NovelToon NovelToon
Kau Pilih Selingkuhanmu, Aku Pilih Adikmu

Kau Pilih Selingkuhanmu, Aku Pilih Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hashifa

“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”

Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.

Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.

Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ceraikan Dia, Menikahlah denganku

Di dalam lift, Sekar berkali-kali mengusap air matanya yang jatuh tanpa bisa ia tahan. Kata-kata Raka terus berdengung di kepalanya, memantul, berulang, menyiksa.

'Kamu itu candu… nggak sebanding dengannya.'

Nggak sebanding.

Dada Sekar terasa sesak, mengingat kalimat itu. Seperti ada yang meremas jantungnya pelan-pelan. Tangannya gemetar, lututnya terasa lemas seakan tidak punya daya untuk menopang tubuh perempuan itu.

Sementara itu, Bagas berlari menuruni tangga darurat. Napasnya tersengal, langkahnya tak lagi teratur. Ia berhenti di setiap lantai, berharap bisa menyusul lift yang membawa Sekar turun.

Saat tiba di parkiran basement, napasnya tercekat. Sekar masih di sana. Wanita itu berdiri di samping mobilnya, tangannya sudah meraih gagang pintu.

“Bu ….”

Bagas refleks menarik pergelangan tangan Sekar. Sentuhan itu membuat Sekar menoleh pelan. Wajahnya pucat. Matanya sembap, tapi tatapannya terlihat kosong.

Bagas buru-buru melepaskan tangannya.

“Maaf, Bu. Saya cuma khawatir. Ibu mau ke mana? Biar saya antar.”

Sekar menatapnya beberapa detik. Lama. Tatapan yang membuat Bagas langsung menundukkan kepala.

“Mas Bagas tahu ini dari awal, kan?” suaranya lirih, tapi tajam. “Kamu tahu Mas Raka selingkuh dan nggak pernah bilang sama saya?”

Tak ada jawaban. Hanya kepala Bagas yang semakin tertunduk. Sekar terkekeh pelan, lebih terdengar seperti tawa hambar.

"Tentu saja. Kamu orang kepercayaannya, kan? Tentu saja kamu pasti tahu. Saya cuma nggak nyangka aja, Mas.”

“Maaf, Bu. Saya—”

“Nggak usah.” Sekar mengangkat tangannya, menghentikan kalimat itu. Napasnya bergetar. “Saya nggak butuh penjelasan.”

Ia menelan ludah, mencoba menegakkan tubuhnya meski rasanya seluruh dunianya baru saja runtuh.

“Tolong … kalau Mas Bagas masih punya sedikit hati, jangan kasih tahu Mas Raka kalau saya datang ke kantor. Jangan ada yang tahu kalau saya mendengar percakapan Mas Raka.”

Bagas mengangguk cepat. “Baik, Bu.”

Sekar masuk ke dalam mobilnya tanpa berkata apa-apa lagi. Mesin menyala. Dalam hitungan detik, mobil itu melesat keluar dari parkiran, meninggalkan bunyi gesekan ban yang tajam di lantai beton.

“Maaf …,” gumam Bagas lirih, menatap ke arah mobil yang semakin menjauh.

Di dalam mobil, Sekar tak lagi berusaha menahan tangisnya. Air mata mengalir deras, membuat pandangannya buram. Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat, seolah itu satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan.

Pengkhianatan itu terasa kotor dan menjijikkan. Ia tidak menyangka jika selama ini suaminya sering berbagi peluh dengan perempuan lain. Selama ini ia tidur di pelukan lelaki yang sama yang memanggil perempuan lain dengan sebutan Sayang. Lelaki yang bersumpah akan menjaganya, justru menertawakan dan merendahkan dirinya di belakang.

“Brengsek kamu, Mas!” desisnya serak.

Ia memukul setir sekali. Keras.

Bayangan percakapan itu kembali menghantam.

"Buat apa ngajak dia? Kan sudah ada kamu.... Dia nggak sebanding sama kamu.”

Napasnya memburu. Amarah dan kecewa bercampur menjadi satu. Jadi selama ini, semua kecupan di keningnya hanya kebiasaan? Semua perhatian itu cuma sandiwara?

Mobil melaju semakin cepat. Angka di speedometer naik tanpa ia sadari. Ia ingin lari. Lari dari suara-suara itu. Lari dari rasa malu dan sakit hati yang membakar dadanya.

Untuk sesaat, ia lupa ada kehidupan lain di dalam perutnya. Hingga tiba-tiba tangannya refleks berpindah ke perut. Jantungnya berdegup lebih kencang.

