---
Sinopsis Utama
Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."
Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.
Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Us
Tiga bulan lalu.
Jane membuka mata dengan perasaan aneh. Perutnya mual, tapi bukan mual biasa. Ini berbeda—seperti ada sesuatu yang bergerak-gerak kecil di dalam, meski secara logika ia tahu itu tidak mungkin. Kehamilan tiga minggu tidak mungkin memberikan sensasi fisik seperti itu.
Namun, naluri seorang wanita seringkali berbicara lebih keras daripada logika.
Ia menoleh ke samping. Mario masih tidur pulas dengan posisi setengah telungkup, satu tangan terkulai lemas di atas dada, mulut sedikit terbuka. Jane tersenyum melihatnya. Laki-laki ini selalu tidur seperti anak kecil—tanpa beban, tanpa dosa.
Perlahan, Jane turun dari ranjang. Kakinya agak lemas, tapi ia paksakan berjalan menuju kamar mandi. Di dalam lemari kecil, tersembunyi di balik tumpukan handuk, ada sebuah kotak mungil yang ia beli tiga hari lalu. Test pack. Ia belum berani menggunakannya. Setiap kali hendak mencoba, selalu ada rasa takut yang mengurungkan niatnya.
Tapi pagi ini, tubuhnya berkata lain.
Jane duduk di tepi bak mandi, tangan sedikit gemetar membuka bungkus test pack itu. Ia membaca petunjuk penggunaan—padahal sudah hafal di luar kepala—lalu melakukan apa yang harus dilakukan.
Dua menit.
Hanya perlu menunggu dua menit untuk mengubah hidup.
Jane meletakkan test pack itu di atas wastafel, lalu duduk di tutup kloset. Matanya terpaku pada benda kecil berwarna putih itu, menunggu garis-garis muncul. Detak jantungnya berpacu cepat, tangannya berkeringat dingin.
"Satu menit lagi," bisiknya pada diri sendiri.
Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Dalam gelap di balik kelopak matanya, ia membayangkan masa depan. Rumah yang lebih ramai. Suara tawa anak kecil. Mario yang menggendong bayi. Hidup yang berbeda.
"Jane?"
Suara Mario membuatnya tersentak. Pintu kamar mandi terbuka sedikit, memperlihatkan wajah suaminya yang masih setengah tidur.
"Sayang, kamu kenapa? Kok di kamar mandi lama?" tanya Mario dengan suara serak.
Jane tidak bisa menjawab. Lidahnya terasa kelu. Ia hanya menunjuk ke arah wastafel.
Mario mengerutkan dahi, melangkah masuk. Tangannya meraih test pack itu, membaliknya, dan—
"JANE!"
Jeritan Mario memecah kesunyian pagi. Pria itu hampir menjatuhkan test pack, berhasil menangkapnya lagi di detik terakhir, lalu menatap istri dengan mata membelalak.
"Ini... ini... dua garis?"
Jane hanya bisa mengangguk, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"ARTINYA KITA HAMIL?"
Anggukan lagi. Kali disertai isak tangis kecil.
Mario berlutut di depan Jane, meraih wajah istrinya dengan kedua tangan. Ia menatap mata Jane dalam-dalam, dan Jane bisa melihat sesuatu yang basah di mata suaminya.
"Jane... Jane, sayang... kita... kita jadi orang tua?"
Jane tertawa lewat isak tangisnya. "Iya, Mas. Kita hamil."
Mario memeluknya erat, sangat erat, sampai Jane hampir kehabisan napas. Tapi ia tidak peduli. Pelukan ini adalah pelukan terhangat yang pernah ia rasakan. Pelukan seorang calon ayah yang baru saja mendapat kabar terindah dalam hidupnya.
"Aku sayang kamu," bisik Mario di telinganya. "Aku sayang kamu banget. Makasih... makasih udah mau jadi istriku, dan sekarang mau jadi ibu dari anak kita."
Jane menangis di bahu suaminya. Tangis haru. Tangis syukur. Tangis bahagia.
Mereka berpelukan cukup lama, sampai suara perut keroncongan memecahkan suasana. Mario tertawa.
"Itu perut kamu atau perut anak kita?"
"Kayaknya perut aku. Lapar."
Mario berdiri, menarik Jane ikut berdiri. "Aku masakin sarapan spesial. Kamu mau apa?"
"Bubur ayam."
"Siap. Bubur ayam untuk Bunda dan Calon Baby."
Jane tersenyum. Panggilan "Bunda" pertama kali dari suaminya. Rasanya hangat sekali.
---
Sarapan pagi itu tidak pernah selesai.
Mario sibuk mondar-mandir antara dapur dan meja makan, membawa ini itu, lalu tiba-tiba berhenti di tengah jalan, menepuk jidat, dan kembali ke dapur karena lupa sesuatu. Jane memperhatikan semua ini dengan gemas.
"Mas, santai aja. Aku masih bisa nunggu."
"Iya, iya, tapi aku mau semuanya sempurna." Mario meletakkan semangkuk bubur ayam buatan sendiri—hasil eksperimen semalam—di depan Jane. "Ini, sayang. Bubur ayam spesial dari suami tercinta."
Jane mengambil sendok, mencicipi sedikit. Matanya membelalak. "Mario, ini enak banget!"
"Serius?" Mario ikut mencicipi. "Wah, lumayan ternyata. Berarti aku bisa masak."
"Kapan kamu belajar bikin bubur ayam?"
"Tadi malam. Pas kamu tidur, aku nonton video YouTube. Takut kalau tiba-tiba kamu ngidam, aku nggak siap."
Jane terharu. Suaminya ini—kadang konyol, kadang terlalu overthinking, tapi selalu penuh perhatian. Ia meraih tangan Mario di atas meja.
"Makasih, Mas. Makasih udah jadi suami yang baik."
Mario tersenyum, membalikkan tangannya untuk menggenggam jemari Jane. "Makasih balik, udah jadi istri yang sabar menghadapi aku."
Mereka sarapan dengan tenang, sesekali saling melempar senyum. Di luar, pagi semakin cerah. Tapi bagi mereka, tidak ada yang lebih cerah dari hati saat ini.
---
"Kita harus kasih tahu siapa aja?" tanya Mario sambil membereskan piring.
Jane berpikir. "Keluarga dekat aja dulu. Ibu, mertua, kakak-kakak. Nanti kalau sudah aman, baru kita kasih tahu teman-teman."
"Maksudnya aman?"
"Kata orang, tiga bulan pertama rawan. Jadi biasanya mereka nunggu sampai lewat trimester pertama baru ngumumin."
Mario mengangguk paham. "Oke. Tapi tetangga? Mba Irene? Mba Soo Young? Mereka kan bukan sekedar tetangga."
Jane tersenyum. Iya, mereka bukan sekedar tetangga. Irene, Soo Young, Jisoo—kakaknya sendiri—dan Chaeyoung, mereka adalah keluarga pilihan. Tapi...
"Aku kasih tahu Jisoo dulu. Dia kan kakakku. Terus nanti Jisoo yang bakal bantu aku ngomong sama yang lain."
"Boleh."
Mereka berdua sepakat. Dan sore harinya, Jane berjalan ke rumah nomor 3, mengetuk pintu dengan hati berdebar.
---
Jisoo membuka pintu dengan Amora di gendongan. "Jane? Sore-sore ke sini, ada apa?"
"Pinjam kakaknya sebentar, boleh?" Jane tersenyum, tapi matanya sedikit berkaca-kaca.
Jisoo langsung tanggap. Ada sesuatu. "Amora, main di dalam dulu sama Mama sebentar, ya." Ia menurunkan Amora, menyuruhnya masuk, lalu mempersilakan Jane duduk di teras.
"Cerita," kata Jisoo singkat.
Jane duduk di kursi rotan favorit Jisoo, menarik napas panjang. Bagaimana memulai? Kakaknya ini adalah orang yang paling ia percaya setelah Mario. Tapi tetap saja, kata-kata itu sulit diucapkan.
"Jis... aku... aku hamil."
Jisoo diam. Matanya membelalak. Lalu tiba-tiba—
"JANE!"
Jeritan Jisoo membuat beberapa burung di pohon depan rumah beterbangan. Ia langsung memeluk adiknya erat, hampir membuat Jane jatuh dari kursi.
"Kamu hamil? Beneran? Ya Allah, Jane!" Jisoo melepas pelukan, menatap wajah adiknya dengan mata basah. "Kamu beneran?"
Jane tertawa, ikut menangis. "Iya, Jis. Baru tiga minggu. Baru tahu tadi pagi."
Jisoo mengusap air matanya, lalu tertawa. "Ya ampun, Jane. Adekku mau jadi ibu. Aku nggak percaya."
"Kok kamu nangis sih? Aku yang hamil, kamu yang nangis."
"Iya, tapi aku bahagia!" Jisoo memeluknya lagi. "Mario tahu?"
"Tahu. Dia yang nemenin aku pas tes."
"Syukurlah. Syukurlah kalian dikasih kepercayaan ini."
Mereka berpelukan lama, berbagi tangis dan tawa. Di dalam rumah, Amora mengintip dari balik pintu, bingung melihat Mama dan Tante Jane menangis tapi juga tertawa.
"Mama kenapa?" tanyanya polos.
Jisoo menoleh, tertawa. "Mama bahagia, Sayang. Tante Jane mau kasih Amora adik sepupu."
Amora mengerutkan dahi. "Adik sepupu? Main sama Amora?"
"Iya, nanti main sama Amora."
Amora berlari ke arah Jane, memeluk kakinya. "Tante Jane, nanti adiknya Amora yang jagain! Amora janji!"
Jane mengelus kepala Amora, hatinya meleleh. "Makasih, Amora. Tante yakin kamu bakal jadi kakak sepupu yang paling baik."
---
Sore itu juga, Jisoo mengajak Jane ke rumah Irene. Kemudian ke rumah Soo Young. Dan akhirnya ke rumah Chaeyoung. Satu per satu, para sahabat itu menerima kabar gembira dengan cara mereka masing-masing.
Irene menangis haru sambil memeluk Jane, lalu bercerita panjang lebar tentang pengalamannya hamil Rafa—mulai dari ngidam yang aneh-aneh sampai kontraksi palsu yang membuatnya bolak-balik ke rumah sakit.
Soo Young tersenyum lembut, meraih tangan Jane, dan berkata, "Kamu akan jadi ibu yang baik, Jane. Aku tahu." Lalu ia memberikan sebuah buku tentang kehamilan—buku Korea yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, lengkap dengan resep-resep sehat untuk ibu hamil.
Chaeyoung, yang saat itu sedang video call dengan Leon, langsung memutar layar ponselnya ke arah Jane. "Leon! Leon! Jane hamil!" Leon di layar ikut bersorak, tangannya mengacung-acung memberi selamat meski suaranya sedikit terputus-putus karena koneksi.
Malam harinya, ketika Jane dan Mario duduk di teras rumah, menikmati udara sejuk, Jane berkata, "Mas, kita beruntung banget, ya."
"Beruntung kenapa?"
"Punya mereka." Jane menunjuk ke arah rumah-rumah tetangga yang mulai gelap. "Mereka bukan cuma tetangga. Mereka keluarga."
Mario mengangguk setuju. "Iya. Dan sekarang keluarga kita akan bertambah satu."
Ia meraih tangan Jane, meletakkannya di atas perut yang masih datar. Di dalam sana, sekecil apa pun, sudah ada kehidupan baru yang menanti untuk lahir ke dunia. Ke dunia yang hangat, yang penuh cinta, yang dikelilingi oleh keluarga—baik keluarga darah maupun keluarga pilihan.
Malam itu, di teras rumah nomor 7, di bawah langit Jakarta yang tak berbintang, Jane dan Mario berjanji pada diri sendiri: mereka akan membesarkan anak ini dengan cinta. Bukan cinta yang sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna. Tapi cinta yang tulus. Cinta yang mau belajar. Cinta yang akan selalu ada.
Dan di rumah-rumah lain, para sahabat juga berjanji dalam hati: mereka akan selalu ada untuk Jane, untuk Mario, dan untuk calon buah hati yang akan segera lahir. Karena itulah arti keluarga pilihan—hadir di setiap suka dan duka, merayakan setiap kabar gembira, dan menguatkan di setiap masa sulit.
Malam berlalu dengan tenang. Bintang-bintang mungkin tidak terlihat di langit Jakarta yang berpolusi, tapi di hati para penghuni Griya Asri, bintang-bintang itu bersinar terang.
Bersinar dalam bentuk cinta.
---