NovelToon NovelToon
Lembayung Senja

Lembayung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Romantis / Teen
Popularitas:605
Nilai: 5
Nama Author: PapaBian

"Lembayung Senja" mengisahkan perjalanan Arka, seorang siswa puitis dan ceroboh, yang nekat menembos pagar batas antara guru dan murid demi memenangkan hati Ibu Senja. Di setiap upayanya menyatakan cinta lewat puisi-puisi tingkat dewa, Arka justru terperosok ke dalam lubang komedi yang memalukan. Namun, di balik tawa dan salah paham, terdapat sebuah proses pendewasaan yang menyakitkan bagi Arka: memahami bahwa tidak semua puisi memiliki ending bahagia, dan bahwa kadang-kadang, cinta terlarang hanyalah sebuah prosa pendek yang harus selesai di tengah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PapaBian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Tinta Ijazah Mengering Lebih Cepat dari Harapan

Aku selalu berpikir bahwa kelulusan adalah sebuah upacara pelepasan dahaga bagi mereka yang selama tiga tahun terperangkap dalam gurun pasir aturan dan rumus-rumus mati. Kita semua sering memuja angka-angka di atas kertas ijazah seolah-olah lembaran itu adalah paspor menuju kebebasan mutlak, padahal nyatanya, ia hanyalah sebuah sertifikat yang menyatakan bahwa masa inkubasi kepolosan kita telah berakhir. Bagiku, predikat "memuaskan" yang tertulis dengan tinta hitam tebal di bawah namaku bukan sekadar bukti keberhasilanku menaklukkan ujian nasional, melainkan sebuah lonceng kematian bagi statusku sebagai seorang murid. Aku merasa seperti sebuah kaset pita yang sudah mencapai ujung putarannya; ada suara berisik statis yang menyakitkan telinga sebelum mesin benar-benar berhenti berputar. Aku adalah sebuah kalimat yang akhirnya menemukan titiknya, namun anehnya, aku belum siap untuk menutup buku ini.

Hari itu, SMA Harapan Bangsa berubah menjadi lautan kabut berwarna-warni. Aroma aerosol dari cat semprot Pilox memenuhi udara, bercampur dengan bau keringat dan euforia yang meluap-luap. Teman-temanku, yang selama ini terbelenggu dalam seragam putih-abu yang rapi, kini merayakan kebebasan dengan mencoret-coret punggung satu sama lain, mengubah identitas mereka menjadi kanvas abstrak yang kacau. Aku berdiri di tengah kerumunan itu, memegang map berisi ijazah dengan tangan yang sedikit gemetar. Kacamata tebal yang sering melorot ini kini terasa lebih berat, seolah ia pun ikut menanggung beban eksistensial yang sedang kuhadapi.

"Woi, Ka! Lulus juga lo, dukun sastra! Gue kira lo bakal dapet nilai jeblok gara-gara kebanyakan nulis puisi di kertas ujian," teriak Bimo sambil merangkul bahuku kasar. Ia sudah basah kuyup oleh keringat dan bau cat semprot.

"Nilai bukan segalanya, Bim. Tapi setidaknya, angka-angka ini memberiku modal untuk bicara lebih lantang pada dunia," jawabku dengan nada puitis yang kucoba buat setenang mungkin, meski jantungku berdegup seperti drum band yang kehilangan dirigennya.

"Halah, bokis amat gaya lo! Udah, mending kita ikut anak-anak konvoi ke depan. Kita rayain hari kemenangan ini!" ajak Bimo sambil menyengir lebar.

"Gue ada urusan yang lebih penting dari sekadar konvoi, Bim. Gue punya janji yang harus ditunaikan," balasku sambil menatap ke arah koridor lantai dua, tempat ruang guru berada.

"Elah, masih aja ngejar Senja? Inget, Ka, ijazah lo udah di tangan, tapi bukan berarti gerbang hati dia otomatis kebuka. Jangan sampe lo 'kecebur' lagi," Bimo mengingatkan dengan nada santai khas anak tongkrongan tahun 2004, namun ada nada kekhawatiran yang terselip di sana.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menepuk bahunya dan melangkah pergi, meninggalkan keriuhan pesta pora itu. Aku berjalan menyusuri koridor yang kini mulai sunyi karena sebagian besar murid sudah meluap ke lapangan. Pikiranku melayang pada kejadian di belakang ruang kelas tempo hari, saat aku berjanji pada Bu Senja bahwa aku akan menjadikannya lembayung paling indah setelah masa putih-abu ini berakhir. Aku ingin memberinya kepastian, bahwa aku bukan lagi sekadar murid yang ceroboh dan gemar berdelusi, melainkan seorang pria yang siap menembus sangkar yang menjeratnya.

