Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.Berlatih Di Hutan Karasu
Mesin mobil tua milik Pak Kudo mengeluarkan suara mendengus yang kasar, seperti hewan tua yang sedang berjuang melangkah lebih jauh ke dalam jalan setapak yang semakin menyempit. Saat mereka memasuki wilayah hutan di pinggiran Kota Karasu, pepohonan rimbun dengan cabang-cabangnya yang saling menjerat seolah ingin menutup jalan—menyerap cahaya lampu depan mobil hingga hanya menyisakan kegelapan pekat dan aroma tanah basah yang menyengat menyambar hidung mereka.
Hana mencengkeram pegangan atas pintu mobil dengan tangan yang kencang, wajahnya tampak pucat di bawah sinar lampu yang minim. "Ren, sudah hampir jam satu pagi nih... Kamu benar-benar yakin kita tidak tersesat? Gimana mungkin ada tempat untuk berlatih memasak di tengah hutan yang sepi kayak gini?"
Di kursi belakang, Yuki duduk berdampingan dengan Bu Keiko, tubuhnya tetap tenang namun matanya sibuk menatap keluar jendela. Ia mengikuti setiap siluet pepohonan yang lewat, seolah mencoba mengenali jejak dari masa lalu yang masih mengendap di benaknya. Akhirnya, ia mengangguk perlahan. "Ini jalan yang menghubungkan ke pondok tua Bibi Reina, bukan?"
Ren tidak menjawab. Tangan kanannya tetap kokoh di kemudi, matanya fokus menembus kegelapan sambil dengan hati-hati melewati tikungan tajam yang tertutup semak belukar. Setelah beberapa menit lagi, mobil berhenti di sebuah kliring kecil yang tertutup dedaunan kering. Di sana berdiri sebuah bangunan kayu sederhana dengan atap jerami yang sebagian sudah lapuk—dindingnya tertutup lumut hijau dan tanaman merambat yang menjalar perlahan ke arah jendela kosong. Di depan pondok, sebuah area terbuka dengan tungku batu tradisional berdiri kokoh, seperti penjaga yang tak pernah beristirahat.
"Turun sekarang," ucap Ren dengan suara singkat namun jelas.
Saat pintu mobil terbuka, hawa dingin hutan Karasu langsung menyelinap ke dalam pakaian mereka, menusuk tulang dengan rasa dingin yang menusuk. Bu Keiko merapatkan mantel wolnya erat ke tubuh, matanya menatap pondok tua itu dengan tatapan yang penuh kenangan dan kerinduan. "Tempat ini... di sinilah ibumu membuat resep pertama yang membuat nama keluarga Akira dikenal di kota ini, Ren. Dia menyebutnya 'Dapur Alam'—tempat di mana masakan lahir dari hubungan antara manusia dan alam sekitarnya."
Ren berjalan menuju tungku batu tanpa berbalik. Dari belakang mobil, ia menarik sebuah kotak kayu besar yang berat, kemudian membukanya perlahan. Di dalamnya terlihat bahan-bahan yang masih sangat mentah: akar-akaran hutan dengan bentuk yang aneh, jamur liar dengan warna dan tekstur yang beragam, dan seekor ayam kampung yang masih hidup di dalam keranjang kayu kecil, mengeluarkan suara berkokok lembut.
[Ding! ]
[Sistem: Analisis Lingkungan Terdeteksi – Kelembapan Udara 85%; Kadar Oksigen Murni 100%; Suhu Lingkungan 16°C]
[Sistem: Tujuan Latihan Ditentukan – Menyelaraskan Insting Primal dalam Memasak; Melepaskan Ketergantungan pada Peralatan Modern]
"Hana, Yuki," panggil Ren sambil berdiri di depan tungku batu yang dingin. Suaranya terdengar lebih dalam dan berat di tengah kesunyian hutan yang hanya dipecah oleh suara serangga dan angin yang berdesir di antara daun pepohonan. "Di Menara Asuka, kalian melihat betapa jauh teknologi bisa membawa kita dalam memasak. Tapi di sini—kalian akan belajar dari akar paling dasar dari rasa itu sendiri. Ryuji memasak dengan angka dan perhitungan. Kita akan memasak dengan nyawa dan hubungan yang tulus."
