Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimana Dia Sekarang?
Enam bulan berlalu Kasus percobaan pembunuhan terhadap Kirana seolah lenyap begitu saja tidak ada konferensi pers dan tidak ada pengumuman resmi.
Yang ada hanyalah satu berita singkat yang sempat menjadi headline. Seorang Ketua Komisi partai tewas dalam kecelakaan mobil, tragis mendadak tanpa banyak pertanyaan.
Namun bagi mereka yang tahu itu bukan sekadar kecelakaan itu adalah akhir yang rapi.
Meski semuanya tampak selesai Kirana tidak pernah benar-benar merasa tenang malam-malamnya masih dipenuhi bayangan pelarian suara tembakan, dan sosok Damar yang jatuh bersimbah darah.
Kirana berdiri di balkon kamarnya, menatap langit Jakarta yang gelap.
“Di mana kamu sekarang,” gumamnya pelan.
Sejak kejadian itu tidak ada kabar tidak ada pesan dan tidak ada kesempatan untuk bertemu seolah Kapten Damar menghilang begitu saja.
Kirana tidak tinggal diam dia mencoba mencari melalui koneksi ayahnya melalui teman-teman media bahkan melalui orang dalam militer namun semua jalur terasa tertutup.
Hingga suatu hari dia mendapatkan satu informasi.
“Kapten Damar sekarang ditugaskan di misi PBB selaman 6 bulan," Kirana membeku.
“Dan kabarnya,” lanjut sumber itu, “Damar Wicaksono akan melanjutkan pendidikan militernya di NDU National Defence University Amerika.”
Jantung Kirana berdetak lebih cepat mendengar informasi itu, itu artinya dia bisa menemukan Damar.
Seseorang yang memberi informasi itu belalu dari hadapan Kirana, setelah mereka berbicang beberapa saat. Sedang Kirana masih terpaku di tempatnya mengumpulakan tekad di dalam dirinya.
Dan ya, dia akan menemui Damar Wicaksono dia akan datang kepadanya.
Malam itu, Kirana duduk di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya.
“Aku mau lanjut kuliah di Amerika,” katanya tiba-tiba tanpa angin tanpa hujan.
Ibunya Lilyana Subakti mengangkat alis sedikit terkejut
"Tiba-tiba sekali." Masih menatap Kirana curiga.
Papahnya David Subakti menatap Kirana tak kalah terkejut.
"Emang kamu mau kuliah dimana?" tanyanya kemudian
“Di George Washington University,” jawab Kirana mantap.
Ayahnya menatap Kirana lagi
“Kamu serius?”
“Iya.”
“Kenapa harus di GWU?” Kirana terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Aku merasa ini kampus yang tepat,” kata Kirana mencoba menjawab dengan santai.
David masih menatapnya, mencoba membaca sesuatu di balik kata-kata putrinya.
“Kamu yakin bukan karena hal lain?” tanyanya pelan.
Kirana menahan napas sebentar lalu menatap Papahnya.
“Ini untuk masa depanku, Pa.” Jawab Kirana sedikit merona.
Lilyana dan David tersenyum lembut menatap putrinya, mereka sangat mengenal Kirana mereka tau apa yang sedang putrinya pikirkan.
“Masa depan yang kamu maksud pacaran sama Mahasiswa NDU.” sindir David subakti di ikuti tawa kecil istrinya.
"Papah," Kirana tampak malu.
"Kalau maksud mu mau dekat sama anaknya pak Kristanto papah sih setuju," David akhirnya mengatakan dengan gamblang.
"Aku mau belajar ilmu politik pak," Kirana tetap bersisi kukuh menyembunyikan niatnya.
“Baik, Papah tau kamu memang mau serius belajar kok.” Sindir David lagi masih tersenyum lebar.
“Iya Pa.”
Namun di dalam hatinya Kirana tau persis ada alasan lain yang tidak ingin dia ucapkan dengan jujur, walau pun kedua orang tuanya sudah tau alasannya.
Malam itu, Kirana langsung menelpon Carmen untuk menyampaikan kabar itu, sejak tragedi itu hubungan mereka menjadi sangat dekat.
“Carmen," suaran Kirana terdengar lebih ringan dari biasanya. “Aku mau ke Amerika.”
“Wow,” sahut Carmen cepat.
“Tiba-tiba banget."
“Iya, aku mau S2 di George Washington University.”
Carmen terdiam beberapa detik sambil cengengesan
“Dekat banget ya, sama National Defence University.”
Kirana langsung menghela napas.
“Carmen…”
“Apa?” suara Carmen terdengar menahan tawanya.
“Kamu jangan mikir yang nggak-nggak.”
“Jadi bukan karena seseorang?” goda Carmen.
“Enggak,” jawab Kirana cepat. “Aku ke sana buat kuliah.”
“Hmm…” Carmen sengaja memperpanjang nada bicaranya. “Yakin?”
Kirana terdiam senyum senyum sendiri.
“Aku cuma mau berterima kasih,” katanya akhirnya, lebih pelan. “Dia menyelamatkan hidupku.”
Carmen tertawa kecil. “Mbak Kirana…” Carmen menjeda kalimatnya.
“Kadang, rasa terima kasih itu bisa berubah jadi hal lain.”
Kirana langsung membalas, sedikit defensif.
“Aku nggak berfikir sejauh itu,”
“Ya sudah,” Carmen menyerah sambil tertawa. “Tapi satu pesan dari ku,”
“Apa?”
“Kalau nanti ketemu Kapten Damar”
Kirana menunggu ucapan Carmen selanjutnya.
“Ungkapkan perasaan mu”
Kirana terdiam sejenak dia merasa malu sekarang ternyata Carmen bisa membaca isi kepalanya.
“Jangan sampai menyesal,” lanjut Carmen pelan hening beberapa saat.
“Aku kesana buat kuliah,” ulang Kirana, meski suaranya tidak setegas tadi. “Kalau pun ketemu, ya cuma mau bilang terima kasih.”
Carmen tertawa lagi.
“Iya, iya, aku percaya,” Nada suaranya terdengar menggoda.
“Kamu nyebelin,” balas Kirana, tapi nada suara tidak terdengar marah.
“Semoga Mbak Kirana sukses di sana ” sahut Carmen ringan.
"Iya terimakasih Carmen," percakapan mereka selesai malam itu.
Malam itu hanya menyisakan senyuman di wajah Kirana, dia segera melepas lelahnya dengan harapan agar malam ini dan malam berikutnya segera cepat berlalu.