Dia Xuan Huan. seorang pejuang tingkat sembilan. Programmer sekaligus hacker yang sangat ditakuti. Banyak lawan yang sudah ditaklukkan, bahkan ada yang berkeinginan untuk menjalin kerja sama.
Proyek terakhir yang Ia kerjakan, adalah proyek kecerdasan buatan, yang bisa menjelajahi alam semesta. Penuh dengan kode kode rumit dan mencengangkan.
Quantum Xuan, itulah nama programnya. Tapi karena program itu dia harus mati, dan jiwanya ditempatkan pada tubuh seorang gadis lemah 12 tahun ke belakang, yang juga mati karena penganiayaan. Lalu bisakan tubuh dengan jiwa Xuan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aditya Jetli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Hantu Nindya
"Kurang ajar kalian! Cepat pergi dari sini. Kalian berdua tidak diteri...?"
Tusk! Tusk!
"Arrrrgggghh!"
Bunyi lirih lesatan dan tancapan jarum jarum cinta, menembus pori pori meredian di dekat mulut Deka, membuat mulut dan lidahnya mendadak kaku. Tak bisa menjerit atau bersuara, walau sekedar hanya untuk meminta tolong. Bergerak saja susah.
Rasa takut tiba tiba melanda. Hatinya bergetar kuat. Ciut seperti kerupuk disiram air.
Matanya nanar memandang di kejauhan, dimana tubuh bocah yang barusan dihina, melenggang bebas menuju kelasnya.
Orang orang belum menyadari, bahwa dua orang yang berjalan di depan atau belakang mereka itu adalah Nindya dan Kirana. Mereka kira itu siswa kelas lain. Jadi rata rata mereka cuek saja.
Begitu mereka sampai, langsung masuk dan menuju kursinya masing masing, yang selama beberapa hari ini memang sengaja dibiarkan kosong.
Tentu saja kehadiran mereka membuat seisi kelas heboh. Tapi mereka cuek saja. Namun belum juga duduk, mereka disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa.
Di atas meja, terutama di dalam laci, tumpukan buku juga koyakan koyakan kertas bertebaran dimana mana. Bertumpuk tidak beraturan. Mirip tong sampah saja. Katanya sekolah elit.
Belum juga mereka duduk, sekelompok siswa perempuan mendekatinya, untuk memastikan, bahwa pandangan mereka tidak salah.
Kalau itu memang orang yang sudah mereka bunuh. berarti yang muncul sekarang adalah hantunya.
"Siapa kalian. Kenapa mau duduk di bangku Cimong juga Panda. Tak tahukah kalian bahwa kedua bangku itu telah lama kosong. Bangku itu bekas siswa yang mati akibat bunuh diri?"
"Atau jangan jangan, kalian ini siswa baru yang pindah ke sekolah ini. Kalau begitu kenalkan diri, dan nyatakan tunduk pada kami. Kalau tidak....?"
Belum juga selesai bicara, mulut siswi tersebut mendadak kaku, Rasa asin dan bau keluar dari langit langit lidah. Bukan darah atau liur, namun nanah.
Siswi yang lain belum menyadari. Semua fokus pada sosok Nindya, yang tetap cuek dan tidak bereaksi. Dia malah sibuk merapikan buku dan mengumpulkan kertas kertas bekas, yang berserakan di atas meja juga di dalam laci.
Dia berencana untuk membuangnya sebelum guru kelas datang. Tapi perempuan perempuan sundal itu malah terus mengganggunya.
Sebenarnya dia sangat kesal, dan berniat untuk menghabisi mereka saat itu juga. Tapi dia ingat bahwa itu tempat umum, dan tidak boleh membunuh secara sembarangan. Semua ada tempatnya. Jadi dia memilih untuk tetap diam.
Namun semakin lama mereka semakin kurang ajar. Bahkan salah satu di antara perempuan perempuan sundal itu berusaha untuk menarik rambutnya, dan mau menjatuhkannya ke lantai. Tapi belum juga niatnya terlaksana, sebuah tangan kuat sudah menahannya.
Lalu tanpa menunggu reaksi yang lain. tangan itu telah membanting perempuan tersebut ke lantai. Bunyinya gedebug pyar. Renyah sekali terdengar.
Kejadian itu sontak membuat 7 perempuan yang mengelilingi Nindya terkejut sekaligus ketakutan, karena pada dasarnya mereka itu lemah. Hanya mengandalkan tampang dan kekayaan saja.
Tak lama kemudian ada seseorang yang menyadari, bahwa orang yang telah membanting Sukma itu adalah Nindya, orang yang dikabarkan mati karena bunuh diri.
Dengan panik Dia berkata. "Tahan! Jangan mendekat. Perempuan itu hantu Nindya. Dia hidup lagi dan nampaknya tidak terjadi apa apa padanya. Pantas saja Dia sangat kuat?" teriaknya mendadak ketakutan.
Lalu bergabung dengan teman temannya yang lain.
