Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32:Dinginnya Meja Makan.
Gerimis tipis menyapu kaca jendela apartemen, meninggalkan jejak-jejak air yang berkejaran turun. Di dalam, suasana tak jauh berbeda. Sunyi yang biasanya hangat, kini terasa hambar, hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan gemericik air dari dispenser.
Dimas baru saja meletakkan kunci SUV-nya di atas bufet kayu. Bahunya tampak merosot. Ia baru saja kembali dari Dina Coffee setelah menutup kedai lebih awal karena sepi pengunjung. Di tangannya, selembar kertas laporan keuangan bulan ini tampak lungset karena terlalu sering diremas. Angka-angka di kolom paling bawah berwarna merah, sebuah catatan minus yang cukup untuk membuat kepalanya berdenyut.
Tak lama, pintu depan terbuka. Dinara melangkah masuk dengan sisa-sisa wibawa seragam cokelatnya yang mulai kusut. Wajahnya pucat, matanya tampak layu di balik kacamata. Di pelukannya, dua buah map tebal berisi berkas kasus korupsi pengadaan barang daerah tampak sangat berat.
"Baru pulang, Dek?" tanya Dimas, suaranya datar.
"Nggih, Mas. Macetnya nggak masuk akal tadi," jawab Dinara singkat. Ia melepas jilbabnya, membiarkan rambutnya tergerai berantakan, lalu meletakkan berkas-berkas itu tepat di tengah meja makan.
Dimas melirik tumpukan kertas itu dengan dahi berkerut. Meja makan yang seharusnya menjadi tempat mereka bertukar cerita kini berubah menjadi perpanjangan kantor. Dimas sendiri kemudian menarik kursi, meletakkan laporan keuangannya di sisi lain meja.
Mereka duduk berhadapan. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada tawa jahil. Hanya ada suara gesekan kertas dan denting sendok saat Dimas menuangkan sereal ke dalam mangkuk—satu-satunya "makan malam" yang sempat ia siapkan karena pikirannya terlalu penuh dengan urusan operasional kafe.
"Gimana kantor, Dek?" tanya Dimas, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan.
Dinara tidak langsung menjawab. Ia sedang menandai beberapa paragraf di berkasnya dengan highlighter kuning. "Pusing, Mas. Saksinya banyak yang mendadak hilang ingatan. Jaksa senior juga lagi tekan aku biar draf dakwaannya selesai besok pagi."
Dimas mengangguk-angguk kecil, meski ia tidak benar-benar paham teknis hukum yang dimaksud istrinya. "Oalah. Sabar dhisik. Sing penting ojo lali istirahat (Yang penting jangan lupa istirahat)."
"Mas sendiri gimana? Kafe ramai?" Dinara balik bertanya tanpa mendongak dari kertasnya.
Dimas terdiam sejenak. Ia melihat angka minus di laporannya. Sebenarnya, ia ingin mengadu. Ia ingin bilang kalau biaya sewa tempat naik dan stok biji kopi dari supplier terlambat datang, membuatnya harus merogoh kocek lebih dalam. Tapi melihat wajah Dinara yang sudah tampak "habis", Dimas menelan kembali keluhannya.
"Begitulah. Namanya juga bisnis, ada pasang surutnya," jawab Dimas pelan.
Dinara akhirnya mendongak. Ia memperhatikan wajah suaminya yang tampak kusam. "Tadi Mas bilang apa? Pasang surut? Ini sudah bulan ketiga Mas bilang gitu. Apa ada masalah sama keuangannya?"
Dimas menghela napas. Ia tidak suka jika urusan "dapur" bisnisnya diinterogasi dengan nada tegas khas staf kejaksaan. "Ya ada lah, Dek. Namanya usaha baru. Gak usah terlalu dipikir, Mas bisa atur sendiri."
"Gimana nggak dipikir, Mas? Kita punya cicilan, ada kebutuhan sehari-hari. Mas harus terbuka kalau memang kafenya lagi nggak sehat. Jangan ditanggung sendiri terus," suara Dinara mulai meninggi satu oktaf, nada bicaranya mulai menyerupai saat ia sedang menuntut kejelasan di kantor.
Dimas meletakkan sendoknya. Bunyi dentingnya terdengar cukup keras di ruangan yang sunyi itu. "Mas bukannya nggak mau terbuka, tapi kamu sendiri juga sibuk banget. Mas nggak mau nambah bebanmu. Mosok yo aku sambat terus karo bojoku (Masa ya aku mengeluh terus sama istriku)?"
