Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki yang tak pernah mencintai dan dicintai
“Aku memang belum siap.”
Kalimat itu masih menggantung di antara kami seperti benang tipis yang siap putus kapan saja.
Aku duduk berhadapan dengan Ashar di ruang tamu.
Lampu utama tidak dinyalakan, hanya lampu sudut yang membuat bayangan wajahnya terlihat lebih tajam dan lelah.
Belum siap.
Kata itu bisa berarti banyak hal.
Belum siap menjadi suami.
Belum siap menyentuhku.
Atau… belum siap menerima bahwa ia menikah dengan perempuan.
Jantungku berdetak keras, tapi kali ini aku memaksa diriku untuk tidak langsung menyimpulkan.
“Ashar,” suaraku lebih tenang dari yang kurasakan, “belum siap untuk apa?”
Ia menghela napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihatnya benar-benar gelisah.
Tangannya saling bertaut, lalu terlepas.
Rahangnya menegang. Tatapannya tidak lagi setenang biasanya.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi suami yang benar,” katanya akhirnya.
Aku terdiam.
Itu bukan jawaban yang kuduga.
“Aku tidak pernah… belajar.”
“Belajar?” ulangku pelan.
Ia mengangguk. “Tentang bagaimana memperlakukan perempuan.
Tentang bagaimana menyentuh seorang istri dengan benar.
Tentang bagaimana membuatmu merasa diinginkan tanpa membuatmu merasa tidak dihargai.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu yang tak kasat mata.
“Aku takut salah, Mala.”
Takut salah?
“Aku takut jika aku terlalu cepat, kau akan merasa terpaksa. Jika aku terlalu lambat, kau akan merasa tidak diinginkan.”
Aku tidak menyadari air mataku mulai menggenang.
“Jadi… kamu menahanku?”
“Aku menahan diriku.”
Suasana kembali hening.
Ia melanjutkan, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.
“Aku tidak ingin menyentuhmu hanya karena nafsu. Aku ingin itu terjadi ketika kau benar-benar nyaman. Tapi setiap kali aku ingin memulai… aku justru takut.”
“Takut apa?”
“Takut kau melihatku sebagai lelaki yang kasar. Takut kau merasa aku hanya menginginkan tubuhmu.”
Aku menatapnya lekat-lekat.
Lelaki di hadapanku bukan terlihat seperti pria yang menyembunyikan orientasi seksualnya.
Ia terlihat seperti anak kecil yang takut melakukan kesalahan.
“Tapi kamu bahkan tidak pernah mencoba,” bisikku lirih.
Wajahnya berubah. Ada sesuatu yang terluka di sana.
“Aku mencoba, Mala.”
Aku terdiam.
“Malam pertama itu, ketika kamu keluar dari kamar mandi… aku hampir saja kehilangan kendali.”
Jantungku berdegup tak karuan.
“Tapi aku melihat kamu gugup. Aku melihat tanganmu gemetar ketika menyentuh rambutmu. Dan aku berpikir… mungkin kamu belum siap.”
Aku teringat malam itu.
Aku memang gugup. Sangat sangat gugup.
“Setiap malam setelah itu aku ingin memelukmu. Tapi aku takut jika aku melangkah terlalu jauh, kamu akan merasa terpaksa karena status kita.”
“Aku istrimu, Ashar.”
“Aku tahu.”
“Dan aku menikah denganmu bukan karena terpaksa.”
Ia menunduk.
“Itu yang membuatku semakin takut.”
Aku mengerutkan kening.
“Aku tidak ingin menjadi alasan kamu menyesal.”
Kata-kata itu terasa seperti pisau halus yang menggores pelan.
“Kenapa kamu berpikir aku bisa menyesal?”
Ia terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Karena aku tidak pandai menunjukkan perasaan.”
Aku duduk lebih dekat padanya.
“Raka,” ucapku hati-hati.
Ia mengangkat wajahnya.
“Pesannya… tentang kamu belum siap.”
Ashar menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Raka satu-satunya orang yang tahu aku selalu canggung dengan perempuan.”
Aku menunggu penjelasan lebih lanjut.
“ayahku meninggal ketika aku kecil,” katanya pelan.
Aku tersentak kecil. Ia tidak pernah menceritakan ini sebelumnya.
“Ibuku wanita karir yang terlalu sibuk. Aku dibesarkan oleh kakek dan paman.
Lingkunganku hampir semuanya laki-laki.
Sekolahku dulu juga mayoritas laki-laki.”
Ia tersenyum miris.