Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Abram! Kamu bajingan yang tidak tahu diri!" teriak Bu Sri. Tangan Bu Sri yang gemetar mengepal erat dan mengangkat ke atas, siap untuk memukul Abram.
Abram hanya berdiri tenang, ia hanya menatap gerakan Bu Sri. Ketika tangan wanita itu hampir menyentuh wajahnya, ia dengan cepat menghindar ke samping.
Keseimbangan tubuh Bu Sri yang sudah goyah, kakinya terpeleset, tubuhnya tersungkur ke depan, dan dengan suara keras.
DUBRAKKK!
Bu Sri pun jatuh menghadap ke lantai.
"Aduhhhhhh!" teriaknya kesakitan. Wajahnya memerah karena menahan sakit.
Beberapa pengunjung melihat Bu Sri hanya yang terjatuh tersungkur dan tidak sengaja tertawa.
"Waduh, kok bisa jatuh begitu ya?" kata seorang wanita dengan suara kecil yang kemudian berubah menjadi tawa pelan.
Dan membuat beberapa orang lain ikut tertawa karena yang terjadi sangat lucu.
Bu Sri meronta-ronta di lantai, tangannya mencubit bagian bawah perutnya yang sudah membengkak. Darah dan cairan bening yang kental mulai merembes dari celana roknya, menyebar di lantai keramik putih rumah sakit.
"Tolong! Sakit banget ini! Nanah ku keluar banyak!" teriaknya makin keras, namun tawa beberapa orang masih terus terdengar.
"Ha-ha-ha, udah penyakitan eh malah sok mau mukul orang. Kalo sakit ya sakit aja, nggak usah sok mau melawan!" celetuk salah satu pria pengunjung yang baru saja selesai mengantri obat.
Dokter Rahmat Wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir dan sedikit bingung ketika melihat cairan yang menyebar di lantai.
"Ini bahaya! Penyakit Bu bersifat menular, kita harus segera mengisolasi dia sebelum cairannya menyentuh pasien lain yang lemah imun!" ujar Dokter Rahmat dengan tegas, segera memanggil perawat untuk membawa strecher.
Namun Bu Sri menggeleng keras. "Tidak mau! Aku tidak mau di isolasi!"
Dokter Rahmat menghela napas dalam-dalam. Ia sudah menjelaskan berkali-kali tentang risiko penularan penyakit yang menyerang Bu Sri dan yang lain.
"Begini saja Bu. Jika Anda tidak ingin diisolasi, bagaimana kalau saya beri obat perawatan yang cukup, lalu Anda melakukan perawatan di rumah saja? Atau jika tidak puas dengan fasilitas rumah sakit ini, mungkin lebih baik Anda pindah ke rumah sakit besar seperti RSUD yang memiliki banyak fasilitas." kata dokter Rahmat. Kata-katanya disampaikan dengan sopan, namun terdengar tegas karena keadaan yang mendesak.
"Cih! Dasar dokter tidak tanggung jawab! Mau sampai kapan kami harus berpindah-pindah rumah sakit? Kamu pikir mudah cari uang untuk biaya perawatan dan transportasi?" omelnya sambil menepuk tangan di atas meja resepsionis.
"Ya mau bagaimana lagi, Pak? Kalian tidak mau diisolasi, sementara penyakit yang kalian derita bisa membahayakan banyak orang. Saya tidak punya pilihan lain selain menyarankan pindah atau rawat jalan saja di rumah atau pindah rumah sakit," jawab Dokter Rahmat dengan mengangkat bahu.
Ia sudah capek menghadapi sikap keras kepala beberapa pasien yang selalu menolak perawatan sesuai prosedur.
Kemarahan Pak Adi kemudian beralih ke arah Abram. Matanya memerah, karena baginya Abram lah sebagai penyebabnya.
... ⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya