"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28. Gema Keadilan di Ruang Sidang
Pintu kayu jati yang sangat besar dan berat itu akhirnya terbuka lebar. Hana Tanaka melangkah masuk ke dalam ruang sidang utama Pengadilan Negeri Tokyo. Ruangan itu terasa sangat dingin dan juga memiliki langit-langit yang sangat tinggi.
Bau kayu tua dan juga aroma bahan kimia pembersih lantai tercium sangat tajam. Hana merasakan ribuan pasang mata sedang menatap ke arah punggungnya yang kecil. Dia mencoba untuk tetap berjalan tegak dengan kepala yang terangkat sangat mantap.
Kaito Fujiwara berjalan tepat di sampingnya dengan ekspresi wajah yang sangat tenang. Kaito mengenakan setelan jas berwarna gelap yang membuatnya terlihat jauh lebih dewasa. Mereka berdua duduk di kursi kayu yang sudah disediakan oleh petugas pengadilan.
Hana melihat ke arah sisi kanan ruangan yang dipenuhi oleh kursi para terdakwa. Haruo Fujiwara duduk di sana dengan dikelilingi oleh sekelompok pengacara yang sangat mahal. Haruo mengenakan pakaian yang sangat rapi dan juga terlihat sangat berwibawa sekali.
Dia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah yang penuh dengan rasa penyesalan. Mata Haruo menatap tajam ke arah Kaito dengan penuh rasa benci dan amarah. Kaito membalas tatapan itu dengan keberanian yang sangat luar biasa besar.
Hana bisa merasakan ketegangan yang sangat hebat sedang memenuhi seluruh penjuru ruangan. Udara di dalam ruang sidang ini terasa sangat tipis dan juga menyesakkan dada.
Tiga orang hakim masuk ke dalam ruangan dengan jubah hitam yang sangat resmi. Semua orang di dalam ruangan segera berdiri untuk memberikan rasa hormat yang mendalam. Hakim ketua mengetukkan palu kayu ke atas meja dengan suara yang sangat keras.
Suara dentuman palu itu menandakan bahwa persidangan kasus gacha kehidupan resmi dimulai. Hana merasakan jantungnya berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging dengan sangat bising.
Dia menggenggam ujung kemejanya untuk menenangkan tangannya yang mulai gemetar kembali. Jaksa Hiroshi Tanaka berdiri dari kursinya dan dia mulai membacakan surat dakwaan. Suara Jaksa Hiroshi terdengar sangat lantang dan juga memenuhi seluruh sudut ruangan sidang.
Jaksa Hiroshi menjelaskan secara detail mengenai skandal manipulasi nilai yang sangat besar. Dia menyebutkan bahwa yayasan sekolah elit telah menghancurkan masa depan ribuan siswa berbakat.
Sistem gacha kehidupan telah digunakan untuk memeras uang dari para orang tua kaya. Siswa dari keluarga miskin sengaja diberikan nilai yang sangat rendah secara sistematis. Jaksa Hiroshi menunjukkan beberapa grafik di layar besar yang ada di dinding ruangan.
Grafik itu memperlihatkan perbedaan nilai yang sangat mencolok antara siswa kaya dan miskin. Semua orang di galeri penonton mulai berbisik dengan nada bicara yang sangat terkejut. Hana melihat beberapa orang tua siswa mulai menangis saat mendengar penjelasan tersebut.
Pengacara pembela Haruo Fujiwara segera berdiri dan dia mengajukan keberatan yang sangat keras. Dia mengatakan bahwa data yang diajukan oleh jaksa adalah hasil rekayasa ilegal.
Pengacara itu menuduh Hana Tanaka telah melakukan pencurian data dari server sekolah. Dia mencoba untuk menyerang kredibilitas Hana sebagai seorang saksi kunci di pengadilan. Hana merasa wajahnya menjadi sangat panas karena dia merasa sangat tersinggung sekali. Namun dia teringat pada pesan Jaksa Hiroshi untuk tetap tenang dan fokus.
Hana menarik napas panjang dan dia mencoba untuk mengendalikan emosinya yang meluap. Dia tahu bahwa ini adalah taktik kotor dari pihak lawan untuk menjatuhkannya.
Kaito Fujiwara memegang tangan Hana di bawah meja untuk memberikan dukungan moral. Kaito berbisik pelan bahwa mereka tidak akan pernah bisa mengalahkan sebuah kebenaran. Jaksa Hiroshi kemudian meminta izin kepada hakim untuk memanggil saksi pertama ke depan.
Hana Tanaka diminta untuk berjalan menuju kursi saksi yang berada di tengah ruangan. Dia melangkah dengan hati-hati dan dia duduk di kursi kayu yang terasa sangat keras. Petugas pengadilan meminta Hana untuk mengangkat tangan kanan dan mengucapkan sumpah.