Ren mengambil sebuah belati kecil dari saku jasnya, kemudian memberikannya kepada Hana yang masih berdiri dengan wajah bingung. "Hana, tugasmu adalah menyalakan api di tungku ini. Tapi jangan pakai korek atau kompor portabel. Di sana ada batu api dan serutan kayu kering yang sudah disiapkan. Kamu harus mengerti bahwa api bukan sekadar sesuatu yang muncul dengan menekan tombol—api adalah energi yang harus kamu rayu dan jaga dengan penuh rasa hormat."
Hana terkejut, matanya membesar. "Ren, tapi aku tidak pernah—"
"Lakukan saja," ucap Ren dengan nada yang tegas, matanya menatap Hana dengan intensitas yang membuat gadis itu langsung menelan keluhannya dan mengangguk perlahan.
Hana berjongkok di depan tungku batu, tangan nya sedikit gemetar bukan hanya karena dingin, tapi juga karena rasa takut akan kegagalan. Ia mengambil batu api dengan hati-hati, mencoba menggesekkannya satu sama lain dengan gerakan yang tidak stabil. Di sisi lain, Ren beralih ke Yuki yang sudah berdiri di dekatnya. "Yuki, kamu akan mengidentifikasi setiap jenis jamur dan akar di dalam kotak itu—hanya dengan meraba dan mencium aromanya. Tutup matamu. Jika kamu salah menebak satu pun jenisnya, kita tidak akan makan malam hari ini."
Latihan itu berlangsung dengan tempo yang lambat dan menyiksa. Hana berkali-kali gagal menghasilkan percikan yang cukup untuk menyalakan serutan kayu—tangannya mulai muncul lecet kecil akibat gesekan batu, dan wajahnya kotor terkena jelaga dari percikan yang salah arah. Akhirnya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis pelan, suara tangisnya tersembunyi di dalam kedalaman hutan yang seolah ingin menelan segala sesuatu. Namun, saat ia merasa ingin menyerah dan melemparkan batu api itu ke tanah, sebuah tangan hangat menyentuh bahunya dengan lembut.
"Jangan arahkan kemarahan atau frustrasi kamu pada batu itu, Hana," bisik Ren yang berdiri di belakangnya, suaranya lembut namun penuh kekuatan. "Pikirkan tentang Ren's Cuisine—tempat yang kamu sayangi dan ingin lindungi. Bayangkan api itu adalah nyawa dari tempat itu, yang harus kamu rawat dengan penuh perhatian."
Setelah hampir dua jam berjuang dengan penuh tekun, akhirnya sebuah percikan kecil menyambar tepat pada serutan kayu kering. Api kecil mulai berkobar dengan lambat, memberikan cahaya hangat dan nyala yang gemericik di tengah kegelapan yang mengelilingi mereka. Hana melihatnya dengan mata yang penuh kagum, kemudian bersorak kecil dengan suara yang penuh kegembiraan. Air mata yang masih menetes di pipinya kini berubah menjadi tanda kebanggaan. Tanpa berpikir panjang, ia berdiri dan langsung memeluk pinggang Ren dengan erat, menempelkan wajahnya ke punggung Ren yang hangat.
"Aku berhasil, Ren! Aku benar-benar berhasil!"
Ren terdiam sejenak, merasakan detak jantung Hana yang cepat berdebar di bagian dadanya. Ia tidak bergerak atau mendorongnya. Perlahan, ia mengangkat satu tangan dan membelai punggung Hana yang masih sedikit gemetar, memberikan dukungan yang tulus tanpa perlu kata-kata. Di tengah nyala api yang berkobar dan kesunyian hutan, kemistri di antara mereka terasa begitu murni dan tulus—sangat berbeda dari kepura-puraan yang mereka rasakan di Menara Asuka.