Aku menemukannya di ujung koridor dekat perpustakaan—tempat yang selalu menjadi saksi bisu antara diksi dan sunyi kami. Namun, Senja yang kulihat hari ini berbeda. Tidak ada aroma kopi instan yang biasanya menyertai kehadirannya. Ia hanya berdiri menatap ke arah halaman sekolah dengan pandangan kosong. Kacamata bulatnya tampak sedikit berembun, dan blouse motif bunga yang ia kenakan tampak tidak secerah biasanya.

"Bu..." panggilku pelan. "Maksud saya, Senja..."

Ia tidak menoleh. Ia tetap mematung, seolah-olah ia adalah bagian dari pilar bangunan yang mulai retak.

"Aku sudah lulus dengan hasil yang memuaskan. Seperti janji saya waktu itu, masa ini sudah selesai. Sekarang, saya ingin memberikan kepastian yang saya janjikan. Saya tidak akan membiarkan sangkar itu mengurungmu lebih lama lagi. Pak Yono tidak berhak atas kebebasanmu," kataku dengan seluruh keberanian yang sanggup kukumpulkan, suaraku berat oleh emosi yang tulus.

Senja perlahan menoleh. Namun, tidak ada binar kelegaan yang kulihat di matanya. Tidak ada senyum yang biasanya memuji "semangat belajar"ku yang berlebihan. Yang kutemukan hanyalah sebuah tatapan yang sangat lelah, sebuah pandangan dari seseorang yang baru saja menyerahkan seluruh senjatanya kepada takdir.

"Arka," suaranya begitu tipis, nyaris hilang tertiup angin yang membawa bau cat semprot dari lapangan. "Simpan semua puisimu. Dunia ini tidak digerakkan oleh rima-rimamu yang indah. Ia digerakkan oleh kepastian yang membosankan dan harapan orang tua yang terlalu berat untuk dipatahkan."

Aku terpaku. "Apa maksudmu? Kamu bilang kamu ingin melawan. Kamu bilang aku satu-satunya yang mengerti kesedihanmu."

"Itu adalah sebuah kesalahan, Arka. Sebuah fragmen kecil yang seharusnya tidak pernah kita baca bersama," ia menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang seolah ingin membuang seluruh oksigen di sekitarnya. "Kabar tentang Yono itu benar. Segalanya sudah diputuskan. Orang tuaku sudah menerima lamarannya pagi tadi, tepat saat kamu sedang bersorak merayakan kelulusanmu."

"Tapi kamu tidak mencintainya! Kamu bilang dia hanya memahatmu menjadi patung!" suaraku meninggi, puitisitas yang biasanya halus kini menjadi teriakan penuh luka.

Senja tidak menghiraukan ucapanku. Ia memalingkan wajahnya kembali ke arah jalanan. "Kadang-kadang, menjadi patung jauh lebih mudah daripada terus-menerus meronta di dalam badai. Pulanglah, Arka. Pergilah ke universitas, temukan duniamu yang sesungguhnya. Jangan buang waktumu untuk mencoba menghapus tinta yang sudah kering di atas kertas takdirku."

Ia kemudian melangkah pergi. Ia melewatiku begitu saja, meninggalkan aroma buku tua yang kini terasa sangat menyakitkan. Aku menatap punggungnya yang menjauh di sepanjang koridor. Punggung itu tampak sangat tegak, sangat kuat, namun aku tahu itu adalah sebuah paksaan yang luar biasa. Ia berjalan seolah-olah sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya, tanpa sekalipun menoleh ke belakang.

"Senja!" teriakku, namun ia tidak berhenti.

Aku berdiri mematung di ujung koridor yang kini benar-benar sunyi. Di tanganku, map ijazah itu terasa seperti sampah yang tidak berharga. Aku bertanya-tanya dalam diriku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi dengan "Senja"-ku? Apakah ia benar-benar menyerah pada sangkar itu, ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang telah mematahkan semangatnya?

Di tahun  ini, saat semua orang merayakan keberhasilan mereka, aku justru menyadari sebuah kebenaran yang paling puitis namun mematikan: bahwa tidak semua puisi memiliki akhir yang bahagia, dan terkadang, cinta terlarang hanyalah sebuah prosa pendek yang dipaksa selesai oleh penulis yang tidak memiliki perasaan.

Aku menatap langit yang mulai berubah warna menjadi lembayung. Tapi kali ini, lembayung itu tidak terlihat indah. Ia terlihat seperti sebuah luka yang sedang berdarah di atas cakrawala, mengingatkanku bahwa senja yang kupuja kini benar-benar telah tenggelam, meninggalkan aku sendirian di dalam kegelapan yang bernama kedewasaan. Aku bertanya-tanya, apakah ia sengaja menguatkan punggungnya agar aku tidak melihat bagaimana ia sedang hancur di dalamnya? Ataukah ia memang telah memutuskan bahwa namaku hanyalah sebuah kesalahan penulisan dalam draf hidupnya yang paling puitis?.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!