“Astaghfirullah …”

Sekar menginjak rem mendadak. Mobil berhenti di tepi jalan. Dadanya naik turun. Tangannya gemetar saat menyentuh perutnya yang masih rata.

“Maaf … maaf, Nak …,” bisiknya. Tangisnya kembali pecah.

Ia menundukkan kepalanya dan menyandarkannya di atas setir mobil. Isakan kecil di bibirnya menambah pilu.

***

Entah sudah berapa lama Sekar duduk terdiam di samping sebuah makam. Tanpa benar-benar sadar bagaimana ia bisa sampai di sana. Ia hanya mengikuti langkah kaki yang tadi membawanya ke makam kedua orang tuanya.

Sekar bersimpuh di antara dua nisan itu. Tangannya menyapu pelan permukaan batu nisan. Lalu, perlahan, merebahkan kepalanya di nisan sang ayah.

“Ayah … Sekar kangen sama Ayah,” bisiknya lirih.

Air matanya tak lagi sederas tadi, tapi bekasnya masih terlihat samar di pipi. Hatinya seperti kosong—marah, kecewa, tapi juga hampa.

“Yah … dulu Ayah pernah bilang sama Sekar. Setinggi apa pun sekolah dan gelar kamu, tetaplah berbakti pada suami.”

Suaranya bergetar. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.

“Sampai hari ini Sekar masih ingat kata-kata itu. Sekar turuti semua. Sekar menjaga sikap, menjaga omongan, menjaga rumah tangga Sekar baik-baik.” Napasnya tertahan. “Tapi kenapa yang Sekar dapat justru luka, Yah?"

Ia tertawa kecil—lebih terdengar seperti tawa getir.

“Sekar kira, dengan pendidikan Sekar … dengan gelar cumlaude yang Sekar dapatkan dulu … Sekar cukup pintar untuk membaca orang. Ternyata Sekar salah.” Jemarinya mencengkeram rumput di sampingnya. “Sekar bahkan nggak bisa membaca suami sendiri.”

Dadanya kembali terasa sesak.

“Sekar kalah, Yah.” Suaranya nyaris tak terdengar. “Sekar kalah sama perempuan yang bahkan nggak pernah Sekar kenal.”

Ia memejamkan mata, membiarkan kenangan tentang Raka kembali menyesakkan.

“Kalau Ayah masih ada … apa Ayah tetap akan suruh Sekar bertahan?”

Wanita itu terus mengusap nisan ayahnya, seolah berharap batu dingin itu bisa memberi jawaban. Rintik hujan mulai turun, membasahi bahunya, tapi ia bergeming. Justru dingin itu terasa menenangkan untuknya. Setidaknya, hujan bisa menyamarkan air mata yang kembali jatuh.

Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba bayangan gelap menaungi tubuhnya. Rintik yang tadi jatuh di wajahnya kini terhalang.

Sekar menoleh. Ia terperanjat saat mendongak. Wajah datar Langit tepat berdiri di sampingnya, memegang payung tanpa ekspresi. Pria itu tidak berkata apa-apa. Hanya berdiri dalam diam.

Sekar mengembuskan napas panjang, menahan sesak di dadanya.

“Buat apa Mas Langit ke sini?” tanyanya dingin.

“Aku hanya ingin memastikan calon keponakanku baik-baik saja.” Suaranya tenang dan datar. “Kamu boleh marah. Kamu boleh kecewa. Tapi jangan pernah melakukan hal konyol yang bisa menyakiti bayimu.”

Sekar bangkit perlahan. Tatapannya tajam.

“Aku nggak sebodoh itu, Mas,” balasnya pelan, tapi menusuk. “Dan siapa bilang aku emosi?”

Langit tak menjawab.

Sekar melanjutkan, kali ini suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar tegar.

“Dari mana Mas tahu aku di sini? Mas juga tahu semuanya? Semua orang tahu kenyataannya … dan cuma aku yang nggak tahu?”

Hening sejenak. Langit tersenyum tipis.

“Bukankah tempo hari aku sudah bilang? Jangan menguping kalau belum siap menerima jawabannya.”

Kalimat itu seperti tamparan kedua.

Sekar memalingkan wajahnya. Ia terlalu lelah untuk berdebat.

“Ayo pergi,” ujar Langit lagi. “Di sini dingin. Aku nggak mau calon keponakanku menanggung akibatnya.”

Sekar terkekeh hambar. “Dari tadi calon keponakan terus yang dibahas. Takut banget kehilangan pewaris keluarga?” sindirnya tajam.

Langit menaikkan alis sedikit.

