NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Rere mondar mandir di kamarnya. Dia harus berjaga-jaga dari sekarang untuk menguasai semua harta milik Rizal.

Meski sudah menikah, nyatanya Rizal terlihat tidak begitu sayang kepada Renita. Bisa dilihat dari perlakuannya pagi tadi saat Rizal pamit pergi untuk ke luar kota. Rizal mencium puncak kepala Bebi, tapi pada Renita? Rizal hanya mengusap kepala Renita saja.

Dari uang jajan juga dia tahu kalau Bebi lebih banyak uang jajannya daripada Renita. Rere tidak terima dan akan segera mengamankan barang berharga yang akan dia alihkan kepemilikannya kepada Renita.

"Meski Renita hanya anak sambungmu, tapi dia anak kandungku!" ujar Rere.

Dia kemudian keluar dari kamarnya dan berjalan mengendap menuju ruang kerja Rizal yang ada di lantai bawah dekat dengan ruang keluarga.

Yakin kalau tidak akan ada yang masuk, wanita itu tidak menutup rapat pintunya. Menurutnya pas masuk ke ruang sana agak horor juga.

Tujuan Rere langsung satu, brankas. Dia yakin di sana banyak terdapat berkas penting milik suaminya itu.

"Duh, kata sandi nya apa?" gumam Rere.

"Tanggal lahir Mas Rizal, Bebi juga aku gak tau."

Baru juga jarinya menyentuh angka 2, seruan di ambang pintu sana membuat kedua matanya melebar. Jantungnya berdetak cepat karena takut kalau Bebi melihat perbuatannya.

"Tante tau, 'kan? Gak ada yang boleh masuk ke ruangan ini kalau Papa gak ada di sini!" ujar Bebi.

"A-anu ... Tante cuman ... cuman mau ambil berkas yang disuruh papa kamu," jawab Rere tergagap.

Melihat gelagat serta kegugupan di wajah ibu tirinya, Bebi jelas tidak percaya. Dia melihat ke pintu lemari tempat brankas terbuka.

Dia tahu sekali, papa nya tidak pernah menyimpan berkas penting tentang pekerjaan di sana. Berkas tentang pekerjaan ada brankas lain dan itu pun di kantor.

"Tante mau nyuri, 'kan?" tuduh Bebi.

Rere melotot kesal. Dia menghampiri Bebi dan mencengkram lengan berisi anak tirinya itu dengan kuat.

"Ngomong apa kamu barusan? Kamu nuduh saya mau nyuri? Hah?!"

"Sakit, Tante...."

"Sini, kamu!"

"Lepasin! Tante mau bawa aku ke mana?" Bebi berteriak dan itu berhasil membangunkan bibi yang tadi sudah terlelap.

"Ya ampun Non Bebi. Bu, lepasin, Bu! Non Bebi mau di bawa ke mana?" Bibi mengikuti mereka yang berjalan ke arah gudang.

"Aaaaa!" Rere menjerit saat tangannya digigit dengan kuat oleh Bebi sampai sedikit berdarah. Cekalan tangannya ke lengan Bebi juga terlepas.

"Kurang ajar kamu ya!" berang Rere. Dia hampir menampar Bebi namun teriakan dari ruang tengah sana membuat tangan kanannya hanya terangkat di udara dan tubuhnya terasa lemas saat melihat Rizal berdiri dengan ekspresi marah.

"Papa," lirih Bebi. Dia bersyukur karena ternyata papa nya langsung memilih pulang saat video yang dia punya sebagai bukti sudah dia kirimkan sore tadi.

"Apa yang kau lakukan pada putriku?!" bentak Rizal. Dia langsung memeluk Bebi yang berlari padanya.

"Mas, a-aku bisa jelasin. Aku cuman...."

"Tidak cukup menyik-sa putriku, kau juga ingin mencuri di rumah ini?" tanya Rizal.

Rere menggelengkan kepalanya cepat. "Mas, kamu bicara apa? Aku gak ada mau nyuri di rumah ini!"

Rizal melepaskan pelukannya pada Bebi, dia memperlihatkan video CCTV di ruang kerja yang terhubung ke ponselnya.

"Lalu ini apa? Tadi siang juga kau masuk ke sana dan mengotak-atik brankasku!"

Makin melebarlah mata Rere, padahal dia celingukan mencari CCTV di sudut ruangan sana tidak ada. Tidak tahu saja, Rizal sengaja memasang CCTV di tempat yang aman tidak akan terlihat oleh siapa pun.

Dia juga memperdengarkan rekaman suara yang dikirimkan oleh Bebi.

"Mas, aku bisa jelasin. Aku-"

"Kau dan putrimu yang sama-sama tidak tahu diri itu, keluar dari rumahku malam ini juga! Aku akan segera mengurus perceraian kita!" ujar Rizal, membuat Bebi tak kedip melihat ke arah wajah papa nya itu.

Renita yang sejak tadi mendengar keributan saat dia mematikan musik, langsung keluar kamar dan turun ke lantai bawah.

Dia ikut kaget dengan apa yang diucapkan oleh papa sambungnya barusan.

Rere langsung berlari ke arah Rizal, dia memegang tangan Rizal dan memohon ampun.

"Mas, bukankah kamu sangat mencintaiku? Kamu tega mengusirku dan Renita malam-malam begini?" tanya Rere dengan wajah yang sudah basah oleh air mata. Yang pastinya itu air mata ketakutan dia akan hidup miskin setelah ini.

"Aku lebih mencintai dan menyayangi putriku melebihi apapun di dunia ini. Aku rela kehilangan beberapa orang yang bermuka dua seperti mu asal tidak menyakiti putriku," jawab Rizal.

"Pergi sekarang juga atau aku akan menyuruh anak buahku untuk menyeretmu dan putrimu itu dengan paksa!" ujar Rizal.

 

Di kamarnya, Dara terus merengek saat Rafa mengganggunya. Dia sedang mengerjakan tugas tapi Rafa terus mengecupi pipinya.

"Iiih. Mas Rafa keluar dulu deh. Aku gak selesai-selesai ini," ucap Dara.

"Gimana rasanya gak bisa konsentrasi di saat kamu harus belajar kayak gini, hm?"

Dara tertawa pelan. Kini dia tahu kalau suaminya itu sedang membalas kelakuannya tadi saat di kelas.

Dia memegang kedua pipi yang terus dikecup oleh suaminya itu. Eh, siapa sangka, kecupan Rafa kini malah beralih ke bibirnya.

Rafa tersenyum senang melihat raut wajah shock Dara. Setiap kali dia mengecup bibir Dara, gadis itu pasti langsung terlihat sekali kagetnya.

"Ya sudah, belajar dulu sana. Aku tunggu sama si panda." Tanpa merasa bersalah sedikit pun, Rafa berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuh jangkung nya di sana. Dia berbaring menyamping sambil memeluk boneka panda milik istri kecilnya itu.

Dara melirik ke arah sang suami yang tersenyum padanya. Buru-buru dia beralih menatap buku pelajaran dengan pulpen di tangannya.

Bukannya fokus, Dara malah jadi kehilangan konsentrasinya dan itu semua gara-gara Rafa. Padahal tugas Kimia yang harus dia kerjakan tinggal satu nomor lagi.

"Ish. Semua ini gara-gara dia!" desis Dara dalam hati.

Setelah selesai, Dara langsung membereskan bukunya dan memasukkan buku belajar untuk besok ke dalam tas.

Rafa menepuk kasur yang kosong bagian samping kirinya saat Dara keluar dari kamar mandi untuk gosok gigi dan buang air kecil. Kosong karena boneka panda milik Dara sudah dia lempar ke atas sofa.

Dara mendengus namun tetap menurut. Dia terlentang dengan Rafa sendiri yang tetap menyamping menghadap ke arahnya.

"Bebi gimana ya? Aku kepikiran sama dia," ucap Dara.

"Dia pasti baik-baik aja," sahut Rafa. Kepala yang awalnya disangga oleh tangan itu dia rebahkan ke bantal. Bahaya karena dengan posisinya yang kayak barusan, dia bisa melihat sedikit bukit Dara karena istrinya itu memakai kaos yang bagian depannya agak rendah.

Rafa kini ikut terlentang, memilih untuk menatap langit-langit kamar yang sebenarnya sungguh tidak menarik untuk dipandang.

Tapi, dia hanya berusaha untuk tidak mengambil resiko. Rafa ini pria dewasa, usianya sudah 24 tahun. Jadi ... yah wajarlah kalau dia merasa ada sebuah dorongan aneh dalam dirinya saat melihat yang barusan.

