Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
New Sensation
Mansion Pinggiran Kota – Kamar Ryzen.
Rafael berjalan di koridor dengan langkah yang terburu-buru.
Bagian bawahnya masih menegang, terasa sakit dan tidak nyaman. Dia butuh pengalihan. Butuh sesuatu untuk meng-clear pikirannya.
Dia berhenti di depan pintu kamar Ryzen. Mengetuk—tapi tidak menunggu jawaban. Langsung membuka pintu dan masuk.
"HOLY SHIT!" Ryzen berteriak—hampir jatuh dari kursi computer-nya.
"KETOK DULU TOLOL! GUE BISA LAGI NGAPA-NGAPAIN!"
Rafael menutup pintu di belakangnya.
Dia melihat Ryzen duduk di depan setup computer yang insane—tujuh monitor dalam formasi curved, keyboard mechanical dengan RGB lighting, mouse gaming yang terlihat seperti spaceship.
Ryzen masih memakai kaos dan celana pendek—outfit sleeping tapi jelas dia belum tidur.
Layar-layar monitor menampilkan code, data encryption, dan beberapa window yang langsung dia minimize saat Rafael masuk.
"Lo ngapain masuk kamar orang tengah malam?" Ryzen menatap Rafael dengan mata yang suspicious.
"Lo... kenapa lo keringetan?"
Rafael tidak menjawab. Matanya jatuh ke meja di samping keyboard Ryzen—sebuah bungkus rokok Marlboro Red dengan lighter di sampingnya.
Tanpa bicara, Rafael mengambil bungkus rokok itu.
"Woi," Ryzen berdiri.
"Lo yakin mau ngerokok?"
Rafael tetap tidak menjawab. Dia mengeluarkan satu batang rokok—cylindrical white stick yang terasa asing di jari-jarinya. Mengambil lighter. Menyalakan api.
Api menyentuh ujung rokok. Rafael menghisap—
Dan langsung batuk-batuk dengan keras. Asapnya terlalu harsh, rasanya terlalu strong. Tenggorokannya terasa terbakar.
Ryzen tertawa—tawa yang genuine, yang membuat perutnya sakit.
"LO NGAPAIN SIH ANJIR! TIBA-TIBA MASUK KE KAMAR ORANG, NGAMBIL ROKOK. UDAH TAU BELUM PERNAH NGEROKOK MASIH AJA DICOBA!"
Rafael mencari air—melihat botol mineral di meja Ryzen. Langsung meminumnya dengan greedy, washing down rasa rokok yang aneh.
Setelah batuknya mereda, dia menjawab dengan suara serak, "Gue butuh ketenangan."
Ryzen berhenti tertawa. Matanya menjadi serius—analyzing Rafael dengan gaze yang sharp.
"Kenapa?" tanyanya sambil duduk kembali.
"Ada masalah? Lo nggak biasanya kayak gini."
Rafael menggelengkan kepala. Dia duduk di ranjang Ryzen—king-size bed dengan sprei hitam polos.
Masih memegang rokok yang hampir tidak tersentuh di tangannya.
Cara Rafael memegang rokok aneh—tidak seperti perokok biasanya yang memegang antara jari telunjuk dan tengah.
Dia memegangnya antara jempol dan telunjuk—seperti orang yang pegang pensil.
Ryzen memerhatikan itu dan menggelengkan kepala dengan amusement. Dia berdiri, berjalan ke Rafael, merebut rokok dari tangannya.
"Kasih sini," katanya sambil menghisap rokok itu dengan proper technique.
Asap keluar dari mulutnya dengan smooth.
"Tidur sana. Lo cuma capek kan? First day back ke kehidupan normal emang overwhelming."
Rafael menatap Ryzen—sahabat terbaiknya, orang yang selalu ada meskipun dengan personality yang menyebalkan.
"Gue tidur di kamar lo ya," kata Rafael.
Ryzen berbalik—sudah kembali ke computer-nya, jari-jari menari di keyboard dengan speed yang inhuman.
"Terserah," jawabnya tanpa menoleh.
"Yang penting jangan ganggu gue. Gue masih sibuk. Ada security breach di salah satu server AGE yang perlu gue patch sebelum besok pagi."
Rafael mengangguk meskipun Ryzen tidak melihat. Dia merebahkan tubuhnya di kasur Ryzen—kasur yang terasa lebih nyaman dari kasurnya sendiri entah kenapa.
Mungkin karena ini kamar Ryzen. Kamar orang yang dia trust sepenuhnya.
Suara keyboard typing dan occasional mouse click menjadi backsound noise yang sangat menenangkan. Rafael menutup mata.
Pikiran tentang Seraph masih ada—tapi sudah tidak se-consuming tadi. Penyesalan mulai merayap masuk.
Dia hampir mengkhianati Salma. Hampir melanggar janji yang dia buat.
Tapi dia berhenti. Dia masih punya control.
Itu yang penting.
Perlahan, kelelahan mengambil alih. Rafael tertidur dengan suara Ryzen bekerja di background—suara yang familiar, yang safe.
***
Mansion Pinggiran Kota – Pagi Hari.
Rafael bangun jam setengah enam pagi—habit dari latihan dua bulan terakhir yang masih tertanam.
Ryzen masih di depan computer—tapi sekarang tertidur dengan kepala di atas keyboard. Monitor-monitor masih menyala, menampilkan code yang sudah selesai.