"Ya memang harus sambat, Mas! Kita kan suami istri, bukan rekan kerja yang cuma ketemu pas tidur," balas Dinara cepat. Ia menutup mapnya dengan kasar. "Mas itu terlalu santai. Kadang Dinara ngerasa Mas nggak punya rencana cadangan kalau kafenya kenapa-kenapa."
Dimas tersenyum kecut, senyum yang sarat akan ketersinggungan. "Oalah, jadi sekarang Mas dianggap nggak punya rencana? Dek, Mas bangun Dina Coffee itu pakai keringat sendiri, pakai riset. Kalau bulan ini minus, ya itu bagian dari proses. Nggak semua hal bisa diatur kaku kayak pasal-pasal di kantormu itu."
Dinara terdiam. Ia menyadari bicaranya mungkin terlalu tajam, namun rasa lelah setelah sepuluh jam di kantor membuatnya kehilangan saringan kata-kata. Ia memijat pangkal hidungnya yang berdenyut.
"Maaf, Mas. Aku cuma capek. Aku cuma takut kita nggak siap kalau ada apa-apa," bisik Dinara.
"Mas juga capek, Dek. Mas tiap hari mikir gimana caranya biar kafe itu nggak cuma jalan, tapi bisa jadi kebanggaan kita. Tapi kalau tiap pulang disambut sama wajah tegang dan pertanyaan interogasi, Mas jadi malas mau cerita," Dimas bangkit dari kursi, membawa mangkuk serealnya ke bak cuci piring.
Suasana di meja makan kembali membeku. Dinara menatap punggung suaminya yang tegang. Ia ingin mendekat, memeluknya dari belakang seperti biasanya, namun ada ego yang masih mengganjal. Ia merasa Dimas terlalu menutup diri, sementara Dimas merasa Dinara terlalu banyak menuntut kesempurnaan.
Dimas kembali ke meja, meraih kunci mobil dan rokoknya. "Mas keluar sebentar ya, cari udara. Mau ke kafe lagi, ada yang harus dicek di gudang."
"Jam segini, Mas? Ini sudah mau jam sepuluh. Sebentar lagi waktu kita shalat malam bareng," Dinara mengingatkan.
"Mas shalat sendiri saja nanti. Kamu tidur dhisik, besok harus bangun pagi kan?" Dimas berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi.
Brak.
Pintu apartemen tertutup pelan, namun getarannya terasa hingga ke ulu hati Dinara. Ia duduk sendirian di depan tumpukan berkas perkara yang kini terasa membosankan. Lampu gantung di atas meja makan tampak bergoyang pelan, memantulkan bayangan sepi di atas piring-piring kosong.
Dinara menunduk, butiran air mata akhirnya jatuh mengenai sampul map kejaksaan. Ia merindukan Dimas yang dulu—Dimas yang selalu punya gombalan konyol meski ia sedang stres. Ia merindukan diri mereka yang bisa tertawa hanya karena salah membeli rasa kerupuk.
Kini, kesuksesan yang mereka kejar seolah-olah sedang membangun tembok tinggi di tengah rumah. Seragam cokelat itu dan laporan keuangan merah itu seolah menjadi pihak ketiga yang tak diundang, duduk di antara mereka di meja makan, merampas kehangatan yang selama ini menjadi fondasi mereka.
Dinara merapikan berkas-berkasnya dengan gerakan lambat. Ia berjalan menuju kamar mandi, berwudhu, mencoba mencari ketenangan di atas sajadah. Di sela-sela doanya, ia meminta agar kekakuan ini segera mencair. Ia takut, jika meja makan ini terus mendingin, hati mereka pun akan ikut membeku.
Sementara itu, di bawah temaram lampu jalanan Surabaya, SUV hitam Dimas melaju tanpa tujuan pasti. Dimas mematikan radio, membiarkan kesunyian menemaninya. Ia memikirkan Dinara, memikirkan kafenya, dan memikirkan janji-janji yang mereka buat di bawah pohon kenari di taman kota dulu.
"Iki ujian, Dim. Ojo kalah karo keadaan (Ini ujian, Dim. Jangan kalah dengan keadaan)," bisiknya pada diri sendiri sambil mempererat pegangan pada kemudi.
Malam itu, meja makan mereka tetap dingin, menyisakan dua kursi kosong dan sebuah jarak yang mulai terasa nyata.