Ya, meski sekali lagi, Rafa ini berhak untuk semua yang ada di tubuh Dara, tapi.. Dia cuman gak mau kalau nanti kebablasan.

Setidaknya tidak dulu untuk sekarang, dia dan Dara ibaratnya masih dalam masa pendekatan. Masa iya 'kan dia langsung menuntut haknya. Dara terlihat masih agak canggung dengannya, dia ingin Dara merasa lebih nyaman dulu saat bersamanya.

Dara beberapa kali menguap, dia mulai mengantuk karena memang waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.

Dara melirik ke arah Rafa yang diam sambil menatap langit-langit kamarnya. Seperti ada yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu.

"Mas Rafa kenapa?" tanya Dara. Selama ini Rafa selalu mendengar ceritanya, semua yang dia rasakan, kini dia merasa kalau dia juga harus menjadi tempat cerita Rafa kalau memang suaminya itu sedang ada yang dicemaskan.

"Gak apa-apa." Rafa menarik tubuh Dara ke pelukannya. Posisi seperti ini, meski bukit Dara terasa menempel, tapi tidak akan bisa dia lihat.

"Udah malam, tidur," ucap Rafa.

Dara diam, dia sedang mendengarkan detak jantung Rafa. Posisi kepalanya yang berada di dada Rafa membuatnya merasa tenang. Namun, di balik ketenangan itu, dia bisa merasakan ada yang mengganjal. Dara tahu, meskipun Rafa mengatakan tidak ada apa-apa, pasti ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

Dara mendongak, menatap wajah suaminya dan ternyata Rafa sudah memejamkan matanya.

"Mas, kalau ada yang mengganggu pikiran, cerita aja," ujarnya pelan, berharap Rafa mau berbagi.

Rafa mendesis dalam hati, masa iya dia harus cerita kalau dia lagi nahan diri buat gak berbuat macam-macam pada istri kecilnya itu? Kan gak mungkin.

Rafa membuka matanya, dia menunduk hingga kini wajahnya berhadapan dengan wajah Dara.

Mata bulat itu, membuat Rafa betah untuk berlama-lama memandang wajah cantik Dara. Pandangan Rafa beralih ke bibir Dara yang berwarna merah muda alami. Rafa meneguk ludah dia mendekatkan wajahnya hingga kini bibirnya menempel pada bibir Dara.

Meski kaget, Dara diam saat bibir Rafa terasa bergerak. Tetap diam hingga akhirnya Rafa kembali menjauhkan wajahnya.

"Aku lagi nahan diri buat gak ngelakuin ini," ucap Rafa.

Rafa menghela napas saat melihat Dara yang mengerjapkan matanya beberapa kali. Kembali memeluk Dara dan mengecup puncak kepala istri kecilnya itu.

"Ma-Mas Rafa gak bakal minta itu sekarang, 'kan?" tanya Dara agak takut.

Dia tahu, kalau seharusnya Rafa berhak minta dan dia wajib memberikan. Tapi, Dara hanya takut kalau dia sampai hamil saat masih sekolah kayak sekarang.

"Gak akan kalau kamu tidur sekarang," jawab Rafa.

Dara buru-buru memejamkan matanya. Dia berusaha untuk tidur meski sebenarnya susah. Ya bagaimana mau tidur, sedangkan Rafa barusan melakukan sesuatu yang membuat jantungnya bekerja cepat sampai sekarang.

Beberapa menit kemudian, Dara yang mulai mengantuk tersentak kaget oleh suara petir dan disusul hujan deras.

Dia membuka mata dan mendongak untuk melihat ekspresi wajah Rafa yang tetap tenang. Rafa tidak terlihat gelisah, detak jantungnya pun sama seperti sebelumnya.

"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir," ujar Rafa dengan mata yang masih terpejam.

Dara menghela napas lega, dia hanya takut jika trauma Rafa kembali muncul. Hatinya benar-benar lega dan dia merasa senang jika memang trauma yang sering dialami Rafa sudah hilang.

Besoknya di sekolah, Dara menunggu kedatangan Bebi dengan cemas. Dia menunggu di dekat gerbang dan tersenyum lega saat melihat Bebi datang.

"Kenapa chat gue gak dibales-bales sih? Bikin orang khawatir aja!" omel Dara.

Bebi tersenyum hangat. Dia terharu dengan kepedulian Dara padanya. "Gue baik-baik aja, Ra. Dan bakal baik-baik aja mulai sekarang," ucapnya.

