NovelToon NovelToon
LANGIT Dan BUMI

LANGIT Dan BUMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.

Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.

Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Malam ini adalah malam kedua setelah kesepakatan gila itu mereka setujui. Pernikahan kontrak

Namun, ada satu ganjalan besar yang terus mengusik pikiran Langit. Perbedaan usia mereka. Langit berusia tiga puluh dua tahun, sedangkan Bumi baru dua puluh enam tahun. Enam tahun lebih muda.

Di lingkaran sosialita kelas atas tempat Langit bergerak, seorang wanita mapan yang menikahi berondong miskin dari bengkel pinggiran kota pasti akan memicu gunjingan hebat.

Hubungan seperti ini masih dianggap tabu, dianggap sebagai skandal, dan Langit tahu badai media akan segera menyerang mereka begitu kabar ini bocor.

Langit meletakkan serbetnya, memecah keheningan. "Bumi, kita perlu bicara serius."

Bumi tidak langsung menjawab. Dia menyelesaikan kunyahan daging steaknya dengan tenang, menelannya, lalu meminum air putih seteguk.

"Serius yang seperti apa?, Mau nambah klausul kontrak kalau saya gak boleh kentut sembarangan di rumah ini?"

Langit memutar bola matanya, menyembunyikan senyum geli yang hampir lolos.

"Jangan mulai, Bumi. Ini tentang kita. Sebelum wartawan dan teman-teman sosialitaku yang bermulut racun itu mulai menggali hidupmu, aku harus tahu seluk-beluk calon suamiku sendiri. Aku gak mau gelagapan saat diwawancara."

Bumi menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di dada. Matanya yang tajam dan dingin menatap Langit datar.

"Apa yang perlu ku ceritakan? Ukuran sepatu? Golongan darah? Atau zodiak?, aku Taurus, Keras kepala dan suka tidur."

"Aku serius," potong Langit, mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Gimana bisa kamu yang baru dua puluh enam tahun berakhir jadi montir di bengkel kumuh itu? Dan satu lagi_"

Mata Langit turun ke arah lengan kanan Bumi yang terekspos, di mana guratan tinta hitam membentuk pola abstrak yang rumit hingga ke lehernya.

"Tato itu, kamu kelihatan kayak anggota geng motor yang siap ngebegal orang."

Bumi menurunkan pandangannya ke lengannya sendiri, lalu terkekeh pendek. Suaranya berat dan serak.

"Ini?, Ini tato pelindung dari marabahaya, biar kalau ditagih utang, penagihnya mikir dua kali karena disangka habis keluar dari Nusakambangan."

"Bumi!"

"Oke, oke,"

Bumi mengangkat kedua tangannya, menyerah dengan wajah yang tetap lempeng tanpa dosa.

"Kamu mau cerita versi singkat yang bikin nangis, atau versi panjang yang bikin ngantuk?" Lanjut Bumi.

"Versi jujur. Mulai dari kenapa kamu bisa ada di bengkel, dan dari mana asalmu."

Bumi terdiam sejenak. Sorot matanya yang tadinya penuh candaan sarkastik perlahan meredup, menyisakan kekosongan yang dingin. Namun, dia mengembuskan napas santai, seolah kisah hidupnya hanyalah sebuah sinetron murahan yang biasa dia tonton di televisi bengkel.

"Aku ini anak buangan" ujar Bumi lugas, tanpa beban.

Langit tertegun. Jantungnya mencelos mendengar kata 'buangan' yang diucapkan begitu enteng. "Maksudmu?"

"Ya dibuang, gak tahu ditaruh di dalam kardus mi instan atau di emperan toko, aku gak ingat. Yang jelas, aku tumbuh di panti asuhan sampai umur tujuh tahun, Kepalaku isinya cuma rebutan mainan rusak sama anak-anak lain, Sampai akhirnya, ada sepasang suami istri yang datang. Pak Subahri dan Ibu Nanik. Mereka belum punya anak setelah sepuluh tahun nikah. Jadi, mereka pungut saya. Diadopsi resmi."

Langit mendengarkan dengan saksama, rasa antipatinya perlahan luruh digantikan oleh rasa ingin tahu yang dalam. "Lalu?, mereka memperlakukanmu dengan baik?"

"Awalnya sih, saya berasa kayak pangeran keraton," Bumi tersenyum miring, ada nada mengejek dalam suaranya.

"Makan tiga kali sehari, disekolahin, kalau nangis dibelikan es krim. Pak Subahri itu punya bengkel kecil. Nah, dari kecil saya sering nongkrong di sana. Makanya saya bisa bongkar pasang mesin dari umur belasan tahun, kehidupan saya normal, sampai keajaiban medis terjadi."

Bumi menjeda kalimatnya, meraih gelasnya lagi.

"Keajaiban apa?" tanya Langit tidak sabar.

"Ibu Nanik hamil." Bumi menaruh gelasnya dengan pelan.

"Umur saya waktu itu tiga belas tahun. Bayangkan, setelah belasan tahun divonis mandul, tiba-tiba perut Ibu Nanik buncit. Wah, satu kampung heboh. Dikira pakai dukun, padahal ya murni hasil kerja keras Pak Subahri."

Langit tertawa kecil mendengar selingan konyol Bumi.

"Kamu ini, dalam situasi begini masih sempat-sempatnya bercanda."

"Lho, aku jujur, waktu tahu Ibu hamil, saya senang banget. Saya pikir, asyik nih punya adik, ada temen main bola, tapi ternyata, teori dan praktek itu bedanya sejauh Jakarta-London." Bumi menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sejak adik saya lahir, posisi saya langsung turun kasta, dari anak angkat kesayangan, jadi_ya, mirip-mirip kru magang tanpa gaji."

"Mereka membedakanmu?" tanya Langit, suaranya melunak, ada nada simpati yang tulus di sana.

"Bukan beda lagi, Levelnya udah kayak kasta di India," ujar Bumi dengan wajah serius yang dibuat-buat.

"Kalau adik saya nangis karena digigit nyamuk, satu rumah panik seolah ada serangan teroris. Kalau saya jatuh dari atap rumah pas benerin genteng, tanggapan mereka cuma, 'Bumi, awas gentengnya pecah, mahal itu harganya.' Kan berengsek."

Tawa Langit meledak. Dia menutup mulutnya dengan anggun, namun bahunya terguncang.

"Kamu beneran dibilang gitu?"

"Demi Tuhan, aku berguling di tanah memegangi lutut yang berdarah, yang dikhawatirkan malah genteng flat minimalis seharga lima puluh ribu per biji," Bumi mendengus, namun matanya berkilat jenaka melihat Langit tertawa.

"Trus soal makanan. Adik ku makannya bubur organik impor yang baunya kayak rumput tetangga. Saya? Sisa semalam yang dipanasin sampai tiga kali sampai bentuknya udah gak mirip makanan lagi. Tapi ya gak apa-apa, lambung saya kan spek tank baja."

Langit menggeleng-gelengkan kepala, air matanya hampir keluar karena tertawa.

Gaya bicara Bumi yang datar, dingin, namun penuh dengan sarkasme kering benar-benar menghibur di luar dugaannya. Pria dua puluh enam tahun ini memiliki ketahanan mental yang aneh.

"Terus, tato-tato ini," Bumi menunjuk lengan dan dadanya.

"Ini sebenarnya bentuk protes remaja labil. Waktu umur tujuh belas, aku merasa makin gak dianggap, jadi aku kabur dari rumah, tidur di bengkel teman, dan mutusin buat nato badan pakai duit hasil nguli bongkar mesin truk. Pas aku pulang dengan tangan penuh tinta begini, Ibu Nanik langsung histeris, Dia teriak-teriak bilang saya kemasukan setan, Besoknya, ruangan saya disiram air yasin."

"Ya ampun, Bumi!" Langit memegangi perutnya yang mulai kaku karena tertawa. "Ibumu pasti syok berat."

"Syok banget. Dia pikir anak angkatnya berubah jadi yakuza," kata Bumi datar.

"Tapi ya, dari situ aku sadar tempatku memang bukan di sana lagi. Begitu lulus SMK, aku keluar total dari rumah itu, gak mau jadi benalu di antara kebahagiaan keluarga kandung mereka, aku kerja serabutan, sampai akhirnya menetap di bengkel yang kamu datangi kemarin itu. Pemiliknya teman lama Pak Subahri yang kasihan melihatku."

Ruang makan itu kembali dipenuhi sisa-sisa tawa Langit. Suasana yang tadinya tegang dan kaku kini mencair total.

Langit menatap Bumi dengan pandangan yang berbeda. Di balik penampilan urakan dan sikap dinginnya, Bumi adalah pria yang mandiri dan tegar.

Perbedaan usia enam tahun yang tadinya ditakuti Langit kini terasa tidak berarti. Bumi terasa jauh lebih dewasa daripada usianya.

"Kamu hebat bisa bertahan, Bumi," ucap Langit lembut, senyumnya masih tersisa di sudut bibir. "Kamu menghadapi penolakan itu dengan tawa. Aku kagum."

"Kamu mau tahu bagian paling lucu dari kelahiran anak kandung mereka?" tanya Bumi. Suaranya kini rendah, tidak ada lagi nada bercanda.

Langit yang merasakan perubahan atmosfer itu perlahan menghentikan sisa tawanya. Raut wajahnya ikut serius. "Apa?"

"Malam itu, waktu Ibu Nanik mau melahirkan, hujan deras banget. Pak Subahri lagi di luar kota. Aku yang umur tiga belas tahun, panik setengah mati. Aku gendong Ibu Nanik yang kesakitan keluar rumah, nyari taksi, nyari becak, gak ada yang mau berhenti karena banjir," Bumi bercerita, nadanya flat, tanpa emosi, namun justru itu yang membuatnya terasa mencekam.

"Lalu?" Langit menahan napas.

"Aku terpaksa lari sambil memapah dia ke bidan desa terdekat yang jaraknya dua kilometer. Tanganku gemetaran, bajuku penuh darah dan air ketuban dia. Di dalam ruang persalinan yang sempit itu, aku memegang tangan Ibu Nanik. Aku denger dia menjerit, taruhan nyawa buat ngelahirin anak yang dinanti-nanti belasan tahun."

Bumi menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam seolah udara di sekitarnya mendadak menipis.

"Begitu bayinya lahir dan nangis, dengan sisa tenaganya, Bu Nanik meluk bayi itu. Dia nangis bahagia. Aku ikut nangis di samping ranjangnya, aku merasa utuh malam itu karena ikut berjuang buat adikku," Bumi menatap piringnya yang sudah bersih, matanya kosong.

"Tapi tahu apa yang dia ucapin ke bidan sambil meluk bayinya, pas dia melirik ke arah saya yang berdiri di pojokan?"

Langit terpaku. Dadanya terasa sesak, tawa yang beberapa menit lalu membuncah kini lenyap tanpa bekas, menyisakan rasa ngilu yang asing. "Dia, bilang apa?"

Bumi mendongak, menatap Langit dengan senyum tipis yang amat sangat dingin.

"Dia bilang, 'Alhamdulillah, Bu Bidan. Akhirnya doa saya dikabulkan. Sekarang saya punya anak beneran. Saya gak perlu lagi ngerasa kesepian karena cuma punya anak pungut.'"

Langit terdiam. Mulutnya setengah terbuka, namun tidak ada kata yang mampu keluar.

Bumi tiba-tiba mendengus remeh.

"Lucu kan, aku yang berdarah-darah bawa dia ke bidan, tapi di detik itu juga, aku langsung sadar kalau aku ini selamanya cuma 'benda mati' yang kebetulan bernyawa di rumah mereka." Bumi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata.

"Jadi, kalau besok-besok teman-teman sosialita ngatain aku berondong miskin gak tahu diri, atau media bilang aku cuma ngincar harta, suruh mereka antre. Hinaan kayak gitu gak ada apa-apanya dibanding apa yang sudah kudengar dari umur tiga belas tahun."

Langit mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa iba dan hormat bercampur aduk di dalam hatinya. Dia menyadari, di balik sikap konyol dan dingin calon suami kontraknya ini, ada jiwa yang sudah ditempa oleh penolakan yang begitu kejam.

Dan malam itu, di hadapan meja makan yang mewah, Langit tahu, badai media sosialita tidak akan pernah bisa merubuhkan seorang Bumi Mahardika.

Yuk mana komennya nih, yang banyak gaes, biar tambah semangat nulis ya. Jangan lupa LIKE VOTE dan HADIAH nya.

1
Siti Aisah
pokoknya bahagia selalu buat langit sm bumi, mulai dengan sarapan bersama🤭 mantap lah panjang double up-nya
Siti Aisah
dan saat pagi menyapa ada lengkingan suara merdu langit🤣🤣
Siti Aisah
langit kalau kau suka dan terbayang " jagan suka gengsi ah 🤗
Siti Aisah
aduuuh, kurang lama ya langit ... akupun kurang kak author lanjut😁
Kaa
kenapa sih langit kalau suka ya bilang aja hala ini sok jaim
Siti Aisah
ayo hadapi semua masalah berdua, hancurkan paman mu dan gerombolan penghianat🤭
Siti Aisah
semoga mereka berdua kebablasan cinlok🤣🤣😜
Sinho: Amin, makasih komennya kak
total 1 replies
Siti Aisah
curiga deh sm bumi??? sindiran nya kenak banget 😁
Siti Aisah
lanjut aku baca maraton ni kak author soalny makin keseni makin penasaran bumi""😜
Siti Aisah
ternyata langit masih punya kakek kukira cuman punya paman satu"nya yg jahat🤭
Siti Aisah
semoga itu langit ''karena hawatir takut bumi di apa"in🤭
Siti Aisah
thor kata kumah bumi ceo menyamar deh soalnya biarpun dia bercanda kata"nya ada benernya hehe
Siti Aisah
ngelucu trus bang bumi biar langit ceria selalu😁
Siti Aisah
dasar bumi bisa aja bikin orang senyum " lanjutkan...
Siti Aisah
bumi mah bisa"nya bikin anak perawan merona dan dedekan😜
Siti Aisah
thor katakumah ya kayanya ci bumi ini pria yg punya pengaruh deh bukan tukang bengkel biasa... pasti cuman lgi menyamar🤣🤣
Siti Aisah
benerkah yang di cerita kan bumi tetang hidupnya se menyedihkan itu, atau hanya cerita karangan untuk menghibur langit supaya bisa terus tertawa dan tersenyum, hanya author yg tahu penasaran ih🤭
Siti Aisah
aku jdi ikut gila tersenyum sendiri😜lanjut thor
Siti Aisah
udah makan garam asin nya hidup ni mah bumi, jdi udah mental baja dan besi, seru thor jdi tertawa sendiri sekalian sedih🤗🥲
Siti Aisah
pokoknya langit tebayang" ga bisa bobo🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!