Rafael tersenyum tipis. Dia mengambil blanket dari ranjang, melemparnya ke tubuh Ryzen yang pasti kedinginan dari AC.
Lalu dia keluar dari kamar Ryzen. Berjalan cepat ke kamarnya sendiri—berharap tidak ketemu siapapun, terlebih Seraph.
Untungnya koridor kosong.
Rafael masuk ke kamarnya. Ranjangnya masih berantakan dari... aktivitas tadi malam. Dia mengabaikan itu.
Langsung ke kamar mandi. Shower cepat dengan air dingin—trying to wash away semua yang terjadi semalam.
Air dingin membuat bagian bawahnya yang sempat menegang lagi saat ingat Seraph akhirnya calm down.
Setelah shower, dia memakai outfit simple—kaos putih polos, kemeja hitam yang tidak di kancing, celana jeans hitam, sneakers putih. Gaya yang casual tapi tetap terlihat put-together.
Turun ke lantai satu. Mansion masih sepi—semua orang masih tidur.
Tapi saat dia sampai di area gym di lantai basement, dia melihat Kael dan Aurelia.
Mereka sedang jogging di treadmill yang berdampingan. Kael dengan speed yang consistent 12 km/h, Aurelia sedikit lebih lambat di 10 km/h. Keduanya memakai earphone, fokus pada latihan.
Kael melihat Rafael turun. Dia menekan tombol stop di treadmill, melambat sampai berhenti total. Melepas earphone.
"Rafael," sapanya sambil mengambil handuk lap keringat.
"Mau kemana?"
Rafael berhenti di tangga terakhir.
"Ada sesuatu yang harus gue lakukan."
Kael mengangguk—understanding tanpa perlu penjelasan lebih. Dia orang yang mengerti privacy.
"Tunggu sebentar," katanya sambil berjalan ke locker di sudut ruangan.
Membuka locker, mengambil sesuatu.
Kembali dengan kunci mobil di tangan—keyless fob McLaren dengan logo yang iconic.
"Gue sekalian buka garasi," kata Kael sambil menekan tombol di dinding.
Garage door mulai terbuka dengan suara motor yang halus.
Di dalam garasi, deretan mobil super car terparkir rapi. Tapi yang paling menarik perhatian adalah mobil baru yang parkir paling depan.
McLaren 765LT Spider. Hitam metalik. Body carbon fiber yang menyerap cahaya. Spoiler besar di belakang. Interior dengan accent orange yang terlihat through the window.
Kael melemparkan kunci ke Rafael. Rafael menangkapnya dengan reflex.
"Pakai ini kalau mau keluar," kata Kael.
Rafael menatap kunci di tangannya. Lalu menatap mobil itu.
Mobil yang worth setengah juta dollar. Mobil yang bisa mencapai 330 km/h. Mobil yang mengatakan "aku kaya dan aku tidak peduli siapa yang tahu."
Dia berjalan mendekati mobil. Menekan tombol di key fob. Pintu butterfly door terbuka ke atas—dengan motion yang theatrical.
Rafael masuk. Interior leather premium dengan stitching orange.
Dashboard digital yang menampilkan semua info. Steering wheel yang terasa perfect di tangan. Bucket seat yang memeluk tubuh dengan pas.
Dia menekan tombol start. Mesin V8 twin-turbo roar to life—suara yang deep, aggressive, menggema di seluruh garage.
Rafael merasakan sesuatu di dadanya. Adrenaline. Excitement. Power.
Ini bukan hanya mobil. Ini statement.
Dia menatap Kael melalui windshield. Kael berdiri di samping Aurelia sekarang—keduanya watching.
Rafael menurunkan window sedikit. "Gue cabut."
Kael mengangguk. "Hati-hati. Mobilnya punya 765 horsepower. Jangan sampai nabrak."
Rafael tersenyum—senyum pertamanya pagi ini yang genuine. "No promises."
Dia menginjak gas—McLaren meluncur keluar dari garage dengan acceleration yang membuat Rafael terdorong ke seat. G-force yang intens tapi exhilarating.
Keluar dari halaman mansion. Melewati pagar yang menutup otomatis di belakangnya. Masuk ke jalan raya yang masih sepi pagi ini.
Rafael menginjak gas lebih dalam. Speedometer naik—80, 100, 120, 150 km/h. Suara mesin roaring. Angin masuk melalui window yang sedikit terbuka.
Kebebasan. Ini rasanya kebebasan.
***
Mansion Pinggiran Kota – Garasi.
Kael dan Aurelia berdiri di pintu garage, watching McLaren hitam Rafael menghilang di kejauhan. Suara mesinnya masih terdengar samar sebelum akhirnya hilang total.
Aurelia menatap Kael.
"Dia akan baik-baik saja kan?"
Kael tersenyum tipis—rare smile yang jarang dia tunjukkan.
"Dia Rafael Alkava. Dia selalu baik-baik saja."
Mereka berdua berbalik, kembali ke gym untuk melanjutkan jogging.
Tapi keduanya sama-sama berpikir hal yang sama—Rafael sudah kembali. Dan dunia belum siap untuk apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Di luar sana, McLaren hitam melesat di jalanan New York yang mulai ramai. Rafael di belakang kemudi—dengan destination yang clear di pikirannya.
Rumah Thomas Jefferson. Makamnya sendiri. Dan AGE.
Tiga tempat yang akan menandai official comeback-nya ke kehidupan.
Tiga tempat yang akan mengubah segalanya.
...****************...
BERSAMBUNG...