"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4. Aksi Penyelamatan di Pelabuhan
Mobil tua yang dikendarai oleh Ren Ishida berhenti dengan suara mesin yang sangat halus. Mereka berada di balik tumpukan kontainer besi yang sudah berkarat. Lokasi ini berada di sudut paling gelap dari area pelabuhan Tokyo. Angin laut malam itu berhembus dengan sangat kencang dan dingin. Udara terasa sangat asin saat mengenai lidah Hana Tanaka yang pucat.
Hana menggigil bukan karena suhu udara yang turun drastis saja. Dia merasa ketakutan yang sangat luar biasa sedang mencengkeram seluruh tubuhnya. Dia menatap gudang tua yang berdiri kokoh sekitar seratus meter di depan mereka. Gudang itu memiliki cat yang sudah mengelupas dan jendela yang pecah. Beberapa lampu sorot terpasang di sudut bangunan untuk mengawasi area sekitar.
"Kita harus bergerak sekarang sebelum mereka memindahkan ibumu," bisik Ren Ishida.
Ren mematikan semua lampu di dalam kabin mobil tersebut dengan cepat. Suasana di dalam mobil menjadi sangat gelap dan juga mencekam. Yuki Nakamura segera membuka laptop miliknya dan mulai bekerja lagi. Layar laptop itu memancarkan cahaya biru yang menerpa wajah Yuki yang datar.
Yuki sedang berusaha menembus sistem keamanan kamera pengawas gudang tersebut. Jarinya bergerak dengan irama yang sangat stabil dan juga sangat cepat. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan meskipun waktu mereka sangat sempit. Akane Sato memeriksa beberapa peralatan yang dia bawa di dalam tasnya. Dia mengeluarkan beberapa botol asap dan lampu senter yang sangat terang.
Hana hanya bisa terdiam sambil terus mengatur napasnya yang tidak teratur. Dia merasa dadanya sangat sesak seperti sedang ditekan oleh batu besar. Hana teringat kembali pada wajah ibunya yang sedang terikat di kursi. Dia tidak akan membiarkan orang-orang jahat itu menyakiti ibunya lebih lama lagi.
Rasa cinta kepada ibunya mulai mengalahkan rasa takut yang dia rasakan. Hana mengepalkan tangannya dengan sangat kuat hingga kuku jarinya memutih. Dia sudah siap untuk melakukan apa pun demi keselamatan sang ibu tercinta. Dia menyadari bahwa gacha kehidupan (penentu nasib)nya sedang berada pada titik yang kritis.
"Aku sudah berhasil masuk ke dalam jaringan kamera mereka," ujar Yuki pelan.
Yuki menunjukkan beberapa sudut pandang kamera pengawas di layar laptopnya. Ada tiga orang penjaga yang terlihat berdiri di depan pintu utama gudang. Mereka membawa senjata api laras pendek yang disembunyikan di balik jaket. Ada juga dua orang penjaga lain yang sedang berpatroli di sisi kiri gudang.
Ibu Hana terlihat berada di sebuah ruangan kecil di lantai dua gudang itu. Dia masih dalam keadaan terikat namun sepertinya dia masih sadar sepenuhnya. Hana merasa sedikit lega saat melihat ibunya masih dalam kondisi bernapas. Namun dia tahu bahwa proses penyelamatan ini tidak akan berjalan mudah.
Ren Ishida mulai menjelaskan strategi penyusupan mereka dengan kalimat yang pendek. Dia akan menjadi ujung tombak untuk melumpuhkan para penjaga di luar. Ren memiliki keahlian bela diri yang dia pelajari sejak masih menjadi atlet. Meskipun kakinya pernah cedera namun dia masih memiliki kecepatan yang hebat. Yuki akan tetap berada di dalam mobil untuk memberikan panduan navigasi.
Dia akan mematikan lampu gudang pada saat yang paling tepat nanti. Akane bertugas untuk membuat pengalihan perhatian di sisi kanan gudang tua itu. Hana diperintahkan untuk mengikuti Ren dari belakang dengan sangat hati-hati. Hana bertugas untuk melepaskan ikatan tali pada tubuh ibunya nanti.
"Jangan pernah melepaskan genggaman tanganmu dariku," perintah Ren kepada Hana.
Hana mengangguk pelan sebagai tanda bahwa dia mengerti semua instruksi tersebut. Mereka berempat keluar dari mobil dengan gerakan yang sangat senyap sekali. Mereka merayap di antara tumpukan kontainer untuk menghindari deteksi lampu sorot. Tanah di pelabuhan itu terasa sangat kasar dan penuh dengan kerikil tajam.
Hana merangkak dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik sedikit pun. Dia merasa lututnya yang luka kembali terasa perih karena bergesekan dengan aspal. Namun dia terus maju tanpa mengeluh karena tujuannya sudah sangat dekat. Akane bergerak menuju arah yang berlawanan untuk memulai tugasnya sebagai pengalih.
Akane Sato mencapai tumpukan tong minyak kosong di sisi kanan gudang tua. Dia menyalakan salah satu botol asap yang dia bawa tadi dengan korek api. Asap putih yang sangat tebal mulai keluar dan menutupi pandangan para penjaga. Akane juga melemparkan sebuah petasan besar ke arah tumpukan kayu kering.
Suara ledakan petasan itu terdengar sangat keras di tengah kesunyian malam. Para penjaga di depan pintu utama langsung bereaksi terhadap suara tersebut. Mereka berlari menuju sumber suara karena mengira ada penyusup yang datang. Area pintu masuk gudang kini menjadi kosong tanpa penjagaan yang ketat.
"Sekarang lari menuju pintu samping," bisik Ren kepada Hana Tanaka.
Ren dan Hana berlari dengan sangat cepat menuju pintu kecil di samping gudang. Ren menendang pintu itu dengan kekuatan yang sangat besar hingga terbuka lebar. Mereka masuk ke dalam gudang yang suasananya sangat gelap dan berbau oli. Bau karat dan debu yang sangat tebal langsung menusuk hidung Hana.
Yuki memberikan instruksi melalui perangkat penyuara telinga kecil yang mereka pakai. Dia memberitahu bahwa ada satu penjaga yang sedang turun dari tangga. Ren segera bersembunyi di balik sebuah peti kayu besar yang ada di sana. Hana mengikuti gerakan Ren dan menahan napasnya dengan sangat rapat.
Seorang penjaga dengan lampu senter berjalan melewati tempat persembunyian mereka berdua. Cahaya senter itu hampir saja mengenai ujung sepatu milik Hana Tanaka. Ren bergerak dengan sangat cepat dari balik bayangan untuk menyerang penjaga itu. Dia memukul tengkuk penjaga tersebut dengan gerakan yang sangat presisi sekali.
Penjaga itu langsung jatuh pingsan tanpa sempat mengeluarkan suara teriakan sedikit pun. Ren mengambil kunci ruangan yang tergantung di pinggang penjaga yang pingsan itu. Dia memberikan isyarat kepada Hana untuk segera menaiki tangga besi menuju lantai dua. Tangga besi itu mengeluarkan suara derit yang sangat tipis saat mereka injak.
Mereka sampai di depan sebuah pintu kayu yang terlihat sangat kokoh sekali. Yuki mengonfirmasi bahwa itu adalah ruangan tempat ibu Hana disekap sekarang. Ren memasukkan kunci ke dalam lubang pintu dan memutarnya dengan perlahan. Pintu itu terbuka dan Hana melihat ibunya sedang duduk di kursi kayu.
Mulut ibunya ditutup dengan selotip hitam yang sangat lebar dan tebal. Mata ibu Hana terlihat sangat sembab karena terlalu banyak menangis tadi. Hana segera berlari mendekat dan memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat. Isak tangis Hana pecah saat dia merasakan kehangatan tubuh sang ibu.
"Ibu... aku di sini. Aku akan membawa ibu pulang," bisik Hana.
Hana menggunakan sebuah pisau lipat kecil untuk memotong tali yang mengikat ibunya. Jari Hana gemetar namun dia berusaha tetap fokus untuk menyelesaikan tugasnya. Ren berdiri di dekat pintu sambil terus mengawasi situasi di koridor luar. Dia tahu bahwa para penjaga di bawah akan segera menyadari sesuatu yang salah.
Yuki memberitahu mereka bahwa para penjaga mulai kembali menuju pintu utama. Akane sudah berhasil melarikan diri dari sisi kanan gudang dan menuju mobil. Mereka hanya memiliki waktu kurang dari dua menit untuk keluar dari sana. Tali yang mengikat tangan dan kaki ibu Hana akhirnya berhasil dilepaskan.
Ibu Hana mencoba berdiri tapi kakinya terasa sangat lemas dan tidak bertenaga. Dia hampir saja terjatuh jika Hana tidak menahan tubuhnya dengan kuat. Ren segera mendekat dan membantu membopong tubuh ibu Hana yang sangat kurus. Mereka harus bergerak lebih cepat karena suara langkah kaki terdengar mendekat.
Para penjaga mulai berteriak saat menemukan rekan mereka yang pingsan tadi. Cahaya senter mulai terlihat bergerak liar di lantai satu gudang tua itu. Mereka tidak bisa kembali melalui jalan yang sama saat mereka masuk tadi. Yuki memberikan solusi jalan keluar alternatif melalui jendela di lantai dua.
"Yuki... matikan semua lampu gudang sekarang juga," perintah Ren melalui radio.
Seketika seluruh area gudang menjadi sangat gelap gulita tanpa ada cahaya. Yuki telah mematikan aliran listrik utama melalui peretasan sistem komputer gudang. Para penjaga mulai panik karena mereka tidak bisa melihat apa pun di sana. Ren memandu Hana dan ibunya menuju sebuah jendela yang menghadap ke laut.
Jendela itu berada tepat di atas tumpukan pasir yang sangat tinggi dan empuk. Ren memecahkan kaca jendela itu dengan menggunakan siku tangannya yang kuat. Dia meminta Hana untuk melompat terlebih dahulu menuju tumpukan pasir tersebut. Hana melompat dengan penuh keberanian dan mendarat dengan sangat aman sekali.
Setelah itu Ren membantu ibu Hana untuk turun melalui jendela yang pecah. Ibu Hana jatuh ke dalam pelukan Hana yang sudah menunggu di bawah sana. Ren melompat terakhir dan segera memimpin mereka untuk berlari menjauh. Mereka berlari menembus kegelapan malam menuju arah mobil tua yang terparkir.
Suara tembakan terdengar dari arah gudang namun pelurunya tidak mengenai mereka. Para penjaga menembak secara asal karena pandangan mereka masih sangat terbatas. Hana terus memegang tangan ibunya sambil terus berlari tanpa rasa lelah. Dia merasa seperti sedang mendapatkan kekuatan tambahan dari keinginan untuk hidup.
Mobil tua itu sudah menyala dan Akane sudah duduk di kursi belakang. Ren segera membuka pintu mobil dan membantu ibu Hana masuk ke dalam. Hana masuk ke kursi belakang dan memeluk ibunya dengan rasa syukur. Yuki segera menutup laptopnya dan Ren menginjak pedal gas dengan sangat dalam.
Mobil itu melesat pergi meninggalkan area pelabuhan dengan kecepatan tinggi. Mereka berhasil keluar dari zona bahaya sebelum para penjaga mengejar mereka. Suasana di dalam mobil mendadak menjadi sangat sunyi karena rasa lelah. Hanya terdengar suara napas mereka yang saling bersahutan satu sama lain.
Hana Tanaka menatap wajah ibunya di bawah lampu jalan yang remang-remang. Dia melihat luka memar di pipi ibunya yang disebabkan oleh pukulan keras. Hana merasa hatinya sangat sakit melihat kondisi fisik ibunya yang mengenaskan. Dia menyadari bahwa musuh mereka tidak akan berhenti hanya sampai di sini.
Mereka telah berani melawan sistem yang sangat besar dan sangat berbahaya. gacha kehidupan (penentu nasib) telah membawa mereka ke dalam sebuah pusaran konflik politik. Namun, Hana tidak merasa menyesal telah mengambil keputusan berani sore tadi. Dia merasa bangga karena memiliki teman-teman yang sangat luar biasa baik.
"Terima kasih... terima kasih banyak kepada kalian semua," ucap ibu Hana.
Ibu Hana berbicara dengan suara yang sangat lemah dan penuh dengan haru. Dia tidak menyangka bahwa teman-teman sekolah Hana akan datang menyelamatkannya. Akane Sato memberikan sebotol air minum dan selimut kepada ibu Hana. Dia mencoba memberikan rasa nyaman bagi wanita yang sedang terguncang itu.
Yuki tetap fokus memantau layar ponselnya untuk memastikan tidak ada penguntit. Ren mengemudikan mobil menuju sebuah rumah aman yang sudah dia siapkan. Rumah itu terletak di sebuah daerah pinggiran yang sangat sepi penduduknya. Mereka tidak bisa kembali ke apartemen Hana karena tempat itu tidak aman.
Perjalanan menuju rumah aman memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Selama perjalanan Hana memikirkan tentang masa depan yang akan mereka hadapi. Dia tahu bahwa hidupnya sebagai siswi biasa sudah berakhir sejak malam ini.
Dia harus bersiap untuk hidup dalam persembunyian demi menjaga keselamatannya. Hana juga harus memikirkan tentang biaya pengobatan ibunya yang tidak murah. gacha kehidupan (penentu nasib)nya kini telah memberinya peran sebagai seorang pejuang kebenaran. Dia tidak lagi merasa sebagai gadis miskin yang selalu merasa sangat lemah. Dia merasa memiliki kekuatan untuk mengubah nasibnya sendiri mulai sekarang.
Mobil akhirnya sampai di sebuah rumah kayu kecil yang tersembunyi di hutan. Ren memarkir mobil di bawah pohon besar agar tidak terlihat dari langit. Mereka semua turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang sederhana itu. Rumah itu memiliki perlengkapan dasar seperti tempat tidur dan alat masak.
