"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pertarungan berubah jadi adu fisik murni setelah obor itu padam, tidak ada lagi senjata, tidak ada lagi barang di sekitar yang bisa dimanfaatkan, hanya dua tubuh yang saling menghantam dalam ruangan gudang yang mulai dipenuhi bau asap dan keringat.
BUAGH!! DUAGH!!
Pukulan demi pukulan saling bersahutan, Juna dan Kaisar Dirgantara bertukar hantaman tanpa ada satu pun yang mau mundur, masing-masing membawa dendam dan tekad yang sama besarnya untuk tidak kalah di hadapan yang lain.
"Lu emang keras kepala," Kaisar Dirgantara meludahkan darah dari sudut bibirnya, napasnya memburu, namun matanya masih menyala penuh semangat bertarung. "Pantes anak buah gue sendiri pada ngebahas lu."
"Nggak sekeras kepala lu," Juna membalas, suaranya juga mulai serak menahan lelah, tubuhnya penuh memar baru yang menambah deretan luka lama. "Udah kalah tenaga masih maksa nyerang terus."
BRUK!!
Sebuah pukulan Kaisar Dirgantara mendarat di pelipis Juna, membuatnya sempoyongan sejenak sebelum berhasil menstabilkan diri. Ia membalas dengan tendangan ke paha lawannya, cukup keras untuk membuat Kaisar Dirgantara meringis.
Mereka berdua saling melancarkan pukulan lagi, kali ini lebih lambat, lebih berat, tenaga keduanya mulai benar-benar terkuras habis setelah pertarungan panjang yang menguras stamina sejak awal.
'Dia udah mulai goyah,' batin Juna, memperhatikan tangan Kaisar Dirgantara yang mulai gemetar setiap kali mengepal. 'Tapi aku sendiri juga udah di ambang batas. Ini bakal ditentuin sama siapa yang bisa nahan lebih lama.'
Ia mengingat kembali latihan fisik yang sudah ia jalani sejak malam pertama sistemnya aktif, push up, sit up, pull up, lari berkilo-kilo meter yang ia jalani tanpa henti demi membangun stamina yang kini menjadi penentu dalam pertarungan ini.
'Semua latihan itu,' batinnya, memaksa kedua kakinya tetap berdiri meski gemetar hebat, 'bukan cuma buat gaya-gayaan. Ini momennya.'
"Lu masih bisa berdiri tegak?" Kaisar Dirgantara bertanya, suaranya mulai terdengar goyah, napasnya tersengal-sengal di antara setiap kata. "Harusnya lu udah tumbang dari tadi, Blacky."
"Belom," Juna menjawab singkat, meski kakinya sendiri terasa seperti mau runtuh kapan saja, "masih ada sisa buat satu pukulan lagi. Lagian, nyerah di tengah jalan bukan gayaku."
Kaisar Dirgantara mendengus pendek, antara geli dan kagum. "Keras kepala banget sih lu. Pantes anak buah gue sampe mikir dua kali buat ngelawan lu."
Kaisar Dirgantara melayangkan pukulan terakhirnya, ayunan penuh tenaga yang tersisa, namun geraknya sudah jauh lebih lambat dari sebelumnya, mudah terbaca oleh mata Juna yang masih cukup jernih di tengah kelelahan.
Juna menunduk, menghindar tipis, lalu membalas dengan pukulan telak ke ulu hati lawannya, mengumpulkan sisa tenaga terakhir yang masih tersimpan di ototnya.
DUAGH!!
Kaisar Dirgantara terhuyung mundur, lututnya melemas, namun ia masih berusaha berdiri, menatap Juna dengan napas yang semakin berat dan tidak teratur.
"Masih mau lanjut?" Juna bertanya, suaranya sendiri sudah serak, tubuhnya juga nyaris ambruk kapan saja.
Kaisar Dirgantara tidak menjawab, hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya kedua lututnya benar-benar ambruk ke lantai, tubuhnya roboh dengan suara benturan pelan yang menggema di gudang yang mulai sunyi, asap tipis masih mengepul dari sisa api yang sudah hampir padam di sudut ruangan.
Juna sendiri ikut jatuh berlutut tidak lama setelahnya, kedua lututnya tidak lagi sanggup menopang berat tubuhnya yang sudah terkuras habis, napasnya memburu keras di tengah keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak, hanya suara napas berat keduanya yang saling bersahutan di ruangan gudang yang kini sunyi senyap.
Asap tipis dari bara api yang hampir padam masih mengepul perlahan di sudut ruangan, bercampur dengan debu yang beterbangan akibat pertarungan panjang yang baru saja berakhir. Cahaya bulan yang menembus celah atap jatuh tepat di antara kedua tubuh yang tergeletak kelelahan itu, seolah menjadi saksi bisu atas pertarungan yang sudah menguras segalanya dari keduanya.
Juna menatap langit-langit gudang yang berlubang, dadanya naik turun cepat, setiap tarikan napas terasa seperti perjuangan tersendiri setelah seluruh tenaganya terkuras habis dalam pertarungan yang jauh lebih berat dari apa pun yang pernah ia hadapi sebelumnya.
'Menang,' batinnya, meski tubuhnya sendiri terasa seperti ditimpa beban berton-ton. 'Tapi kali ini, aku benar-benar ngerasain batas kemampuanku sendiri. Kalau aku nggak latihan sekeras ini selama berminggu-minggu, mungkin aku yang bakal roboh duluan tadi.'