Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 24
"Kamu mau kemana?" tanya Gavin saat melihat Ayana sudah bersiap dengan Pakaian casualnya. Ayana terlihat sangat cantik, apalagi dengan postur tubuhnya yang mirip dengan model sehingga membuat Gavin terlihat kesal.
"Apa kamu mau bertemu dengan Si Reiner itu?" tanya Gavin kesal saat Ayana tidak mendengar pertanyaannya dan malah berlalu sambil mengambil kunci motornya.
"Bukan urusanmu Pak Gavin. Bukankah aku sudah mengatakannya tadi kalau aku ada urusan pribadi yang harus segera aku kerjakan. Bahkan sebelum kita melakukan pernikahan ini aku sudah memiliki semua jadwal dalam hidupku! Tolong jangan terlalu membebani aku! Toh aku bukan istri yang kamu inginkan. Cukup kamu mengikat aku dalam pernikahan ini karena alasan konyolmu! Lagi pula kamu akan segera kembali kepada Vania!" jawab Ayana dingin.
Gavin tak bisa membalas ucapan Ayana. Lidahnya terasa kelu, tangannya ingin mencegah Ayana namun egonya masih betah berdiri di tempatnya. Hingga akhirnya Aruna pergi dari rumah, Gavin mendengar suara deru motor milik Ayana yang menjauh dari rumah nya. Entah Ada urusan apa istrinya di luar sana, Kenapa dia selalu pergi malam-malam dengan menggunakan motor. Gavin sebenarnya merasa aneh dan pemasaran di semua yang dilakukan oleh istrinya.
Bahkan di malam pertama mereka menikah, Ayana pergi dari rumah bahkan sampai mengendap-ngendap. Apa Dia memiliki pekerjaan lain? Tapi pekerjaan Apa yang dilakukan malam-malam? Atau mungkin dia bekerja yang tidak benar? Itulah yang ada dalam pikiran Gavin tentang istrinya.
"ck! Kenapa aku malah jadi penasaran dia pergi kemana? Mau ku susuk dia sudah jauh! Mana kalau bawa motor ngebut kali dia! Dasar Ayana menebalkan!" kesal Gavin masuk ke dalam kamar berniat untuk tidur.
Tapi dia tak bisa memejamkan matanya. Karena dia kembali teringat kepada Ayana dan bukan Vania. Entahlah kenapa dia begitu khawatir kepada Ayana. Dia takut kalau Ayana akan bertemu dengan Reiner, pria menyebalkan yang mereka temui tempo hari. Bahkan pria itu tahu banyak tentang dirinya dan Ayana.
Sedangkan di tempat lain, Ayana melakukan motornya menuju suatu tempat. Dia berhenti di sebuah rumah kosong yang jauh dari pemukiman warga. Di sana sudah ada beberapa orang berpakaian preman dan juga pakaian rapi berkumpul menjadi satu.
"Selamat malam Nona!" sapa mereka saat Ayana masuk ke dalam rumah itu. Ayana hanya mengangguk pelan.
"Dimana mereka?" tanya Ayana dingin dan tegas.
Aura Ayana saat berada di sana berbeda, sorot matanya sangat tajam, kepemimpinan ala Lady juga sangat terlihat dengan jelas. Auranya begitu dominan di antara para pria yang ada di sana.
"Di dalam Nona Aya!" jawab sala satu dari mereka membuka pintu dan mengajak Ayana masuk ke salah satu ruangan yang ada di dalam sana. Ayana mengikuti di belakang dengan langkah tegas dan penuh kepercayaan diri.
"Siapa kau? Kenapa kamu membawa kami ke tempat seperti ini? Kami tak mengenal kamu!" teriak salah satu pria yang sudah babak belur di sana.
"Kalian memang tak perlu mengenalku, tapi masalahnya kalian adalah kaki tangan pria incaranku! Riyadi ... Kalian pasti mengenal bandot tua itu kan?" jawab Ayana membuat keduanya mematung. Sedangkan Ayana menyeringai.
"Siapa Riyadi? Kami tak mengenal Riyadi!" jawab salah satu dari mereka sambil tergugup.
"Iya kah?" jawab Ayana menyeringai dan semakin mendekat ke arah mereka berdua.