Ren menjelaskan bahwa rumah ini adalah milik kakeknya yang sudah lama meninggal. Tidak ada orang yang tahu tentang keberadaan rumah ini kecuali dirinya sendiri. Ini adalah tempat terbaik bagi ibu Hana untuk beristirahat dengan sangat tenang. Hana membantu ibunya untuk berbaring di atas tempat tidur yang bersih.
Yuki Nakamura kembali membuka laptopnya untuk memeriksa berita terbaru di internet. Dia menemukan bahwa kejadian di pelabuhan tidak masuk ke dalam berita utama. Para donatur sekolah sepertinya mencoba menutupi kejadian ini dari media massa. Mereka tidak ingin skandal penculikan ini merusak reputasi yayasan sekolah mereka.
Hal ini justru menguntungkan bagi tim Hana karena mereka memiliki waktu tambahan. Namun Yuki juga menemukan bahwa data donatur gelap itu mulai terkunci. Seseorang telah memasang sistem pengamanan tingkat tinggi untuk melindunginya dari peretas.
"Kita butuh kunci fisik untuk membuka data donatur gelap itu," ujar Yuki.
Yuki menjelaskan bahwa kunci fisik itu berbentuk sebuah kartu enkripsi khusus. Kartu itu biasanya disimpan oleh kepala sekolah di dalam brankas kantornya. Tanpa kartu itu mereka tidak bisa menyebarkan bukti korupsi ke publik. Akane Sato terlihat sangat antusias saat mendengar informasi mengenai kartu itu.
Dia merasa misi mereka selanjutnya adalah menyusup ke dalam sekolah mereka. Hana merasa sangat ragu karena sekolah adalah tempat yang sangat berbahaya. Sekolah memiliki banyak sekali kamera pengawas dan juga petugas keamanan khusus. Namun mereka tidak memiliki pilihan lain jika ingin menghancurkan sistem itu.
Malam semakin larut dan suhu udara di dalam hutan menjadi sangat dingin. Mereka berkumpul di ruang tamu kecil untuk mendiskusikan rencana selanjutnya mereka. Hana menatap teman-temannya satu per satu dengan perasaan yang sangat campur aduk. Ada Akane yang pemberani dan Yuki yang jenius dalam bidang teknologi.
Ada Ren yang tangguh dan selalu siap melindungi mereka dalam bahaya. Mereka berlima telah menjadi sebuah tim yang sangat solid dalam waktu singkat. Hana merasa persahabatan ini adalah hadiah terbaik dari gacha kehidupan (penentu nasib)nya selama ini. Dia siap menghadapi babak baru dalam perjuangan melawan ketidakadilan di Tokyo.
Hana melihat ibunya yang sudah tertidur lelap di kamar sebelah dengan tenang. Dia merasa beban di pundaknya sedikit berkurang meskipun masalah belum selesai. Hana mengambil dompet tuanya yang kosong dan menaruhnya di atas meja kayu. Dia berjanji bahwa suatu hari nanti dompet itu akan terisi kembali.
Dia tidak akan lagi merasa malu dengan kondisi ekonomi keluarganya yang sulit. Dia akan membuktikan bahwa remaja miskin juga bisa meruntuhkan sebuah dinasti. Cahaya bulan menyinari ruangan itu melalui celah jendela kayu yang terbuka. Perjuangan mereka untuk mendapatkan keadilan sejati baru saja dimulai secara resmi malam ini.
Akane Sato mulai menyusun jadwal piket untuk menjaga rumah aman tersebut. Mereka harus tetap waspada terhadap kemungkinan adanya serangan balasan dari musuh. Ren Ishida memeriksa semua pintu dan jendela untuk memastikan semuanya terkunci. Yuki terus memantau jaringan internet untuk mencari celah keamanan di sekolah.
Hana memutuskan untuk belajar lebih dalam mengenai sistem pengamanan sekolah mereka. Dia ingin berkontribusi lebih banyak dalam misi penyusupan yang sangat berbahaya. Tidak ada rasa takut lagi yang terlihat di dalam mata cokelat milik Hana. Yang ada hanyalah tekad yang sangat membara untuk menang dalam pertarungan.
Masa depan Jepang di tahun dua ribu dua puluh enam sedang berada di tangan mereka. Lima remaja yang dianggap remeh oleh sistem kini sedang menyusun rencana besar. Mereka akan menunjukkan bahwa suara dari atap sekolah bisa mengubah negara. gacha kehidupan (penentu nasib) mungkin tidak adil pada awalnya bagi sebagian orang di dunia.
Namun, setiap orang memiliki hak untuk memutar ulang undian nasib mereka sendiri. Hana Tanaka sudah memulainya dan dia tidak akan pernah berhenti melangkah maju.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