Hana mengucapkan sumpah tersebut dengan suara yang sangat jelas dan tidak bergetar. Dia sudah siap untuk menceritakan segala hal yang dia alami selama ini.
Hana mulai bercerita tentang awal mula dia menemukan kejanggalan pada nilai ujiannya. Dia menceritakan bagaimana dia sering mendapatkan nilai buruk meskipun sudah belajar sangat keras.
Hana juga menceritakan tentang perlakuan diskriminatif yang dia terima dari para guru. Suara Hana terdengar sangat jujur dan juga sangat menyentuh hati para pendengarnya. Dia menceritakan tentang mimpinya yang hampir hancur karena sistem yang sangat tidak adil. Hana meneteskan air mata saat menceritakan perjuangan ibunya untuk membiayai sekolahnya.
Ruang sidang menjadi sangat sunyi karena semua orang terpesona oleh cerita Hana. Bahkan beberapa petugas keamanan terlihat menundukkan kepala mereka karena merasa sangat iba.
Pengacara Haruo Fujiwara mulai memberikan pertanyaan yang sangat menyudutkan kepada Hana Tanaka. Dia bertanya mengapa Hana tidak melaporkan hal ini sejak awal kepada pihak sekolah.
Dia menuduh Hana hanya ingin mencari perhatian publik dengan cara membuat kebohongan. Hana menjawab bahwa dia sudah mencoba melaporkan hal ini namun dia selalu diancam. Dia menceritakan tentang Kenjiro Sato yang harus kehilangan nyawanya karena masalah ini.
Nama Kenjiro Sato membuat suasana di dalam ruangan menjadi semakin sangat emosional. Hana menekankan bahwa dia berjuang demi keadilan bagi temannya yang sudah tiada. Dia tidak akan membiarkan kematian Kenjiro menjadi sebuah hal yang sia-sia saja.
Setelah Hana selesai memberikan kesaksian, giliran Yuki Nakamura yang dipanggil ke depan. Yuki membawa sebuah laptop khusus yang berisi kode-kode pemrograman yang sangat rumit.
Dia menunjukkan bagaimana algoritma gacha kehidupan bekerja di dalam sistem komputer sekolah. Yuki menjelaskan bahwa sistem tersebut secara otomatis menurunkan nilai siswa tertentu setiap hari. Dia menunjukkan bukti adanya perintah manual dari akun pribadi Haruo Fujiwara di sana.
Data digital itu tidak bisa dibantah lagi karena memiliki jejak digital yang sangat kuat. Haruo Fujiwara terlihat mulai gelisah dan dia sering membisikkan sesuatu kepada pengacaranya. Wajah Haruo yang tadinya terlihat tenang sekarang mulai berubah menjadi sangat pucat.
Yuki Nakamura memutar sebuah rekaman suara yang diambil secara rahasia di kantor yayasan. Rekaman itu memperlihatkan percakapan Haruo dengan beberapa kepala sekolah elit di Tokyo.
Mereka sedang membicarakan tentang tarif yang harus dibayar untuk mengubah nilai ujian nasional. Suara Haruo terdengar sangat jelas saat dia tertawa meremehkan nasib para siswa miskin. Dia mengatakan bahwa anak-anak miskin memang ditakdirkan untuk tetap berada di bawah.
Pernyataan tersebut memicu kemarahan yang sangat luar biasa dari para penonton sidang. Hakim ketua terpaksa mengetukkan palunya berkali-kali untuk menenangkan suasana yang riuh. Hana merasa sangat puas karena kejahatan Haruo akhirnya terungkap di depan publik.
Kaito Fujiwara kemudian dipanggil sebagai saksi terakhir untuk memberikan keterangan penutup. Kaito berdiri dengan sangat gagah di hadapan ayahnya yang sedang duduk terdiam. Dia menyerahkan sebuah buku catatan kecil yang berisi daftar aliran dana ilegal.
Buku itu adalah milik Haruo Fujiwara yang selama ini disimpan di dalam brankas rumah. Kaito menceritakan bagaimana dia merasa sangat menderita karena hidup dalam kebohongan.
Dia ingin mengakhiri semua penderitaan ini dengan cara memberikan kesaksian yang jujur. Kaito menyatakan bahwa dia siap melepaskan seluruh harta warisannya demi kebenaran. Pernyataan Kaito membuat Haruo Fujiwara berdiri dan dia berteriak dengan sangat histeris.
Haruo menuduh Kaito telah mengkhianati darah dagingnya sendiri demi seorang gadis miskin. Dia berteriak bahwa Kaito adalah anak yang tidak tahu berterima kasih sama sekali. Petugas keamanan segera memegang tubuh Haruo agar dia tetap berada di kursinya.
Kaito menatap ayahnya dengan penuh rasa kasihan dan juga penuh rasa sedih. Dia mengatakan bahwa dia melakukan ini karena dia sangat menyayangi ayahnya. Kaito ingin ayahnya segera menyadari kesalahannya sebelum semuanya menjadi terlambat.