"Apa! Tidak mungkin? Siapa kau sebenarnya? Kenapa kalian bisa hidup lagi. Bukankah kalian sudah mati?"
Reaksi Gita, ketua kelompok berandalan sekolah tersebut mulai merasa ketakutan. Karena jika Nindya masih hidup dan berani membuka mulut, serta melaporkannya pada petugas investigasi, maka dia dan kawan kawannya akan dipanggil oleh mereka.
Tentu orang tua serta perusahaan orang tuanya akan terkena imbasnya.
Namun Nindya tetap tidak bereaksi. Dia memutuskan untuk tetap diam, karena dia ingin melihat sampai sejauh mana mereka akan bertindak.
Kalau kelewatan di hari pertama mereka masuk sekolah, maka mau tidak mau Nindya akan memberi mereka pelajaran.
Dan ternyata benar. Salah satu dari mereka maju, dan berusaha untuk menampar Nindya.
Plak, Bugh.
"Argh!"
"Kurang ajar, ku habisi kau!" reaksinya. Lalu bangkit dari lantai dan kembali ingin memukul Nindya.
Bugh, Brak! Prang.
Meja roboh dan kaca jendela pecah. Tuti yang barusan ditampar tersangkut di sisi jendela. Tangannya mengeluarkan darah, karena sedikit terkena pecahan kaca.
"Kenapa diam saja! Ayo bantu balaskan dendam teman kita. Serang dia ramai ramai, dan hancurkan wajah sok cantiknya itu sebelum guru datang!" reaksi Gita menyadarkan teman temannya.
"Huh..!"
Mendengar itu Nindya hanya mencibir tenang, apalagi saat melihat siswi siswi bengal itu merangsek ke arahnya.
Dengan tenang dan presisi dia bergerak. Semua yang datang dia tendang, dia tampar dan dia pukul. hingga membuat penyerangnya jatuh semua.
Siswa laki laki melihat kejadian itu, tapi mereka tidak bertindak, apa lagi itu urusan perempuan.
Namun saat semuanya tumbang, mereka langsung bereaksi. Walau mereka tidak termasuk pembulinya, tapi mereka pernah memperhatikan, bertaruh dan membiarkan pembulian itu terjadi.
Kini setelah hal yang mustahil itu terjadi, mereka baru bereaksi. Namun hanya sekedar mengagumi saja.
"Hem, menarik?"
Swuuuss, Bug.
"Ugh!"
Baru saja siswa laki laki itu bergumam, memuji tindakan Nindya, sebuah tendangan keras sudah mengenai mulutnya, sampai membuat tubuhnya terpental, dan menabrak meja hingga tumbang.
"Kenapa kau memukulku. Apa salah ku?" tanyanya setelah berhasil berdiri dari lantai. sambil. menyeka darah yang keluar dari sela sela giginya.
Bugh, Brak!
"Selama ini kau kemana saja, ha?Kau tahu aku sering di buli, dipukul, ditendang, dijambak, dihina, dan bahkan hampir dilecehkan. Tapi kalian terutama kau hanya diam saja!"
"Namun setelah aku bangkit dari kubur dan menjadi kuat seperti ini, kau bilang aku menarik. Apa itu memang kebiasaan laki laki naif seperti kalian?"
"Bukan begitu. Kau sekarang memang benar benar menarik."
"Menarik kepala bapak kau!"
Wush, plak, bugh.
"Arrrggghhh! Ampun, ampun. Jangan pukul aku lagi. Aku minta maaf. Aku tak akan mengatakannya lagi."
"Cuih! Jika lain kali aku mendengar kau juga yang lain mengatakan aku ini menarik walau pun itu dalam hati. Maka bersiaplah untuk aku habisi!" reaksinya.
Lalu menendang tubuh tujuh siswa sundal itu satu persatu. Kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Dengan tenang dia duduk, dan menunggu reaksi dari pihak sekolah. tanpa perlu menutupinya.
Dua puluh delapan siswa dari 37 orang jumlah seluruhnya, semuanya tertunduk diam. Tidak berani mengangkat kepalanya. apalagi memandang ke arah Nindya.
Nindya atau Cimong, sekarang bukan gadis biasa lagi. Dia sangat kuat, karena yang sedang berdiri di depan mereka itu bukan manusia, tapi hantu.
Tiba tiba pintu kelas terbuka. dan masuklah seorang guru laki laki yang mengajar fisika. penampilannya sangat keren, terlihat seperti seorang binaragawan.
Dia salah satu guru yang paling ditakuti di sekolah tersebut. Mereka menyebutnya guru killer. Kuat dan tak terkalahkan.
Selama ini dia bernaung di sebuah sasana tinju. sebagai seorang atlit yang cukup berprestasi, dan selalu membanggakan sekolah terutama ibukota.
Begitu dia mengedarkan pandangannya, terlihatlah di depan mata, pemandangan yang sangat luar biasa.