“Kamu sudah dewasa. Kamu tahu mana yang benar dan salah.” Ia menatap lurus ke depan. “Kalau kamu memilih hancur, itu keputusanmu. Tapi anak itu nggak pernah memilih berada di tengah kekacauan ini.”

Sekar terdiam. Untuk pertama kalinya sejak tadi, kata-kata Langit benar-benar menembus pertahanannya. Dengan terpaksa Sekar mengikuti kemauan pria itu. Ia kembali berjongkok mengusap makam ayah dan ibunya sebelum pergi.

“Yah, Ibu … Sekar pulang dulu,” bisiknya serak.

Sebelum melangkah mengikuti Langit yang sudah berjalan lebih dulu, ia kembali menoleh ke arah nisan itu sekali lagi. Sekar menyerahkan kunci mobilnya tanpa protes saat Langit meminta. Ia terlalu lelah untuk bertanya. Terlalu lelah untuk peduli.

Ia hanya duduk di kursi penumpang saat Langit mengemudikan mobilnya menjauh dari pemakaman. Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan. Hanya suara wiper yang bergerak pelan menyapu sisa hujan di kaca depan.

Namun pikiran Sekar dipenuhi oleh banyak pertanyaan.

Dari mana Langit tahu ia di makam?

Dari mana ia tahu tentang apa yang terjadi hari ini?

Kenapa pria itu muncul seolah sudah membaca seluruh kejadian sebelum semuanya terbongkar?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, membuat dadanya kembali sesak. Ia baru tersadar saat mobil berhenti di sebuah drive thru makanan cepat saji. Beberapa menit kemudian, Langit menyodorkan bungkusan kertas ke arahnya.

"Makan,” ucapnya singkat. “Jangan biarkan bayimu kelaparan.”

Nada suaranya datar. Tanpa perhatian berlebih. Tanpa empati yang dibuat-buat.

Sekar menerimanya dengan malas. Ia membuka bungkus itu perlahan. Aroma ayam goreng hangat langsung menyeruak.

Dan seketika itu juga, dadanya mencelos.

Bayangan Raka muncul begitu saja.

“Ini kulitnya buat kamu. Kamu suka bagian ini, kan?”

Setiap kali mereka makan ayam goreng, Raka selalu menyisihkan kulit untuknya. Hal kecil. Kelihatan sepele, tapi dulu terasa begitu manis. Sekarang kenangan itu terasa seperti ejekan yang terus membuat Sekar merasa sesak.

Makanan yang tadi terlihat menggugah selera mendadak hambar.

“Kenapa?” tanya Langit tanpa menoleh. Kurang?”

Sekar menggeleng pelan. Namun air matanya kembali jatuh, tanpa bisa ia tahan.

Langit mendesah lirih. “Perempuan memang sulit memisahkan rasa dan logika.”

Sekar menoleh tajam. “Jangan meremehkan perempuan. Kamu juga lahir dari rahim perempuan.”

Wanita itu mengusap air matanya dengan kasar.

Langit melirik sekilas, tapi masih menutup mulutnya.

“Kamu nggak tahu rasanya dikhianati orang yang kamu sayangi,” lanjut Sekar, suaranya meninggi. “Jadi jangan sok mengerti perasaan orang lain.”

Alis Langit terangkat satu. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

“Bagus.”

Sekar mengernyit heran dengan tanggapan Langit.

"Setidaknya kamu masih bisa marah. Aku lebih suka melihatmu seperti ini daripada tadi.” Ia kembali fokus ke jalan. “Seperti mayat hidup.”

Sekar terdiam sesaat, tak menyangka respons itu. Ia hendak membalas, tetapi Langit lebih dulu berkata,

“Habiskan makananmu. Setelah itu, kita bisa lanjut berdebat.”

Nada suaranya tenang namun tetap terasa dingin. Entah karena benar-benar lapar atau karena emosinya yang terlalu penuh hingga butuh pelampiasan, Sekar menghabiskan makanan itu tanpa sisa.

Ia bahkan menyeruput tehnya cepat-cepat, seolah ingin menenggelamkan rasa pahit yang sejak tadi memenuhi tenggorokannya.

Mobil kembali melaju dalam diam.

Beberapa detik kemudian, tanpa menoleh sedikit pun, Langit berkata datar,

“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu. Tapi setelah itu ceraikan dia dan menikahlah denganku.“

“Uhuk … uhuk …!“

1
bintang laut🌟
drpd milih opsi menikahi Anita apa Raka akan melenyapkan Anita🤔
Hashifa: kita lihat yaa😎
total 1 replies
Yuli Yulianti
aduh Raka kali ini penyesalan tidak akan berguna cuma nunggu giliran terbongkar aj
bintang laut🌟
astoge Raka kenapa pake masuk ruang kerja sih. kan bang Langit belum nemuin bukti2 ny🤭
Hashifa: kalau di kasih tahu langsung bukannya dinikahin malah di penjara kak😅
total 2 replies
bintang laut🌟
syukurin lu Rak selamat datang huruhara kehancuran mu😂
bintang laut🌟
itung2 latihan napa bang Lang, ntar kalu Sekar hamil anakmu km gak kaget lagi ngadepin ngidam ny bumil😂
Hashifa: 🤣🤣🤣🤣 ga ngefek kak 🙈🙈🙈
total 5 replies
Yuli Yulianti
anita kamu mau mengakui dirimu selingkuhan Raka dihari pengajian 4 bulanan Sekar malah memudah kan Sekar lho kamu nggak tau aj berapa banyak perempuan nya Raka yg ad kamu sendiri syok
Hashifa: mereka sama-sama licik kak 😌
total 1 replies
bintang laut🌟
astoge ini anak nya Raka atau yg pacar aslinya. duh mana lupa nama😂
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bintang laut🌟: 😂😂 nama ny juga ulet bulu gak ada yg bener. ntar juga mereka lama2 pd nyungsep itu nunggu panen ny atas kelakuan yg tidk bermoral😂
total 5 replies
bintang laut🌟
kalau dulu ada kisah antara Kania n Langit...lah proses terjadi Zayn gimana gak sengaja ap salah satu ada yg mabok..thor aku lupa kisah nya pernah di spil belum sih di bab seblumnya🙈
Hashifa: udah pernah di Spil cuma baru secuil. dulu si Kania ini pacarnya Langit tapi direbut sama Raka. Pas hamil, ditinggalin tuh, malah disuruh gugurin kandungannya 😌😌😌
jahat banget ya si Raka tuh
total 1 replies
bintang laut🌟
duh sayang teh nya masih utuh😂
bintang laut🌟
apah ini. ada kisah dimasa lalu ternyata🤭
Hashifa: iyaa... tapi pas udah sama Sekar dia juga main sama Anita. bahkan honeymoon aja dia bawa tuh gundik. kurang edan apalagi coba 😌😌
total 3 replies
bintang laut🌟
huaaaa baru juga baca udah dibikin mewek😭
bintang laut🌟: ho'oh apalgi proses ada ny Zayn diluar pernikahan apa gak dobel2 nyesek nya tuh si Zayn. Zayn km awet aj jd bocil biar gak sakit terima kenyataan
total 2 replies
bintang laut🌟
semangat Gas, semoga cepet dpt informasi dan video nya...
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
Hashifa: tenang... part selanjutnya muncul kok. dan siap2 baper sama istri orang 🤣🤣🤣
total 1 replies
bintang laut🌟
apah. serius Zayn bapakmu macam Raka. kok aku gak ikhlas km punya bapak Raka😭😭😂
bintang laut🌟: wkwkwk. kan jdi penasaran🙈😂
ok siap menunggu bab selanjutnya😂
total 5 replies
bintang laut🌟
hoh ternyata Raka tak direstuin ama bapak nya Sekar ish kongkalikong ini am yg buat kecelakan bapak ny Sekar
Hashifa: ada alasan kenapa ga setuju bapaknya. wait yaaa... nanti terbuka satu persatu 😁
total 1 replies
bintang laut🌟
oh jadi video potongan ini ya thor yg waktu itu Raka bilang ama Anita kan ya kalau Bagas berani bicara maka Bagas bisa masuk penjara
Hashifa: yess... betul.. ketemu kan benang merahnya 😎
total 1 replies
bintang laut🌟
ini yg ngirim file rekaman gak bisa ditelurusi kah waktu itu. minta bantuan tim IT gitu🤭🙈
Hashifa: buntu Kak, penjelasan di next part yaaa
total 1 replies
bintang laut🌟
duh rekaman video opo maneh iki🙈😂
Hashifa: hampir benar... next bab yaa... kebuka dikit2 🤭
total 3 replies
bintang laut🌟
ini kan....
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂
Hashifa: wkwkwk... sabarr
total 1 replies
bintang laut🌟
belum jd bini, udah perhatian aj nih bang Lang🙈
Hashifa: ya gimana dong... calon-calon bucin 🤭🤣
total 1 replies
Endang Supriati
lagian ngapain kirim pesan ke Raka!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!