Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan besar
Pagi itu langit Jakarta berwarna abu-abu. Awan menggantung berat, seolah tahu ada keputusan besar yang akan diambil di sebuah hotel bintang lima di kawasan Sudirman. Udara dari pendingin ruangan bercampur aroma kopi hitam dan kayu mahal memenuhi ruang pertemuan di lantai dua belas. Di tengah ruangan itu, duduklah Aluna tubuhnya kaku, tangannya bergetar halus di pangkuan.
Pagi itu, ia datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Matanya sembab karena kurang tidur. Semalaman ia tidak bisa memejamkan mata, terus memikirkan ibunya yang akan dioperasi sore nanti. Waktu terasa menekan dari segala arah. Ia tahu, satu-satunya cara agar ibunya bisa diselamatkan adalah dengan uang dan satu-satunya orang yang bersedia memberinya uang sebanyak itu adalah pria yang akan segera ditemuinya, Marko Bumi Ferdinand.
Marko belum datang. Yang menunggunya di ruangan itu adalah Renaldi, asisten sekaligus tangan kanan Marko. Gayanya tenang, suaranya datar dan tutur katanya teratur. Di depannya sudah tersusun beberapa lembar kertas tebal, rapi di dalam map hitam dengan cap logo perusahaan milik Marko.
Ketika pintu otomatis terbuka, aroma parfum maskulin langsung menyusup. Marko masuk dengan langkah mantap. Jas hitam pekatnya menambah aura dingin pada wajah yang hampir tak menunjukkan emosi. Ia sekilas menatap Aluna, kemudian duduk di kursi seberang tanpa banyak bicara.
“Sudah semua, Renaldi?” tanya Marko datar.
“Sudah, Pak. Kontrak siap ditandatangani. Tinggal penjelasan singkat.” Renaldi menatap Aluna sekilas, lalu membuka map tersebut. Suaranya tetap profesional. “Baik, Nona Aluna sebelum tanda tangan dilakukan, saya akan menjelaskan beberapa poin penting dari perjanjian ini agar tidak terjadi kesalahpahaman.”
Aluna menelan ludah. Ia berusaha menatap Renaldi meski matanya sering kabur karena gugup.
Renaldi menggeser kacamata di batang hidungnya. “Pertama, perjanjian ini berlaku selama tiga tahun sejak tanggal penandatanganan. Selama tiga tahun tersebut, Nona Aluna akan berstatus sebagai istri sah Bapak Marko Bumi Ferdinand, dengan catatan bahwa status ini bersifat kontraktual dan akan berakhir otomatis sesuai jangka waktu yang tertulis.”
Suara jam dinding terdengar jelas di antara jeda penjelasan itu. Tik… tok… tik… tok. Setiap detik menambah tekanan di dada Aluna.
Renaldi melanjutkan, “Kedua, selama masa kontrak, Nona diwajibkan tinggal di kediaman Bapak Marko atau di tempat yang disediakan oleh pihaknya. Semua kebutuhan hidup akan ditanggung penuh, termasuk biaya pribadi dan kesehatan ibu Anda.”
Aluna mengangguk pelan. Tangannya saling menggenggam di pangkuan.
“Ketiga.” lanjut Renaldi, “ada klausul mengenai keturunan. Pihak Bapak Marko menghendaki satu anak laki-laki sebagai penerus keluarga. Dan anak laki-laki itu ada hak penuh Pak Marko apabila masa kontrak sudah habis. Namun, apabila dalam jangka waktu tiga tahun tidak ada keturunan, maka kontrak dianggap gagal dan akan berakhir tanpa kewajiban tambahan dari pihak Bapak Marko.”
Aluna menunduk. Kalimat itu menampar batinnya lebih keras daripada tamparan siapa pun. Ia tahu artinya dirinya hanya akan menjadi wadah, sebuah alat demi sebuah nama besar. Tapi bayangan wajah ibunya yang lemah di ruang ICU menepis semua keraguan. Ini bukan tentang harga diri lagi. Ini tentang hidup dan mati.
Renaldi terus membaca. “Keempat, Nona tidak diperkenankan menjalin hubungan pribadi atau publik di luar pernikahan selama masa kontrak. Semua bentuk pelanggaran dianggap pembatalan sepihak dan uang kompensasi akan ditarik kembali dan akan di denda sebesar 5 Milyar.”
Ia menatap Aluna memastikan semua jelas. “Apakah sejauh ini ada yang ingin ditanyakan?”
Aluna menelan ludahnya dengan kasar dan menggeleng pelan. “Tidak, Pak.”
