Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Penyesalan Suwanto
Dengan ragu sore itu Suwanto mengendarai motornya pulang ke rumahnya. Pintu depan terbuka, tapi tidak ada orang satu pun. Rupanya semua sedang ada di kamar Cu Niang dan sedang ngobrol-ngobrol santai dengan istri Cu Niang yang semakin tampak bugar.
“Pa,” teriaknya.
Dari dalam kamar Cu Niang tergopoh-gopoh keluar. “Anak sialan, mau bikin ribut apa lagi, lu?” kata Cu Niang dengan nada tinggi.
“Pa,” kata istri Cu Niang. “Jangan kasar-kasar, bagaimanapun dia anak kita.”
“Pa, aku menyesal dan minta maaf sudah sering bikin keluarga ini,” kata Suwanto. Mulan dan mamanya langsung keluar kamar.
“Apa yang membuatmu berubah, Wan?” kata istri Cu Niang alias mama Suwanto sambil memeluk anaknya yang tersesat itu sambil menangis.
Suwanto kemudian balas memeluk mamanya dan Mulan sekaligus.
“Wanto minta maaf, Ma,” kata Suwanto dengan terpatah-patah menahan tangis. “Semalam Suwanto nggak bisa tidur, terus berpikir ini semua salah Wanto.”
Cu Niang yang semula berkeras ikut menangis dan memeluk Suwanto. “Maafkan papa, Wan. Papa sudah terlalu keras sampai mengusirmu.”
Keempat keluarga sederhana itu lalu saling berpelukan dalam tangis bahagia.
“Wanto minta maaf, Wanto tidak peduli waktu mama sakit,” kata Wanto. “Wanto juga nggak peduli waktu mama sembuh.”
“Wanto,” kata mamanya sambil sesenggukan menahan tangis.
“Mulan, koko minta maaf nggak pernah bantuin kamu njagain mama waktu mama sakit,” ujar Wanto pelan.
“Sudah, ko, jangan ungkit-ungkit lagi,” bisik Mulan dalam tangis sambil terus memeluk koko, papa, dan mamanya. “Yang penting melihat ke depan, jangan melihat ke belakang.”
“Sebentar lagi Randy datang mau ngajak kita makan,” kata Cu Niang setelah mampu menguasai dirinya. “Kau minta maaflah ke Randy, Wan. Karena kamu pernah bertengkar sama dia, padahal dia telah menyembuhkan mamamu.”
“Baik, Pa,” kata Suwanto sambil melepaskan pelukannya. “Wanto harus mandi dulu, dari kemarin sore sampai hari ini Wanto belum mandi.”
“Pantes, kirain ada yang nyambel terasi, ternyata ko Wanto,” canda Mulan sambil tersenyum kecil.
“Gua jitak lu,” balas Wanto kemudian menyiapkan handuk dan pakaian ganti. Setelah suasana haru itu perlahan mereda, Suwanto masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu, di tempat lain, Randy sudah berada di dalam mobilnya, melaju pelan menyusuri jalanan sore yang mulai lengang.
Beberapa pedagang asongan dan pengamen mendekati mobilnya saat lampu merah menyala. Randy meminta seorang pengamen menyanyikan lagu lawas kesukaannya, “You’re Beautiful” yang dinyanyikan James Blunt.
“You’re beautiful, you’re beautiful tonight…,” belum selesai menyanyikan lagu itu, lampu lalu lintas telah berubah hijau, buru-buru Randy memberi uang sepuluh ribuan kepada pengamen itu.
“Terima kasih, Mas,” kata Randy kemudian memacu mobilnya menuju Petak Sembilan. Pengamen itu hanya membungkuk dan melepas topinya sebagai tanda terima kasih.
Dalam waktu sepuluh menit dia tiba di Petak Sembilan dan memarkirkan mobilnya di sebuah ruko lalu berjalan menyusuri gang-gang kecil ke rumah Mulan.
“Permisi,” kata Randy mengetuk pintu rumah Mulan dengan pelan.
“Randy, mari masuk dan duduk dulu, kita semua sedang bersiap-siap.”
Tak menunggu lama, keluarlah Mulan yang sudah berdandan tipis dengan memakai kaos dan jeans kasual. Tampak sederhana, namun begitu cantik, secantik bintang film Hongkong. Mulan kemudian menyalami Randy, dan terasa tangannya hangat dan seperti ada ribuan sengatan listrik saat menyembuhkan orang, tapi ini sensasinya beda. Bukan sensasi penyembuhan yang sering dia rasakan. Nggak tahu bedanya apa, pokoknya beda.
