NovelToon NovelToon
Aku Menyerah!

Aku Menyerah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.

Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman Baru?

Ayra melangkahkan kaki jenjangnya menyusuri koridor sebuah mal. Cuaca siang itu terasa sangat terik, namun Ayra tak begitu memedulikannya. Hari ini dia harus berburu pakaian baru karena dalam beberapa hari ke depan, aktivitas perkuliahannya akan segera dimulai.

Saat tengah asyik memilah baju, tiba-tiba seorang perempuan mendekatinya dengan langkah yang sangat tenang.

"Ketemu lagi kita," sapanya. Ayra langsung menoleh dan sesaat ia tertegun melihat sosok itu. Ada firasat tidak enak yang mendadak melintas, namun kehadiran wanita itu yang begitu tenang membuat Ayra segera menepis pikirannya jauh-jauh.

"Mbak Marissa?"

Wanita itu menatapnya, lalu mengulas senyum yang terlihat sangat manis. Ayra sempat mengernyitkan dahi. Kemarin saat bertemu di restoran, wanita ini bersikap kurang ramah padanya. Dan sekarangpun Ayra merasa ada yang janggal karena binar ramah itu hanya berhenti di bibir, tak sampai ke matanya. Namun gerak-gerik Marissa begitu luwes seolah mereka sudah kenal sejak lama.

"Wow... kamu lagi borong nih?" ucap wanita itu sambil menyentuh bahu Ayra dengan akrab, sebuah gestur yang membuat Ayra sedikit kaku. Tapi Ayra tetap tersenyum tipis, mencoba bersikap sopan.

"Nggak juga, cuma cari baju untuk persiapan kuliah saja."

"Oh, kamu baru mau masuk kuliah? Kelihatan sih, kamu masih kecil. Ops, maksudku masih sangat muda," cetus Marissa dengan gaya centil, tapi masih enak dilihat, disertai tawa renyah yang terdengar tulus.

Sebenarnya kalimat itu yang terucap dari bibir Marissa terdengar biasa saja, namun ada sesuatu dalam cara Marissa menatapnya yang membuat Ayra merasa seperti sedang dinilai.

"Saya bukan mahasiswa baru, saya melanjutkan kuliah di semester enam," ralat Ayra sambil tangannya kembali meraba deretan kemeja yang ia incar.

Marissa menyapu deretan pakaian di depan mereka, sebelum akhirnya kembali tertuju pada wajah Ayra. Menatapnya lama, memperhatikan wajah Ayra dengan lebih intens, seakan ingin mengingat setiap inci wajah itu untuk benar-benar memahami seperti apa karakternya."

"Aku salut sama kamu, masih bersemangat menuntut ilmu. Padahal kebanyakan orang kalau sudah cuti pasti malas untuk meneruskan lagi. Kamu hebat, Ayra."

Ayra kembali membalas dengan senyum tipis. Tapi saat ia menatap balik wanita itu, batinnya tetap berbisik bahwa ada yang berbeda. Bukan keramahan yang wajar, melainkan keramahan yang terasa sudah dirancang dengan rapi.

"Gimana kalau aku bantu pilihkan baju yang cocok buat kamu? Kebetulan aku seorang Fashion Stylist. Anggap saja ini hadiah kecil dari teman baru yang ingin melihatmu tampil sempurna."

Ayra sedikit kaget, namun sebelum ia sempat menolak, Marissa sudah menarik satu set pakaian dengan gerakan yang sangat meyakinkan.

"Tentu, terima kasih banyak."

"Kamu harus tahu Ayra, di lingkungan baru dengan orang-orang baru, terkadang kita nggak pernah benar-benar tahu siapa yang ada di sekitar kita. Tapi kamu harus tetap menunjukkan siapa dirimu. Melalui cara berpakaian, orang bisa melihat kepribadianmu."

Ayra terkekeh kecil. Ia berusaha menepiskan segala kecemasan aneh yang tadi sempat menyergapnya.

"Iya, juga sih."

Marissa ikut tertawa. Suaranya kini terdengar lebih normal dan hangat.

