Karena panggilan sahabatnya, yang telah bekerja di ibukota, Esther Valencia pun datang ke ibukota, untuk bekerja di perusahaan sahabatnya.
Siapa sangka, ia dijual sahabat yang ia percayai selama ini, kepada lelaki hidung belang di sebuah club malam.
Tubuh panas Esther menabrak tubuh seorang pria, saat ia melarikan diri dari kejaran pria hidung belang, yang bertepatan pria tersebut akan masuk ke dalam sebuah kamar.
Esther pun akhirnya menghabiskan cinta satu malam dengan pria asing, karena pengaruh obat yang diberikan sahabatnya ke dalam minumannya.
Bagaimana sikap Esther setelah ia sadar dari pengaruh obat, kalau ia telah tidur dengan seorang pria yang tidak ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30.
Esther mengambil roti isi dari meja prasmanan, ia merasa lapar setelah bermesraan dengan Jack.
Baru saja akan menggigit sedikit roti itu, tiba-tiba dua wanita datang menghampirinya.
Dan begitu melihat siapa yang melangkah mendekatinya, ia menjadi tidak bersemangat lagi untuk makan.
"Kak Adriana, ini perempuan desa yang sudah merayu kak Jack!"
Tanpa terlebih dahulu menyapa Esther, Melda langsung mengeluarkan nada dingin memberitahu Adriana.
"Ternyata kamu yang sudah merebut calon suami ku! berani sekali perempuan desa sepertimu menggoda suamiku?!"
Esther meletakkan kembali roti isi, yang ingin ia makan ke atas piring kecil yang ia pegang.
Ia memandang Adriana.
Adriana wanita dewasa yang sangat cocok untuk Jack, tidak seperti dirinya yang baru saja akan memasuki usia dua puluh tahun.
Dan Adriana wanita dewasa yang cantik, hanya saja cara berpakaiannya terlihat cukup berani.
Adriana berpakaian begitu seksi, dan berdandan sedikit berlebihan.
Tapi, bukankah lelaki sangat menyukai penampilan wanita seperti Adriana? pikir Esther lagi membandingkan dirinya dengan Adriana.
Statusnya hanyalah gadis miskin dari desa, sedangkan Adriana wanita dari kalangan atas.
Ada sedikit perasaan tidak percaya diri dalam diri Esther, mengingat siapa ia sebenarnya.
"Apa? suami?!"
Esther pun terpaksa menjawab nada dingin Adriana, dan berpura-pura terkejut mendengar apa yang dikatakan Adriana.
"Iya, benar! kak Adriana cinta pertama kak Jack! calon istri kak Jack!!" jawab Melda, "Kamu sudah mencuri calon suaminya!!"
Perasaan Esther diam-diam merasa tidak nyaman, mendengar apa yang dikatakan Melda.
Ada rasa bersalah dalam dirinya, karena sudah menjadi orang ketiga dalam kehidupan Jack, dan wanita cantik bernama Adriana.
Kalau saja Vera tidak menipunya, dan memberinya obat afrodisiak malam itu, ia tidak akan pernah menjadi duri dalam hubungan wanita lain.
"Sayang sekali gaun ini, sangat tidak cocok dipakai ditubuh perempuan desa sepertimu! seharusnya gaun ini milik kak Adriana!!"
Nada ketus Melda semakin membuat Esther menyadari statusnya, yang sangat jauh berbeda dengan Adriana.
Melda memandang Esther dengan tatapan sinis, dari atas kepala sampai bawah kaki.
Raut wajah dingin Melda memandang Esther, mendadak berubah begitu melihat Jack melangkah menuruni anak tangga.
"Kak Adriana, lihat! itu kak Jack sudah turun! Ayo, kita hampiri kak Jack!!"
Nada suara Melda terdengar begitu senang, lalu meraih tangan Adriana untuk segera menghampiri Jack.
"Ayo!" jawab Adriana tidak kalah lebih senang setelah melihat Jack.
Tubuh Esther sedikit terhuyung, saat Melda bergegas melangkah melewatinya, Melda sengaja menabrak bahunya.
Wajah ke dua wanita itu terlihat begitu senang melangkah menghampiri Jack di bawah anak tangga.
Esther yang masih memegang piring berisi camilan yang tadi ia ambil, tidak memperdulikan ke dua wanita itu menghampiri Jack.
Ia mengambil satu gelas jus dari atas meja prasmanan, lalu mencari tempat duduk untuk menikmati camilan, yang tadi tidak sempat ia makan.
Ia meletakkan tubuhnya ke sofa, kemudian meletakkan gelas jusnya ke atas meja kecil di samping sofa.
Ia pun kemudian meraih roti isi itu kembali, dan perlahan memakannya dalam diam.
Sembari makan ia melirik dua wanita itu di dekat anak tangga, tampak mengobrol dengan Jack dengan raut wajah yang terlihat senang.
Esther melihat Jack juga terlihat nyaman bicara dengan Adriana, dan sepertinya obrolan mereka membicarakan sesuatu yang menyenangkan.
Esther menepis pandangannya mencuri lihat keakraban tiga orang di dekat tangga itu, ia lebih baik memakan habis roti isinya.
Piring yang telah kosong, ia letakkan ke atas meja, lalu meraih gelas jusnya.
Perlahan ia meminum jus dalam gelasnya, tanpa ingin melirik lagi ke arah Jack mengobrol dengan Melda dan Adriana.
Esther merasa kenyang setelah meminum setengah gelas jus itu.
Ia kemudian duduk diam di sofa, melihat suasana ruang utama Mansion yang ramai.
Tamu yang diundang di pesta itu, tidak seorang pun yang ia kenal, karena semuanya dari keluarga kalangan atas.
Dan tidak seorang pun menghampiri dirinya, atau menyapanya untuk mengobrol.
Ia merasa canggung untuk menyapa salah satu tamu, karena ia bukanlah tipe wanita yang berani bicara pada seseorang terlebih dahulu.
Perlahan perasaan Esther tiba-tiba merasa tidak percaya diri, melihat orang-orang yang ada dalam aula utama Mansion itu, semuanya dari kalangan atas.
Ia hanyalah gadis biasa dari desa, yang tidak cocok berada diantara mereka.
Esther perlahan bangkit berdiri dari duduknya, lebih baik ia melihat si kembar membuang rasa canggung dalam dirinya.
Wajahnya terlihat berseri melihat keempat bayi kembarnya, dalam boxnya masing-masing terlihat tenang.
Mereka memegang mainan pada tangan mereka, sembari mengemut dot hisap mereka.
Senyum Esther melebar melihat si kembar sangat menggemaskan, membuatnya mencium salah satu dari bayi lelakinya tersebut.
"Nyonya!" seorang Pengasuh Sebastian menghampirinya.
"Iya, ada apa?" tanya Esther.
"Apakah Nyonya ingin sesuatu? aku lihat sedari tadi Nyonya belum makan!"
"Aku sudah makan!" jawab Esther.
"Oh!" Pengasuh itu terlihat lega setelah mendengar jawaban Esther.
"Kamu dari mana? sedari tadi aku mencari kamu?"
Terdengar suara Jack melangkah mendekati Esther.
Esther menoleh melihat Jack, dan Adriana yang tampak melangkah di belakang Jack.
Esther tidak menjawab Jack, karena ia melihat Jack sedari tadi mengobrol dengan Adriana, dan ia merasa Jack tidak mencarinya sama sekali.
Adriana yang melangkah mengikuti Jack, berdiri di samping Jack dengan raut wajah yang terlihat masih bahagia.
"Aku sedari tadi di sekitar sini saja!" jawab Esther apa adanya.
"Kak Jack, aku lapar! ambilkan aku makanan!" dengan suara manja Andriana bicara pada Jack, untuk mencegah Jack meladeni Esther bicara.
Esther yang telah mengetahui Adriana kekasih Jack, sebelum Jack mengalami kecelakaan, tidak memperlihatkan rasa penasaran, dengan sikap manja Andriana kepada Jack.
"Ambil saja sendiri!" jawab Jack acuh tak acuh.
Esther mengedipkan matanya mendengar Jack menjawab Adriana.
Sikap Jack sangat berbeda sekali dengan yang ia lihat, saat Jack mengobrol dengan Adriana di bawah anak tangga.
Apakah karena ada aku, Jack berpura-pura tidak memiliki hubungan apa pun dengan Adriana? pikir Esther.
"Temani!"
Suara manja Andriana terdengar semakin manja, membuat Esther tiba-tiba ingin muntah mendengarnya.
"Sudah kukatakan, ambil saja sana sendiri!!" Jack nyaris menaikkan nada suaranya, karena merasa kesal.
"Aku tidak mau, kalau tidak ditemani kak Jack!" Adriana meraih tangan Jack, tapi kemudian di tepis Jack dengan kasar.
"Menjauh sana!!" Jack menepis tangan Adriana, dan tubuh Adriana terhuyung satu langkah ke samping.
Melihat pemandangan yang ada di depannya, Esther hanya diam saja memperhatikan.
Ia merasa Jack hanya ingin menjaga perasaannya saja, sebab saat ini ia berada diantara mereka, dan Adriana tidak membaca situasi.
"Kak Jack! kamu kasar sekali! kamu biasanya tidak seperti ini padaku!!!" cicit Adriana merasa sangat kesal.
Melihat Esther diam saja melihat sikap Adriana padanya, perasaan Jack merasa tidak nyaman melihat tatapan mata Esther, yang sama sekali tidak terganggu dengan sikap manja Adriana padanya.
Bersambung.......
cari penyakit aja kamu.....😡
makanya cepetan nyatain perasaan kamu, biar gk salaha paham terus.
🤭🤭