Dia memainkan tangan dan juga leher ya seolah pemanasan sebelum mematahkan tangan dan kaki mereka. Bahkan mungkin lebih dari itu, keduanya terlihat mulai takut, mereka pernah mendengar nama Nona Aya yang banyak di ceritakan orang dan katanya sangat kejam. Kini wanita yang katanya menakutkan itu ada di depan mereka berdua.
"Be ... Benar kami tak mengenal pria yang kamu sebutkan tadi. Sepertinya kalian salah menangkap orang dan membuat kami seperti ini. Kalian harus lepaskan kami sekarang juga! Sudah kami katakan kami tak mengenal dia!" teriak salah satu dari mereka mencoba memberanikan diri padahal dalam hatinya sangat ketakutan melihat wanita di depannya.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Tanpa aba-aba, Ayana me-mu-kuli wajah keduanya hingga dari mulut mereka menyemburkan cairan merah segar. Pukulan sangat kuat dari Ayana mampu membuat keduanya terjungkal. Sedangkan beberapa orang yang menjaga di belakangnya terlihat meringis kesakitan.
"Kalian fikir aku bisa di bidohi oleh kalian kupret!" emosi Ayana menarik kerah keduanya yang tergolek di lantai. Ayana menarik mereka seolah mereka itu adalah hanya kertas semen yang tak ada isinya. Terlihat sangat ringan, keduanya terlihat semakin ketakutan. Baru mendapatkan dua pukulan dari Ayana saja sudah membuat mereka terjungkal. Apalagi kalau kembali mendapatkan pukulan bertubi-tubi.
"Kau Bejo si tangan kanan Riyadi dan salah satu otak dari segala kejahatan pria tua itu! Dan Kau Juned, salah satu ketua dari pemimpin para preman yang menjadi pasukan si Riyadi selama ini! Lalu kalian pikir aku salah di mana?" ujar Ayana menghempaskan kembali tubuh mereka ke lantai dengan kuat.
"Si ... Siapa kau sebenarnya?" tanya Bejo.
"Tak perlu kalian tahu siapa aku! Sekarang yang harus kalian jawab adalah dimana pria tua Bangka itu sekarang!" tanya Ayana dengan gigi yang gemerutuk.
"Kami tidak tahu!" jawab Bejo.
"Baiklah, ternyata kalian an-jing-an-jing yang sangat setia kepada Tuannya. jika kalian memilih setia kepada Riyadi, maka aku akan membuat keluarga kalian hilang selamanya!" jawab Ayana menyeringai.
"Kau! Memangnya siapa kau yang berani mengancam kami seperti itu! Jangan pernah macam-macam dengan keluarga kami! Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini!" geramnya.
"Kenapa tidak? Bukankah kalian juga lebih memilih untuk menjaga pria itu dibanding keluarga? Aku hanya memberi pilihan kepada kalian berdua!" jawab Ayana sambil memperlihatkan foto-foto keluarga mereka.
Seketika wajah mereka menjadi pucat dan panik. Mereka tidak menyangka jika ayahnya lebih dulu mengetahui keberadaan keluarga mereka. Dia memang Nona Aya yang benar-benar mengerikan. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Apakah mereka harus mengatakan semua kejujurannya kepada Ayana. Ataukah mereka harus merelakan keluarganya. ibu anak dan istri mereka menjadi korban kemarahan Ayana.
"Dalam satu panggilan aku bisa membuat anak buahku menghabisi mereka semua! Sekarang pilihlah! Kalian pilih Riyadi atau keluarga kalian! Aku tak memiliki banyak waktu! Silahkan putuskan dalam sepuluh menit, tak kurang dan tak lebih!" ujar Ayana kemudian duduk di kursi depan mereka sambil menghitung waktu mundur menunggu mereka memutuskan pilihannya.
keduanya terlihat kebingungan saling pandang satu sama lain. sesekali terdengar perdebatan antara keduanya, walau sambil berbisik tapi Ayana hanya tersenyum miring melihatnya. Menunggu mereka berdua dengan tenang tanpa mengalihkan tatapannya dari mereka berdua.
#kakak-kakak mohon doanya, mama othor hari ini baru masuk ke rumah sakit dan di rawat,#🙏