Tangan Marissa meraih selembar kemeja putih berpotongan simpel namun terlihat elegan. Harganya sedikit mahal tapi masih relatif terjangkau. Ia menempelkan kemeja itu ke badan Ayra untuk mencocokkan ukurannya.

"Aku yakin kamu pasti cantik sekali pakai kemeja ini. Terlihat segar dan menunjukkan usiamu yang masih sangat... murni. Kalau boleh tahu, berapa usiamu sekarang, Ayra?"

"Dua satu, masuk dua dua beberapa bulan lagi," jawab Ayra jujur. Marissa mengangguk perlahan, seulas senyum tipis tersungging di wajahnya yang sangat tenang. Tangannya kembali bergerak lincah mengambil beberapa atasan lain, rok, serta celana.

"Ini, kamu bisa cobain di kamar pas," pintanya. Nadanya lembut, namun entah kenapa terdengar seperti sebuah perintah yang tidak menerima penolakan.

Tanpa banyak kata, Ayra menurut. Ia melangkah menuju kamar pas dan mencoba satu per satu pakaian itu. Ternyata pilihannya sempurna. Ayra sangat menyukai bayangannya di cermin.

Sesaat dia memperhatikan label harga pada baju-baju tersebut. Cukup mahal, namun sebelum otaknya merasa terbebani oleh banyaknya uang yang harus dia keluarkan, Ayra pun segera melangkah keluar.

Ternyata Marissa sudah menunggu tepat di depan pintu, menatapnya lekat. Eh tidak, tapi menatapnya tajam!

"Gimana? Suka, kan?"

Sesaat Ayra gugup. Tapi kemudian mengangguk senang sambil tersenyum lebar.

"Ya sudah, kamu bawa semua baju itu ke kasir. Tapi kamu tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun." Perintah wanita itu. Tentu saja kalimat itu membuat Ayra tertegun heran.

"Ayo cepat, setelah ini kita makan siang bareng. Aku tidak suka menunggu lama. Anggap saja ini perayaan kecil untuk pertemanan kita yang baru dimulai."

"Tapi..."

"Nggak ada tapi-tapian, Ayra. Semua pakaian di gerai ini adalah milikku. Kamu hanya perlu memakainya dan terlihat cantik."

Meskipun suaranya sangat manis, jari-jari Marissa mencengkeram tas kecil di lengannya sedikit lebih kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya terus mengunci pergerakan Ayra.

***

"Aku sangat senang bisa ketemu kamu lagi," ucap Marissa saat keduanya kini sudah berada di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari mall tadi.

"Rasanya… kamu adalah tipe orang yang sangat mudah untuk aku ingat." Lanjutnya.

Ayra mengangguk sopan, meski tiba-tiba ia merasa ada teka-teki dibalik kata-katanya.

"Terima kasih, Mbak."

Marissa tersenyum lagi. Lebih lebar namun sangat rapi dan sangat... misterius. Setidaknya itu yang dirasakan Ayra.

"Kamu sudah lama kenal dengan Mas Zavian?"

Ayra terkejut mendapatkan pertanyaan itu. Meski sebelumnya ia sudah menduga kalau Marissa akan menanyakan hal ini.

"Tidak. Kami baru berkenalan dan itupun secara tidak sengaja di sebuah supermarket." Kata Ayra tanpa bermaksud menceritakan kronologinya secara lengkap.

"Oh, aku kira sudah lama. Soalnya mas Zavian sudah berani menggandeng tangan kamu seperti pasangan yang sedang berpacaran." Kekehnya, sebelum menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan gaya anggun.

"Itu... itu hanya refleks saja." Jawab Ayra gugup. Ia pun pura-pura sibuk dengan makanannya. Namun yang sebenarnya merasa tidak enak karena Marissa adalah adik kandung dari almarhumah istri Zavian.

Marissa hanya manggut-manggut dengan senyum yang tidak memudar, seolah sedang menikmati kegugupan Ayra. Keheningan sejenak menyelimuti meja mereka.

Untuk mengusir rasa canggung yang makin terasa, Ayra mengalihkan tatapannya ke luar jendela besar di samping meja mereka, yang fiew-nya mengarah langsung ke tempat parkir..