Di kejauhan, Yuki yang baru saja menyelesaikan tugasnya dengan sempurna—menebak semua jenis jamur dan akar dengan benar meskipun jarinya sudah membeku karena dingin—tersenyum tipis melihat pemandangan itu. Ada sedikit rasa sakit yang menyentuh hatinya, namun ia tahu bahwa Hana adalah sosok yang bisa memberikan kehangatan emosional yang dibutuhkan Ren dalam perjuangan mereka.
"Sekarang, kita mulai memasak," ucap Ren dengan suara yang lebih lembut setelah Hana melepaskan pelukannya dengan wajah yang memerah hebat karena malu.
Mereka bekerja bersama di sekitar tungku api unggun tradisional. Tidak ada pengatur suhu digital yang menunjukkan angka pasti, tidak ada pisau dengan teknologi laser yang tajam. Mereka hanya mengandalkan indra pendengaran untuk mengetahui kapan air dalam panci mulai mendidih, dan indra penciuman untuk merasakan kapan bumbu sudah matang dengan sempurna. Bu Keiko berdiri di teras pondok tua, menyaksikan mereka dengan senyum hangat, sesekali memberikan instruksi singkat tentang cara mengatur aliran udara agar api tetap stabil atau cara memotong bahan dengan benar menggunakan pisau tradisional.
Ia melihat bagaimana ketiga remaja itu mulai menyatu dengan alam sekitarnya. Gerakan mereka yang awalnya kaku kini menjadi lebih alami—seolah mereka sudah mengenal cara kerja alam Kota Karasu sejak lama. Mereka bukan lagi sekadar tim klub sekolah yang berlatih memasak; mereka telah menjadi pewaris sejati dari filosofi "Dapur Alam" yang diajarkan oleh Reina, ibunda Ren.
Saat hidangan sederhana—sup ayam hutan dengan campuran rempah akar dan jamur liar—akhirnya matang, mereka membawa panci itu ke bawah naungan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi di atas mereka. Mereka makan bersama menggunakan mangkuk kayu sederhana, tanpa alas meja atau peralatan mewah apa pun. Rasanya... sangat berbeda dari apa pun yang pernah mereka rasakan sebelumnya. Ada kedalaman rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan angka atau ilmu pengetahuan—rasa yang lahir dari perjuangan mereka untuk menyalakan api, dari dinginnya malam yang menyelimuti mereka, dan dari kebersamaan yang tulus di tengah kesunyian hutan.
"Ini... jauh lebih enak daripada makanan yang kita cicipi di Menara Asuka," gumam Yuki sambil menyeruput kuah sup yang hangat, matanya sedikit berkaca-kaca karena rasa hangat yang menyebar dari perutnya ke seluruh tubuh.
Ren menatap nyala api yang mulai meredup dan membentuk bara merah pekat. Cahaya api menerangi wajahnya dengan lembut, membuat ekspresi matanya terlihat lebih dalam. "Karena di sini, kita tidak memasak untuk memuaskan ego atau menunjukkan kekuatan. Kita memasak untuk memberi makan jiwa—baik jiwa kita sendiri maupun orang yang menikmatinya."
Malam itu, di tengah kedalaman Hutan Karasu, mereka tidak hanya meningkatkan teknik memasak atau belajar menggunakan bahan baru. Mereka telah menemukan kembali "kejujuran" dalam memasak yang hampir sirna karena intimidasi dari Ryuji dan teknologi canggih Asuka Jaya. Saat mereka bersiap untuk kembali ke kota, mereka tidak lagi terlihat seperti sekelompok remaja yang terintimidasi. Mereka keluar dari hutan sebagai ksatria dapur yang membawa nyala api sejati—api yang tumbuh dari rasa hormat pada alam dan cinta pada masakan yang mereka buat.