Marko yang sejak tadi diam, kini membuka mulut. Suaranya dalam dan tenang tapi dingin seperti permukaan kaca. “Renaldi, tambahkan poin terakhir.”
Renaldi menatap tuannya, lalu membuka halaman terakhir. “Ya, Pak. Poin terakhir, kerahasiaan. Segala bentuk informasi terkait isi kontrak, hubungan pribadi dan identitas pihak-pihak yang terlibat wajib dirahasiakan. Jika dilanggar, akan dikenai sanksi hukum dan denda.”
Selesai membacakan, Renaldi menutup mapnya dan menatap Aluna. “Jika Nona setuju, silakan tanda tangani di sini.”
Ruangan itu hening. Hanya bunyi lembut jarum jam yang masih berdetak. Aluna menarik napas panjang. Ia menatap map itu seperti menatap takdirnya sendiri. Pena disodorkan oleh Renaldi, pena logam hitam dengan ukiran kecil di gagangnya. Tangan Aluna gemetar saat menyentuhnya.
Marko masih duduk tegak. Sorot matanya tajam, dingin tapi tidak kejam. Ia seperti pria yang sudah lama berhenti merasakan simpati.
“Pikirkan baik-baik.” katanya tenang. “Sekali tanda tangan, tidak bisa ditarik kembali.”
Aluna menatapnya. “Apakah Bapak benar-benar akan membantu biaya operasi ibu saya setelah ini?”
Marko menatap lurus ke arahnya. “Dana akan langsung ditransfer ke pihak rumah sakit setelah kontrak sah.”
Suara itu mantap, tanpa keraguan. Janji dari seorang pria yang biasa mengatur nasib orang lain dengan selembar kertas.
Air mata menggenang di sudut mata Aluna, tapi ia menahannya. Ia menunduk dan mulai menulis namanya di bawah tanda tangan yang sudah tertera nama besar “Marko Bumi Ferdinand”.
Huruf demi huruf ia tulis dengan tangan bergetar: Aluna Putri Sagara.
Begitu ujung pena mengakhiri tanda tangan terakhir, tubuhnya terasa lemas. Semua suara di ruangan seakan menjauh. Ia baru saja menjual tiga tahun hidupnya demi satu nyawa.
Renaldi mengambil map itu, memeriksa dengan teliti, lalu menutupnya. “Selesai, Pak.” katanya singkat.
Marko berdiri. “Siapkan pembayaran ke pihak rumah sakit siang ini,” perintahnya.
“Baik, Pak.” Renaldi langsung mencatat sesuatu di ponselnya.
Marko kemudian menatap Aluna lagi. Kali ini sorot matanya sedikit lebih lembut, meski tetap tak mudah dibaca. “Mulai malam ini kamu akan pindah ke apartemen yang sudah disiapkan. Renaldi akan mengantar.”
Aluna mengangguk pelan. “Baik, Pak.”
Marko mengambil jasnya, bersiap pergi. Tapi sebelum melangkah ke pintu, ia menoleh sebentar. “Kamu tidak perlu takut. Aku tidak butuh drama. Jalankan saja kesepakatan kita seperti yang tertulis. Setelah tiga tahun, kamu bebas.”
Setelah itu ia melangkah pergi. Pintu tertutup otomatis di belakangnya, meninggalkan aroma parfum yang samar dan suasana yang menggantung.
Aluna tetap duduk di kursinya. Pandangannya kosong ke arah kertas yang kini sudah bukan miliknya lagi. Renaldi menatapnya sejenak, lalu berkata pelan. “Saya tahu ini tidak mudah. Tapi setidaknya, Anda menyelamatkan nyawa ibu Anda..”
Ucapan itu menampar sekaligus menguatkan. Aluna hanya tersenyum tipis, lalu berdiri perlahan. “Saya tahu, Pak. Terima kasih.”
Renaldi menunduk sopan. “Saya akan antar Anda ke rumah sakit setelah ini, sebelum ke apartement. Dana akan segera diproses. Bapak Marko jarang memberi janji kosong.”
Langit di luar hotel semakin cerah, tapi bagi Aluna pagi itu adalah awal dari kegelapan baru. Ia melangkah keluar dari ruangan dengan kepala tertunduk, menggenggam ujung jaketnya erat-erat. Di dada kirinya, ada denyut halus antara lega dan takut.
Ia menyelamatkan ibunya, tapi kehilangan kebebasannya.
Dan kontrak itu kini menjadi batas baru antara cinta, tanggung jawab dan penyesalan.