Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi lumpur dan sandal yang tertukar
Zayna Almeera telah sampai pada titik jenuh yang luar biasa. Baginya, empat hari di pesantren terasa seperti empat abad di dalam gua. Karena jalur diplomasi (debat di kelas) dan jalur logistik (seblak) gagal membuatnya diusir, ia memutuskan untuk menggunakan jalur fisik: Melarikan Diri.
"Zoy, aku mau tidur lebih awal. Jangan bangunin ya, aku mau meditasi biar jiwaku tenang," bohong Zayna malam itu, sambil menutupi tumpukan bantal di balik selimut agar terlihat seperti orang tidur.
Zoya yang polos hanya mengangguk. "Inggih, Mbak Zay. Semoga mimpinya indah."
Setelah lampu asrama dipadamkan, Zayna beraksi. Ia tidak lewat gerbang depan yang dijaga ketat oleh santri keamanan berwajah sangar. Ia memilih jalur belakang, melewati pematang sawah yang menurut peta di otaknya akan tembus ke jalan raya.
Zayna keluar dengan kostum yang sangat "tidak pesantren": jaket hoodie kebesaran, celana legging, dan sandal jepit hasil pinjaman tanpa izin dari depan masjid.
"Oke Zayna, selangkah lagi menuju kebebasan, bye-bye sarung, welcome gedung tinggi!" bisiknya pada angin malam.
Namun, Zayna lupa satu hal: Pesantren itu dikelilingi sawah yang baru saja dialiri air.
SLUP!
"Aduh!" kaki kanan Zayna terperosok ke dalam lumpur sedalam betis. Ia mencoba menarik kakinya, tapi lumpur itu seolah memiliki daya hisap seperti magnet. SLUP! Kaki kirinya menyusul.
"Ih! Bau apa ini?! Masa gue mati konyol jadi patung sawah?!" Zayna mulai panik. Di kegelapan malam, suara jangkrik terdengar seperti sedang menertawakannya.
Tiba-tiba, cahaya senter yang lembut menyorot dari arah kejauhan. Zayna membeku. Mampus, kalau ini keamanan, aku bakal digundul beneran!
Langkah kaki terdengar mendekat, tenang dan berirama. Dari balik bayangan pohon kelapa, muncullah sosok dengan sarung yang disampirkan di bahu dan peci hitam yang dikenakan sedikit santai. Gus Haidar.
Zayna ingin menghilang, tapi kakinya terkunci di bumi.
Gus Haidar menghentikan langkahnya beberapa meter dari Zayna. Ia tidak mengarahkan senternya ke wajah Zayna, melainkan ke arah kaki Zayna yang tenggelam.
"Mbak Zayna sedang... meneliti kesuburan tanah di jam dua pagi?" suara Haidar terdengar, dan entah kenapa, kali ini ada nada geli yang sangat tipis di sana.
"Gus! Jangan nanya yang aneh-aneh! Tolongin saya dulu! Kaki saya mau dicaplok sama bumi!" teriak Zayna antara malu dan takut.
Haidar terdiam. Ia tidak langsung mendekat. "Mbak Zayna tahu? Tanah itu jujur. Dia akan memegang erat siapa pun yang mencoba pergi tanpa pamit."
"Gus, ini bukan waktunya kuliah filsafat tanah! Ini lumpur, Gus! L-U-M-P-U-R! Nanti kalau ada ular gimana?!"
Haidar menghela napas. Ia melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak sekitar satu meter. Ia melepaskan sarung yang ada di bahunya, lalu memegang salah satu ujungnya dan melemparkan ujung lainnya ke arah Zayna.
"Pegang ujung sarung ini. Jangan dilepas," perintah Haidar. Tetap menunduk, menatap lumpur.
Zayna meraih sarung itu. Kainnya terasa halus dan beraroma parfum kayu cendana yang sama. Dengan tenaga yang tak disangka, Haidar menarik sarung itu perlahan, membantu Zayna menarik kakinya dari hisapan lumpur.
PLOP!
Zayna berhasil keluar, tapi ia kehilangan kedua sandalnya di dalam sana. Ia berdiri di pematang sawah dengan kaki penuh lumpur hitam, tampak sangat menyedihkan sekaligus lucu.
"Sandal saya..." rengek Zayna.
"Biarkan mereka menjadi sedekah untuk sawah ini," ucap Haidar tenang. Ia kemudian melepas sandal kulitnya sendiri dan meletakkannya di depan kaki Zayna. "Pakailah. Kebetulan ukurannya besar, tapi setidaknya kaki Mbak tidak terluka terkena kerikil saat jalan kembali ke asrama."
"Terus Gus gimana? Nyeker?"
Haidar tidak menjawab. Ia berbalik badan, memunggungi Zayna. "Jalan di belakang saya. Ikuti jejak kaki saya agar Mbak tidak terperosok lagi. Dan Mbak Zayna..."
"Apa?"
"Besok pagi, jangan lupa cuci sarung saya. Itu sarung kesayangan pemberian Ayah."
Zayna terdiam. Ia memakai sandal kebesaran milik Haidar, melangkah dengan kikuk di belakang punggung lebar sang Gus. Di bawah cahaya bulan, ia melihat Haidar berjalan tanpa alas kaki dengan tenang, seolah duri dan batu tak sanggup melukai kakinya yang sering bersujud.
"Malam itu, rencana pelarian Zayna gagal total lagi. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa marah. Ia menatap sandal kulit yang ia pakai, menyadari bahwa ia baru saja memakai 'kendaraan' milik seseorang yang selama ini ia anggap musuh. Sementara di depan, Haidar tersenyum dalam kegelapan. Ia tahu, pelarian Zayna hanyalah cara gadis itu untuk dicari. Dan Haidar, akan selalu menjadi orang pertama yang menemukannya."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp