dari Wulog.”
Zea langsung mengangkat alis. “Bukannya kalau dari sana harganya jauh lebih murah? Setahu saya kisarannya sekitar lima ribuan.”
Ibu pedagang itu malah tertawa hambar. “Wah, kalau di sana juga kami dapatnya tidak semurah itu, Mbak.”
“Serius?”
“Iya.” Ibu itu mengangguk. “Beras, minyak, dan beberapa barang lainnya juga tetap terasa mahal buat kami.”
Zea terdiam sambil memandang tumpukan beras di hadapannya. Ada sesuatu yang terasa janggal, tetapi ia tidak ingin langsung mengambil kesimpulan sebelum mengetahui lebih banyak dari pedagang lain.
Ia kemudian mengangguk pelan. “Oh begitu.”
Ibu pedagang itu tiba-tiba mencondongkan tubuh sedikit. “Jadi beli tidak, Mbak?”
Zea berkedip. “Hah?”
“Dari tadi tanya-tanya terus.” Ibu itu terkekeh. “Masa tidak beli sama sekali? Biar satu saja.”
Zea langsung cengengesan di balik maskernya. “Hehe, iya, Bu. Saya beli.”
“Nah, begitu dong.”
“Berasnya yang lima kilogram, Bu. Sama minyak goreng dua liter.”
Wajah pedagang itu langsung terlihat bersemangat. “Siap, Mbak! Tunggu sebentar, saya timbangkan.”
Sagara yang sejak tadi berdiri di belakang Zea hanya memperhatikan percakapan mereka. Begitu barang selesai dikemas, Zea langsung menunjuk dua kantong belanja tersebut kepadanya.
“Ayo, angkat.”
Sagara menatap kantong itu, kemudian menatap Zea. “Kenapa saya?”
“Karena kamu tukang angkat barang.”
Sagara menghela napas. “Baik.”
Ia mengambil kedua kantong belanja tersebut dengan mudah. Ibu pedagang yang sejak tadi memperhatikan mereka tiba-tiba tersenyum lebar.
“Suaminya, Mbak?”
Zea yang baru saja memasukkan dompet ke dalam tas langsung tersedak ludahnya sendiri. “Uhuk! Eh ... hehe, bukan, Bu.”
Ibu itu melirik Sagara dari atas sampai bawah. “Ganteng sekali, Mbak, meski mukanya cemong begitu. Badannya juga bagus.”
Zea langsung salah tingkah. “Bukan suami, Bu. Cuma ... tukang angkat barang.”
Sagara menoleh perlahan kepada Zea. “Tukang angkat barang?”
Zea berbisik, “Diam.”
Ibu pedagang itu mengangguk-angguk seolah memahami. “Oh, begitu.”
Zea buru-buru menarik langkah menjauh dari lapak. “Sudahm. Ayo jalan.”
Sagara mengikuti sambil membawa belanjaan, lalu berkata datar, “Saya baru tahu jabatan saya berubah menjadi tukang angkat barang.”
Zea menahan tawa. “Anggap saja bagian dari tugas pengawalan.”
“Baik, Bu Gubernur.”
Zea langsung melotot. “Jangan panggil begitu di sini!”
Sagara tidak menjawab, hanya terus berjalan membawa belanjaan.
Mereka terus menyusuri lorong pasar yang semakin jauh dari jalan utama. Kondisi pasar itu membuat Zea mengernyit, sebab jalannya semakin becek, beberapa saluran air tersumbat sampah, dan lapak para pedagang berdiri tidak beraturan hingga membuat jalan menjadi sempit.
“Ini pasar atau medan perang?” gumam Zea sambil melangkahi genangan air.
Sagara yang berjalan di belakangnya hanya melirik sebentar sebelum menjawab datar, “Pasar, Bu.”
“Jangan panggil saya Bu,” bisik Zea sambil menoleh tajam. “Kita sedang menyamar.”
Sagara menghela napas pendek, lalu membenarkan posisi kantong berisi beras dan minyak yang sejak tadi dibawanya.
“Kalau begitu, jangan bertingkah seperti gubernur,” balasnya.
Zea langsung mendelik, tetapi urung membalas karena pandangannya sudah tertuju pada sebuah bangunan di ujung pasar.
“Di sana distributor beras yang berada di bawah naungan pemerintah,” ujar Zea pelan. Sagara mengikuti arah pandangannya dan melihat sebuah gudang dengan papan nama distributor yang catnya sudah mulai pudar.
Zea hendak berjalan mendekat, tetapi tiba-tiba terdengar suara beberapa orang dari balik tumpukan peti di dekat gudang. Langkahnya langsung terhenti dan tubuhnya refleks mundur ke balik sebuah tiang kayu.
“Ssst!” Zea memberi isyarat kepada Sagara agar diam.
Sagara yang sempat hendak bertanya akhirnya ikut berlindung di balik tumpukan karung, meskipun wajahnya terlihat tidak terlalu terkejut.
“Seminggu lagi Bu Gubernur yang baru katanya mau inspeksi,” terdengar suara seorang pria. “Jadi cepat lakukan semuanya dengan bersih.”
Zea yang mendengar kalimat itu langsung menyipitkan mata. Ia mendekat sedikit untuk memastikan siapa yang sedang berbicara tanpa membuat keberadaannya diketahui.
“Terus kepala pasar sudah diberi tahu?” tanya suara lain.
“Sudah, nanti bilang saja semuanya sesuai laporan. Jangan sampai ada yang bicara macam-macam ketika gubernur datang.”
“Terutama soal beras,” sambung pria pertama. “Pastikan stok yang di gudang sesuai dengan angka di laporan. Kalau ditanya harga, bilang saja distribusinya normal dan tidak ada masalah.”
Mata Zea langsung membesar. Tangannya perlahan mengepal, sementara Sagara yang berada di sampingnya memperhatikan perubahan ekspresi perempuan itu.
“Wah! Ternyata ada kongkalikong di sini.”
Sagara mendekat sedikit dan berkata dengan suara rendah, “Jangan gegabah.”
Zea menoleh kepadanya, lalu berbisik, “Aku tahu.”
“Kalau mereka sadar ada yang menguping, informasi ini bisa hilang sebelum Anda mendapatkan bukti,” lanjut Sagara. Nada suaranya tetap tenang, tetapi matanya terus mengawasi orang-orang di depan mereka.
Zea mengangguk pelan.
“Berarti laporan yang masuk ke kantorku bisa saja sudah dimanipulasi,” gumamnya. “Harga beras yang tadi kita temukan juga mungkin cuma sebagian kecil dari masalahnya.”
Sagara tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan dua orang itu yang kini mulai berbicara dengan seseorang yang tampaknya merupakan kepala pasar.
“Besok semua lapak harus dirapikan,” ujar kepala pasar. “Kalau ada pemeriksaan, jangan ada yang membuka gudang belakang.” Pria yang tadi berbicara langsung mengangguk cepat.
“Dan para pedagang sudah diberi tahu?” tanyanya. “Sudah,” jawab kepala pasar. “Mereka tinggal mengikuti apa yang kita katakan, jangan sampai ada yang mengadu kepada gubernur.”
Zea semakin menahan napas. Ia menatap Sagara dengan ekspresi kesal sekaligus tidak percaya.
“Jadi selama ini mereka sudah tahu akan ada inspeksi dan sengaja membersihkan semuanya sebelum saya datang,” bisiknya. “Mereka bahkan menyiapkan jawaban untuk para pedagang.”
Sagara mengangguk tipis. “Sepertinya begitu.”
tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
aaaahhh kira2 apa lagi ya
Zea atau kau Soraya? 😏