Alicia Roses hidup di panti asuhan sejak dia berumur lima tahun, setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
Bibinya Melinda Stone merampas seluruh harta warisan milik Alicia dan membuang Alicia kecil ke panti asuhan.
Hidup selama dua puluh lima tahun dengan membawa dendam, untuk memuluskan rencana balas dendam nya Alicia menerima lamaran dari pria yang sangat terobsesi dengan nya.
Revano Ace Draco pria gila yang memiliki kekuasaan mengerikan di dunia gangster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
...****************...
Siang hari itu langit kota terlihat cerah.
Di dalam mansion keluarga Draco, suasana justru terasa jauh lebih tegang.
Ruang kerja Revano Ace Draco luas dan sunyi. Rak buku besar memenuhi dinding, sementara jendela kaca tinggi memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.
Hari ini tidak ada siapa pun di ruangan itu.
Hanya Revano dan Alicia Roses.
Revano duduk santai di kursi kerjanya, sementara Alicia berdiri di dekat meja besar di depannya.
Alicia tidak datang dengan pakaian santai seperti biasanya.
Hari ini ia terlihat jauh lebih serius.
Revano memperhatikan wajah Alicia beberapa detik lalu berkata dengan nada tenang.
"Pertemuan mendadak seperti ini biasanya berarti sesuatu yang penting."
Alicia langsung menjawab tanpa basa-basi.
"Memang penting."
Ia meletakkan sebuah flashdisk kecil di atas meja Revano.
Revano menatap benda itu sebentar.
"Apa itu?"
Alicia tidak langsung menjawab.
Ia justru menatap tajam ke arah Revano.
"Aku ingin menanyakan sesuatu dulu."
Revano menyilangkan tangannya.
"Tanyakan."
Alicia berbicara dengan nada serius.
"Seberapa besar pengaruh Proyek Helios di dunia yang kamu geluti?"
Ruangan itu langsung terasa lebih dingin.
Revano tidak langsung menjawab.
Ia menatap Alicia cukup lama.
Tatapannya tajam, seolah mencoba membaca pikiran wanita di depannya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Revano berkata pelan.
"Kau akhirnya sampai ke titik itu."
Alicia sedikit menyipitkan matanya.
Revano bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela.
Ia memandang kota di luar sambil berkata perlahan.
"Di dunia resmi.."
"Helios mungkin hanya dianggap rumor."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi di dunia bawah."
Revano menoleh ke arah Alicia.
"Itu adalah harta paling berbahaya yang pernah ada."
Alicia tidak berkedip.
Revano melanjutkan.
"Selama bertahun-tahun banyak kelompok mafia, kartel, bahkan elite global mencoba mencarinya."
Ia berjalan kembali ke meja.
"Mereka percaya bahwa Helios bukan sekadar senjata."
Revano menatap Alicia dengan serius.
"Itu teknologi yang bisa mengubah keseimbangan kekuatan dunia."
Alicia sedikit mengerutkan kening.
"Senjata seperti apa?"
Revano mengangkat bahu ringan.
"Tidak ada yang tahu pasti."
"Ayahmu sangat pandai menyembunyikan rahasia."
Ia lalu berkata pelan.
"Yang diketahui semua orang hanya satu."
Revano mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Alicia.
"Jika seseorang memiliki Helios."
"...dia bisa memegang kendali yang tidak dimiliki siapa pun."
Ruangan itu kembali sunyi.
Alicia menatap Revano dengan wajah yang mulai berubah.
Tatapannya perlahan dipenuhi kecurigaan.
Ia berkata pelan.
"Jadi..,"
"banyak orang mencarinya."
Revano mengangguk.
"Ya."
Alicia melanjutkan.
"Kelompok mafia."
"Elite global."
"Organisasi kriminal."
Ia berhenti sejenak.
Lalu matanya langsung menatap tajam ke arah Revano.
"Apa kamu juga salah satunya?"
Pertanyaan itu terdengar sangat langsung.
Revano tidak menjawab.
Ia hanya menatap Alicia.
Sunyi.
Beberapa detik yang terasa panjang berlalu.
Alicia mengangkat alis sedikit.
"Itu berarti aku benar."
Revano akhirnya tersenyum tipis.
Namun senyuman itu tidak sepenuhnya santai.
Alicia melanjutkan dengan nada datar.
"Jadi sejak awal, ini hanya permainan mu"
"kamu mendekatiku bukan hanya karena kebetulan."
Revano masih diam.
Alicia menyilangkan tangannya.
"Kamu sudah tahu siapa aku."
"Putri Dr. Adrian Roses."
Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke meja.
"Dan kamu berpikir aku adalah kunci untuk menemukan Helios."
Revano menghela napas pelan.
Akhirnya ia berkata.
"Aku tidak akan berbohong."
Alicia menunggu jawabannya.
Revano berkata dengan tenang.
"Ya."
"Aku memang mencari Helios."
Alicia tersenyum tipis.
Namun senyum itu tidak hangat.
"Akhirnya jujur."
Revano melanjutkan.
"Dan ya..,"
"aku juga berpikir kau mungkin bisa menemukannya."
Tatapan Alicia semakin tajam.
"Jadi aku hanya alat?"
Revano langsung menjawab.
"Tidak."
Alicia tertawa kecil sinis.
"Benarkah?"
Revano tidak tersinggung.
Ia hanya berkata pelan.
"Kalau kau hanya alat.."
"aku tidak akan membantumu sejauh ini."
Alicia menatapnya cukup lama.
Lalu ia berkata pelan.
"Membantu?"
Revano mengangkat alis.
"Polisi."
"Kecelakaan Devne."
"Semua bukti yang hilang."
Alicia sedikit terdiam.
Ia benar-benar tidak tahu tentang itu.
Revano berkata santai.
"Kalau aku tidak ikut campur."
"kau mungkin sudah ditangkap sekarang."
Alicia menyipitkan matanya.
"Kenapa?"
Revano menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Aku juga tidak sepenuhnya tahu."
Ia tersenyum kecil.
"Mungkin karena kau terlalu menarik untuk dibiarkan masuk penjara."
Alicia menghela napas pendek.
"Lelucon yang buruk."
Revano tertawa kecil.
Namun kemudian Alicia mengambil sesuatu dari tasnya.
Ia meletakkannya di meja.
Sebuah memory card kecil.
Revano langsung memperhatikan benda itu dengan serius.
Alicia berkata pelan.
"Aku menemukan ini."
Revano menatapnya tajam.
"Dari mana?"
Alicia menjawab singkat.
"Dari ayahku."
Mata Revano langsung berubah.
Alicia melanjutkan.
"Tersembunyi di dalam permata kalung ibuku."
Revano terdiam beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan.
"Itu berarti.., kau sudah mulai menyelidiki itu rupanya."
Alicia mengangguk sedikit.
"Mungkin ini adalah bagian dari Helios."
Ruangan itu kembali sunyi.
Revano menatap memory card itu dengan mata penuh perhatian.
Sementara Alicia menatap Revano dengan ekspresi dingin.
Lalu Alicia berkata perlahan.
"Jadi sekarang kita jujur saja."
"Kalau Helios benar-benar ada..,"
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Revano.
"Kau akan menggunakannya untuk apa?"
Revano tersenyum tipis.
Namun kali ini senyumnya jauh lebih gelap.
"Untuk menguasai dunia yang selama ini mencoba menguasai kita."
Alicia menatapnya tanpa emosi.
Pertemuan itu baru saja berubah dari kerjasama menjadi permainan kekuatan yang jauh lebih berbahaya.
" menguasai dunia..?, lelucon yang buruk."
...****************...