Dara celingukan melihat ke arah gerbang, dia tidak melihat Renita datang bersama sahabatnya itu.

"Lo berangkat bareng siapa barusan? Trus si Renita?" tanya Dara.

"Kita ke taman dulu, gue mau cerita," jawab Bebi.

Di sini, di taman sekolah yang ada di belakang, Bebi dan Dara duduk berdua di bangku kayu. Bebi langsung menceritakan semua kejadian semalam.

Dara menutup mulutnya, antara senang dan kaget saat tahu kalau kebusukan Renita dan ibunya sudah terbongkar.

"Trus sekarang, mereka di mana?" tanya Dara.

Bebi menggeleng. "Gak tau. Gue juga gak peduli."

Bebi menggenggam kedua tangan Dara. "Makasih ya, Dara. Gue beneran gak tau gimana kalau lo gak ada dan gak bantuin gue," ucapnya.

Dara tersenyum lega. "Ini semua juga karena lo sendiri yang udah berani ngelawan rasa takut lo. Lo hebat, Bebi."

Sudah di kelas, sudah duduk juga di bangku. Keduanya menatap kedatangan Renita yang dilihat dari raut wajah nya sudah menunjukkan kalau dia tidak baik-baik saja.

Renita memandang tajam ke arah Bebi. Ingin marah, ingin melakukan sesuatu pada Bebi, tapi dia tahan. Dia takut hidupnya bakal makin ancur kalau sampai berbuat sesuatu pada calon mantan saudara tirinya itu.

Bebi mengedikkan bahunya. Dara pernah menasehatinya agar dia tetap terlihat berani dan jangan pernah terlihat takut di depan orang yang membencinya.

Seharian itu, Dara mengikuti semua pelajaran dengan perasaan malas. Padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti ini.

Apalagi di jam terakhir tuh pelajaran Sosiologi. Gurunya hanya menyuruh sekretaris kelas untuk menulis materi di papan tulis dan yang lain harus menyalin.

Dara cemberut, dia merasa ada yang kurang dan saat melihat Rafa lewat ke depan kelasnya, kedua matanya langsung berbinar, bibirnya juga mengulas senyum.

Sayang sekali, senyum itu langsung luntur saat Rafa tidak menoleh ke kelasnya sama sekali.

Dara menghela napas berat, kini dia tahu, dia bosan dan malas mengikuti pelajaran karena hari ini tidak ada jadwal suaminya itu mengajar di kelasnya.

"Harusnya pas lewat sini tuh dia nengok sebentar kek. Huft!" Dara mengeluarkan napasnya dengan kasar melalui mulut. Tulisan yang biasanya selalu rapi pun kini terlihat asal-asalan.

Drrt.

Ponselnya bergetar, dia melihat ke arah Pak Jajang yang sibuk membaca buku di depan sana. Dara diam-diam mengeluarkan ponselnya, ada pesan masuk dari Rafa.

[Jangan cemberut. Semangat belajarnya. Lovyu!]

Kedua sudut bibir Dara berkedut, berusaha untuk tidak tersenyum senang di saat murid yang lain sedang fokus menulis.

Ingin rasanya Dara menjerit senang saat ini juga. Kata 'lovyu!' di akhir pesan sungguh membuatnya bahagia bukan kepalang, khas orang sedang jatuh cinta, terlihat gila dikit, gak ngaruh.

Barusan adalah kata cinta pertama yang diucapkan oleh suaminya itu meski tidak secara langsung.

Seperti orang-orang pada umumnya, Dara men-screenshot pesan dari Rafa barusan. Katanya untuk kenang-kenangan dan takutnya Rafa kembali menghapus pesannya.

Teng! Teng! Teng!

Bel tanda pelajaran usai sekaligus pulang berbunyi. Pak Jajang langsung membereskan bukunya begitu pun dengan semua murid.

"Sampai jumpa hari senin, anak-anak!" seru Pak Jajang kemudian keluar dari kelas.

"Ra, gue pulang duluan ya. Papa udah nunggu di depan," ucap Bebi.

Renita yang mendengarnya pun mengepalkan tangannya. Memang sih, katanya mama nya ada pria cadangan, sama-sama kaya juga, tapi mengingat kejadian semalam, tetap saja dia kesal.

Dara mengangguk, dia hendak mengirim pesan kepada Rafa tapi ponselnya mati karena kehabisan daya.

"Ish. Tadi pagi lupa gak dicharge."

Dara memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian keluar bersama dengan murid yang lain.

Sedangkan di kelas lain, Monica kembali kesal saat Braden menolak untuk mengantar dirinya. Sejak kemarin pria itu bahkan menolak untuk mengantarnya pulang.

"Kali ini apa lagi alesan kamu? Bilang mau anter Mama kamu padahal mau anter si Dara lagi?" tanya Monica.

"Jangan mulai deh, hari ini aku beneran ada acara sama Mama," jawab Braden kemudian pergi lebih dulu.

gumam Dara sedikit meringis. Tiap bulan dan hari pertama, perutnya selalu keram. Dulu, bahkan pernah sampai pingsan saat dia masih di sekolah yang sebelumnya.

Buru-buru Dara masuk ke dalam toilet. Menghela napas karena benar kalau tamu bulanannya datang.

"Gimana ini? Mana gak bawa ganti sama pembalut."

Memang sih baru sedikit, tapi lama kelamaan dia takut kalau tiba-tiba keluar banyak dan berakhir tembus.

Saat baru selesai dan hendak keluar bilik toilet untuk cuci tangan, tiba-tiba dia mendengar Monica menghentakkan

kakinya kesal. Napasnya memburu

menahan emosi yang menguasai

diri.

"Lo gak akan pernah bisa lepas

dari gue, Braden. Gak akan

pernah!" batin Monica. Dia tidak

percaya dengan alasan yang

barusan Braden ucapkan, dia yakin

kalau cowok itu bakal nyamperin

Dara kayak waktu itu.

Baru saja keluar kelas, Dara

merasa ada dorongan yang ingin

keluar dari bawahnya sana.

Perutnya juga terasa sakit seperti

keram.

"Aduh, hari pertama gitu ya?"

suara pintu yang dikunci dari luar.

Panik, Dara langsung berlari ke

arah pintu dan menekan lalu

menarik gagang pintunya. Susah,

pintunya benar-benar terkunci dari

luar.

Dok! Dok! Dok!

"Buka! Siapapun di luar sana,

tolong buka pintunya!"

Dara menempelkan daun

telinganya ke pintu, hening, dia

tidak mendengar suara apapun.

Mungkin murid-murid sudah

pulang.

"Gak mungkin dikunci sama si

mamang, kan biasanya juga sore,

trus ini belum dibersihin toiletnya,"

gumam Dara.

Gadis cantik itu kembali

mengetuk pintu, berharap ada

seseorang yang lewat dan

mendengar suaranya. Dara

memegangi perutnya yang kembali

keram, sakit dan terasa seperti

diperas.

"Aww. Sakit banget."

Dara merasakan nyeri yang

sangat menyiksa di bagian bawah

perutnya, membuatnya sulit untuk

berdiri tegak. Dia berpegangan

pada gagang pintu, berusaha

mengatur napas dan menenangkan

dirinya. Kram tersebut begitu kuat

hingga menjalar ke punggung

bawahnya, menambah rasa tidak

nyaman yang sudah dia rasakan.

"Ada orang di luar? Tolong

buka pintunya!"

Sedangkan di parkiran, Rafa

berdiri sambil bersandar ke

samping mobilnya. Dia sudah

menunggu hampir sepuluh menit

tapi Dara tidak kunjung datang.

"Kemana dia?"

Rafa mengeluarkan ponselnya,

chat yang dia kirim tadi belum juga

berubah jadi centang biru.

[Di mana? Kok lama?]

Rafa kembali mengirim pesan,

kali ini hanya centang satu.

Penasaran, Rafa memutuskan

untuk menelepon saja tapi hanya

suara operator yang terdengar

olehnya.

"Gak aktif lagih."

Rafa berjalan ke dekat koridor

kelas, dia hanya melihat tiga orang

murid kelas XII IPA 1 berjalan

sambil ngobrol dan tertawa.

"Em, kalian melihat Dara?"

tanya Rafa.

Tiga orang murid cewek itu

menggelengkan kepalanya. "Gak

liat, Pak. Kelasnya juga sepi udah

gak ada siapa-siapa di sana barusan.

Kita doang yang keluar paling

terakhir ini."

"Mungkin Dara udah pulang

lebih dulu, Pak."

Rafa tidak menyahut, dia ragu

kalau sampai memang Dara pulang

lebih dulu. Pulang dengan siapa?

pikirnya.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!