“Apa kabar, Rand?” sapa Mulan sambil tersenyum. Randy sampai tak sanggup menatap senyuman itu, dan mengarahkan pandangan ke mama Mulan yang juga keluar kamar dengan dandanan yang tak kalah cantik pula.
“Kabar baik, Lan,” jawab Randy yang hatinya masih belum sanggup menatap Mulan. “Mari kita jalan sekarang kalau sudah siap? Keburu kemalaman.”
“Tunggu sebentar, ada satu lagi yang mau ikut,” jawab Cu Niang. “Nyantai dulu.”
Mulan lalu memberikan sebotol jus kiam bwe yang segar buat Randy. “Silakan diminum, senang yang asem-asem atau yang manis-manis,” goda Mulan sambil tersenyum yang bikin Randy makin grogi.
“Kalau keaseman perut nggak kuat, bisa maag, kalau kemanisan juga bisa diabetes,” jawab Randy sekenanya sambil membalas senyum Mulan.
Tak lama kemudian Wanto keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, hanya memakai celana jeans belelnya dan matanya beradu pandang dengan Randy.
Suwanto mendekat ke Randy, Randy siap-siap dengan kemungkinan terburuk, sedangkan Cu Niang dan istrinya duduk agak jauh dari posisi mereka, sedangkan Mulan yang duduk lebih dekat dengan Randy dan Suwanto terkesiap dan terkejut.
Ternyata Suwanto mengulurkan tangan, menjabat tangan Randy yang disambut Randy dengan canggung, karena tidak menyangka uluran tangan persahabatan dari Suwanto ini.
“Sorry, Rand,” tak disangka-sangka Suwanto mengucapkan permintaan maaf kepada Randy. “Aku terbawa emosi.”
“Sama-sama, Wan,” ujar Randy menjabat erat tangan Suwanto. “Nggak ada dendam di antara kita.”
Mulan yang lega melihat mereka saling minta maaf dan berjabat tangan erat itu pun akhirnya tersenyum lebar. Demikian juga Cu Niang dan istrinya.
“Ayo kita jalan sekarang,” kata Randy. “Takut kemalaman, ikut ya, Wan. Kita makan seafood.”
“OK, tapi tunggu sebentar, ya,” ujar Suwanto. “Aku pakai pakaian dulu.”
“Yang enak mana, Om, di sini?” tanya Randy sembari menunggu Suwanto berpakaian.
“Di Petak Enam ada pusat kuliner enak,” jawab Cu Niang. “Kita jalan aja, nggak sampai 5 menit kok.”
“Tante kuat jalan kaki?” tanya Randy.
“Sudah kuat kok, Rand,” kata istri Cu Niang. “Asal jalan pelan-pelan.”
“Ada tiga lelaki ini kok, Ma,” canda Mulan sambil tertawa pelan. “Mereka siap menggendong mama kalau capek nanti.”
Tak lama Suwanto selesai berpakaian dan akhirnya mereka pun jalan bersama-sama dengan pelan. Randy berada di belakang mama Mulan berjalan bersama Suwanto, sementara Mulan dan papanya ada di samping-sampingnya. Kadang Randy memegang tubuh mama Mulan yang tersandung aspal yang tidak rata, menyentuh tangan Mulan yang menggandeng mamanya.
Mereka saling memandang, lalu Mulan menunduk dan tersenyum malu.
Tidak sampai 5 menit, mereka sampai di pusat kuliner Petak Enam yang lumayan ramai malam itu, banyak keluarga dan pasangan yang menghabiskan malam panjang di pusat jajanan itu. Asap dari makanan mengepul dari beberapa penjaja makanan, dan aroma aneka kuliner di tempat itu begitu menggoda.
Randy tak lupa mengambil beberapa spot foto yang menarik, dan dengan sembunyi-sembunyi dia juga mengambil foto candid Mulan yang mukanya bercahaya warna-warni tertimpa cahaya lampu di pusat kuliner tersebut.
“Kita duduk di sini aja,” ujar Randy dan memesan makanan.
Tiba-tiba ponsel Suwanto berdering, ada telepon masuk dari Rody. Suwanto segera berdiri dan permisi untuk pergi sebentar karena harus berbicara di telepon.
“Sabar, Rod. Gua lagi usaha nih, bikin strategi. Kasih waktu gua sebulan,” ujar Suwanto kepada Rody.
“Sabar-sabar melulu,” jawab Rody di seberang telepon. “Ingat bunga utang lu jalan terus. Satu bulan. Jangan sampai gua yang datang ke rumah lu.”
Dan telepon pun ditutup, tinggal Suwanto yang menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong.
Menurut kalian, maafnya Suwanto kepada keluarganya dan Randy apakah tulus atau bagian dari strategi?