Suasana di dalam ruang sidang menjadi sangat tegang dan juga sangat dramatis. Hana merasa bangga karena Kaito memiliki keberanian yang jauh lebih besar dari siapa pun.
Di luar gedung pengadilan, ribuan orang terus berteriak melalui alat pengeras suara. Mereka bisa mendengar jalannya persidangan melalui siaran radio yang diputar sangat keras. Setiap kali ada bukti baru yang terungkap, massa akan bersorak dengan sangat meriah.
Mereka menuntut agar hukuman yang sangat berat diberikan kepada Haruo Fujiwara. Polisi anti huru-hara terus berjaga di sekitar gerbang untuk mencegah kerusuhan massa. Akane Sato terus mengunggah setiap detail kejadian di dalam ruang sidang ke internet.
Informasi tersebut segera menyebar ke seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat sekali. Publik dunia sekarang sudah mengetahui betapa busuknya sistem pendidikan di sekolah elit itu.
Ren Ishida duduk di kursi penonton sambil terus memperhatikan gerak-gerik pengawal Haruo. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan posisi duduk para pria berjas hitam itu. Ren melihat salah satu pria sedang meraba saku jasnya dengan sangat mencurigakan.
Dia segera memberikan isyarat kepada petugas keamanan pengadilan yang berada di dekatnya. Ternyata pria tersebut membawa sebuah botol kecil berisi cairan kimia yang berbahaya. Petugas segera meringkus pria itu sebelum dia sempat melakukan aksi yang nekat.
Kejadian ini membuat pengamanan di dalam ruang sidang menjadi semakin diperketat. Hana merasa beruntung karena Ren selalu waspada terhadap segala macam ancaman.
Persidangan hari pertama akhirnya ditutup oleh hakim ketua pada sore hari yang cerah. Hakim menyatakan bahwa sidang akan dilanjutkan besok pagi untuk mendengarkan pembelaan.
Haruo Fujiwara segera dibawa keluar dari ruangan dengan tangan yang diborgol sangat erat. Hana melihat Haruo berjalan dengan kepala yang tertunduk untuk pertama kalinya hari ini. Kaito mendekati Hana dan dia memeluk bahu Hana dengan penuh rasa haru.
Mereka telah berhasil melewati rintangan pertama yang sangat sulit dan penuh tekanan. Yuki dan Akane segera bergabung dengan mereka sambil membawa kabar baik dari media. Mereka berlima merasa sangat lega karena beban berat di hati mereka mulai berkurang.
Mereka berjalan keluar dari gedung pengadilan dengan pengawalan yang sangat ketat sekali. Ribuan orang menyambut mereka dengan sorakan yang sangat membahana dan meriah.
Hana Tanaka merasa seperti seorang pahlawan meskipun dia hanya seorang remaja biasa. Dia melambaikan tangannya ke arah kerumunan massa dengan senyum yang sangat tulus. Hana menyadari bahwa perjuangan ini telah menginspirasi banyak orang untuk bersikap jujur.
Dia tidak lagi merasa menjadi korban dari undian nasib gacha kehidupan. Hana telah membuktikan bahwa usaha keras dan kejujuran bisa merubah garis takdir. Dia merasa sangat bahagia karena ibunya pasti melihat kejadian ini dari televisi.
Malam itu mereka menginap kembali di gedung kejaksaan agung untuk menjaga keamanan. Mereka makan malam bersama dengan suasana yang jauh lebih ceria dari malam sebelumnya.
Hana menceritakan betapa takutnya dia saat duduk di kursi saksi tadi siang. Namun dukungan dari teman-temannya membuat dia merasa sangat kuat dan berani. Mereka membicarakan tentang rencana mereka setelah kasus ini benar-benar selesai nantinya.
Hana ingin melanjutkan sekolahnya di bidang hukum agar bisa membantu orang miskin. Yuki ingin mengembangkan aplikasi pendidikan yang transparan bagi seluruh siswa di Jepang. Akane ingin menulis novel yang berdasarkan kisah nyata perjalanan hidup mereka berlima.
Kaito Fujiwara duduk di teras gedung sambil menatap langit malam yang sangat indah. Dia merasa sangat tenang karena dia sudah melakukan hal yang benar bagi hidupnya. Kaito berjanji akan selalu menemani Hana dalam setiap langkah perjuangan selanjutnya.
Dia merasa telah menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya melalui sebuah persahabatan sejati. Hana mendekati Kaito dan dia duduk di sampingnya sambil menikmati angin malam. Mereka berdua terdiam sejenak sambil meresapi kebahagiaan kecil yang mereka miliki.
Dunia mungkin masih penuh dengan ketidakadilan yang sangat besar dan sangat rumit. Namun mereka tahu bahwa mereka memiliki kekuatan untuk menghadapinya bersama-sama selamanya.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