Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Bau Amis dan Amarah
“Gak apa-apa Bu,” kata Randy. “Biarkan tenang dulu, sementara saya pamitan dulu.”
Randy lalu menyalami satu per satu yang ada di situ.
“Mat besok saya libur kuliah, saya mau cari obyek-obyek foto dulu di Pasar Ikan Muara Baru, mudah-mudahan ada obyek-obyek yang menarik,” kata Randy saat pulang bersama Mat Pelor, mengambil motornya yang diparkir di depan rumah Mat Pelor. “Kasih saya kabar soal Pak Sugeng di WhatsApp.”
Besok paginya, Randy mengendarai Kawasaki Ninjanya ke Pasar Ikan di Muara Baru yang ternyata tidak seperti ekspektasinya. Bayangannya pasar ikan akan becek dan kumuh, ternyata Pasar Ikan Muara Baru ini modern, megah, bersih dan tidak becek.
Namun namanya pasar ikan, bau amis tetap terasa di mana-mana, kontras dengan wajahnya yang ganteng dan tampil bersih walau cuma pakai t-shirt dan blue jeans sobek-sobek.
Dengan mantap dia masuk area pasar ikan itu, dan bau amis segera terhirup dengan lebih menyengat, tapi Randy menikmati itu semua. Tiba-tiba ponselnya bergetar, dan dia segera membaca pesan yang masuk. Isinya nggak jauh-jauh dari pesan yang sering diterima di ponselnya, kali ini dari Gina, anak jurusan sastra:
“Rand, anterin aku ke British Council yo. Aku lagi bikin tugas makalah tentang Edgar Allan Poe.”
Langsung Randy menjawab:
“Wah sorry, Gin, aku sedang nggak bisa. Posisiku ada di Muara Baru sekarang.”
Lalu jawaban Gina:
“Oh ya sudah, aku berangkat sendiri kalau gitu. Bye.”
“Bye juga,” balas Randy.
Tiba-tiba ada seorang bapak menegur Randy yang tengah asyik mengambil foto-foto di pasar ikan itu. “Mas, kenapa ambil foto-foto? Sudah ada izin belum?” Sepertinya dia merasa terganggu dengan kegiatan mengambil foto yang dilakukan Randy.
“Belum, Pak. Saya pikir ini area bebas, bisa ambil foto dengan bebas,” jawab Randy. “Saya cuma hobi fotografi, Pak. Bukan wartawan.”
“Ketentuan tak tertulis di sini, siapa pun yang ambil foto-foto di dalam sini harus ada izin tertulis,” kata bapak itu.
“Dia kawan saya, Pak,” kata seorang gadis sambil menunjukkan kartu anggotanya. “Dan kami sudah ada izin.” Gadis itu menunjukkan surat izin yang dia miliki.
“Oh maaf,” kata bapak pedagang itu. “Kalian dari mana?”
“Saya fotografer dari kantor berita AFP, Pak,” kata gadis itu. “Sedang kawan saya ini fotografer freelance yang membantu saya ambil foto-foto menarik di sini.”
“Oh begitu, maaf ya Mas, tidak tahu saya tadi,” kata bapak pedagang itu kepada Randy. “Silakan ambil foto, tapi usahakan jangan mengganggu kami ya.”
“Terima kasih, Pak,” kata Randy dengan tersenyum sopan.
“Terima kasih Mbak, telah menyelamatkan saya,” bisik Randy kepada gadis itu. Gadis itu cantik dan manis, tapi sangat tomboy tampilannya. Dia berpakaian kasual dengan t-shirt dan celana jeans seperti Randy, tapi dia memakai rompi ala fotografer yang bertuliskan AFP dengan name tag bertuliskan “Natasha - Photographer” di dadanya.
“Sama-sama,” jawab gadis fotografer yang bernama Natasha itu manis dengan lesung pipitnya. “Dulu sebelum aku jadi fotografer full time seperti ini aku juga sering mengalami masalah yang sama. Omong-omong namamu siapa?”
“Nama saya Randy, mahasiswa semester 2,” ujar Randy sambil menjabat tangan gadis itu. “Itu ada kedai kopi di sana, aku harus membalas budi Mbak yang telah menyelamatkan saya. Mbak namanya Natasha kan?”
“Lho kok tahu nama saya?” tanya Natasha kaget.
“Itu ada name tagnya,” jawab Randy sambil tertawa berderai. “Kalau gak mau ketahuan namanya dicoret-coret pakai spidol aja.”
Natasha lalu tertawa, “Oh iya-ya, lupa aku. Yok ke kedai kopi itu, namanya ditraktir kok nolak rezeki.”
Akhirnya mereka berdua ke kedai kopi yang hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
“Di kedai kopi ini otak-otaknya enak,” kata Natasha. “Ikannya segar, langsung dari pasar ini.”
“Boleh juga nyobain otak-otaknya,” kata Randy tertawa sambil memesan kopi dan otak-otak di kedai itu. “Siapa tahu otak saya bisa langsung encer buat mikir kuliah yang bikin otak mampet itu.”
Tawa Natasha langsung meledak mendengar candaan Randy. Wajah mereka tampak tidak terlalu cocok sebenarnya. Randy tampil sebagai remaja klimis berusia 20-an, sedang Natasha sudah tampak lebih dewasa, sekitar 26-27-an, tapi mereka cocok-cocok saja dan nyambung saat bercakap-cakap dan bergurau.
Kemudian ponsel Randy bergetar lagi, pesan masuk dari Mat Pelor, isinya:
“Alhamdulillah, Bang, Pak Sugeng sudah bisa duduk. Pak dan Bu Sugeng titip ucapan terima kasih ke Bang Randy.”
Randy membalas:
“Syukurlah, nanti sepulang dari Muara Baru ini saya akan mampir ke rumah Mat Pelor dan Pak Sugeng, sekitar jam dua-an lah.”
“Siap, ditunggu. Saya nggak ke mana-mana kok,” tutup Mat Pelor.
Kemudian Randy melanjutkan bercakap-cakap dengan Natasha sambil meniup kopinya dan menyantap otak-otak itu. “Bagaimana ceritanya bisa jadi fotografer di AFP?” tanya Randy.
“Aku sebenarnya lulusan akuntansi, tapi seperti kau, hobi fotografi,” jawab Natasha lalu menghirup kopinya. “Kebetulan aku baca ada recruitment di AFP Jakarta, ya aku lamar saja dan kebetulan diterima.”
“Oh, begitu,” jawab Randy sambil mengambil beberapa foto di kedai kopi yang menarik itu, karena latar belakangnya kesibukan di sebuah pasar ikan. “Jauh benar, sarjana akuntansi jadi fotografer.”
“Iya, kadang hidup itu memang aneh,” jawab Natasha. “Aku sekarang lebih mahir menghitung diafragma, daripada menghitung rugi laba.”
Di dekat kedai kopi itu tiba-tiba lewat seorang lelaki tua bertelanjang dada dengan membawa seember ikan. Dari keriput di wajah dan tubuhnya, usianya ada sekitar tujuh puluhan, dan kulitnya legam karena terbakar sinar matahari.
“Siapa dia, Natasha?” tanya Randy heran seraya membidikkan kameranya ke lelaki tua itu.
“Dia adalah Pak Sasmito, semua pedagang yang jualan di sini dan pengunjung yang sering ke pasar ini pasti mengenalnya. Dia seorang nelayan yang baru saja ditinggal meninggal oleh istrinya, dan anak-anaknya masih kecil.”
“Jadi setua itu masih harus melaut?” tanya Randy dengan takjub. “Dan saat yang sama harus mengawasi anak-anaknya yang masih kecil? Luar biasa.”
“Begitulah, kalau bahasa Perancisnya c’est la vie,” kata Natasha lirih. “Itulah hidup.”
Pak Sasmito berjalan semakin jauh, dan Randy lalu mengambil lensa zoom miliknya dari dalam tasnya. Dengan cepat dia mengganti lensa di kameranya dan mengambil foto-foto ke wajah Pak Sasmito.
Ponsel Natasha yang kini gantian bergetar. Ada pesan masuk:
“Aku lihat kamu di kedai kopi di pasar ikan dengan seorang cowok. Siapamu?”
“Waduh gawat…,” belum sempat Natasha menyelesaikan perkataannya tiba-tiba masuk seorang pemuda dengan wajah penuh amarah di kedai kopi itu. “Natasha, sedang apa kamu di sini dengan bocah bau kencur ini?”
“Robby. Tidak ada apa-apa,” kata Natasha yang kaget tiba-tiba muncul dan membentaknya. “Kami barusan berkenalan di pasar ini, dan bertanya-tanya soal fotografi.”
“Brak!” Robby menggebrak meja lalu membentak Natasha. “Diam, perempuan murahan. Cepat pulang sekarang!”
“Sabar, Mas, ada apa ini?” Randy berusaha melerai Robby dan Natasha. “Saya bingung Mas tahu-tahu marah-marah tanpa alasan jelas.”
“Kurang jelas apalagi?” Robby menatap mata Randy dengan tajam. “Kamu anak bau kencur, bergenit-genit dengan pacarku masih bilang tanpa alasan jelas?”
Robby lalu menendang meja kopi di depan Randy dan Natasha sehingga cangkir-cangkirnya jatuh pecah dan otak-otak jatuh berserakan. Untunglah Randy sempat menyelamatkan kameranya jadi tidak ikut pecah.
Randy yang terkejut segera melompat ke belakang dan mengambil kuda-kuda berkelahi, demikian juga Robby. Tampaknya perkelahian tidak akan terhindarkan.