Saat itulah, mata Ayra menangkap sesuatu yang tak terduga. Dia melihat Lyztha baru saja keluar dari sebuah mobil mewah bersama seorang laki-laki paruh baya berperut buncit. Mereka tampak sangat akrab, bahkan laki-laki itu merangkul pinggang Lyztha tanpa sungkan, sebelum berjalan masuk ke dalam kafe.

Kening Ayra berkerut dalam. Entah siapa laki-laki itu, yang pasti sosoknya benar-benar asing dan jelas sekali bukan Rayyan.

"Ada apa?" Tanya Marissa. Ia memergoki perubaha di raut wajah Ayra. Matanya ikut mengarah pada objek yang menjadi perhatian wanita muda itu. Kening ya pun sedikit berkerut.

"Siapa dia?" Tanya Marissa lagi. Tapi Ayra segera menggeleng.

"Bukan siapa-siapa." Katanya cepat.

Marissa terdiam, tapi ia tak bertanya lagi.

Hingga makanan mereka habis dan Marissa sempat pergi ke toilet agak lama pun , mereka lagi membicarakan hal serius. Hanya bicara yang ringan-ringan saja.

Dan saat akan pulang, Marissa memaksa mengantarkan Ayra pulang dengan berbagai alasan. Karena tidak enak, Ayra pun tak berusaha menolak lagi.

1
Tata Hayuningtyas
cerita nya pasti pergi ke toilet trs diculiklah...dibius lah....kaya ga ada yg lain gitu thor
Ma Em
Ayra kamu hrs percaya diri bersama Zavian jgn minder tunjukan aura dan pesonamu agar orang2 merasa kagum padamu dan tdk ada orang yg merendahkan mu .
Dini Yulianti
ayra kamu masih masa iddah mending jaga jarak dulu sama yg namanya laki laki bialng sama Zavian kalo mau jaga jarak sampe masa iddah selesai.
Brilliante Brillia: sudah slsai masa iddahnya kk🤭🙏
total 1 replies
Ma Em
Ayra jgn percaya kalau Marisa mendekatimu Ayra karena Marisa dekat dgn Ayra bkn bermaksud baik tapi mungkin ada yg akan Marisa lakukan pada Ayra , lbh baik jaga jarak jgn mau diajak untuk berteman takut nanti Marisa mencelakai atau mungkin jebak Ayra .
Erchapram
Bagus banget
kalea rizuky
sejauh ini bagus MC gk menye menye g lemah
Dede Dedeh
ulat keket mah gigih.......
Dewi Anjani
ayra perempuan yg tangguh ya,,keren
Yani
ayra jadi janda harus berkelas,jgn kayak si artis viral ,dijandakan suami malah jual diri Ama laki org,ga inget rasanya sakit diselingkuhin.tolong ya min,ayra biar bisa disandingin ama zavian yg ganteng+ CEO 🥰🥰
lanjut min ceritanya
aku
definisi cerdas bnr 👍👍👍
partini
lanjut
Brilliante Brillia
Assalamualaikum wrwb.

Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Dini Yulianti
semoga rumahnya kebakaran dan mobilnya di gondol maling
Ma Em
Semangat Ayra , semoga kamu dapatkan harta Gono gini yg Rayyan pertahankan dan menang dgn hasil yg memuaskan , hancurkan kesombongan Rayyan dan ibunya juga selingkuhan nya .
Brilliante Brillia: Doain ya🤭
total 1 replies
Ma Em
Semoga Ayra berjodoh dgn Zavian setelah cerai dgn Rayyan .
partini
wah ada bocil
Brilliante Brillia: bocilnya ganteng ky papanya 🤭
total 1 replies
partini
lebih cepat lebih baik
partini
mau menggatal lagi ni Kunti,so kita lihat MR CEO apa dia berkualitas atau Gampng kerayu Kunti
Brilliante Brillia
Bayangkan, bagaimana rasanya hamil di tengah pernikahan yang dingin?

Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?

Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.

Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?

Tentu saja tidak!

Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?

Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"
Brilliante Brillia
Assalamualaikum, para readers yang berkesempatan singgah di cerita ini. terimakasih banyak. ini cerita pertama saya di apk NovelToon ini. semoga karya saya bisa diterima dengan baik. terimakasih🙏🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!